Princess Endut

Princess Endut
70. Jangan Menyerah


__ADS_3

Ken sesekali meringis ketika jari telunjuknya menyentuh pipinya yang memar karena berhasil di pukul oleh Roy dan Kevin. Ini bukan sepenuhnya  kesalahan Ken hingga Roy dan Kevin harus di larikan ke rumah sakit lagian mereka duluan yang memulai.     


"Sakit nggak ?" Tanya weva yang kini nampak jongkok di hadapan Ken yang tengah duduk di kursi yang berada di belakang gudang sekolah. 


Tempat ini lumayan sunyi hingga tak ada yang pernah melewati tempat ini, hal ini pula yang menjadikan tempat penenang bagi Ken tapi, nampak nya kedamaian nya itu sirna dengan keberadaan gadis gendut ini di hadapannya.


"Sakit yah ?" Tanya weva lagi.


"Nggak !" Ketus Ken.


Weva terdiam lalu menghembuskan nafas lelah yah, rasanya weva lelah harus mengikuti Ken seperti ini. Terkadang perjuangan itu sangat melelahkan.


"Ken !" Panggil weva lalu mendongakkan wajahnya menatap Ken yang sama sekali tak menatapnya.


"Ken kapan sih berubah pikiran dan mau bantuin weva, weva capek tau nggak !".


Ken melirik sinis.


"Weva capek !".


"Eh gendut, gue nggak pernah nyuruh Lo buat ngikutin gue, Lo ajah tuh yang mau ngikutin gue".


"Gue nggak akan pernah bantu Lo apapun keadaannya !" Sambungan nya lagi.  


Weva meringis kesal lalu segera bangkit dan membuat Ken mendongakkan kepalanya menatap weva.


"Yah udah, hari ini weva lelah dan weva nyerah" ujarnya membuat Ken tersenyum.


"Tapi besok weva ganggu Ken lagi" sambung weva lalu beranjak pergi meninggalkan Ken yang melongo.  


...🌷🌷🌷...


"Weva capek !" Aduh weva yang kini melangkah beriringan di samping Wiwi yang hanya mampu terdiam Yap, sedari tadi gadis cerewet ini hanya mampu mendengar kalimat pengaduan weva.


Wiwi mengangguk lalu segera merangkul bahu lebar weva dan menepuknya dengan rasa hangat.


"Kapan sih si Ken mau bantuin weva ? Weva itu udah capek gangguin Ken dari pagi !".


"Sabar wev".


Weva kembali menghembuskan nafas yang sangat berat dengan langkahnya yang sudah hampir menggapai gerbang sekolah.


Langkah weva terhenti ketika ia teringat sesuatu membuatnya kini merogoh tas nya.


"Cari apaan wev ?".


"Yah wi !".


"Kenapa ?".


"Buku novel weva ketinggalan" ujarnya panik.


"Udahlah besok ajah di ambil, lagian siapa yang mau nyuri buku novel kisah cinta kayak gitu sih ?"

__ADS_1


"Tapi itu penting wi, di sana ada tanda tangan penulis super love k yang tanda tangannya itu cuman ada 10 di dunia".


"Teruuuuus Lo mau apa ? Balik lagi ke kelas ?"


"Iya, wiwi balik duluan Ajah !" Ujar weva berlari meninggalkan Wiwi yang menggeleng tak menyangka jika saking sayangnya weva dengan buku novelnya weva mau kembali ke kelas yang cukup jauh. 


"ENTAR SURUH PAK WALIO JEMPUT WEVA YAH !" Teriak Weva sambil berlari.


"IYA !" Sahut Wiwi.  


...🌷🌷🌷...


Weva tersenyum bahagia ketika buku novel kesayangannya itu sudah aman di dalam pelukannya. Buku novel dari penulis misterius yang sama sekali belum menunjukkan dirinya di depan publik. Weva sangat penasaran.


BRUAK


Buku-buku berserakan di lantai tepat di anakan tangga membuat weva menoleh menatap seseorang yang tengah memunguti satu persatu buku pelajaran.


Weva berlari cepat dengan niatnya untuk membantu sosok yang  tengah berlutut itu. Tak ada orang di sini kecuali mereka berdua jadi jika weva tak membantu lalu siapa yang akan membantu orang tersebut.


"Sini biar weva bantu !".


Weva berlutut memunguti buku pelajaran yang tergelatak di lantai satu persatu lalu bangkit dan melongo menatap sosok pangeran impiannya yang tengah menatapnya.


Brilyan.


"Brilyan ?".


"Brilyan jatuh ?" Tanya weva.


Brilyan tersenyum lalu menoleh menatap ke arah tangga.


"Tadi jatuh di situ !" Ujarnya lalu kembali menatap weva.


Oh tuhan apakah weva tidak salah lihat ? Brilyan tersenyum dan itu membuatnya begitu sangat mempesona. Tolong lah berikan weva tabung oksigen ! Rasanya weva sesak.


