
Weva meletakkan sisir berwarna pink ke atas permukaan meja riasnya setelah menyisir rambutnya yang ia biarkan terurai. Ia tersenyum menatap wajahnya yang telah dipoles dengan makeup sederhana. Sore ini ia harus terlihat lebih cantik dari biasanya.
Ia merapikan rok pink sebatas lutut dan menariknya agar lebih turun menutupi area lututnya.
"Perpface," ujar Weva lalu melangkah keluar dari kamar.
Hari ini ia akan datang ke rumah pak Ahmad untuk melakukan belajar bersama sebelum kegiatan olimpiade. Hal yang paling membuat ia juga merasa bahagia adalah kali ini ada Brilyan dan ini pula alasan Weva berdandan.
Weva melangkah turun dari mobil setelah mobil di tepikan oleh pak Walio tepat di depan rumah pak Ahmad. Rumah yang sudah setahun ini tak lagi ia kunjungi. Weva sangat rindu rumah ini. Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan bagi Weva. Di sini ia menemukan sosok wanita yang begitu sangat lemah lembut dengan sikap keibuan. Siapa lagi jika bukan Mama Laila.
"Nanti pulang jam berapa, Non?"
Weva yang sejak tadi menatap ke arah rumah langsung menoleh menatap pak Walio yang ikut menatapnya menanti jawaban.
"Emm, kurang tau juga tapi nanti Weva chat."
"Nona Weva tidak mau ditemani kah begitu?"
"Nggak usah, pak."
Pak Walio mengangguk lalu melajukan mobilnya pergi meninggalkan Weva yang kembali menatap ke arah rumah.
Weva menggerakkan kepalanya menatap ke arah pekarangan rumah berusaha untuk mencari sosok penghuni rumah.
Gong!!!
Weva menoleh setelah mendengar suara gonggongan anjing yang begitu ia kenal membuatnya tersenyum bahagia.
"Pinky!" teriak Weva.
Pinky melangkah maju, menggonggongi Weva seakan Weva adalah pencuri.
"Pinky ini Weva. Pinky lupa sama Weva?" ujarnya sambil menyentuh dadanya.
Tak ada perubahan. Pinky tetap saja menggonggongi Weva. Weva kini terdiam, mungkin saja sekarang Pinky telah lupa dengan dirinya. Apalagi sekarang Weva telah berubah. Pinky hanya mengingat sosok Weva yang gendut, bukan Weva yang seperti sekarang ini.
Tak berselang lama Weva yang asik terdiam kini kembali tersenyum. Ia mengingat sosok Bobo, anjing peliharaannya yang begitu ia sayang. Setahun lalu ia telah menitipkan anjing kesayangannya itu pada sosok Ken yang telah menjadi pemilik sementara.
"Sekarang Bobo gimana, ya? Weva rindu."
"Hai Klorin!"
Senyum Weva sirna dari bibirnya. Kedua matanya membulat setelah mendengar suara yang tak asing lagi di indra pendengarannya, itu suara Brilyan.
Weva menoleh menatap sosok Brilyan yang berdiri di depannya serta mobil yang baru saja pergi.
"Hai!" sapa Weva yang ikut melambaikan tangannya ke arah Brilyan.
"Kamu udah dari tadi nyampainya?"
"Em, baru aja."
Brilyan mengangguk sejenak lalu tersenyum setelah menatap wajah Weva yang juga ikut membalas senyum.
"Hari ini kamu cantik."
Kedua mata Weva membulat. Ia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Ia begitu tak menyangka dan percaya pada apa yang Brilyan katakan kepadanya. Brilyan memujinya.
"A-a-apa?" tanya Weva gugup.
__ADS_1
Brilyan tertawa kecil. Untuk pertama kalinya ia menyampaikan kekagumannya pada seorang perempuan setelah kepada almarhum Ibunya. Brilyan mengangkat pandanganya kembali menatap Weva.
"Kamu cantik."
"Oh, ya?"
Brilyan tersenyum lalu mengangguk membuat Weva berbalik badan membelakangi Brilyan. Ia menyentuh pipinya yang kini memerah karena malu. Untuk pertama kalinya Brilyan memujinya seperti ini.
...****************...
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu terdengar membuat Laila yang sedang sibuk mencuci perlengkapan makan itu menoleh. Ia menatap Ken yang sedang asik memotong wortel untuk makan malam nanti.
"Ken!"
"Iya, Ma?"
"Kayaknya ada tamu, ya?"
"Tamu?"
Ken menghentikan gerakan tangannya yang memegang pisau lalu ikut terdiam hingga suara ketukan pintu kembali terdengar.
"Oh iya, Ma. Kayaknya emang ada tamu," simpul Ken.
