
Weva meneguk salivanya. Sekarang entah mengapa setelah membaca surat dan mengetahui kebenaran, apa pun yang Ken lakukan selalu membuatnya berdebar.
"Gue capek, Wev."
Weva menggerakkan jemari tangannya yang begitu gugup. Nafasnya bahkan tak mampu untuk ia kontrol.
Ken mendongak menatap wajah Weva yang begitu sangat cantik. Ia menyentuh jemari tangan Weva membuat Weva tersenyum tipis.
"Gue butuh lo sekaran, Wev. Disaat semua sibuk dengan Brilyan, gue mau lo tetap ada di samping gue, ya!"
Weva mengangguk. Ia menggerakkan tangannya untuk mengelus pipi Ken yang begitu mulus. Ken tersenyum. Ia menyentuh punggung tangan Weva sambil memejamkan kedua matanya.
Saat ini ia merasa begitu nyaman menyandarkan kepalanya di atas bahu Weva, menyentuh jemari tangannya membuat ia benar-benar merasa lebih tenang dari sebelumnya.
Weva ikut tersenyum. Kini ia bukan bersama dengan sosok Ken yang ia kenal sebagai penolong saat ia gendut atau bahkan sosok pria pembully nomor satu yang dulu menjadi orang yang sangat ia benci namun, kali ini ia berada bersama dengan cinta pertamanya.
Weva menggerakkan kepalanya menatap sosok Wiwi dan pak Walio yang menatapnya dari jauh. Wiwi menekan layar handphonenya dan tak berselang lama notif pesan terdengar membuat Weva menatap pesan yang masuk.
[Gue balik duluan, ya]
[Kalau ada apa-apa lo kabarin gue]
Setelah membaca pesan itu Weva kembali menoleh menatap ke arah Wiwi dan pak Walio lalu mengangguk.
...***...
"Maafkan Bapak, Nak."
Kalimat itu tak pernah pudar. Hanya itu kalimat yang mampu ia utarakan saat ini saat ia berada di dalam ruangan rawat Brilyan yang masih terbaring kritis. Masker hijau steril khusus penjenguk ICU yang menutup separuh wajahnya itu juga sudah basah karena air mata.
Tak tahan rasanya berlama-lama di dalam ruangan ini membuat pak Ahmad memutuskan untuk melangkah keluar dari ruangan digantikan oleh Laila yang sudah menanti sejak tadi dengan pakaian serba hijau khusus penjenguk ruangan.
Laila melangkah mendekati sang anak sambil tersenyum di balik masker. Menatap Brilyan dalam kondisi seperti ini membuat perasaanya hancur.
Laila berdiri di samping ranjang, menahan jemari tangannya untuk menyentuh wajah putranya, ini telah menjadi peraturan agar bisa masuk di dalam ruangan ini.
"Brilyan, Mama minta maaf. Mama nggak ada disaat-saat Brilyan."
__ADS_1
"Mama nggak ada untuk Brilyan."
"Mama juga bodoh karena Mama nggak peka. Pantas aja saat Brilyan datang ke rumah Mama ngerasa senang banget."
"Saking senangnya Mama bahkan ngelus pipi Brilyan."
"Maafkan Mama, ya Nak."
"Mama janji akan selalu ada di samping kamu. Walaupun bukan Mama yang ngerawat kamu sampa kamu besar tapi kamu tetap pernah ada di rahim Mama dan Mama yang ngelahirin Brilyan ke dunia ini."
"Cepat sembuh, ya, Nak! Mama nggak sabar mau cium dan peluk Brilyan."
Laila terisak namun, dengan cepat ia menahannya. Ia melangkah keluar dari ruangan mendapati sosok Ken yang sepertinya baru saja telah menggunakan pakaian jenguk.
"Cepat, ya! Jangan terlalu lama!"
"Iya, dokter," jawab Ken lalu melangkah masuk ke dalam ruangan.
Ia melangkahkan kakinya pelan menginjakkan kakinya pada permukaan lantai dengan hati-hati seakan lantai ini akan roboh. Ken menahan nafas di dadanya dan menghembuskannya perlahan.
"Heh, kurus kering!"
"Lemah banget, sih lo. Lo kayak gini sengaja, ya biar gue juga ikut khawatir?"
"Iya, kan?"
Ken tersenyum kecil.
"Dasar lemah."
"Masa lo kalah sama gue."
"Gue aja nggak pernah sakit. Dasar cemeng lo."
"Lo pernah nyangka nggak, sih kalau kita itu saudara kembar?"
Ken tersenyum kecil menghasilkan suara tawa yang begitu aneh.
__ADS_1
"Gue aja nggak pernah nyangka kalau kita itu ternyata saudara kembar."
"Gue nggak nyangka kalau manusia lemah kayak lo bakalan jadi saudara kembar gue."
Ken terdiam sejenak. Ia menunduk dan kembali menatap sosok Brilyan.
"Lo cepat sembuh, ya dan gue harap lo bisa tau semua kebenaran ini kalau kita itu saudara kembar."
Ken tersenyum tulus. Melangkahkan kakinya perlahan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan ICU. Kedua matanya yang sejak tadi sayup kini menahan sosok Johan, pria yang baru-baru ini menjadi pria yang sangat ia benci.
Johan meneguk salivanya saat dirinya beradu pandang dengan kedua mata tajam Ken. Pria ini jelas terlihat marah kepadanya.
Johan menutup pintu ruangan, merasa lega saat ia tak lagi bertatapan dengan Ken dan kini ia ia dihadapkan dengan sosok Brilyan yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Johan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
Bibirnya bergetar menahan tangisnya. Rasanya ada yang menekan dadanya hingga terasa menyesatkan.
"Nak, satu hal yang membuat aku merasa sedih bukan karena kamu yang sedang terbaring kritis tapi yang membuat aku sedih adalah-"
Johan menghela nafas dan kembali bicara, "Adalah kamu bukanlah anak kandungku."
"Sekarang Papa baru sadar ternyata kamu sangat berharga."
"Papa sadar sekarang kalau selama ini Papa telah salah sama kamu. Kamu selalu membuat Papa bangga tapi Papa nggak pernah membuat kamu bahagia."
"Papa selalu menuntut kamu tapi tidak pernah sekalipun kamu menuntut Papa."
"Kamu benar-benar baik persis seperti almarhum Mama kamu, yah walaupun kamu tidak lahir dari rahim istri ku tapi kamu telah dididik dengan baik olehnya."
"Cepat sembuh, ya Nak. Sekarang Papa sadar kalau Papa bisa melihat Mama kamu di dalam diri kamu, Nak."
"Cepat sembuh."
Kalimat terakhir itu menjadi akhir dari kalimat yang keluar dari bibirnya. Ia melangkah keluar, menutup pintu dengan rapat meninggalkan sosok Brilyan yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Suara monitor pada layar yang terus memperlihatkan garis itu berbunyi, ada banyak alat yang terpasang pada tubuh Brilyan. Jemari tangan yang terpasang infus itu perlahan bergerak di dalam sebuah kesunyian setelah beberapa detik di tinggalkan oleh Johan.
__ADS_1