Princess Endut

Princess Endut
215. Keputusan Seperti Apa Ini?


__ADS_3

"Kamu mau kan jadi pacar aku?" tanya Brilyan.


Deg!


Rasanya jantung Weva berhenti berdetak di detik ini juga. Dia tak pernah menyangka jika Brilyan akan mengatakan hal ini kepadanya sekarang yang kedua kalinya.


Weva tak tau harus menjawab apa lagi sekarang. Ia tak mungkin menerima sosok Brilyan di dalam kehidupannya karena ia tau hatinya telah menjadi milik pria bernama Ken Satya Negar sementara hatinya diciptakan bukan untuk Brilyan Pratama.


Suara pesan masuk terdengar dari handphone Weva membuat Weva melepaskan genggaman tangan Brilyan dari jemari tangannya. Dia meraih handphone tersebut lalu menatap pesan yang terpampang jelas di layar handphonenya.


[Wev, gue tau ini nggak mudah bagi lo tapi untuk saat ini gue mau lo jadi pacar Brilyan. Gue tau keputusan gue berat bagi lo tapi ini juga berat bagi Brilyan kalau lo malah nolak dia]


[Pliase, tolong terima Brilyan!]


Setelah membaca pesan tersebut membuat Weva terkejut, itu berarti Ken mendengar percakapan antara ia dan Brilyan di dalam ruangan ini.


Hal tersebut membuat kedua mata Weva merambah ke segala arah berusaha untuk mencari sosok Ken yang entah dimana keberadaannya.


Hingga kedua mata yang sejak tadi menelusuri seisi ruangan itu terhenti mendapati sosok Ken yang baru saja mengintip di pintu rumah sakit.


Ken menyadarkan tubuhnya ke dinding setelah melihat Weva yang melihatnya. Tak berpikir panjang Ken memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkan area ruangan.


"Siapa?"


Weva menekan tombol pada handphonenya membuat layar yang menyala itu kini menggelap. Ia memasukan handphonenya ke dalam tas lalu kembali tersenyum.


"Bukan apa-apa," jawab Weva.


"Jadi sekarang bagaimana? Kamu mau, kan jadi pacar aku?"


Lagi dan lagi Weva menarik nafas dalam. Dia dibuat menunduk dengan pertanyaan hal tersebut. Cukup bingung saat ini untuk harus mengambil keputusan. Ia tau jika saat ini kesehatan Brilyan sedang tidak baik-baik saja.


Brilyan baru saja telah sadar setelah kritis beberapa hari dan telah melewati beberapa operasi untuk pengangkatan tumor lalu kemoterapi, tapi ia juga tidak mungkin menyakiti hati Ken.


Walaupun Ken mengizinkannya untuk menerima Brilyan tapi ia tau jika Ken tetap saja akan sakit hati. Apa mungkin ia harus membuat satu orang sakit hati hanya untuk membuat satu orang tersenyum.


"Weva!"

__ADS_1


Kedua mata Weva bergerak menatap Brilyan yang masih setia menatapnya.


"Kamu mau, kan?"


"Kamu mau, kan jadi pacar aku?"


Tak ada jawaban dari Weva. Gadis itu tetap diam membisu. Weva tersenyum sejenak. Dia menatap Brilyan dan kembali menunduk memainkan jemari tangannya hingga tak bersama lama dengan terpaksa ia menggangguk mengiyakan Brilyan.


Hal itu membuat Brilyan tersenyum bahagia dengan wajahnya yang menatap Weva tak menyangka.


"Ka-ka-kamu mau? Kamu mau jadi pacar aku?"


"Iya, Brilyan."


Mendengar hal itu membuat Brilyan memeluk tubuh Weva yang kini mematung. Weva tak tau apakah ini adalah hal yang terbaik atau tidak.


Weva hanya menurut apa kemauan Ken. Weva tau Ken menyuruhnya menerima Brilyan karena hanya untuk kebaikan saudara kembarnya, itu saja tak lebih.


...****...


Suasana malam yang begitu hening ditemani suara jengkrik terdengar seakan mengisi malam yang penuh keheningan di taman rumah sakit.


Suara langkah terdengar dan tubuh Ken sedikit bergerak saat seseorang ikut duduk di kursi panjang yang ia tempati. Tak butuh menoleh untuk melihat siapa yang datang. Ken tau siapa orang itu.


"Ken nggak sayang, ya sama Weva?"


Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Weva setelah ia beberapa detik telah berada di samping Ken. Ken menghembuskan nafas pendek, Ia menggerakkan kepalanya menoleh menatap Weva sejenak dan kembali tertunduk.


"Kalau Ken nggak sayang sama Weva bilang aja."


Ken menggerakkan jemari tangannya, mengelus rambut Weva yang kini dibuat tertunduk.


"Gue sayang, kok sama lo, Wev."


"Nggak! Weva nggak sayang sama Weva karena Ken nyuruh Weva buat nerima Brilyan jadi pacar Weva."


Ken menggerakkan jemari tangannya, menggenggam erat jejari tangan Weva.

__ADS_1


"Gue minta maaf sama lo. Gue nyuruh lo nerima Brilyan bukan berarti gue nggak sayang sama lo tapi disaat ini Brilyan itu cuman butuh lo."


"Brilyan butuh lo saat ini. Gue nggak mau liat kesehatan Brilyan makin buruk hanya karena lo nolak dia."


"Lo tau kan gimana sayangnya mama sama Brilyan. 18 tahun, Wev, 18 tahun Mama nggak pernah ngeliat Brilyan dan akhirnya mereka dipertemukan."


"Gue ngelakuin ini karena punya alasan-"


"Alasan apa?"


"Wev-"


"Alasan apa yang membuat Ken mau nyurug Weva harus nerima Brilyan jadi pacar Weva?"


Ken mendekatkan tubuhnya dengan Weva membuat jarak mereka kini dekat. Ken mengelus beberapa kali pipi Weva dan kembali menggenggam jemari tangan si wanita dengan erat.


"Gue bakalan kasi tau apa alasan gue nyuruh lo nerima Brilyan jadi pacar lo. Gue bakal ngasih tau-"


"Ya udah sekarang kasi tau Weva!" potongnya.


Ken memejamkan erat kedua matanya, melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk mengerti situasi ini. Ken kembali membuka kedua matanya mendapati wajah Weva yang masih menatapnya, menanti jawaban dari dirinya.


"Gue akan jelasin tapi bukan sekarang."


"Kenapa? Kenapa bukan sekarang? Kenapa bukan sekarang Ken ngasih tau Weva?"


"Wev, nanti lo juga bakalan tau apa alasan gue nyuruh lo buat nerima Brilyan."


"Tapi-"


"Weva, gue tau ini berat bagi lo tapi ini demi kebaikan Brilyan."


"Terus hubungan kita gimana?"


"Lo tetap jadi pacar gue, Wev. Hubungan kita nggak akan pernah berubah."


Weva menghembuskan nafas panjang dari mulutnya, terasa berat untuk harus menjalani ini semua. Tak berselang lama Weva mengangguk membuat Ken tersenyum. Ia merangkul pundak Weva dan membawanya ke dalam pelukan.

__ADS_1


Di satu sisi pandangan Weva kini terlihat kosong. Pikirannya hanya berpusat memikirkan apa alasan Ken sehingga menyuruhnya melakukan hal ini.


Alasan itu, Weva akan menunggu waktu yang tepat dan mendapatkan alasan dari Ken.


__ADS_2