Pak Ahmad yang sedang menyusun perlengkapan makan ke dalam lemari langsung menoleh.
Ken dan Laila menoleh menatap pak Ahmad yang terlihat kesal dengan dirinya sendiri.
"Bapak lupa kalau Bapak ada janji sama si murid baru itu untuk belajar bersama persiapan olimpiade."
Senyum Ken langsung merekah. Jadi itu berarti yang ada di luar sana adalah Weva.
"Yah sudah Bapak mau keluar dulu bukain pintu."
"Eh! Nggak usah, pak!" tahan Ken cepat membuat langkah pak Ahmad terhenti. Ia menatap bingung pada putranya itu.
"Loh, kenapa?"
"Biar Ken aja yang buka. Bapak lanjut aja susun piringnya. Okay!"
Tak menunggu jawaban dari Bapaknya, Ken langsung saja bangkit dari kursi lalu berlari kencang membuat Laila dan pak Ahmad saling berpandangan dengan wajah bingungnya. Biasanya jika ada tamu, Ken selalu berlari masuk ke dalam kamar dan menguncinya begitu rapat seakan Ken adalah seorang gadis yang pemalu tapi kali ini dengan semangatnya Ken ingin membuka pintu.
Suara ketukan pintu masih terdengar di luar sana. Ken yang masih berlari itu segera mengusap tangannya lalu menciumnya membuat wajahnya mengecut.
"Aduh, mana bau wortel sama bawang lagi."
Ken menghentikan langkahnya ketika ia berada di belakang pintu. Ia kembali mencium jemari tangannya yang masih tercium bau. Ia diam sejenak seakan memikirkan sesuatu sambil menopang pinggang.
Tak berselang lama ia berlari mendekati akuarium dan menenggelamkan jemari tangannya di sana membuat ikan-ikan kocar-kacir tak jelas. Ken kembali mengusap kedua tangannya yang masih basah itu pada permukaan bajunya.
Ken mendengus dan meringis. Bukan menghilangkan bau wortel dan bawang, tangannya bahkan kini berbau ikan.
Tok!!!
__ADS_1
Tok!!!
Ken menoleh. Ia berlari kecil menghampiri pintu dan membukanya sambil tersenyum.
Senyum Ken sirna dari bibirnya. Bibirnya yang hendak bicara untuk menyambut kedatangan Weva kini tertahan setelah menatap sosok Brilyan yang ada di samping Weva.
Ken lupa jika olimpiade itu juga melibatkan Brilyan. Sosok pria yang sedari dulu selalu disanjung oleh Weva.
"Ngapain lo di sini?" sinis Ken.
"Em kita mau-"
"Kita ada janji sama pak Ahmad," potong Brilyan yang melangkah mendekati Ken.
Ken mengangguk berpura-pura jika ia baru tau hal tersebut. Tak berselang lama Ken berbalik badan lalu berteriak.
"Pak! Ini murid baru sama si kurus kering udah dateng!!!" teriak Ken lalu menoleh menatap Brilyan yang mengernyit bingung sementara Weva yang tertawa kecil.
"Masuk lo!" nyolot Ken lalu melangkah masuk ke dalam.
Weva yang melangkah masuk ke dalam rumah itu memelankan langkahnya setelah ia tak mendengar suara langkah dari Brilyan.
"Brilyan! Nggak masuk?"
Brilyan yang terlihat diam memikirkan ujaran Ken itu langsung menoleh dan tersenyum menatap Weva.
"Iya aku masuk, kok," jawabnya lalu melangkah bersisian dengan Weva.
"Klorin!"
"Em?"
"Si kurus kering itu maksudnya apa, ya?"
Weva melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk menahan tawanya. Ken selalu saja berbuat usil.
"Duduk di situ!" Tunjuk-nya ke arah satu kursi membuat Weva mengangguk sambil tersenyum dan segera duduk.
Brilyan ikut menggerakkan tubuhnya berniat untuk duduk di kursi yang ada di samping Weva.
"Eh tunggu!!!" teriak Ken membuat Brilyan tersentak kaget.
"Kursinya rusak! Lo kalau mau duduk, duduk di lantai aja!" Tunjuknya berbohong.
"Rusak?"
"Iya rusak. Lo nggak percaya sama gue?"
Brilyan menoleh menatap kursi yang lain.
"Kalau yang itu?"
"Itu juga," jawab Ken.
Brilyan terlihat diam membuat Ken kembali bicara.
"Kalau nggak mau duduk di lantai lo berdiri aja di situ sampai pegel."
Brilyan menghela nafas panjang lalu dengan terpaksa ia duduk di atas lantai sesuai permintaan Ken membuat Ken berbalik badan dan tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
__ADS_1