Princess Endut

Princess Endut
123. 10 KG


__ADS_3

Weva berlari dengan kecepatan sedang mengunakan alat bantu treadmill yang berada di tempat gym Ken. Sementara Ken kini tengah berbincang hangat kepada beberapa orang dengan seragam yang sama. Sepertinya mereka adalah personal trainer di tempat gym ini.


Entah sudah berapa lama, mungkin sejam lebih Weva telah berlari di alat bantu treadmill ini membuat Weva mengigit bibir berusaha untuk terus berlari. Rasanya ini lebih melelahkan dibandingkan berlari mengelilingi lapangan jika disaat Weva berlari di lapangan ia masih bisa berhenti atau sekedar mengatur nafasnya tapi jika menggunakan alat ini Weva tak mampu memelankan larinya. Sudah pasti ia akan jatuh.


Suara tawa terdengar membuat Weva menoleh menatap para gerombolan gadis-gadis yang tengah tertawa sembari menatap Weva dengan sebelah mata. Weva tahu apa yang mereka pikirkan tentang dia, tapi Weva tak peduli. Menurutnya Brilyan lebih membuatnya bersemangat dibandingkan mengeluh dengan ejekan mereka.


Ken menghentikan perbincangannya lalu melangkah menghampiri Weva dan berdiri tepat di depan sembari menatap wajah Weva yang terlihat dibasahi dengan keringat.


"Udah capek belum?"


Weva menggeleng, ini sebuah kebohongan.


"Beneran?" tanya Ken tak percaya.


Weva mengangguk mengiyakan. Ken terdiam sejenak. Ia berpaling berniat untuk melangkah pergi namun baru selangkah ia kembali menoleh menatap Weva.


"Nanti jam sepuluh kita timbang berat badan lo. Kalau berat badan lo turun 10 kg berarti besok kita jalan-jalan."


Kedua mata Weva membulat karena terkejut dan spontan menghentikan langkahnya membuatnya terhempas cukup keras di permukaan lantai dimana ia lupa jika ia masih berada di atas treadmill.


Bruak!!!


Semua orang yang mendengar suara keras itu langsung menoleh menatap ke arah sumber suara. Suasana kini mendadak sunyi, tak ada kegiatan yang dilakukan oleh semuanya. Mereka fokus terhadap Weva.


Weva meringis merasakan sakit pada bokongnya yang terhempas ke lantai membuat Ken dengan cepat berlari menghampiri Weva.


Ken berlutut tepat di samping Weva yang masih meringis. Weva menyentuh jari-jari tangan Ken dan menggenggamnya erat. Rasanya tulang bokongnya terasa sakit setelah terbentur tadi.


Ken terdiam menatap jari-jarinya yang digenggam erat oleh Weva yang masih meringis kesakitan. Ken dengan perlahan mengeratkan genggamannya membalas genggaman jari-jari tangan Weva.


    


"Lo nggak apa-apa, kan, Wev?" tanya Ken khawatir.


Weva tak menjawab melainkan ia kembali meringis seakan memberi tahu Ken kalau ia sedang kesakitan sekarang.


"Yang sakit bagian mana?" tanya Ken sembari menatap Weva yang meringis sambil memegang bokongnya.


"Bokong We-eva," aduhnya sembari menatap Ken dengan mata yang telah berair. Yap, Weva menangis.  


Ken menggerakkan tangannya berniat untuk menyentuh bokong Weva namun dengan cepat Ken mengurungkan niatnya dan kembali menjauhkan tangannya.


Ken takut jika Weva marah karena telah berani menyentuh bagian tubuh Weva tanpa siisinya.


"Kita istirahat aja, yuk!" ajak Ken.


Weva mengangguk membuat Ken dengan cepat membantu Weva bangkit dari lantai.


Weva meringis ketika Ken berusaha untuk membantunya bangkit sambil menarik tangan Weva. Weva kembali meringis dan berteriak kencang ketika tarikan Ken tak mampu membuatnya bangkit dari lantai.


Ken melepaskan pegangannya dan berlutut menatap Weva lebih dekat.


"Lo nggak apa-apa, kan?"


Weva menggeleng.  


Ken tanpa pikir panjang segera meraih tangan Weva dan melingkarkannya di leher Ken membuat Weva melirik. Dari sini Weva bisa melihat jelas wajah Ken yang nampak khawatir.


Weva tak pernah melihat Ken seperti ini. Wajah yang selalu menjengkelkan itu tak ia lihat sekarang pada sosok Ken. Ken kali ini terlihat berbeda.


Ken menggerakkan tangan kanannya dan melingkarkan tangannya di pinggang Weva membuat Weva terbelalak.  


Ini benar terjadi. Untuk pertama kalinya ada pria yang menyentuh pingang Weva begitu erat dan itu sekarang terjadi selama Weva ada di dunia ini. Dan hal itu dilakukan oleh pria pembullynya sendiri yakni Ken.


Ken membantu Weva duduk disebuah sofa yang berada di dalam ruangan pribadinya. Weva meringis lagi ketika bokongnya yang sakit itu menyentuh permukaan sofa.


Ken berlutut dan menatap Weva yang masih meringis.


"Masih sakit nggak?"


Weva mengangguk. 

__ADS_1


"Yah, Lo kenapa harus jatuh, sih?" Kesal Ken dengan nada suaranya yang tiba-tiba meninggi.


"Kok Ken marah? Inikan kesalahan Ken juga."


"Loh kok gue?"


"Yah kalau Ken nggak ngajak ngomong Weva, yah Weva pasti nggak bakalan berhenti."


"Enak banget lo nyalahin gue."


"Yah emang ini salah Ken."


