Princess Endut

Princess Endut
60. Tempat GYM itu ternyata....


__ADS_3

"Ah, Wev. Lo itu kenapa, sih?"


"Apa, sih Wi?"


"Yah harusnya itu lo biarin sja si Ken itu ketangkap, Wev," ujar Wiwi yang kini duduk di atas kasurnya.


Weva hanya mampu tertunduk bahkan ia belum percaya jika ia telah menolong Ken. Dia benar-benar telah menolong Ken dan dia juga belum yakin ia telah melakukan hal itu.


Menurut Weva ia hanya melakukan apa yang ia ketahui. Ini hanya kebetulan yang tidak disengaja.


"Kenapa, sih nggak dibiarin aja si Ken ketangkep?".


Weva tetap diam. Tidak menjawab. Sejak tadi ia bicara panjang lebar di dalam ruangan kamar milik Wiwi baru sekali gadis gendut itu bicara.


"Woy Wev!"


Lempar Wiwi dengan boneka beruang berwarna coklat ke tubuh gendut Weva yang duduk terpatung di kasur Wiwi.


Weva menoleh cepat.


"Ah, apa, sih, Wi? Sakit tahu nggak."


"Sakit-sakit, nih bibir gue!" Tunjuk Wiwi ke arah bibirnya.


"Bibir Wiwi kenapa? Kayaknya baik-baik aja."


Wiwi melongo.


"Baik dengkul lo. Gue udah ngomong dari tadi, tapi nggak lo dengerin."


"Iya, Wi," jawab Weva seadanya. 


"Iya apa?"


Weva menghembuskan nafas berat lalu wajah cemberutnya terlihat jelas.    


"Sorry."


Mendengar hal itu membuat Weva menghela nafas panjang dan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal saat menghadapi Weva.


"Wev, harusnya itu tadi lo biarin aja Ken ketangkap biar dia dapat karma."


"Tapi bukannya Wiwi ngefans, ya sama si Ken? Masa sekarang Wiwi tega ngeliat idola Wiwi di penjara," jelas Weva yang mengingatkan.


Wiwi terdiam sejenak.


"Lagian, kan Ken itu nggak salah."


"Iya, sih, tapi, ah percuma Weva. Dia itu emang ganteng tapi itu percuma kalau hatinya jelek."


"Sekarang, nih, ya lo pikir setelah ini apa yang bakalan Ken lakuin? Hem? Apa?"


Weva diam membisu.

__ADS_1


"Dia nggak bakalan ucapin kata terima kasih sama lo. buktinya dia nggak ngomong apa-apa, kan sama lo."


"Liat aja besok! Dia itu bakalan datang dan ngebully lo lagi."


Weva yang lelah akan cerocosan Wiwi itu malah menutup wajahnya dengan boneka beruang yang Wiwi lempar tadi.


"Wev! Jangan bilang lo mau tidur disaat gue lagi ngomong!" Tunjuk-nya begitu kesal.


Weva tak menjawab. Ia diam seakan ia tak mendengar suara Wiwi.


"Tahu, ah, Wev. Terserah lo aja!" pasrah Wiwi yang kini beralih membelakangi Weva.


Keduanya terdiam dengan kesibukan masing-masing membuat suasana kamar yang dominan dengan warna kuning ini menjadi sunyi. Yap, kebiasaan Weva setelah pulang sekolah selain mampir di warung bakso adalah mampir di rumah Wiwi.


Menurut Weva ia merasa lebih nyaman di rumah Wiwi dibandingkan berada di rumahnya sendiri. Rumah Wiwi lebih baik daripada rumahnya. Jika saja Weva bisa memilih Weva ingin dilahirkan di rahim Tante Ina saja yang begitu baik dan perhatian.


Weva merasa di sini lebih damai ditambah lagi tingkah nenek Ratum yang selalu membuat Weva tertawa. Jujur saja Weva merasa ada rasa kekeluargaan di sini sedangkan di rumahnya Weva tidak merasakan hal itu sama sekali.


Yap, apa kabar dengan Nenek Ratum yang telah menjadi pecinta Oppa Korea? Jangan tanyakan tentang dia karena Army yang satu ini sekarang sedang sibuk menyanyi di depan TV dengan kedua tangannya yang melambai ke atas seakan tengah ikut dalam konser besar.


