Princess Endut

Princess Endut
55. Ungkapan Hati


__ADS_3

"Brilyan."


Suara kecil Weva menanggapi pria tampan di depannya.


Seketika hati terasa berbunga-bunga bisa melihat pria yang sangat ia sukai itu sedang berada di hadapannya. Oh Tuhan, harus apa ia sekarang?


Weva berbalik badan membelakangi Brilyan untuk merapikan sedikit poninya yang sudah rapi itu dengan jari-jari tangannya lalu tak berselang lama ia kembali menatap Brilyan.


"Hai Brilyan. Selamat pagi," sapa Weva dengan senyum manisnya sambil melambaikan jari-jari tangannya.


Brilyan masih terdiam. Ia tak menjawab apa-apa lalu tak lama ia mulai mengangguk menandakan ia telah menanggapi sapaan Weva. Hanya itu, sebuah anggukan dari sapaan Weva yang penuh harap.


Tatapan Weva kini mengikuti langkah Brilyan yang segera mendekati mejanya dan ikut mengintip di balik jendela persis seperti apa yang Weva lakukan tadi.


Weva masih berdiri di belakang Brilyan menanti Brilyan untuk bicara kepadanya. Weva ingin Brilyan yang kemarin, dimana dia bicara banyak kepadanya.


Tak berselang lama Brilyan menoleh menatap Weva yang langsung tersenyum lebar.


"Kamu liat apa tadi di sini?" tanya Brilyan membuat Weva sedikit terkejut.


Brilyan lagi dan lagi berujar lebih dari tiga kata kepadanya seperti kemarin. Ah, dengar Saha suaranya yang begitu sangat lembut saat berbicara. Nada bicaranya bahkan beda jauh dengan nada suara di pria pembully yang bicaranya sangat kasar dan sangat menyebalkan.


"Weva liat Bara," jawab Weva malu-malu, ini bukan malu karena nama Bara yang ia sebut, tapi tatapan sorot mata Brilyan yang membuat Weva tersipu malu.


Ah, ini memang sering terjadi. Entah mengapa tatapan Brilyan itu selalu membuatnya tersipu malu.


"Pacar kamu?" tanya Brilyan.


Weva membulatkan matanya ketika kalimat itu terdengar membuatnya kini melangkah lebih mendekati Brilyan dan langsung berujar cepat.


"Bukan!"


"Weva nggak punya pacar, kok, beneran sumpah, deh!"


"Bara itu sepupu Weva, bukan pacar Weva."

__ADS_1


"Lagian Weva nggak mau pacaran sama orang lain karena Wevanya suka sama Brilyan, beneran, deh!"


"Weva nggak bohong kalau nggak percaya tanya aja sama Bobo."


OMG!


Kedua mata Weva membulat. Weva baru saja telah keceplosan membuatnya langsung mengigit bibir bawahnya yang berwarna pink segar itu.


Weva berbalik badan dan memukul bibirnya sendiri beberapa kali yang dengan bodohnya telah keceplosan.


Weva menghela nafas lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Ia kembali menoleh dan tersenyum malu di hadapan Brilyan.


Di sisi lain Brilyan nampak biasa-biasa saja, yah, selama ini bukan hanya Weva yang berani mengatakan itu, tapi sudah banyak bahkan banyak wanita yang memohon dan berlutut di kaki Brilyan hanya untuk memohon dijadikan pacari oleh Brilyan.


Murahan? Ya, sepertinya sebutan itu cocok, tapi harus bagaimana lagi.


Weva melenyapkan senyum lebarnya yang terlalu berlebihan itu. Rasanya ia seperti orang bodoh yang tersenyum sendiri di hadapan orang yang diam dengan mimik wajah datar.


Weva tertunduk sejenak.


"Weva suka sama Brilyan," ujar Weva tanpa menyesali perkataan yang keceplosan tadi.


Weva mendongak menatap Brilyan yang terlihat hanya diam.


"Brilyan!" panggil Weva kepada Brilyan yang langsung menghela nafas lalu tak berselang la pria itu nampak tertunduk.   


Weva tak tahu apa yang terjadi pada pria idamannya itu, tapi yang jelas Weva juga ikut tertunduk sambil meremas jari-jari tangannya.


"Weva suka sama Brilyan, loh. Weva sukanya udah lama banget."


Weva melipat bibirnya ke dalam. Ia mengatur nafas yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Weva memejamkan kedua matanya dengan erat. Kali ini ia harus bertanya. Apa pun hasilnya Weva tidak peduli.


"Brilyan kira-kira suka nggak sama Weva?" tanya Weva tanpa menatap kearah lawan bicaranya.


"Hai, Wev!" sapa Fhina lalu merangkul pundak lebar Weva yang kini kedua matanya membulat. Ia terkejut bukan main dengan kedatangan gadis-gadis geng Sangmut ini yang entah datang dari mana.

__ADS_1


Weva menoleh menatap heran tangan Fhina yang kini melingkar di bahunya. Tumben sekali gadis jahat ini merangkulnya seperti ini.


"Ah, untung lo di sini. Gue itu udah dari tadi cariin lo. Eh, malah ketemunya di sini."


"Cari Weva?" Tatap Weva tak mengerti.


"Wev, kayaknya lo dipanggil sama pak Ahmad, deh, yuk Wev ikut gue!" Tarik Fhina dengan sorot matanya yang nampak begitu sinis.


"Pak Ahmad? Cariin Weva?" Tatap Weva bingung.


"Iya Weva, Pak Ahmad udah nungguin lo, kasian, kan Pak Ahmad kalau nunggu lama," tambah Firda sembari ikut menarik pergelangan tangan gendut Weva.


"Tapi kenapa Pak Ahmad nyariin Weva?"


"Udahlah, Wev! Lo nggak usah nanya gitu soalnya ini itu penting banget, hehehe." Tawanya diakhir kalimatnya sambil terrsenyum menatap Brilyan.


Weva terdiam heran, untuk apa Pak Ahmad memanggilnya dan mengapa ketiga gadis ini begitu mencurigakan. Suara mereka terdengar manis tapi tatapan mereka penuh kesal dan kebencian. Apa mereka merencanakan sesuatu?


"Ayo Wev!" paksa Firda sambil terus menarik pergelangan tangan Weva.


"Ayo!" ajak Fhina dengan tatapan sinis-nya.


Tatapan itu merupakan tatapan benci lalu ia kembali tersenyum menatap ke arah Brilyan.


"Em, Brilyan. Ah, gue keluar dulu, ya!"


Brilyan terlihat mengangguk pelan membuat Fhina kembali menarik Weva. Pegangan tangan Fhina begitu sangat erat dan ini terasa sakit.


 


Dasar bodoh, Weva lupa jika ketiga gadis ini merupakan fans Brilyan dan apakah mereka mendengar Weva mengungkapkan perasaanya dan isi hatinyaa kepada Brilyan?  


"Ayo, Weva cepetan! Nanti Pak Ahmad marah!"


Tarik Fhina dan Firda dengan serentak sementara Harni masih sibuk dengan handphonenya, yah sepertinya Harni sedang melakukan live di Instagram nya. 

__ADS_1


  


Weva melangkah keluar ketika dua gadis alay ini membawanya keluar dari kelas meninggalkan Brilyan yang nampak tak perduli sama sekali kepadanya.


__ADS_2