Ken terdiam sembari menopang pinggangnya menatap Weva yang memijat sakit bokongnya.


"Sakit banget, yah?"


Weva mengangkat pandangannya menatap Ken yang tiba-tiba melembutkan suaranya.


"Sakit banget?" tanya Ken lagi.


"Menurut Ken?"


Ken mendecapkan bibirnya. Ia kembali kesal. "Gue yang nanya malah nanya balik."


Suasana ruangan pribadi Ken kini mendadak sunyi membuat Ken berlutut di hadapan Weva.


"Bokong lo beneran sakit?"


"Terus Ken kira Weva bohong gitu?"


"Yah mana tau, kan."


"Ini beneran sakit tahu."


Tak berselang lama Ken tersenyum dengan tatapan jahilnya menatap Weva.


"Sini gue liat!"


"Ken mau lihat apa?" tanyanya lagi.


"Bokong lo!" jawabnya sok polos.


Weva semakin membulatkan kedua matanya setelah mendengar hal tersebut.


Plak!!!


Ken terdiam di kursinya sembari menyentuh pipinya yang memerah karena mendapat tamparan keras oleh Weva yang menatapnya dengan tajam.  


Lima Menit Kemudian...


Ken mengeluh lelah sembari mengompres pipinya menggunakan air hangat. Niatnya tadi hanya bercanda tapi Weva malah melayangkan tamparan gratis untuknya.


Weva yang asik duduk di kursi itu ikut menatap Ken. Weva yang menyadari Ken menatapnya dengan cepat menutup bokongnya dengan kertas tanggal yang ada di atas meja milik Ken.


"Apa?" ketus Weva.


"Apa?" kesal Ken yang beralih duduk membelakangi Weva yang memasang wajah penuh intai.


...****************...


"Udah boleh belum?" tanya Weva yang kini kedua kakinya berdiri di depan penimbang berat badan.


"Tunggu!" tahan Ken sembari mencatat sesuatu pada buku catatannya.


"Lama banget, sih Ken?"


"Yah sabar gendut!"


"Weva, kan udah nggak sabar. Weva itu mau tahu berat badan Weva udah turun sepuluh kg atau nggak?"


"Iya, iya. Berisik banget, sih? Yah, udah cepetan naik!"

__ADS_1


Weva tersenyum kegirangan dan segera mengangkat kaki kirinya dan menginjak permukaan penimbang berat badan yang kini jarumnya telah bergerak.


"Hati-hati!" ujar Ken membuat Weva melirik.


Weva tersenyum lebar dengan pipinya yang langsung memerah persis kepiting rebus. Ken melirik dengan tatapan bingungnya.


"Kenapa lo senyum kayak gitu?"


"Ken takut Weva jatuh, yah?"


"Idih, najis gue. Gue suruh hati-hati karena tuh timbangan gue. Awas nanti hancur!"


Weva mendecakkan bibirnya kesal dengan ujaran Ken. Weva berusaha untuk mengabaikannya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Dengan hati-hati Weva menginjak permukaan penimbang berat badan dengan kedua kakinya.


"Berdiri tegak!"  


"Jangan nunduk!" pintanya lagi.


Jarum jam itu bergerak membuat Ken mengernyitkan dahinya sementara Weva kini memejamkan kedua matanya seakan takut  untuk melihat angka di timbangan berat badan.


"140!!!" teriak Ken dengan kedua matanya yang terbelalak.


Weva yang mendengar hal tersebut dengan cepat membuka matanya dan menatap timbangan.


"Yeeee!!!" girang Weva sembari melompat turun dari timbagan dan memeluk Ken.


Keduanya kini saling berpelukan dan melompat dengan bahagianya.


"Yeeee!!!" Sorak keduanya kompak. 


"Akhirnya berat badan Weva turun 10 kg!!!"


"Iya, Wev. Gue seneng banget!!!"


"Yeeee!!! Berarti besok kita bisa jalan- jalan!!! Makan bakso!!!" teriak Weva membuat senyum Ken sirna.


Sepertinya otak Weva memang diciptakan untuk memikirkan makanan.


Ken menghentikan lompatannya membiarkan Weva yang kali ini melompat sendiri. Weva membulatkan kedua matanya setelah sadar jika ia memeluk Ken dengan erat.


"Ih, apaan, sih peluk-peluk?" Kesal Weva setelah melepaskan pelukannya.


"Loh? Kok nyalahin gue?"


"Yah Ken, kan tadi yang duluan meluk Weva."


"Eh cabut, ya kata-kata lo!" Tunjuk Ken pada bibir Weva.


"Eh gendut! Sejak kapan gue mau meluk lo? Orang lo sendiri yang langsung meluk gue," jelasnya.


Weva terdiam berusaha untuk mengingat siapa yang lebih dulu melakukan pelukan ini.


Ken mendengus kesal dan segera melangkah meraih tas dan membawanya di pundak.


"Udah cepetan pulang!"


"Pulang?"


"Em."


Weva tersenyum. Ken yang sudah melangkah itu kini menghentikan langkahnya dan ia menoleh.


"Besok, kan hari minggu. Gue tunggu lo di depan rumah gue jam tujuh pagi," ujar Ken lalu melangkah keluar meninggalkan Weva yang langsung melompat kegirangan.


"Siap bos!!!" teriak Weva sambil memberi hormat.


Weva menggerakkan kepalanya menatap Ken yang sudah keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan rapat.


Weva memejamkan kedua matanya lalu tertawa dan melompat-lompat kegirangan.


10 kg, Tuhan, ini tak mudah tapi Weva bisa.

__ADS_1


"Yeeeee!!! Besok jalan-jalan!!!"


__ADS_2