Princess Endut

Princess Endut
179. Dia Weva!


__ADS_3

"Dia Weva," jawabnya terus teran.


Kini suasana mendadak sunyi menyisahkan kata dian yang tercipta dari kedua makhluk yang saling bertatapan ini sementara Weva hanya mampu gelisah sembari menutup wajah dengan telapak tangannya.


Ken mengembungkan kedua pipinya lalu tertawa terpingkal-pingkal. Rasanya ini sangat lucu. Bagaimana bisa Wiwi mengatakan jika gadis bertubuh langsing dan dengan perilaku kasar adalah Weva, si gadis gendut yang selama ini ia nantikan dengan telponnya.


Weva menurunkan telapak tangannya yang sejak tadi menutup wajahnya dan melirik Wiwi yang ikut menatapnya.


Entah mengapa Ken tertawa dalam suasana yang terasa menegang menurut Weva.   


  


Ken yang masih tertawa itu seketika terdiam menatap wajah serius dari dua wanita yang sedang menatapnya dengan penuh keseriusan.


Sepertinya ini bukanlah sebuah candaan. Wajah Wiwi terlihat sangat serius.


"Lo serius?" tanya Ken dengan wajah penuh keseriusan yang tak kurang sedikit pun.


Wiwi menganggukkan kepalanya membuat Ken kembali tertawa dengan penuh rasa geli. Wajah Wiwi datar. Ia menoleh menatap Weva yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tidak mengerti.


"Ken, jujur lo kayak orang gila," ungkap Wiwi.


Ken kembali terdiam dan memijit keningnya yang terasa pening setelah memikirkan ini semua. Ia sesekali tertawa kecil dan kembali menutup mulutnya berusaha untuk berhenti tertawa.


"Gue nggak percaya," ujar Ken lalu kembali menarik pergelangan tangan Wiwi berniat membawanya kembali pergi dari tempat ini.


Wiwi berusaha menghempas tangannya yang masih dipegang erat oleh Ken tapi tenaga Ken yang lebih besar darinya membuatnya kewalahan.


"Ken! Lo harus percaya sama gue! Dia itu Weva! Dia bukan Klorin seperti apa yang udah dia bilang!!!"


Tak ada jawaban dari Ken.


Wiwi menoleh menatap Weva yang terlihat diam seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Weva! Ayo ngomong!!!"


"Lo harus ngasih tau Ken kalau lo itu beneran Weva!"


Weva hanya terdiam menatap Wiwi yang kini semakin jauh darinya.


Weva memejamkan kedua matanya. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Jemari tangannya mengepal kuat.


"Ken!" teriak Weva yang kini memutuskan angkat bicara setelah sedari tadi diselimuti oleh rasa keraguan.


Ken menghentikan langkahnya setelah ia mendengar suara yang tak asing di gendang telinganya. Suara yang selalu mengeluh lelah kepadanya dan selalu mengajaknya berdebat.


Suara yang sudah sangat ia hapal. Si gadis gendut yang selalu membawanya pada sebuah kebahagiaan.


Ken menoleh menatap Weva yang nampak gugup dengan sorot matanya yang redup nyaris meneteskan air mata.


"Aku Weva," ujarnya terus teran.


Ken mengangkat sudut bibirnya dan tertawa sinis.


"Lo kira gue bisa percaya sama lo?"


Suasana kini kembali sunyi. Weva dan Ken kini saling memandang namun, tak ada yang bicara.


"Ken tapi dia beneran Weva," ujar Wiwi membenarkan.

__ADS_1


Ken melepaskan pegangan dari tangan Wiwi dan mengangguk sembari menopang pinggang.


"Lo juga kenapa, sih malah ikut-ikutan ngomong kalau dia itu Weva?"


Wiwi mendengus kesal dan kembali bicara dengan gemasnya.


"Tapi dia beneran Weva. Gue nggak mungkin bohong."


Ken menghela nafas panjang. Ia terdiam cukup lama memikirkan hal tersebut. Ia menoleh menatap Weva yang masih berdiri di sana.


"Oky, sekarang sebelum gue percaya sama lo kalau lo itu Weva. Lo harus jawab pertanyaan dari gue!"


Mendengar hal tersebut Weva tersenyum bahagia ini kesempatan baginya untuk membuktikan jika ia benar adalah Weva.


"Sekarang lo sebutin apa yang lo ketahui tentang gue!"


"Tentang Ken?"


"Em, gue butuh bukti."


Weva menarik nafas panjang dalam-dalam. Ada banyak yang ia ketahui tentang Ken dan ini membuatnya bingung untuk memilih apa yang akan ia beritahu pada Ken untuk meyakinkannya.


Ken tersenyum sinis membuat konsentrasi Weva buyar.


"Liat, Wi! Ini yang lo bilang Weva?"


"Gue yakin kalau lo itu cuman berhalusinasi."


Ken mengerakkan kepalanya menatap Weva yang terlihat panik.


