Princess Endut

Princess Endut
175. Klorin Ternyata...


__ADS_3

Klorin seketika terdiam kaku dan tak berselang lama ia melepaskan tangisannya lalu memeluk tubuh Ken yang terdiam kaku sembari menerima pelukan dari Klorin yang membenamkan wajahnya di dada Ken.


Semua orang yang ada di dalam ruangan kelas dibuat terbelalak kaget denhan tatapannya yang begitu tak menyangka jika si murid baru itu dengan beraninya memeluk tubuh Ken yang kini masih terdiam kaku.


...****************...


Klorin terdiam di hadapan pak Ahmad yang sedari tadi menghembuskan nafas lelahnya setelah mengetahui jika murid baru ini telah berkelahi di dalam ruangan kelas dan yang lebih parahnya tiga anggota geng Sangmut itu harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


"Hah, kamu ini-" ujaran Ahmad terhenti berniat untuk memarahi Klorin dengan jari telunjuknya yang telah mengarah ke wajah Klorin.


Pak Ahmad menatap jam di tangannya dan kembali menatap Klorin yang sedari tadi hanya tertunduk menatap darah Fhina yang mengotori punggung tangannya.


"Kamu tau? Kamu berbuat kesalahan yang fatal?" ujarnya sambil menunjuk Klorin dengan kedua rahangnya yang menegang.


"Saya-"


"Hussst!!!" teriaknya sembari meletakkan jari telunjuknya di ujung bibir membuat Klorin berhenti berujar.   


"Baru 5 jam kamu di sini tapi kamu sudah berbuat onar."


Pak Ahmad mengetuk-ngetuk permukaan jam tangannya dan kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar dan melangkah mondar-mandir sembari menopang pinggangnya tak jelas.


"Tapi, saya-"


"Hussst!" tegurnya membuat Klorin berhenti berujar lagi.


"Kamu tau tidak kalau, Fhina merupakan siswi yang akan mewakili sekolah untuk ikut dalam olimpiade matematika minggu depan?"


"Kalau, keadaan Fhina yang bonyok gara-gara kamu terus siapa yang akan ikut olimpiade matematika?"


Klorin yang mendengar hal tersebut langsung terbelalak dengan senyumnya yang tercipta dari bibirnya.


"Saya, pak!" jawabnya semangat sembari mengacungkan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Kamu?"


Klorin mengangguk dengan semangat membuat pak Ahmad memonyongkan bibirnya berfikir.


"Saya janji saya akan belajar yang rajin dan akan ikut olimpiade matematika menggantinkan Fhina."


"Tapi-"


"Tapi apa pak?" potong Klorin.


"Sepertinya walaupun saya tidak belajar mungkin Bapak akan setuju karena yang Bapak tau itu fisik lebih utama dibandingkan pengetahuan. Bukan begitu Pak?"


Pak Ahmad mengkerutkan alisnya tidak mengerti. Entah mengapa ucapan Klorin mengingatkannya dengan gadis gendut yang setahun lalu yang ia tolak ikut olimpiade karena fisiknya yang tidak mendukung untuk mewakili sekolah di dalam perlombaan.


"Bukan kah seperti itu pola pikir Bapak?"


"Seperti itu, kan?"


"Bapak harus tau jika saja Bapak tidak mementingkan fisik dan lebih mengutamakan pengetahuan maka sekolah kita ini sudah mendapat banyak penghargaan dalam setiap lomba."


"Saya heran bagaimana cara berpikir bapak."


"Saya juga tidak mengerti mengapa ada orang seperti Bapak."


"Ingat, pak! Tuhan menciptakan makhluknya itu sebaik-baiknya dan bukankah kita sebagai sesama mahluk memperlakukan makhluknya juga sebaik-baiknya."


Pak Ahmad masih terdiam. Ia mencerna baik-baik apa yang dikatakan oleh Klorin.


"Maaf, pak. Sepertinya saya sudah banyak bicara kali ini. Saya permisi."


Klorin tersenyum simpul dan bangkit dari kursinya lalu melangkah pergi meninggalkan pak Ahmad yang masih terdiam heran di belakang sana.


Semua orang menoleh menatap Klorin yang berjalan keluar dari ruangan pak Ahmad. Entah mengapa kini Klorin bagaikan sosok bidadari yang berjalan layaknya pencabut nyawa dengan darah segar di punggung tangannya.

__ADS_1


Lima menit berlalu membawanya kini berada di dalam toilet membersihkan punggung tangannya sembari tersenyum. Rasanya ia puas setelah memukul anggota geng Sangmut di depan banyak orang.


Bruak!!!


Pintu terhempas sangat keras membuat Klorin menoleh menatap gadis dengan poni tebal di hadapannya.


Klorin menjulurkan senyumnya dan kembali fokus menatap punggung tangannya yang disentuh lembut oleh air yang mengalir.


"Kok, Lo mukul sih?" tanya gadis itu melangkah mendekati Klorin.


"Apa sih?"


"Weva! Lo kenapa harus mukul sih kayak tadi?" tanya Gadis itu yang ternyata adalah Wiwi lalu Klorin adalah...


"Sorry Wi. Weva nggak sengaja," ujar Weva lalu ia tersenyum kembali.


Yap, gadis berparas cantik yang menyamarkan namanya menjadi Klorin adalah Weva, Weva Evanita Said, si gadis gendut yang kini menjelma menjadi gadis langsing dengan paras yang cantik.


Siapa yang akan percaya jika gadis yang selalu dibully karena tubuh gendutnya kini menjelma menjadi ratu di sekolah.


Weva juga tidak menyangka jika seluruh sekolah tidak ada yang menyadari jika dia adalah sosok Weva yang telah dibully satu sekolah dengan begitu hina.


Ini hal yang tidak mungkin tapi dengan penuh kerja keras serta atas bantuan A-yeong dan dukungan dari orang terdekatnya Weva berhasil mewujudkan impiannya. 


Weva berhasil mewujudkan keinginannya untuk cantik, langsing dan dikagumi oleh orang banyak tanpa terkecuali.


Tapi, bagaimana bisa Wiwi mengenal Weva yang kini telah berubah menjadi gadis cantik ?


Bagaimana?


Bagaimana itu semua bisa terjadi?


Weva dan Wiwi, bagamana bisa mereka bertemu?

__ADS_1


__ADS_2