Princess Endut

Princess Endut
78. Hari Pertama part2


__ADS_3

"Berantem ? Berantem sama siapa non di situ ?".


"Kan latihan bi, kalau latihan kan nggak perlu pakai lawan. Bibi ke sana Ajah deh dulu nanti Ajah tangganya di pel !".


"Tapi non".


"Udahlah bi, cepetan sana !".


Roro mengangguk dan segera melangkah pergi dengan raut wajahnya yang masih kebingungan dengan tingkah weva.


Weva yang kini merasa aman itu segera mendudukkan dirinya ke permukaan tangga, ini sangat melelahkan.


"Lo kenapa nggak ngehitung ?" .


"Weva capek".


"Nggak ada kata capek, cepetan Lo naik ke tangga yang pertama dan mulai ngehitung !".


 


Weva meniup udara dari mulutnya dan berusaha untuk bersabar, sadar lah wahai weva ini demi tubuh yang langsing.


HIDUP LANGSING !!!!!!


Weva kembali bangkit dari tempat duduknya dan segera melangkah ke anakan tangga pertama. Lutut weva bergetar membuatnya mengerang kelelahan di susul keringatnya yang terus membasahi dahinya.


Weva yang telah berada di anakan tangga pertama seketika ambruk ke permukaan lantai seperti hal nya seorang pendaki gunung yang berhasil menggapai puncak tertinggi. Weva kembali bangkit dengan susah payah dan menatap 50 anakan tangga dengan tatapan nanar.


"Satu !" Ujar weva mulai menghitung.


"Duaaaaa !!!".


Tanpa weva sadari papi dan mami nya tengah berdiri dan menatap weva dengan tatapan heran yang masih berhitung di sana.


"Si weva kenapa yah mi ?" Bisik Burhan khawatir.


Sasmita menggeleng tak tau.  


***


Suasana sarapan pagi kini tengah berlangsung di ruangan meja makan dengan anggota keluarga yang lengkap. Jarang untuk keluarga kecil ini bisa berkumpul untuk sarapan pagi, biasanya salah satu dari mereka selalu sibuk untuk sarapan pagi. 


"Sarapan wev" sambut Burhan yang menatap weva mendekat ke arah meja makan.


Weva mengangguk dan segera menarik kursi lalu segera duduk tepat di sebelah Wevo yang tengah menikmati sebuah roti dengan selai coklat dan secangkir susu putih.


"Pagi dek".


"Pagi kak Wevo" balas weva bahagia.


Weva melipat bibirnya menatap ke segala arah berharap menemukan nasi goreng dengan porsi seperti biasa, dua piring nasi goreng dengan tiga telur mata sapi.


"Ini non nasi gorengnya" ujar Roro sembari meletakkan sepiring nasi goreng ke atas meja.


Weva tersenyum, menatap nasi goreng spesial itu dengan tatapan berbinar.


"Nasi goreng !" Girangnya.


"Jangan makan !".


"Jangan makan ?" Ujar weva heran setelah mendengar suara Ken.


Sasmita yang ingin menyuapi mulutnya dengan potongan roti menggunakan garpu itu tertahan setelah mendengar ujaran weva.


"Kamu ngelarang mami makan ?" Tanya Sasmita.


"E...e...enggak mi !" Ujar weva cepat.

__ADS_1


"Lo mau makan apa ? Heh Lo denger yah ! Nasi goreng pagi-pagi nggak bagus tau nggak !".


"Enggak bagus ?" Tanya weva membuat keluarga kecil itu menatap heran.


"Enggak bagus ?, Apanya yang nggak bagus sih wev ? Roti itu sehat Lo !" Ujar Sasmita.


"Iya loh wev, enak lagi dari pada kamu tiap hari makan nasi goreng yang berminyak gitu" tambah Burhan.


"Menurut kamu makan roti itu nggak bagus wev ?" Tanya Sasmita.


"Enggak ma, maksud weva itu...".


"Tuh Lo denger tuh omongan bokap, nyokap Lo  ! apa yang mereka bilang itu bener, harusnya Lo  dengerin dong apa kata mereka !" .


Weva memejamkan kedua matanya dan mengusap dahinya penuh tekanan, si pria monyet pemanjat tower tangki itu memang membuat nya dalam masalah.


"Heh Lo denger nggak sih apa yang gue ngomong ?".


"Wev, coba deh kamu sarapan pake roti".


"Iya, siapa tau kamu suka dan nggak terlalu sering makan nasi goreng tiap pagi".


 


"Heh gendut ! Tuli Lo yah ?".


Weva meremas kepalanya dengan begitu kesal, oh tuhan biarkan weva mengcekik leher pria monyet itu .


"LO BISA DIEM NGGAK SIH ?" teriak weva sembari memukul permukaan meja dengan keras serta tubuh gendutnya yang sudah bangkit dari kursi.


