Princess Endut

Princess Endut
47. Jahat


__ADS_3

Kevin dan Roy kini tersenyum kegirangan di belakang sana. Yah, kapan lagi mereka bisa melihat tontonan gratis yang pasti kali ini akan begitu sangat seru. Ken dan si gadis gendut itu, tak ada kisah pembullyan seseru ini jika selalu berhubungan dengan dua orang itu.


Ken menarik nafas dengan harapan semoga gadis gendut itu tak melangkah ke arahnya. Ken hanya tak mau melakukan hal tersebut karena jika ia melakukannya itu sama saja membuat gadis gendut itu malu.


"Jangan ke sini! Gue mohon, jangan ke sini!" batin Ken.


Sorot mata Ken kini dibuat tajam seakan sedang mencoba untuk mengancam gadis itu untuk tidak melangkah maju.


...****************...


"Liat, deh, Wev! Ken ngeliatin lo, tapi, kok kayaknya agak beda, yah tatapannya," bisik Wiwi yang merasa keherangan.


"Sakit mata kali," jawab Weva asal-asalan.


Weva menghela nafas lalu segera melangkah namun, baru selangkah tiba-tiba saja Wiwi langsung meraih tangannya membuat Weva menoleh.


"Perasaan gue nggak enak, deh, Wev."


Weva tersenyum sambil melepas pegangan tangan Wiwi dengan pelan.


"Wiwi tenang aja! Weva bakalan baik-baik aja, kok," ujar Weva lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Ken memejamkan kedua matanya. Oh tidak!


Gadis gendut itu malah melangkah maju membuat Ken seakan ingin berteriak agar gadis yang penuh dengan lemak itu berhenti melangkah ke arahnya.


Mau apa dia? Apa dia mau mati karena malu?


Hah, harus bagaimana lagi sekarang? Tak ada pilihan lain. Siap-siap malu wahai gadis gendut.


"Hust!" Tahan Ken sebelum Weva melintasi dirinya ketika Weva sudah berdiri persis di hadapannya.


Weva sontak menghentikan langkahnya dan menatap Ken dengan matanya yang terbelalak. Mau apa lagi pria ini?


Ken menoleh menatap para sahabatnya yang tak sabar melihat Ken melakukan tantangan dari Bara.


Ken kembali menatap Weva lalu melangkah lebih dekat membuat Weva lantas melangkah mundur.


Sial! Gadis ini malah melangkah mundur, jika begini bagaimana caranya Ken berbisik untuk menyuruh si gendut ini untuk pergi dari tempat ini lalu menyuruh Weva untuk tidak melintasi Ken.


Ken hanya berniat untuk menyelamatkannya, hanya itu.


"Pergi!" bisik Ken tanpa mengeluarkan suaranya.


Ken hanya tak mau jika sahabatnya itu sampai mendengar perintahnya dan ia juga tidak mau jika sahabatnya itu sampai tahu jika Ken berniat untuk membantu Weva. 


"Pergi!"


"Aa?" Tatap Weva tak mengerti.


Ken meringis kesal. Rasanya Ken ingin memukul kepala gadis gemuk ini agar mengerti dengan bisikannya atau bahkan gerakan mulutnya.


"Pergi!" pintanya lagi.


Weva melongo, ia tak mengerti apa-apa. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan pria pembully ini?


"Pergi sekarang! Jangan lewat sini!" pintah Ken masih yang mengecilkan suaranya. 


Weva masih tak mengerti membuatnya kini melangkah berniat untuk melintasi Ken namun, baru selangkah Ken tiba-tiba menghalangi jalannya dengan buru-buru berdiri di hadapannya.    


Kedua mata Weva membulat. Ia mendongak menatap Ken yang kini masih menatapnya. Pria ini tak waras?


"Pergi!" Kesal Ken sambil membulatkan matanya yang tajam, ini ancaman.


Weva menghela nafas lelah, yah, lelah menghadapi pria yang setiap hari membullynya dan membuat Weva tanpa pikir panjang memutuskan untuk melangkah melintasi Ken.

__ADS_1


Ken memejamkan kedua matanya ketika gadis itu berhasil melintasinya.


"Ok! Permainan dimulai!"


