
"Lo udah nggak sahabatan lagi, yah?" tanya Firda.
"Apaan, sih ini kan bukan urusan lo?" jawab Wiwi dengan nada malas sambil menatap ke arah gelasnya.
Firda menghela nafas berat membuat Fhina mengelus pundak Firda agar sahabat pemarahnya itu tidak terpancing emosi.
"Oh iya, Wi. Gue perhatiin sekarang si gendut itu, eh maksud gue si Weva sekarang makin akrab, yah sama si Ken?"
"Iya Fhin," sahut Harni cepat dengan wajahnya yang begitu bersemangat membuat Wiwi, Fhina dan Firda menoleh menatap serius ke arah Harni.
"Kenapa? Emang bener, kan? Nih, yah satu sekolah udah sering liat si Weva itu berangkat dan pulang bareng sama si Ken, naik motor vespa lagi. Haduh, kalau di pikir-pikir kasian banget, sih tuh motornya si Ken," jelas Harni.
"Hust !!!" Tegur Firda cepat agar Harni tak berujar lebih tentang Weva di hadapan Wiwi yang bisa saja marah di detik ini juga.
"Emm, lo sekarang sama si Weva kenapa sih?" tanya Fhina penuh serius.
Wiwi terdiam dengan tatapannya yang terus tertunduk. Apa perlu ia memberi tahu ini semua kepada mereka mengenai alasan kerenggangan kedekatan Weva dan Wiwi.
"Kenapa, Wi?" Tanya Fhina.
"Yah, kita, kan juga peduli sama lo. Walau pun kita itu sering jahat sama Weva, tapi kita juga peduli kali sama lo dan teman lo itu," rayu Firda.
Kini suasana menjadi sunyi menanti Wiwi bicara.
"Gue dan weva untuk sementara waktu enggak sahabatan," jawab Wiwi memberi tahu dengan nada lemahnya.
"What?!!" Syok Fhina dengan matanya yang menatap ke arah Wiwi dan kemudian menoleh menatap Firda dan Harni dengan senyum kebahagiaannya.
__ADS_1
"Kok, bisa?" tanya Fhina lagi berpura-pura sedih.
Wiwi menghela nafas dan kembali berujar, "Weva minta bantuan sama Ken untuk nurunin berat badan Weva dan salah satu syaratnya, yah Weva nggak boleh deket sama gue."
"Loh? Kenapa kayak gitu syaratnya? Kan lo sama si gendut itu udah sahabatan sejak lama masa harus pisah dulu?" tanya Fhina.
"Iya bener tuh lagian lo kan nggak ganggu proses nurunin berat badan Weva, jadi kenapa harus ngejauh?" tambah Firda.
"Yah gue tahu, tapi yah menurut Ken dengan cara itu Weva nggak makan banyak soalnya gue setuju, sih kadang gue yang ngajak Weva makan banyak dan ini alasan Ken," jelas Wiwi tanpa pernah menatap ke arah Harni, Fhina dan Firda.
Ketiga anggota geng sangmut itu saling bertatapan dan kemudian mereka mengangguk, tanda mengerti dengan hal ini. Tak lama Fhina tersenyum sinis ketika Firda membisikkan sesuatu ke telingannya membuat Fhina mengerti.
"Emmm, menutur gue ini bahaya, sih, Wi buat lo," ujar Fhina membuat Firda dan Harni tersenyum penuh makna.
Gerakan tangan Wiwi yang mengaduk sedotan itu terhenti. Ia menoleh menatap Fhina.
"Iya," jawabnya penuh keseriusan sambil mengangguk.
"Nih, yah gue kasi tahu kenapa ini bahaya buat lo. Kalau misalnya Weva nurunin berat badan dan Weva jadi langsing terus cantik, otomatis lo bakalan tersingkir dari sisi seorang Weva yang nantinya bakalan berubah."
Wiwi menkerutkan dahinya setelah mendengar ujaran Fhina yang benar-benar tak pernah ia pikirkan.
"Itu berarti lo udah nggak dianggap lagi sebagai sahabat sama Weva, Wi," sambung Fhina.
"Kalau misalnya Weva langsing dan lo masih gini-gini aja, yah lo nggak bakalan dilirik lagi sama Weva yang udah berubah."
"Lo bakalan dibuang jauh-jauh, Wi. Lo percaya sama gue!"
__ADS_1
"Tapi-tapi Weva enggak kayak gitu," bantah Wiwi dengan mimik wajahnya yang ikut tak percaya dengan ujaran Fhina yang sama sekali tak pernah ada di pikirannya.
"Lo yakin?" bisik Fhina penuh hasut sambil mengangkat sebelah alisnya.
Wiwi menghembuskan nafas panjang dengan wajah khawatirnya. Apa yang dikatakan Fhina itu benar?
Apa Weva akan pergi meninggalkannya setelah dia langsing nanti?
"Yap, gue harap lo bisa mencerna apa yang gue bilang ke lo, Wi."
"Sekarang orang bisa berubah kapan pun dan dimana pun dia."
"Selama apa pun seseorang sahabatan, dia akan tetap pergi kalau ketemu sama orang baru atau dia udah berubah secara fisik."
"Disaat dia susah dia emang ada sama lo, tapi setelah dia udah seneng, yah dia bakalan lupa sama lo," hasut Fhina membuat Wiwi kini hanya bisa terdiam.
Tatapannya entah menatap ke arah mana namun, sepertinya hasutan itu telah berhasil merasuki pikirannya.
"Sekarang lo bisa paham sama semuanya. Walau pun gue nggak ngomong kayak gini, tapi kayaknya lo udah ngerti, deh apa yang gue maksud," jelas Fhina lalu bangkit dari kursi dan tak berselang lama mereka pergi meninggalkan Wiwi sendiri dengan ujaran Fhina yang telah merasuki pikirannya.
Wiwi hanya mematung. Apakah ini serius?
Wiwi menggerakkan jari-jari tangannya dan merapikan sedikit rambutnya yang menyentuh wajahnya. Tak lama Wiwi meraih handphonenya dan menatap layar chatnya yang sampai detik ini belum di balas oleh Weva.
Apa Weva benar akan meninggalkan dan pergi seperti apa yang Fhina katakan. Wiwi tahu kalau Weva itu adalah orang yang baik dan tidak mungkin meninggalkannya seperti apa yang Fhina katakan, tapi apa Weva tetap akan jadi Weva seperti apa yang Wiwi kenal setelah dia berubah nanti.
Sepertinya ujaran Fhina benar.
__ADS_1