Princess Endut

Princess Endut
46. Tantangan


__ADS_3

"Hah?"


...****************...


Bara yang sejak tadi tertawa tak sengaja menoleh ke arah kanan membuatnya kini terlihat jelas menatap sosok Weva dan Wiwi yang kini terlihat sedang menatapnya.


Bara tersenyum sinis lalu menyikut pelan tangan Ken yang langsung menoleh.


"Ada si gendut," bisiknya.


"Siapa?"


Ken menoleh ke arah Weva setelah Bara menunjuk ke arah depan dengan ujung bibirnya membuat Ken kini tersenyum dengan sudut bibirnya yang terangkat.


"Mangsanya udah dateng, Bro," bisik Roy.


"Gue heran banget sama tuh anak gendut, suka banget lewat sini."


"Iya, mau kemana, sih tuh pakai bawa bekal segala?" tambah Roy menanggapi ujaran Kevin.


Bara tersenyum penuh makna lalu melangkah lebih dekat dengan Ken.


"Lo semua mau tahu kenapa dia suka lewat sini?"


Roy dan Kevin menoleh.


"Kenapa?" tanya keduanya dengan kompak sementara Ken terlihat hanya terdiam.


"Dia itu suka sama Brilyan," bisik Bara memberitahu.


"Brilyan?" tanya Ken yang tak tahu.


Sejujurnya Ken memang tak pernah mendengar nama itu selama ia berada di sekolah ini.


"Brilyan, Ken. Dia itu anak IPA 1. Dia anak tercerdas sepanjang masa yang pernah sekolah ini punya," jawab Kevin.


"Betul," sahut Roy.


"Dia juga terkenal sebagai cowok idaman seluruh siswi sekolah ini-"


"Betul," potong Roy


"Soalnya dia ganteng-"


"Betul."


"Pintar-"


"Betul."


"Kaya raya-"


"Bet-"

__ADS_1


"Heh!" tegur Kevin membuat Roy tersenyum cengengesan.


"Ah, berisik banget, sih lo berdua," kesal Ken.


"Nih, mulut rombeng!" Tunjuk Kevin.


"Gue melulu yang disalahin."


Ken menghela nafas. Ia mengerakkan satu alisnya ke atas seakan memberi kode agar Bara menjelaskannya. Rasanya ia pusing jika Kevin dan Roy yang menjelaskannya.


"Brilyan itu murid andalan di sekolah ini dan si gendut itu suka sama Brilyan" ujar Bara.


"Oh, jadi si gendut itu suka sama si Brilyan," tanggap roy sembari mengangguk membuat Ken melirik sinis.


Selalu saja pria ini bicara.


"Sorry, tapi kasian banget si Brilyan pasti kena mental, tuh tiap hari di kejar-kejar sama si gendut,"  jelas Roy yang kini hanya geleng-geleng kepala.


"Dan bekal itu."


Bara menunjuk dengan gerakan rahangnya ke arah bekal Weva membuat semuanya terpusat ke pada satu arah yaitu sebuah bekal yang ada di tangan Weva.


"Itu buat Brilyan," sambungnya memberitahu.


"Ngapain bawa bekal?" tanya Kevin.


"Emang gitu kalau cewek suka sama cowok, pasti dikasi sesuatu. Lo, sih nggak ngerti, kan lo cowok."


"Lah, emang lo cewek bisa ngerti?" tanya Kevin membuat Roy kini terdiam.


"Seganteng apa Brilyan itu?" tanya Ken membuat Kevin dan Roy merangkul bahu Ken sambil tertawa cengengesan.


"Nggak terlalu ganteng, sih. Lebih ganteng lo, deh, Ken," ujar Kevin.


"Betul," sahut Roy.


Bara terdiam beberapa saat lalu tersenyum jahat dan kembali berujar penuh hasut.


 


"Ken!" panggil Bara membuat Ken dan kedua temannya itu menoleh menatap Bara.


"Gue punya tantangan buat lo."


"Tantangan?"


Bara mengangguk.


"Apa? Kasih aja! Ken pasti bisa, iya, kan Ken?" tanya Kevin membuat Ken hanya tersenyum.


"Gue suka tantangan."


Bara tersenyum lalu mengangguk dan sedetik kemudian ia menoleh menatap Bara.