"Gue yakin lo bukan Weva dan stop buat ngaku-ngaku karena gue nggak suka," ujarnya lalu melangkah pergi dan kali ini ia tak menarik pergelangan tangan Wiwi lagi. 


"Ayo, Wev! Lo bilang sesuatu agar Ken percaya sama lo," bisiknya dengan nada sedikit gelisah dan memaksa.


Weva mengangguk dan menatap Ken yang semakin menjauh dari jaraknya.


"Ken Satya Negara!" teriak Weva membuat Ken mendadak menghentikan langkahnya.


Ken meneguk salivanya melewati kerongkongan yang seakan tertahan. Jantungnya seakan berhenti untuk berhenti berdetak di detik ini juga. Bagaimana bisa gadis itu tau mengenai nama lengkapnya.


"Ken, pria pembully nomor satu yang paling, Weva benci di dunia ini!l."


"Pria nggak punya hati yang udah Weva tabrakin motor vespanya di batang pohon pinggir jalan karena,kebodohan Ken yang maksa Weva buat belajar naik motor pa-padahal Weva nggak bisa."


"Pria pembully ya-ya-ang udah bantuin Weva nurunin berat ba-badan Weva dan akhirnya turun 10 kg," ujarnya terisak menahan air mata.


"Pria pembully yang sering manggil Weva dengan sebutan Endut dan Weba benci nama itu."


"Tapi nama itu yang buat Weva jadi berkesan."


"Ken Satya Negara, orang yang udah muntah karena takut ketinggian pas udah baik bianglala."


Ken terdiam rasanya ia sulit untuk bernafas mendengarkan hal itu. Ini tak bisa Ken percaya tapi ini kenyataanya. Gadis ini benar tau apa yang pernah terjadi.


Weva kini terdiam membuat Ken sadar jika Weva telah selesai menyebutkan bukti agar ia bisa percaya. Ken menoleh menatap Weva yang sudah sesegukan di belakang sana sambil mengusap pipinya yang basah.


"Apa lagi yang lo tau?" tanya Ken dengan suara serak.


Weva tertunduk. Ia mengigit bibirnya bergetarnya dengan kuat lalu kembali menatap Ken.

__ADS_1


"Pinky, tower tangki air dan, si monyet dan-"


Weva memejamkan kedua matanya membuat air matanya menetes.


"Keken," lanjutnya membuat kedua mata Ken memanas.


Nafasnya seakan tertahan di tengkoraknya membuatnya dengan cepat berlari dan memeluk tubuh Weva.


Weva melepaskan tangisannya di dalam pelukan Ken. Ia benar-benar rindu pada sosok pria ini.


"Gue rindu sama Ken," ungkapnya membuat Ken tersenyum sambil mengangguk.


"Gue juga," bisiknya.


Ken melepaskan pelukannya dan menatap tubuh Weva dari atas sampai ke bawah.


"Lo-lo udah la-langsing sekarang?"


Weva mengangguk dengan punggung tangannya yang mengusap pipinya yang basah.


Ken tertawa bercampur tangis. Ia bahkan tak tau harus bahagia atau menangis.


"Kok, bisa?"


Weva memonyongkan bibirnya dan menyikut perut Ken membuatnya meringis walau itu tak sakit.


"Yah, bisa lah."


Ken tersenyum dan perlahan ia tertawa setelah menatap perut Weva.


"Oh, iya lemak lo mana, Wev?" tanya Ken sambil menusuk pelan permukaan perut Weva yang datar. Hal ini membuat Weva tertawa walau air matanya tak mampu ia tahan.


"Hem? Dimana?"


Weva menggeleng. Ia tak sanggup untuk bicara.


"Ke-ke-tinggalan di Korea," jawabnya membuat mereka tertawa.


"Taik lo," ungkap Wiwi yang sudah menangis sejak tadi.


"Kaca mata lo juga udah nggak ada."


Weva meraba sebelah matanya yang sudah basah itu lalu mengangguk.


"Ketinggalan di Korea juga?"


Weva menggeleng membuat Ken yang masih tertawa itu mencubit kedua pipi Weva yang tak sebesar dulu.


"Udah nggak chubby lagi, dong," ungkapnya sedih. 


Weva tertawa dan memilih untuk memukul lengan Ken yang begitu sangat bahagia setelah melihat perubahan Weva.


"Muka lo sekarang cantik banget, putih. Lo perawatan, ya di sana?" canda Ken membuat Weva tertawa.


Ken melirik rambut Weva yang terlihat indah sebatas pinggang itu. Ia menyentuh dan menimang-nimangnya membuat Weva kembali tertawa.


"Panjang banget rambut lo? Hem? Siapa yang ajarin pakai rambut kayak gini?"


"Harusnya Ken seneng. Ken seneng, kan?"

__ADS_1


Ken mengangguk lalu kembali memeluk Weva sementara disatu sisi kini Wiwi terdiam. Dari sini ia bisa melihat Ken yang terlihat begitu sayang kepada Weva namun, entah mengapa Weva seakan tidak menyadari hal tersebut.


__ADS_2