Princess Endut

Princess Endut
102. 11 Malam


__ADS_3

Pukul 11:12 Malam.


Motor Vespa biru Ken terhenti tepat di depan rumah Weva yang kini gerbang rumahnya telah tertutup rapat dan nampak dijaga oleh beberapa penjaga keamanan yang terlihat berseragam hitam.


Weva melangkah turun dari motor dan melepas helm hitam yang telah melindungi kepalanya beberapa menit selama perjalanan dari rumah Ken.


"Nih," ujar Weva sambil menjulurkan helm ke Ken yang langsung meraihnya dan menggantungnya.


"Sesampai di dalam lo nggak boleh makan makanan yang berat!"


"Jangan makan banyak!"


"Kalau makan, makan satu roti aja terus satu gelas air putih."


"Siap bos!!!" jawabnya sembari memberi hormat layaknya sedang hormat saat upacara saja.


"Jangan lupa handsfree yang gue kasih harus lo pakai biar gue tahu lo makan apa aja di dalem?" jelas Ken.


"Iya, nanti Weva pakai!"


Ken menghela nafas. Ia meraih handsfree dari saku jaketnya dan mengenakannya di daun telinganya kemudian ia kembali menoleh menatap Weva.


"Cepetan pake!"


"Iya nih, nih," ujarnya sembari memasang handsfree ke salah satu telinganya membuat Ken mengangguk dan tersenyum puas.


"Puas?" tanya Weva.


Ken hanya tersenyum tips dan tak berselang lama ia menyalakan motor vespa miliknya dan melaju meninggalkan Weva yang terdiam di tepi jalan menatap kepergian Ken yang semakin menjauh. Seperti biasanya Ken pergi tanpa berpamitan atau pun mengucapkan beberapa kata untuk Weva.


Weva membuang kasar udara dari mulutnya. Weva mengeluh lelah sambil menggerakkan kepalanya itu ke kiri dan ke kanan.


Weva mendongak menatap langit malam yang dihiasi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip di atas sana.


"Tuhan, Weva capek. Emang kayak gini, yah kalau mau jadi langsing?"


...****************...


Ken yang mengendari motornya itu kini tersenyum kecil setelah mendengar apa yang telah dikatakan oleh Weva. Ken bisa mendengar suara itu dari handsfree yang ada di telinganya.


Ken melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk menahan tawanya. Bisa-bisa nanti dia dikira orang gila yang tertawa sendiri di atas motor.


Sepertinya Weva lupa jika ia berteriak sedangkan ia sedang memakai handsfree dan itu sebabnya Ken bisa mendengarnya.


...****************...


Weva menunduk dan memijat lengan tangannya yang juga terasa pegal. Rasanya seluruh tubuhnya ini seakan telah remuk.


Weva memutar tubuhnya berniat untuk segera melangkah masuk ke area rumah dan meminta para penjaga keamanan untuk membuka gerbang rumah, namun ketika Weva menoleh kedua mata Weva terbelalak menatap seorang wanita dengan jas hitam tengah berdiri dengan tatapan amarahnya.


Di detik ini juga rasanya nafas Weva tertahan di tenggorokannya. Weva tak menyangka jika ada sosok wanita berparas cantik itu di sana.


"Mommy," bisik Weva dengan nafas sesaknya.

__ADS_1


Sasmita menoleh ke arah jalan dimana Ken pergi membuat Weva juga ikut menoleh. Apa mungkin Mommy-nya itu melihat Ken?


Dari tatapan Sasmita membuat Weva takut. Tatapan tajam itu terus menatapnya hingga pintu pagar itu terbuka setelah terbuka otomatis membuat kedua mata mereka bertemu pandang tanpa ada pintu gerbang yang menjadi penghalang.


"You ikut Mommy! Mommy mau ngomong sama you."


Sasmita berpaling dan melangkah pergi setelah berbicara dengan nada suaranya yang terdengar dingin.


Weva terpatung di tempatnya berdiri. Ada apa ini? Weva menyentuh dadanya yang berdebar takut.


...****************...


Suara detakan jarum jam berukuran besar itu terdengar mengisi keheningan malam di dalam rumagan tamu yang luas.


Sejak tadi Weva hanya diam seperti patung sambil tertunduk tanpa pernah bicara. Sesekali ia menoleh menatap Mommy-nya yang hanya diam.


"Mom-"


"Sejak kapan you pacaran?" tanya Mita yang akhirnya bicara.


Weva menatap Mita cepat dengan kedua matanya yang terbelalak seakan tak mengerti dengan apa yang Mommy-nya itu katakan.