__ADS_1


"Gue tantang lo buat ngelempar bekalnya di gendut itu ke lantai!"


Ken mentautkan kedua alisnya dan sontak menatap ke arah Bara dengan tatapan tak menyangka. Bagaimana bisa sepupu Weva menyuruh orang lain untuk melakukan hal itu kepada sepupunya sendiri. 


Apakah Bara tidak gila? Ini adalah perbuatan yang tidak baik. Ken tahu jika membully adalah hal yang paling ia sukai, tapi melempar bekal gadis gendut itu tidak termasuk ke dalam kamusnya.


Ken tahu bagaimana rasanya jika membawa bekal karena Mamanya selalu menyelipkan bekal ke dalam tasnya. Ken juga tidak tahu siapa yang membuat isian bekal gadis gendut itu.


"Kenapa, Ken?" tanya Bara yang rupanya sejak tadi menatap Ken yang nampak terdiam.


"Lo nggak berani?" tanya Bara.


"Yah nggak lah. Ken berani. Ken, kan orangnya pemberani, Iya kan Ken?" tanya Roy sembari merangkul Ken yang masih terdiam bingung.


"Ken, mah orangnya pemberani," tambah Kevin.


Ken terdiam lalu beralih menatap Weva yang masih berbincang dengan sahabat berisiknya itu.


Kali ini Ken tak tahu harus berbuat apa. Apakah ia harus menerima tantangan Bara atau malah menolaknya.


Apakah mungkin Ken harus melempar bekal gadis gendut itu di depan semuanya? Ken tak mau melihat gadis itu menangis, tapi jika ia menolak tantangan Bara, mau ditaruh di mana wajah Ken. Mereka semua akan tertawa dan menganggap Ken adalah orang yang lemah.


"Gimana, Ken? Lo terima atau nggak?" tanya Bara di tengah-tengah Ken berpikir.


Bara menghela nafas panjang.


"Kayaknya ada yang nggak mau, nih nerima tantangan dari gue."


Kevin dan Roy saling bertatapan dan keduanya dengan cepat menatap Ken.


"Lo nggak mau, Ken?" bisik Kevin.


Ken masih terdiam dengan batinnya yang sudah sejak tadi berdebat di dalam sana. Tolonglah! Ken juga masih punya hati nurani.


Ken memejamkan kedua matanya lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.


"Gue terima tantangan Bara," putus Ken membuat semuanya tersenyum terutama Bara yang kini tersenyum sangat licik. 


"Gue bakal lempar bekalnya dengan satu syarat."


"Apa?" tanya Bara.


"Gue bakal lempar bekalnya kalau dia berani ngelewatin gue. Satu langkah si gendut lewat di samping gue maka disaat itu gue lempar bekalnya," ujar Ken dengan suara yang terdengar dingin.


Ken kini terdiam lalu melangkah dua langkah lebih maju ke depan seakan telah siap dengan tantangan itu.


"Semangat, Bro!" ujar Kevin yang kini menepuk bahu Ken yang kini terlihat melirik ke arah bahunya yang telah ditepuk itu.


Kevin dan Roy kini melangkah mundur lalu duduk di anakan tangga seakan siap untuk menonton hiburan yang tak lama lagi siap dipertontonkan sedangkan Bara kini tersenyum licik menatap ke arah Weva.


Sejujurnya Bara sangat membenci sosok Weva terutama pada Burhan. Burhan adalah Pamannya yang begitu sangat sombong, itu yang Bara pikirkan karena Pamannya itu tak pernah berkunjung ke rumah, ya mungkin saja karena Ibu Bara, saudara kandung dari Burhan tidak sekaya seperti yang Burhan punya.


Rasa bencinya itu menjalar hingga tak mau melihat keluarga Burhan bahagia dan inilah mengapa sangat membenci sosok Weva, si gadis kaya raya yang baginya adalah orang yang paling pantas untuk disakiti.  

__ADS_1


Kevin dan Roy kini tersenyum kegirangan di belakang sana. Yah, kapan lagi mereka bisa melihat tontonan gratis yang pasti kali ini akan begitu sangat seru. Ken dan si gadis gendut itu, tak ada kisah pembullyan seseru ini jika selalu berhubungan dengan dua orang itu.


__ADS_2