Ken mengenggam pergelangan tangan besar weva membuat langkah Weva tertahan. Semuanya kini berseru seakan tak sabar menyaksikan keseruan dari tantangan ini.


Ken membalikkan tubuhnya membuatnya kini menatap Weva yang masih terdiam heran.


Weva tersentak kaget menatap Ken yang secara tiba-tiba merampas kotak bekalnya. Semuanya menatap antusias, Ken benar-benar akan menghempas kotak bekal Weva yang telah berada di genggaman Ken.


"Itu bekal Weva," ujar Weva lalu berusaha meraih bekalnya namun, dengan cepat Ken menghindar. Ia mengangkat bekal itu lebih tinggi membuat Weva tak mampu menggapainya.


"Gue udah bilang, kan sama lo, kalau lo nggak boleh lewat sini."


"Emang apa salahnya kalau Weva lewat sini? Ini, kan jalan umum. Bukan jalan punya Ken."


Ken tersenyum sinis. Ia menatap bekal milik Weva yang ada di tangannya lalu kembali menatap Weva.


"Lo sadar nggak, sih? Kalau makin hari lo itu makin nantangin gue tahu nggak."


Weva melompat berusaha meraih bekal itu namun, Ken kembali meninggikannya.


"Nantangin gimana? Weva nggak pernah nantangin Ken," bela Weva.


"Lo nantangi gue dengan cara sengaja lewat di sini walaupun gue udah ngelarang lo dan itu berarti lo udah nantangin gue, Endut," ujar Ken sedikit meninggikan nada suaranya ketika ia mengucapkan kata Endut dan hal itu membuat semua orang tertawa.


Yah, kata Endut itu mungkin menurut mereka lucu, tapi tidak bagi Weva yang kini merasakan panas di kedua matanya.


Weva ingin menangis. Weva tahu jika dia gendut, tapi ia tidak suka jika kekurangan fisiknya itu dijadikan bahan ledekan.


"Terus mau Ken apa?" tanya Weva berlagak sok kuat.


Ken tersenyum sinis membuatnya kini menatap bekal yang berada di tangannya. Sesekali Ken mencuri pandang untuk menatap para sahabatnya yang ternyata menanti Ken melempar bekal Weva lewat tatapan serius mereka.


Sial!


"Okay kalau gitu gue kasih lo hukuman."


"Hukuman?"


Ken mengangguk lalu ia menggerakkan bekal itu ke arah depan wajah Weva dan...


Bruak


Kedua mata Weva terbelalak menatap Ken yang menghempas bekal miliknya. Kedua bibirnya terbuka dengan gerakan tangannya yang ingin menutup bibirnya, tapi tak sampai.


Ia terkejut bukan main menatap nasi goreng dengan bumbu spesial itu berhambur di atas lantai dan alhasil ditatapnya begitu nanar oleh Weva.


Semuanya tertawa terbahak-bahak seakan melihat kejadian ini begitu lucu persis seperti film komedi. Ken sedikit goyah dari tempat berdirinya seakan tak tega melihat kedua mata Weva yang sudah memerah.


Ken meneguk salivanya. Jujur ia juga tak tega.


"Gue udah bilang, kan sama lo untuk nggak nantangin seorang Ken," ujar Ken membuat Weva mendongak menatap Ken sejenak dan kembali tertunduk menatap nasi goreng dan sehelai kertas yang bertuliskan I Love You di sana.


Wiwi yang melihat kejadian itu dengan cepat berlari ke arah Weva namun, sayangnya geng Sangmut dengan jahatnya berdiri menghalangi langkah Wiwi membuat langkah Wiwi kini tertahan.


Fhina mengibaskan rambutnya ke belakang sambil menatap kuku-kuku di jejari tangannya.


"Mau kemana lo? Urusan kita belum selesai," ujarnya lalu ia tersenyum dan melirik ke arah Wiwi.


Weva kembali menatap Ken yang kini tak menatapnya. Weva tak menyangka jika pria pembully ini dengan teganya melakukan hal ini.


Weva ingin marah, tapi rasanya bibir ini tak mampu bergerak. Weva tak tahu harus berkata apa.