Weva menatap buku-buku yang begitu menumpuk di tangan kokoh Brilyan bahkan belasan buku itu sudah berada di depan dada Brilyan.


"Lain kali Brilyan harus hati-hati, oh iya weva bantu yah ?".


"Makasih tapi nggak usah, aku bisa kok".


"Nggak apa-apa kok weva ikhlas bantuin Brilyan" ujar weva sembari tersenyum manis.


Suasana sunyi kini mengiringi langkah weva dan Brilyan yang bergerak melewati koridor sekolah yang nampak begitu hening.


Weva tak henti-hentinya tersenyum rasanya ia ingin menghentikan pergerakan waktu agar dirinya bisa berlama-lama dengan Brilyan yang sedari tadi berada di sampingnya.


Ini semua berkat buku novel yang ketinggalan itu, wah terima kasih buku novel dan penulis rahasia. Impian weva agar bisa berduaan dan dekat dengan Brilyan akhirnya terkabul.


"Brilyan !" Panggil weva membuat Brilyan menoleh menatap weva.


"Brilyan baca buku ini semua ?" Tanya weva.

__ADS_1


Brilyan mengangguk.


"Tapi kayaknya ini banyak banget deh, bukannya hari ini jadwal pelajaran Brilyan cuman ada empat yah ?, Matematika, bahasa Inggris, Indonesa dan kimia ".


Hah ! Weva keceplosan lagi, semoga saja Brilyan tidak menanyakan dari mana ia mengetahui semua itu, tak mungkin weva mengatakannya jika weva mencari tau hal tersebut karena ingin mengetahui apa yang Brilyan pelajari di sekolah.


"Aku cuman pengen mempergunakan waktu istirahat di sekolah dengan pelajaran besok jadi aku bawa buku yang menurut ku penting !".


Hah ! Brilyan akhirnya bicara panjang lebar  khusus untuk weva. Rasanya jantung weva ingin meledak sekarang.


  


"Bukannya ini terlalu banyak yah ?" Tanya weva lagi.  


Brilyan tersenyum lalu menatap tumpukan buku yang berada di dalam gendongannya dan tangan weva. Bukunya memang banyak.


Langkah Brilyan terhenti dengan tatapan terkejutnya menatap sosok yang begitu ia takuti tengah berdiri menatapnya dari kejauhan.


"Kenapa ?" Tanya weva lalu ikut menoleh menatap dua pria, satu sosok berjas dan satu pria berseragam hitam, sepertinya ia supirnya.


Brilyan menelan ludahnya menatap takut pada sorot mata Johan yang menatapnya begitu tajam bahkan Brilyan baru ingat jika ia baru saja melanggar satu peraturan ayahnya itu yakni dekat dengan seorang wanita.  


Raful melangkah setelah di bisikkan sesuatu ke telinganya oleh johan membuat brilyan gemetar.


Langkah raful terhenti lalu dengan kasar ia meraih buku yang berada di gendongan weva membuat weva terbelalak.


"Kamu pacaran nya ?" Tanya raful membuat weva menganga.


"Bukan !, Dia sahabat Brilyan" jawab Brilyan cepat.


Weva sedikit menatap takut pada pria di hadapannya ini, dia seperti pembunuh bayaran yang telah di bayar mahal. Sangat membuat orang tak nyaman.


"Mari tuan Brilyan, tuan Johan telah menunggu !" tegas raful lalu melangkah dan berdiri di belakang Brilyan, membiarkan Brilyan berjalan lebih dulu.


Brilyan melangkah tanpa mengucapkan apa-apa kepada weva yang nampak nya belum mendengar ucapan terima kasih dari Brilyan.


Weva nampak cemberut lalu tertunduk dan kedua alisnya mengkerut ketika mendapati buku novel kesayangannya tak ada lagi dalam pelukannya. 


"OM !" Teriak weva lalu berlari mendekati Raful yang nampak menyambutnya dengan tatapan tajam.


"Apa ?" Suara tegasnya terdengar membuat weva seketika tersentak.           


"Maaf om, buku yang paling bawah itu buku saya" ujarnya membuat raful yang memiliki tubuh tinggi dan besar itu segera menghempas buku yang weva maksud.


Weva terbelalak mendapati buku novel nya terhempas di atas tanah. Pria ini kasar sekali !.


Raful kembali melangkah membuat weva segera berlutut dan meraih buku novel miliknya.


"Jahat banget sih !" Kesal weva lalu untuk beberapa saat ia terdiam menatap Brilyan yang nampak tertunduk di hadapan pria berjas hitam yang terlihat mengoceh.


Dari sini Weva mampu melihat jika pria yang tengah mengoceh itu sedang marah besar bahkan dengan kejamnya ia menunjuk-nunjuk Brilyan seakan Brilyan memiliki kesalahan yang sangat besar.


Tak genap beberapa menit akhirnya mobil yang di tumpangi Brilyan melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan weva yang nampak terdiam.

__ADS_1


__ADS_2