Princess Endut

Princess Endut
73. Peraturan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


...Untuk mu yang telah mengetuk hati ku secara diam-diam,...


...Aku mencintai mu,tapi apakah aku mampu mendapatkan hati mu seperti halnya engkau mendapatkan hati ku ?....


...~Princess Endut ~  ...


...•...


...•...


...•...


...Jangan lupa untuk memberikan vote dan komen !...


...•...


...•...


...Tandai jika ada kesalahan penulisan ...


...•...


...•...


...🥀🥀🥀...


Weva bersimpuh di atas rerumputan tepat di belakang gudang sekolah yang nampak sunyi, tak ada satu pun orang disini yang dapat melihat bahkan mendengar suara tangisan weva.


"Semuanya jahat !" Ujar weva, ini benar-benar dari hati nya yang paling dalam.


"Kenapa semuanya jahat sama weva ?".


"Mami !".


"Papi !".


"Geng Sangmut !".


"Pak Ahmad !".


"Ken !".


"Da...dan sekarang Brilyan, sa...satu-satunya orang yang dulu selalu ngebuat weva bertahan buat hidup sekarang malah ikut nyakitin weva".


Weva menyembunyikan wajah gendutnya itu di lipatan tangannya yang mendekap erat kedua lututnya. Bahkan sekarang ia malu untuk memperlihatkan wajahnya ke langit biru serta matahari yang menerpa rambut sebahunya yang hitam itu.


"Kenapa ?".


"Kenapa Brilyan harus ngelempar bekal weva ke lantai ?, kenapa ?".


"AAAAA !!!" Teriak weva yang kini dengan spontan berteriak menatap langit dan menjambak rumput yang tergapai di kedua tangannya. 


Weva bangkit dari duduknya dengan susah payah dan menatap sayup ke pada langit biru.


"BRILYAAAAAN !!!!".


"BRILYAN KIRA KALAU TUBUH GENDUT WEVA ISINYA CUMAN LEMAK AJAH ? ENGGAK ! DI DALAM TUBUH GENDUT INI JUGA PUNYA HATI TAU NGGAK !".


"KENAPA SIH NGGAK PERNAH PEKA ?".


"KENAPA NGGAK PERNAH NGERTI ?".


 


Weva kembali duduk di rerumputan, rasanya berdiri itu cukup melelahkan dan membuat ia jadi sesak nafas.   


"Hah capek !" Kesah weva sembari mengatur nafasnya yang sesak itu.


Weva terdiam sejenak membiarkan nafasnya kembali normal sembari membiarkan tubuhnya diterpa angin yang menghantam rambutnya begitu lembut.

__ADS_1


  


"Brilyan, Brilyan nggak tau kalau weva itu punya hati yang bakalan sakit kalau di hina".


"Brilyan kok kayak gitu sih sama weva ?".


"Weva itu sakit Lo di gituin !".


"Ha...ha...hati weva juga bisa sakit !".


Plak plak plak


Weva mendongakkan wajahnya menatap ke arah tower tangki penampung air setelah mendengar suara tepuk tangan. Weva terheran menatap pria pengacau yang tengah duduk di atas tower tangki sembari tertawa. 


Dia Ken ! Si pria pembully.


"HEBAT ! HEBAT ! HEBAT !" Teriak Ken lalu kembali tertawa.


Weva melongo menatap tingkah Pria pembully yang tertawa di atas sana.


Tunggu ! Sejak kapan Ken ada di sana ?. 


Weva segera bangkit dengan susah payah dari tempat duduk nya dan tetap menatap Ken yang kini merapikan dasi biru yang di jadikan pengikat kepala, seperti halnya seorang pendekar.


"NGAPAIN KAMU DI SITU ?".


Tak ada respon dari Ken.


"HEH ! WEVA LAGI NGOMONG SAMA KEN !" Teriak Weva.


Ken menunduk lalu segera melepas handset hitam yang sedari tadi terpasang di telinganya.


"APA ?" Tanya Ken berpura-pura tak tau padahal ia sudah sejak tadi duduk di atas sana.


Weva menghembuskan nafas lega, sepertinya Ken tak mendengar apa yang ia katakan tadi. Weva kembali duduk ke rerumputan mengabaikan pertanyaan Ken yang menurutnya tak penting. Weva kembali mendekap kedua lutut nya dan menyembunyikan wajahnya yang kembali sedih itu.


Ken melompat dari ketinggian dan segera melangkah mendekati weva yang masih mendekap lututnya.


"Ini !" Julur Ken dengan sehelai sapu tangan berwarna pink. Sejujur nya ini sapu tangan milik mama Ken yang selalu ia selip kan di saku baju Ken secara diam-diam.


Wajah Ken nampak begitu serius menatap ke arah dirinya namun tetap dengan tatapan ciri khasnya.


   


Weva membuang pandang dan beralih  mengalihkan pandangannya menatap ke arah rerumputan.


Ken menghela nafas dan tertawa setelahnya seakan tak terjadi kesedian di sini. Ken malah melangkah dan duduk  tak jauh dari weva, berjarak sekitar dua langkah orang dewasa.


