Princess Endut

Princess Endut
Bab 151. Ke Korea?


__ADS_3

Weva melangkah turun dari mobil disambut para pelayan yang langsung meraih tas milik Weva dan membawanya sambil mengikuti Weva dari belakang.


"Mommy udah pulang dari Korea?"


"Belum Non."


"Kak Wevo?"


"Belum juga, Non."


"Emang Omah di sana belum sembuh apa?"


"Kalau itu Embok endak tau juga, Non."


Weva menghela nafas.


"Papi gimana?"


"Kata pak Johan, Tuan Burhan belum pulang."


Weva membaringkan tubuhnya ke atas kasur, ia meraih boneka panda itu dan memangku kepalanya pada badan boneka.


Untuk apa ia pulang jika rumahnya pun begitu sunyi tanpa ada anggota keluarga satu pun. Selalu saja seperti ini, hanya ada pelayan yang selalu ada di rumah.


Apa seperti ini yang namanya rumah? Rumah Wiwi bahkan lebih baik daripada ini, ya sebelum Nenek Ratum masuk rumah sakit.


Kedua mata Weva mengarah ke wajah boneka yang telah berubah fungsi menjadi bantalnya.


"Halo, Keken!"


Weva mengerakkan tangan boneka panda lalu tertawa. Ken pasti akan marah kalau ia tahu nama boneka panda ini adalah Keken.


"Jangan suka marah-marah, ya!"


Suara gonggongan anjing terdengar membuat Weva mengangkat kepalanya menatap Bobo yang terlihat duduk di lantai.


"Kenapa, Bo?"


Bobo menggonggong, berputar-putar dan berlari ke sana kemari membuat Weva tersenyum sebelum kembali membaringkan kepalanya.


"Weva lagi sakit, Bo. Weva nggak bisa nemenin Bobo main, lain kali aja, ya!"


"Non Weva, makanannya udah siap. Mau saya antarkan atau-"


Suara dari benda yang berada di sudut ruangan itu terdengar membuat Weva melirik.


"Weva makan di bawah aja."

__ADS_1


"Baik, Non."


Weva bangkit dengan rasa malas dari kasurnya. Andai saja ia tidak lapar, mungkin ia tak ingin bersusah payah untuk makan.


Weva duduk di kursi berwarna emas itu setelah ditarik oleh pelayan pria berseragam putih mempersilahkan Weva untuk duduk.


Weva melihat ke seluruh permukaan meja yang dihidangkan dengan berbagai macam makanan mewah.


"Siapin roti buat Weva!" pinta Weva yang beralih menopang dagu.


Para pelayan dengan cepat melangkah pergi untuk menyiapkan roti sementara para pelayan yang sedang berdiri di belakang Weva terlihat saling berpandangan heran. Baru kali ini Weva memilih untuk makan roti dibandingkan makan-makanan yang biasanya selalu Weva minta.


Semenit kemudian Weva sedang mengunyah sepotong roti yang disajikan oleh pelayan di meja makan. Weva hanya tidak mau melihat Ken marah karena berat badannya yang akan naik lagi kalau ia banyak makan seperti biasanya.


Weva sesekali mengelus kepala Bobo yang juga ikut menemaninya makan. Weva seneng ada Bobo di sini. Setidaknya Weva tak terlalu merasakan kesunyian.


Walio melangkah dengan tergesa-gesa mendekati Weva yang masih sibuk dengan makanannya.


"Nona," panggil Walio membuat Weva menghentikan kunyahan dan beralih untuk menatap pria berambut kriting itu.


Walio yang masih tergesa-gesa itu menjulurkan handphone miliknya membuat Weva terheran.   


"Ada telfon."


"Siapa?" tanya Weva.


Weva meraih handphone dari tangan Walio lalu mendekatkannya ke telinganya walau ia masih bingung. Untuk apa Mommynya itu menelpon.


...****************...


"Weva nggak mau," tolak Weva mentah-mentah mengenai apa yang dikatakan oleh Mommynya di sebrang sana.


Ia tak mengerti mengapa Mommynya mengatakan hal ini.


"Come on, Weva! You harus ngerti."


"Tapi Weva nggak mau."


"Hanya beberapa minggu sampai Omah you sembuh, kok. setelah itu you boleh langsung pulang lagi ke Jakarta, simpel, kan? Nggak ribet," jelasnya.


"Simpel bagi Mommy, tapi nggak bagi Weva."


"Apa susahnya, sih Wev?"


"Pokoknya Weva nggak mau ke Korea!"


"Why?"

__ADS_1


"Yah, Weva nggak mau, Mommy. Weva nggak mau."


"Weva, Omah you itu cariin you terus dan I nggak enak kalau nolak permintaan dia buat bawa you ke Korea."


"Tapi, kan ada Kak Wevo di sana. Kan dia bisa jagain Omah."


"Ini bukan masalah jaga, Wev! Kalau masalah jaga Mommy punya banyak pelayan, tapi ini masalah ketemu. Omah ingin ketemu you."


"Weva, kan sekolah, Mommy."


"You, kan cuman seminggu. Lagi pula Mommy juga udah izinin you sama pihak school and dia izinin you buat belajar online dulu biar you nggak ketinggalan pelajaran," jelas Sasmita membuat Weva memijat kepalanya.


"Mom-"


"Udah nggak usah ngebantah, deh! Mommy udah pesan tiket pesawat buat besok jadi jam tujuh pagi you udah harus ada di bandara, ya! Okay!" jelasnya yang memotong ujaran Weva yang kembali ingin menolak.


"Besok?"


"Yes."


"Kenapa buru-buru banget, sih Mommy?"


"Wev, Mommy itu udah bilang kalau ini itu nggak lama. Udah, pokoknya you harus ke Jakarta, titik!"


"Kok, mami gitu sih?" kesal Weva dengan tatapannya yang tak terima.


Tut tut tut


"Halo Mommy, My!!! Halo!!!" panik Weva ketika telfonnya terputus. 


Weva menghela nafas. Ia menatap layar handphone milik pak Walio lalu menatap pak Walio yang terlihat menggaruk kepalanya.


"Kok mati?"


"Mungkin, pulsa beta habis, Nona."


Weva menghela nafas panjang lalu meletakkan handphone pak Walio dengan keras di permukaan meja makan membuat pak Walio terperanjat kaget melihat handphonnya mendapat kekerasan. Hancur sudah!


Para pelayan juga ikut terkejut. Wajah mereka yang ngeri itu dengan serentak menatap ke arah pak Walio yang telah mempias.


"Aduh, beta sudah tidak bisa telfon yayang Ina," bisiknya.


Weva melirik menatap pak Walio yang menatap nanar pada handphonenya yang masih ada di atas meja membuat Weva tersadar. Weva baru ingat kalau ini bukan telfon miliknya.


"Sorry, pak Walio," ujar Weva yang tak nyaman lalu menjulurkan handphone ke arah pak Walio yang menyambut handphonenya dengan tangan yang gemetar.


"Nanti beli lagi," ujarnya dengan rasa tak nyaman.

__ADS_1


__ADS_2