Weva menghela nafas lalu segera berlutut pasrah dengan jari-jarinya yang terlihat gemetar mengumpulkan hamburan nasi goreng buatannya di lantai. Tetesan demi tetesan air mata mengenai permukaan lantai membuat tubuh Weva gemetar menahan sesegukan.

__ADS_1


Rasa sakit dan perih menjadi satu di hati Weva membuat Weva tak mampu menahan tangisan ini.


Syuuur.


Mulut Weva menganga ketika ia bisa merasakan guyuran air yang membasahi kepala dan sebagian tumbuhnya. Tak berselang lama suara tawa terdengar membuat suasana menjadi riuh.


Ken tersenyum sinis lalu menghempas botol air yang ia rampas dari tangan salah satu penonton dari tantagan ini untuk menguyur tubuh Weva.


Wiwi terkejut bukan main menatap apa yang telah dilakukan oleh Ken. Kedua rahang Wiwi menegang dengan jari-jari tangannya yang gemetar menahan amarah.


"Minggir lo semua!!!" teriak Wiwi lalu mendobrak paksa tiga tubuh gadis geng yang sedari tadi menahannya.


Fhina, Firda dan Harni seketika langsung melangkah mundur. Ketiganya langsung menoleh menatap gadis kurus itu yang kini telah melangkah pergi mendekati Ken.


Ken menoleh menatap gadis cerewet itu yang kini berlari dan langsung saja mendorong dada Ken hingga Ken sedikit mundur.


"Puas lo semua?!!" bentak Wiwi yang berhasil membuat suasana menjadi sunyi. Tak ada lagi suara tawa yang terdengar.


"Udah puas lo semua ngelakuin ini sama Weva?!!"


Wiwi menghentikan geretaknya hingga Weva yang masih berlutut itu mampu mendengar suara hembusan nafas Wiwi dari mulutnya.


"Heran gue sama lo semua!!! Nggak ada satu pun dari kalian yang punya hati!!!"


"Bisa nggak lo bayangin kalau lo yang ada di posisi Weva? Bisa nggak?!!"


"Nggak, kan!!!"


"Lo sakit nggak, sih kalau lo diperlakukan seperti ini?!!"


Wiwi menatap ke segala arah. Tatapannya meraba menatap para murid yang kini nampak diam.


"Weva juga manusia dan dia juga punya hati yang bisa sakit tanpa perlu diminta!!!"


"Weva juga punya hati!!!"


"Pernah nggak sih lo bayangin rasanya jadi Weva?!! Pernah nggak?!!"


"Lo semua kira enak setiap hari dibully kayak gini?!!"


"Nggak enak!!! Lo kira ada orang yang mau dibully?!!"


"Nggak ada satu pun orang di dunia ini yang mau dibully kayak dini dan dijadiin bahan tertawaan!!!"


Semuanya masih terdiam terutama Ken yang kini termakan dengan geretakan Wiwi yang membabi buta.


Wiwi yang masih emosi itu kini beralih menatap Ken. Ini semua karena ulah murid baru itu.


Wiwi melangkah mengikiskan jarak antara ia dan Ken. Ditatapnya begitu tak menyangka wajah Ken yang tampan itu.


  


"Jahat banget, sih lo."


Wiwi menatap dari ujung atas sampai ujung kaki Ken.


"Gue akuin lo emang sempurna. Lo tinggi dan ganteng sampai-sampai lo kayak nggak punya kekurangan, tapi sayangnya lo nggak punya hati."


"Lo tahu nggak? Nggak ada yang pernah ngelakuin ini sama Weva."


"Asal lo tahu, yang lo lakuin barusan itu jahat tahu nggak," ujar Wiwi lagi lalu segera meraih pergelangan tangan Weva dan membawanya pergi dari kerumunan.  


Langkah Wiwi memelan ketika berhadapan dengan geng Sangmut yang menatapnya begitu sinis.


"Udah gue viralin!" ujar Harni tanpa dosa dengan handphone yang berada di gengamannya. Lagi dan lagi Harni menayangkan live di Instagram dan merekam semua kejadian ini.

__ADS_1


"Terserah!" sinis Wiwi lalu melanjutkan langkahnya sambil menarik Weva meninggalkan tempat keramaian ini.


__ADS_2