Princess Endut

Princess Endut
134. Pasar Malam (Bianglala)


__ADS_3

"Weva boleh naik itu?"


"Em," sahut Ken.


Senyum Weva mengembang indah. Kedua matanya yang sejak tadi dibuat sesedih mungkin kini berubah menjadi binar.


"Yeeeee!!!" teriak Weva sambil melompat-lompat kegirangan.


Para pengunjung pasar malam langsung menoleh menatap Weva yang masih melompat dengan pandangan aneh.


Ken yang masih melangkah itu tersenyum tipis. Entah mengapa ia merasa bahagia jika Weva bahagia. Tak lama Weva sudah berlari melintasinya menuju bianglala yang masih berputar di atas sana.


Ken tertawa kecil. Weva persis seperti anak kecil yang baru pertamakali melihat benda besar yang berputar itu. Kedua bibir Weva terbuka. Ia berdiri di depan bianglala dengan wajah pasang kagum.


"Wah."


"Lo mau naik sekarang?"


Weva berbalik badan menatap Ken yang terlihat sedang mendongak ke atas


"Lo? Maksudnya Weva?"


"Ya, iya lah. Emang siapa lagi?"


"Ken, bukan cuman Weva tapi Ken juga."


Kedua mata Ken membulat. Pandangannya itu langsung beralih menatap Weva.


"Apa? Gu-gue?" Tunjuk Ken pada wajahnya.


Weva tersenyum lebar lalu mengangguk.


Ken terdiam sesaat. Ia kembali mendongak menatap bianglala yang tiba-tiba saja membuatnya mual.


"Ken. Ken kenapa?"


Ken terbatuk dan kembali menatap Weva.


"Nggak, gue nggak apa-apa," jawabnya berbohong.


Sejujurnya Ken itu takut ketinggian dan ia tak pernah sekalipun naik bianglala. Dari Ken kecil sampai ia sebasar ini, ia tak pernah naik wahana seperti apa yang Weva inginkan.


Tapi Ken juga tak mau kalau Weva sampai tahu Ken takut ketinggian. Ken tak mau Weva sampai menertawainya.


"Ken! Bianglalanya udah berhenti."


"Ah?"


"Ayo!"


Weva langsung menarik Ken membuat Ken mau tak mau harus mengikut. Ken menyentuh lututnya yang tiba-tiba saja bergetar saat ia menaikkan kakinya pada kabin besi penumpang.


Weva tersenyum bahagia bahkan sakin semangatnya ia sampai membantu para petugas untuk menutup pintu kabin besi itu membuat Ken berpegangan erat pada besi saat kabin itu bergerak mengikuti gerakan Weva.


Ken menjemukan kedua matanya. Nafasnya jadi sesak persis seperti orang asma yang kesulitan bernafas.


Weva yang tak sabar itu kini dibuat bingung pada Ken yang terlihat memejamkan kedua matanya.


"Ken!" panggil Weva membuat Ken tersentak kaget.

__ADS_1


"Ken kenapa?"


"Nggak."


"Ken tidur? Ngantuk?"


"Nggak."


"Tapi, kok tutup mata?"


Ken mengusap matanya berpura-pura menggosoknya.


"I-iya, nih. A-ada ada debu kayaknyaaaaaaa!!!" teriak Ken diakhir kalimatnya saat bianglala itu berputar.


Ken menggeliat takut sambil merintih. Sedetik kemudian Ken baru sadar jika ada Weva di hadapannya membuatnya dengan cepat membuka mata mendapati Weva yang terlihat melongo.


"Ken-"


"Ehem, kayaknya tenggorokan gue gatal, deh."


Ken tersenyum kaku. Ia berusaha untuk tenang. Ia tak mau Weva tahu kalau ia takut ketinggian dan ini dia mengapa ia Ken memotong ujaran Weva.


Dua menit kemudian...


"Yeeeee!!!" sorak Weva kegirangan ketika ia telah berada di atas bianglala yang masih berputar dengan pelan.


Kepala Weva tak henti-hentinya keluar dari besi pengaman untuk melihat suasana pasar di bawah sana. Pemandangan lampu-lampu kapal nelayan dapat terlihat dari atas sini.


"Wev! Bisa nggak, sih lo itu nggak gerak-gerak? Kalau bianglalanya patah karena lo kebanyakan gerak gimana? Kita bisa mati kalau jatuh ke bawah."


"Emang lo mau? Lo nggak takut apa kalau itu beneran terjadi?" oceh Ken dengan wajah pucat sambil berpegangan di besi tepat di sampingnya.


Ken meneguk salivanya. Ia sudah tak tahan di atas sini. Ken mendongak ke langit.