Semuanya menganga dengan tatapan terkejut menatap perilaku weva yang tak pernah mereka lihat. Semuanya nampak syok diiringi suasana yang hening bahkan para pelayan yang menyaksikan kejadian ini ikut terkejut.


"Kamu nyuruh mami sama papi diem ?" Tanya Sasmita tak menyangka setelah ikut bangkit dari tempat duduknya.


"Kamu ngebentak kami wev ?" Tanya Burhan.


"You itu makin hari makin ngelunjak yah wev !".


Weva mengigit bibir sembari menatap sosok kedua orang tuanya yang menatapnya penuh amarah. Yang lebih menyakitkan maminya itu kini menggunakan kata you, ini kata amarah dari sisi maminya. 


"Nggak mi ! Weva nggak bermaksud kayak gitu sama mami dan papi !" Bela weva.


Senyum Ken sirna begitu saja membuatnya bersalah dengan suara bernada amarah yang terdengar memarahi weva.


Ini salah Ken !.


...🌹🌹🌹...


Tatapan Weva yang buram karena terhalang oleh air mata menatap nanar pada bangunan-bangunan tinggi yang di lintasi dengan kecepatan sedang.


Weva mengusap pipinya secara kasar, menyalahkan dirinya pada amarah maminya di acara sarapan pagi tadi.


"Non weva, Beta ini sudah lama tidak makan bakso buatan mas Tono itu" ujar walio sembari terus menyetir mobil. 


"Kalau non weva tidak keberatan boleh kah kalau nanti kita singgah lagi begitu di warung makan bakso tapi Beta mau juga masuk begitu".  


"Lo dimana ?" Tanya Ken membuat weva tersadar dari kesedihannya.


"Di mobil" jawab weva.


"Di mobil ! aduh Beta su bosan makan di mobil terus non" ujar walio sembari  menatap serius pada pantulan cermin di atasnya.


 


"Mobil hitam ?" Tanya Ken lagi.


"Iya".

__ADS_1


"Iya ?" Tanya walio heran sembari terus fokus mengemudikan mobilnya.


"Gue tunggu Lo sekarang di depan taman arah sekolah !".


"Di mana ?" Tanya weva membuat walio terkejut.


"Yah Beta su mau ikut masuk ke dalam begitu di warung Tono itu, Beta bosan di dalam mobil terus tapi kalau boleh sekali saja Beta makan di luar mobil, kira-kira Beta makan bakso dimana yah non ?".


"Di depan taman bego !" Ujar Ken.


"Taman ?" Heran weva.


"Taman ?" Tatapan walio syok.


"Aduuuuuh Beta tidak mau makan kalau di taman nona, aduh tidak berwibawa sekali begitu" ujarnya.


"Weva nggak mau !".


Walio terkejut mendengar ujaran weva yang begitu tiba-tiba. Apa nona nya itu marah ?.


"Kalau begitu tidak apa-apa nona, Beta tidak apa-apa kalau makan di mobil saja". 


"Gue nggak mau terima bantahan dari Lo pokoknya Mobil Lo harus berhenti di depan taman !".


"Berhenti ?" Tanya weva.


Walio yang terkejut itu dengan cepat menancapkan rem membuat weva terhempas ke sandaran kursi di hadapannya.   


"PAK WALIO !" Bentak weva sembari memperelok posisi duduknya.


Weva meringis merasakan sakit pada dahinya. Ini benar-benar sangat sakit.


"Kok berhenti sih ?" Tanya weva emosi.


Walio melongo membuatnya menjauhkan kedua tangannya dari stir.


"Nona yang suruh !" Ujarnya cepat.


"Weva nggak pernah nyuruh pak walio untuk berhenti lagian hari ini kita nggak ngejemput Wiwi".


"Loh kenapa non ?".


"Nanti pak walio jemput Wiwi setelah pak walio ngantar weva ke sekolah".


"Loh kenapa non ?".


"Nggak pa-pa".


"Berantem non ?".


"Enggak ! Udah cepetan jalan !" Pintah weva membuat walio tanpa protes kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Berhenti lo sekarang !" Pinta Ken.


"Berhenti ?" Tanya weva.


Walio yang mendengar hal tersebut segera menancapkan rem membuat weva kembali terhempas ke bagian belakang sandaran kursi.


"AH PAK WALIO ! KENAPA BERHENTI SIH ?" Geretak weva membuat walio melongo.


PIIIIIIIIIIIIIP


Suara klakson motor Vespa terdengar tepat di samping mobil membuat kedua makhluk yang berada di dalam mobil itu menoleh.  


"Ken ?" Tatap weva heran menatap pria berhelm yang kini nampak turung dari motor Vespa dan mendekat ke arah mobil.


"Turung Lo !" Ujar Ken sembari membuka pintu mobil membuat weva menganga.

__ADS_1


__ADS_2