
Weva mematung menatap ke luar jendela kaca pesawat dimana awan-awan memutih di langit biru.
Tanpa diminta lagi dan lagi air mata Weva menetes penuh duka. Rasanya begitu sakit. Weva ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya tapi ia juga tak mungkin melakukan hal ini di depan publik, banyak orang di sini.
Rasanya batinnya tersiksa dan terasa pedih di dalam sana. Bagaimana bisa ada rasa sedih setelah meninggalkan mereka semua padahal ia pergi tak lama.
"Weva nggak tau. Weva sesedih ini karena apa?"
"Apa Weva sedih karena harus berpisah dengan Brilyan atau Ken?"
Jari tangan Weva menyentuh perlahan permukaan jendela dan membelainya lembut.
Weva kini teringat akan sesuatu hal, yakni surat dari Ken. Weva merogoh saku bajunya dan berhasil menemukan surat Ken yang kini berada di tangannya.
Weva tersenyum dan mulai membuka surat itu dengan perlahan. Surat itu terbuka sedikit membuat Weva mampu melihat sebuah tulisan di sana.
"Permisi," ujar seorang wanita tua yang duduk di samping Weva.
Weva menghentikan gerakan tangannya yang membuka kertas itu dan beralih untuk menoleh menatap wanita tua yang tanpa ia sadari telah sejak tadi menjadi teman duduknya di penerbangan kali ini.
"Boleh tolong buka ini?" tanya wanita tua itu sembari menjulurkan botol air mineral ke arah Weva.
Weva mengangguk dan kembali melipat kertas yang telah nyaris Weva baca lalu memasukkannya di dalam saku jaketnya.
"Sini! Biar Weva bantu."
Wanita itu tersenyum saat Weva meraih botol yang ia julurkan.
"Kamu mau kemana?"
Weva melirik lalu tersenyum menatap paras wanita tua yang lebih mirip wanita Korea, berambut yang agak beruban, berkulit putih dengan kedua mata yang agak sipit.
"Weva mau ke Korea."
"Nama kamu Weva?"
"Iya, Bu."
"Bagian mana di Korea?"
"Seol."
Wanita tua itu mengangguk. Ia meneguk air mineral dan kembali bicara.
"Kamu sepertinya kelihatan sedih?"
Mendengar hal itu Weva menoleh. Ia tak lagi melihat ke arah jendela pesawat. Bagaimana bisa wanita tua ini tahu apa yang Weva rasakan saat ini.
Weva tertawa kecil.
__ADS_1
"Apa Ibu ada seorang peramal?"
Mendengar hal itu wanita tua itu pun ikut tertawa.
"Yang bukan peramal saja akan tahu apa yang kamu rasakan. Raut wajah kamu terlihat sedih. Apa telah terjadi sesuatu sebelumnya?"
Weva tertunduk. Apa ia memberitahu saja pada wanita tua itu mengenai perasaanya saat ini.
"Nak!"
Weva menoleh menatap tangan keriput yang menyentuh bahunya.
"Katakan saja, Nak!"
Weva menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.
"Aku tidak tau apa yang terjadi pada hati Weva."
"Apa yang kamu rasakan?"
Weva terdiam. Ia mematung menatap kursi yang ada di depannya lalu kembali menatap wanita tua itu.
"Begini saja, Bu. Andaikan Ibu punya dua pria, satu pria itu adalah orang yang sangat Ibu suka tapi pria itu tidak mencintai Ibu."
"Ibu setiap hari mengutarakan cinta akan tetapi pria itu selalu menghindar. Pria dingin dan jarang bicara."
Weva terdiam. Tanpa sadar ia tersenyum setelah mengingat tentang sosok Ken.
"Bu, kira-kira Ibu pilih siapa?"
Wanita tua itu menarik nafas panjang dan menghembus nafasnya berat.
"Jangan tanyakan kepada Ibu, Nak! Yang tau jawabannya hanyalah kamu. Bukan Ibu atau siapa pun, tapi tanyakan pada hatimu. Sebab hanya hatimu yang dapat menjawabnya.
"Tanyakan pada hatimu! Siapa yang membuatmu merasa nyaman dan selalu tersenyum saat dia ada di sampingmu."