"Tuhan, kapan gue turun?" batin Ken.


Weva yang masih tersenyum penuh kegembiraan itu dengan perlahan meraih kotak makan hellokitty yang bersi kue brownis buatan Tante Laila. 


"Ken mau?" tanya Weva sembari menjulurkan kue brownis ke arah Ken yang terlihat pucat karena ketakutan, namun Weva belum sadar akan hal itu.


Ken menggeleng walau sejujurnya ia tak sepenuhnya menolak. Ken takut untuk melepas pegangannya yang erat itu dari besi yang sejak tadi tak sedikitpun dibiarkan lepas.


Bianglala itu terus berputar dengan perlahan membuat para pengunjung kincir angin menikmati suasana malam hari dari atas ketinggian.


"Wev!"


"Em?"


"Ini, ini kapan berhentinya?"


"Berhenti? Baru aja naik masa mau berhenti aja, sih?"


"Perasaan udah dari tadi," bisik Ken.


Tak!!!


Suara keras terdengar bersamaan dengan jeritan orang-orang yang merasakan getaran pada bianglala.


Ken yang ketakutan itu berteriak keras dan mengerakkan tubuhnya untuk bangkit. Ken tak tahu harus kemana.

__ADS_1


"Weva!!!" teriak Ken.


"Weva di sini."


Ken mengerakkan tangannya berniat untuk mencari sesuatu dan alhasil ia menyentuh permukaan tangan Weva.


Ken mengenggam erat permukaan tangan Weva. Ia bangkit dari tempat duduknya dan memeluk tubuh Weva yang kini terdiam kaku.   


Ken memeluk tubuh Weva begitu erat membuat Weva mampu merasakan getaran tubuh Ken yang terasa mengigil. Nafas Ken terasa sesak dikala ketakutan menghantuinya. Ken membenamkan wajahnya di bahu Weva yang terdiam kaku membiarkan Ken memeluknya.


Para petugas bianglala itu berteriak dibawah sana memberikan instruksi kepada orang-orang yang berada di atas agar kiranya tetap tenang karena tak lama lagi kincir angin akan kembali berjalan normal.


Ken tak peduli dengan semua itu ia tetap saja ketakutan dan mengingat perkataan Tante Laila jika di waktu Ken kecil ia pernah menginginkan untuk naik bianglala, akan tetapi Mamanya itu menolak keinginan Ken tersebut dengan alsan berbahaya dan sekarang ujaran Mamanya itu terbukti.


Sekarang bianglala itu terhenti dan yang paling parahnya kabin yang ia tempati ini berhenti paling atas.


"Ke-kenapa? Kenapa bianglalanya nggak gerak, Wev?"


"Kenapa nggak gerak?"


"Ken-"


"Apa? Apa kita bakalan di sini sampai pagi?" potong Ken yang bicara tanpa henti.


"Gue nggak mau, Wev di sini terus! Apa mungkin bianglalanya rusak parah?"


Weva mengusap bahu Ken dengan lembut membiarkan Ken untuk tetap tenang.


"Ken! Ken harus tenang! Para petugas lagi usaha buat benerin bianglalanya dan mungkin nggak lama lagi bianglalanya udah bisa bagus lagi."


Ken tetap merintih. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Ken takut jatuh.


Tak lama bianglala kembali bergerak membuat suasana kembali menjadi normal, tetapi tidak bagi Ken. Ia tetap saja memeluk Weva yang kini menepuknya pelan.


"Ken!"


"Jangan gerak, Wev! Nanti kita jatuh!"


"Tapi-"


"Ini karma, Wev. Oh, Mamaaaaa dan Bapaaaaak!!! Ken minta maaf!!!" teriak Ken


"Ken! bianglalanya udah gerak, kita udah aman."


Ken tak peduli. Ketakutannya lebih mendominasi.


"Ken. Buka mata! Semuanya udah baik-baik aja!"


"Nggak! Gue takut."


"Udah nggak!"


"Bohong."


"Nggak, Weva nggak bohong. Coba aja dulu!"


Ken dengan perlahan merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Weva yang begitu dekat.


Dari sini Weva mampu melihat jelas wajah Ken yang terlihat ketakutan. Serta sorot matanya yang seakan ingin menangis. Selain Ken yang memiliki sifat yang mudah marah dan bertutur kasar, tapi satu hal yang Weva lihat saat ini. Ken terlihat pria yang lembut, tak seperti apa yang selalu ia lihat selama ini.

__ADS_1


"Maaf," ujar Ken yang dengan cepat melepaskan pelukannya.  


__ADS_2