Mita menoleh menatap Weva yang menatapnya bingung.


"Ayo jawab!"


"We-weva nggak pacaran, Mommy," jawabnya jujur.


"Terus cowok yang baru aja ngantar you ke rumah pakai motor vespa malam-malam di jam 11 itu apa?"


"Tapi Mom-"


"Jadi selama Mommy nggak ada di rumah kamu tiap hari pulang malam sam-"


"Mommy, Weva nggak-"


"Shut Up!!!" teriak Mita membuat suara teriakannya menggema di dalam rumah membuat Weva tersentak kaget bahkan para pelayan rumah yang berada di sekitarnya juga ikut terkejut.


Hal ini yang baru Weva lihat dari sosok Mommy-nya yaitu suara teriakan dan wajah penuh amarah yang untuk pertama kalinya baru ia lihat.


"I haven't stopped talking to you so don't cut me off!!!"


[Saya belum berhenti berbicara dengan Anda jadi jangan memotong ujaran saya]


Jelasnya sembari melangkah lebih dekat dengan Weva dengan kedua tangannya yang dilipat di depan perutnya menggambarkan sosok Mita yang begitu sangat tegas.


Weva hanya mampu terdiam di sofa mendengar ujaran Mita yang benar-benar membuatnya sungkan untuk berujar kembali. 


"Siapa yang ajarin kamu pulang malam kayak gitu sama cowok?"


Weva hanya diam. Ia takut jika ia kembali dibentak.


"You kira kalau you udah punya pacar so you bisa bebas gitu kapan you mau pulang kapang you mau pergi dari rumah? Hah?"

__ADS_1


"Ayo jawab!"


"Mommy, tapi Weva nggak pacaran sama Ken."


"Ken?" tanya Mita.


"Ken teman Weva, sahabat, Mom."


"Sahabat?" tanyanya heran lalu ia tersenyum sinis.


Weva mengangguk.


"Sejak kapan you punya sahabat cowok? Hem? Sejak kapan?"


Weva terdiam, ia pun tak tahu sejak kapan pria pembully itu berubah status menjadi sahabatnya.


Mita menggeleng dan meremas dahinya begitu pening untuk memikirkan hal ini.


"Walio! Walio!!!" teriak Mita membuat pak Walio berlari ke arah Mita dengan pakaian yang sudah tak menggambarkan sosok supir pribadi. 


"Iya nyonya, nyonya panggil beta, kah?" tanya pak Walio dengan sebuah kaus putih serta sarung yang melekat pada tubuhnya dan yang lebih parah lagi wajah pak Walio nampak berwarna putih membuat para pelayan nampak tertawa bahkan sebagian ada yang terlihat melongo.


"Ya ampun Walio!!! Itu muka you kenapa?"


"Ehehehe, ini nyonya eh masker ini nyonya supaya muka beta itu juga kinclong begitu seperti nyonya muka. Ini masker dari Korea , toh yang Nyonya bawa itu?" jelasnya sambil tersenyum.


Mita kembali menggeleng rasanya malam ini ia benar-benar sangat pusing menghadapi Weva dan Walio.


"Kenapa nyonya panggil beta?"


"Sejak kapan Weva sahabatan sama cowok?" tanya Mita.


Walio mengkerutkan alisnya mendengar hal tersebut lalu dengan cepat ia menatap Weva yang kini ikut menatap pak Walio.


"Ayo jawab!"


"Beta juga kurang tahu Nyonya, tapi yang beta tahu Nona Weva sudah beberapa hari ini dijemput dan diantar sama cowok itu."


"Sudah beberapa hari?"


"Iya, Nyonya."


"Jadi Weva sudah di antar beberapa hari ini sama cowok itu?"


"Iya nyonya, itu yang beta tahu," jawab pak Walio dengan tatapannya yang sesekali menatap Weva dengan tak nyaman. Ini sama saja menambah masalah untuk Nonanya itu.


"Bener itu, Wev?" tanya Mita yang kini beralih menatap Weva yang langsung menggeleng.


"Weva enggak berm-"


"Bener itu, Wev?!! Mommy cuman mau you itu jawab benar atau tidak, hanya itu!!! Stop bicara panjang lebar!!!" teriak Mita menggelegar seisi ruangan membuat Weva sontak memejamkan kedua matanya mendapatkan teriakan itu. Ia benar-benar terkejut mendengar teriakan membabi buta oleh Mommy-nya itu.


Bukan hanya Weva yang terkejut tapi juga Pak Walio. Apa ia telah salah setelah bicara jujur?

__ADS_1


"Ayo jawab!!!"


__ADS_2