Weva dibuat terdiam. Pria pendiam sedingin es balok itu tak pernah tersenyum atau bahkan membuatnya tersenyum. Yah, dia memang selalu tersenyum, namun senyum itu hanya pada pihak Weva sedangkan Brilyan tidak.
Sementara Ken, bukan malah tersenyum tetapi selalu membuatnya tertawa dan marah-marah. Selain menjengkelkan dan menyebalkan, Ken selalu mengajak Weva itu beradu mulut walau hanya disebabkan oleh kesalahan kecil.
"Namun ada beberapa yang perlu kamu tau. Kita tidak boleh berharap lebih pada seseorang karena mengharap pada manusia adalah kesalahan yang paling terbesar."
"Kamu hanya tinggal memilih, kamu ingin tetap mengejar atau memilih untuk dikejar."
Weva tersenyum kecil.
"Mana ada yang ingin mengejar gadis gendut seperti Weva?"
Wanita tua itu tersenyum. Ia mengelus pipi Weva yang begitu lembut.
__ADS_1
"Siapa yang bilang tak ada yang ingin mengejarnya? Ada seseorang yang suatu saat nanti akan mengejar kamu."
"Mau tidak mau, cepat atau lambat itu semua akan terjadi."
Senyum Weva mengembang pada bibirnya yang mungil. Ia begitu bahagia setelah mendengar hal tesebut.
Ia kembali menoleh menatap pemandangan laut di bawah sana. Weva berharap semoga saja apa yang wanita tua itu katakan adalah benar.
Namun senyum Weva perlahan sirna dari bibirnya. Di pikirannya kini terpikir siapa yang telah membuatnya sedih. Ken atau Brilyan?
...****************...
Suara jengkrik terdengar diiringi hembusan angin malam yang menerpa sosok Ken yang sedang duduk di anakan tangga yang ada di taman.
Pandangannya menatap air mancur yang terlihat begitu indah di malam ini. Ada beberapa orang yang sedang foto-foto di sana sekedar mengambil kenangan-kenangan saat mengunjungi taman ini.
Wajah Ken terlihat datar, raut wajahnya sedih tak seperti biasanya. Kalau Ken selalu menunjukkan wajah cerianya, namun kali ini senyum pun tak pernah terukir di wajah Ken.
Dari sini ia bisa melihat air mancur yang telah menjadi kenangan indah bagi Ken mengenai sosok Weva. Tak akan pernah terlupa saat ia berdansa di bawah guyuran air terjun hingga sakit secara bersamaan.
Ken bangkit dari anakan tangga lalu melangkah ke arah motor vespanya dan menjalankannya pergi menyusuri jalanan beraspal yang malam ini begitu ramai oleh kendaraan, pasalnya malam ini belum terlalu larut.
Wajah Ken datar sambil mengemudikan motornya. Tak ada sosok Weva lagi yang selalu ada di belakang jok motornya dan kadang salalu mengajaknya berdebat.
Ken menghentikan laju motornya setelah menepikan motornya di depan kerumunan pasar malam.
Ken mendongak menatap bianglala yang terlihat berputar di atas sana membuat Ken tersenyum. Kenangan indah mengenai Weva itu kembali terpikir di benaknya.
Ken menunduk sedih.
"Weva. Kenapa sih lo harus pergi ninggalin gue?"
"Lihat! Gue sekarang menyendiri di sini dan nggak ada lagi lo yang nemenin gue."
Ken menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.
"Weva! Cepet balik, ya! Gue rindu."
...****************...
Brilyan meletakkan bekal pink ke lemari khusus bekal yang tersusun rapi di lemarinya. Brilyan tersenyum tipis lalu melangkah mundur menatap milyaran bekal yang tersusun rapi.
Brilyan membaringkan tubuhnya ke atas kasur tempat tidurnya. Pandagannya menatap langit-langit kamar diiringi hembusan nafas panjang.
Ia memejamkan kedua matanya hingga sosok Weva yang menjulurkan bekal pink di waktu pagi kembali teringat pada pikirannya.
Brilyan membuka kedua matanya. Ia terdiam cukup lama di dalam keheningan malam.
"Mengapa aku memikirkannya?"
__ADS_1