"Nih !" Lempar Ken dengan sapu tangan yang secara tak langsung di tolak oleh weva tadi. 


Weva menoleh menatap Ken yang tak menoleh menatapnya bahkan tak merasa bersalah ketika sapu tangan pink itu menghantam kepala dan bodohnya menutupi separuh wajah weva.


"Lap muka Lo ! Lo tambah jelek kalau Lo nangis !" Ujar Ken tanpa dosa.


Weva melongo mendengar ujaran Ken yang asal ceplos tanpa memperdulikan dirinya yang sedari tadi sudah menangis.


"Emmm aaaaaaaaha ha whaaaa" tangis weva pecah dan segera meraih sapu tangan yang baru saja menghantam wajahnya.


"Jahat banget sih !" Sedih weva sembari menutup wajahnya dengan sapu tangan milik ken.


"Udahlah buat apa sih Lo nangis, kan yang Brilyan bilang ke Lo benar" ujar ken.


Weva melepas sapu tangan dari wajahnya dan menggeleng tak menyangka, pria pembully ini menang tak punya hati. Hah weva lupa jika dirinya berhadapan dengan pria pembully nomor satu di cendrawasih  internasional school.


"Ken itu nggak tau apa yang Weva rasain, ini itu sakit tau nggak".


Weva mengekerutkan alisnya dan beralih menatap sapu tangan yang telah mengeringkan pipinya yang basah itu. Sebuah kain lembut dengan tulisan keken anak kesayangan dengan benang berwarna hitam. Entah dari mana pria pembully ini mendapatkan sapu tangan yang seharusnya di miliki oleh bocah manja dari papa dan mama.


"Makanya yah Lo usaha lah buat diet biar orang-orang nggak ngebully Lo !" Ujar Ken malah emosi sendiri.


Weva membulatkan matanya setelah mendengar ujaran Ken yang membuatnya teringat sesuatu. Weva merangkak mendekati Ken yang nampak ketakutan setelah melihat ekspresi weva yang nampak begitu menyeramkan.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan ken takut bahkan menggeser tubuhnya menjauh , weva jika merangkak seperti ini seperti seekor gajah yang siap menyeruduk nya secara bertubi-tubi. 


"Nggak usah takut, weva nggak gigit kok !" Ujar weva.


Ken menelan ludah.


"Ken mau kan ?".


"Mau apa ?".


"Mau bantuin weva, Bantu weva biar weva bisa langsing".


"Hah ?".


Weva kembali merangkak lebih dekat di susul Ken yang kembali menjauh dari tatapan bodoh weva yang nampak seperti orang kerasukan.


"Weva yakin Ken bisa bantuin weva ! Please bantuin weva yah !" Harap weva masih merangkak sementara Ken ikut menggeser tubuhnya menjauh.  


"Stop !" Tahan Ken cepat sebelum ia benar-benar ketakutan dengan tubuh gendut weva.


"Mundur Lo !".


"Tapi we...".


"Iya gue tau, tapi Lo Mundur dulu gue nggak suka kalau Lo kayak gitu ke gue !" Sinis Ken membuat weva menelan ludah dan segera kembali ke posisi awalnya.


Ken menghembuskan nafas lelah dan segera melepas dasi dari kepalanya.


"Sebenarnya gue nggak yakin gue bakalan bisa bantuin Lo untuk ngebuat Lo jdi langsing seperti apa yang Lo Harepin".


"Weva yakin kok" jawab weva cepat sembari bangkit dan melangkah lalu berdiri tepat di hadapan Ken.  


Ken berpikir sejenak sembari menatap tubuh gendut weva dari ujung kaki sampai ujung rambut.


 


"Lo berani bayar gue berapa perhari ?" Tanya ken.


"Seratus juta" jawab weva cepat.


"Hah !" Kaget Ken lalu segera bangkit dari duduknya.


"apa ?" Tanya ken.


"seratus juta, kenapa terlalu murah yah ?" jelas weva.


"Gila, perhari woy bukan pertahun !".


"Iya perhari".


Ken terheran, yang benar saja gadis gendut ini katakan. Bagaimana bisa jika dirinya harus di bayar seratus juta perhari. 


"Oh iya gue lupa Lo sultan yah kan ?".


Weva mengangguk semangat.


Ken terdiam sembari mengetuk ujung bibirnya dan melangkah mengitari weva dan menatapnya begitu serius. 


"Gini ajah deh, emmm ok gue bakalan bantu lo...".


"Yeeees !" Sorak weva kegirangan lalu melompat bahagia.


"Eits tapi dengan beberapa peraturan !".


Weva menghentikan lompatannya membuat senyumnya sirna begitu saja.


"Peraturan ?".


"Iya peraturan" Ken mengangguk.  


"Peraturan apa ? Weva janji ko bakalan ngelakuin apa pun peraturannya".

__ADS_1


Ken menghentikan langkahnya lalu berdiri tepat di hadapan weva yang nampaknya tak sabar mendengar peraturan tersebut.


"Yang pertama" Ken mengangkat satu jarinya membuat weva mengangguk.


__ADS_2