"Astaga, Wev!" kaget Wiwi dengan kedua matanya yang terbelalak.


"Kenapa?" tanya Weva dengan mimik wajahnya yang mengikuti lawan bicaranya.


Wiwi menggelengkan kepalanya tak menyangka dengan handphone yang di arahkan ke arah weva yang langsung bangkit dari kasur. Weva menyipitkan kedua matanya dan dari sini Weva mampu melihat jelas chat Wiwi di Instagram.


"Itu kenapa?" tanya Weva yang tak mengerti.


Wiwi kembali menatap layar handphonenya dan menekannya beberapa kali lalu kembali mengarahkannya ke arah weva. Di sini Weva mampu melihat sebuah foto tempat gym yang mereka datangi kemarin. 


"Lo percaya nggak, sih, Wev?" tanya Wiwi memancing Weva untuk bertanya.


"Apa?"


"Tempat gym yang kita datangin kemarin."


Weva mengangguk lalu kembali bertanya, "Kenapa?"


"Ternyata tempat itu punyanya si Ken."


"Hah?" kaget Weva lalu meraih handphone yang Wiwi genggam dan menatapnya lebih jelas.


Kedua iris mata Weva nampak bergerak untuk mencari bukti yang menujukkan jika tempat gym yang bernama super gym itu adalah milik Ken, si pembully yang baru saja ia selamatkan tadi.


"Yang benar, Wi?"


"Ya, iya lah masa gue bohong sama lo."


"Tapi Wiwi tahu dari mana?"


"Temen gue yang bilang kalau tempat gym itu punya si Ken," jelas Wiwi berterus terang.


"Teman yang mana? Wiwi punya teman selain Weva?"

__ADS_1


"Nggak usah sok lupa. Itu loh teman gue yang sok seksi itu."


"Windi?" tebak Weva membuat Wiwi mengangguk.


"Chat yang tadi di Instagram yang gue kasi liat ke lo itu temen gue yang kasi tahu."


"Aduh, pantesan aja si Ken ada di tempat gym itu, ternyata dia yang punya," ujar Weva sedih.


Wiwi terdiam sesaat.


"Pantes aja badan Ken keren."


Weva terheran lalu menatap wajah Wiwi yang nampak melamun. Yap, sekarang ingatan Wiwi mengenai tubuh berotot dan begitu bugar itu terlintas di pikirannya. Wiwi tak akan pernah melupakan bentuk tubuh ken yang ia lihat di tempat gym itu. 


Mempesona! Yah, kata itu yang muncul saat Wiwi memikirkannya.


"Wiwi!" panggil Weva membuat Wiwi tersadar.


"Wiwi mikirin apaan, sih?" tanya Weva keherangan.


"Nggak," ujarnya sambil menggeleng.  


Keduanya kembali terdiam hingga yang terdengar hanya suara detakan jarum jam dan suara nyanyian nenek Ratum serta lagu BTS. Wiwi berfikir sejenak lalu menyentuh keras bahu Weva yang terbelalak kaget.


"Wev!" panggil Wiwi dengan kedua matanya yang membulat sempurna.


"Kenapa?"


"Kalau misalnya Ken yang punya tempat gym itu berarti Ken tahu cara nurungin berat badan, Wev."


Weva mengernyit bingung.


"Terus?"


"Ah, masa lo nggak ngerti, sih?" kesal Wiwi yang langsung mengacak rambutnya prustasi dengan hal ini. Rasanya ia ingin mencekik Weva agar bisa paham dengan ucapannya.


"Yah, Weva nggak ngerti, Wi. Serius. Kalau nggak percaya tanya aja sama Bobo."


Wiwi mendecapkan bibirnya keras dan mendengus kesal. Bobo pun akan kesal jika mendengar hal ini.


"Wev, lo dengerin gue baik-baik!" pinta Wiwi sembari menyentuh kedua bahu Weva. 


"Ken punya tempat gym."


"Em."


"Itu berarti Ken tahu cara nurungin berat badan."


"Em."


"Dan sekarang lo lagi butuh orang yang bisa bantu lo nurungin berat badan, Wev," ujar Wiwi.


Weva tak menjawab. Ia diam mematung dengan sorot matanya yang menatap Wiwi.

__ADS_1


"Lo ngerti, kan maksud gue?" tanya Wiwi dengan mimik wajahnya yang penuh serius.


__ADS_2