
Wanita tua itu menjerit, mengangkat tongkat dan memukul pak Walio dengan keras membuat pak Walio dengan cepat berlari sambil menyentuh bagian belakangnya yang terasa sakit.
Pak Walio melangkah masuk ke dalam mobil sementara Wiwi terlihat tersenyum ragu, yah tentu saja ia merasa bersalah karena gara-gara dia Dadynya itu mendapat pukulan dari wanita tua itu.
"Pak Walio! Cepetan!" pinta Weva yang begitu tak sabar.
...***...
Anak-anak panti asuhan itu berlarian mengikuti langkah pak Supri yang melangkah masuk ke dalam ruangan panti asuhan.
Pria berseragam hitam ciri khas supir di rumah tuan Burhan itu tersenyum. Ia meletakkan sekantong besar berisi pakaian itu ke atas meja.
"Anak-anak, ini ada pakaian dari nona Weva, anak dari pak Burhan yang suka menyumbangkan uang itu, loh," jelas pak Supri membuat anak-anak panti asuhan itu mengangguk.
Pak Supri membuka kantong itu membuat para anak-anak panti tersenyum bahagia sambil berbisik-bisik.
"Nah, ayo ambil pakaiannya satu orang satu, ya!"
"Iya pak."
"Siap, pak Supri."
"Terima kasih, pak."
Jawaban itu terdengar sembari anak-anak panti yang meraih satu persatu pakaian yang ada di dalam kantong dan bahkan mereka terlihat saling berebut.
Gadis bertubuh gendut yang berusia sekitar 11 tahun nampak tersenyum. Ia mengangkat sweater coklat yang berada pada kedua tangannya. Pakaian yang sepertinya sangat cocok dengannya.
Weva melangkah turun dari mobil setelah mobil itu dihentikan di siring jalan. Weva berlari kencang tanpa mengajak kedua mahluk yang juga ikut berlari di belakang sana.
Weva mendorong pintu membuat pintu itu terbuka dengan suara hempasan yang cukup keras dari permukaan pintu ke permukaan dinding.
Nafas Weva tersengal-sengal, dadanya naik turun mengatur nafasnya. Dari sini ia bisa melihat wajah kebingungan anak-anak panti yang terlihat diam mematung menatap ke arah Weva yang masih berdiri di pintu masuk.
Weva meneguk salivanya. Kedua matanya menatap satu persatu pakaian yang ada di tangan anak-anak panti.
Weva kenal dengan pakaian itu, pakaian itu adalah miliknya. Kedua mata Weva merambah ke segala arah berusaha mencari sweaternya hingga gerakan matanya itu terhenti ketika ia melihat sosok gadis bertubuh gendut yang sedang memegang sweternya. Sweater itu, akhirnya ia menemukan sweternya.
Weva berlari menghampiri gadis gendut itu yang menatap bingung.
"Sini sweternya!" minta Weva yang langsung menariknya.
"Loh? Tapi ini, kan punya aku!" teriak gadis gendut itu yang beralih menarik kembali sweaternya.
"Nggak! Ini sweater Weva!"
__ADS_1
"Tapi, kan ini udah disumbangin."
"Iya, Weva tau tapi Weva butuh sweater ini!" teriaknya yang tak mau kalah.
"Woy!" teriak Wiwi membuat semua orang di dalam ruangan itu menoleh menatap ke arah sosok Wiwi yang berada di pintu masuk.
"Wi! Ini sweater yang Weva cari. Suratnya ada di dalam sini!" teriaknya mengadu.
Mendengar hal itu membuat Wiwi dengan cepat berlari dan ikut menarik sweater dari gadis bertubuh gendut itu. Weva akui kekuatan sahabatnya itu memang sangat kuat membuat sweater itu berhasil terlepas dari pegangan tangan gadis gendut penghuni panti asuhan.
Weva terhempas ke permukaan lantai bersama dengan Wiwi membuat anak-anak panti asuhan tertawa seakan melihat hal ini adalah sebuah kelucuan namun, berbeda dengan Weva yang langsung berlari keluar dari rumah panti asuhan. Ia takut jika Sweater ini kembali di rebut darinya.
Nafasnya terengah-engah, jemari tangannya gemetar Weva sempat meringis ia ingin menangis dan berteriak saat sweater itu ada di dalam pelukannya, butuh banyak perjuangan untuk mendapatkan sweater ini.
Jemari tangannya yang gemetar itu bergerak masuk ke dalam kantong sweater, meraba kantong itu hingga jemari tangannya berhasil menyentuh permukaan kertas membuat Weva memejamkan kedua matanya dengan helaan nafas panjang dari mulutnya yang kini berangsur tersenyum.
Surat itu, akhirnya ia mendapatkan surat itu!
Bibir Weva gemetar. Nafasnya tertahan di kerongkongannya. Jemari tangannya memeluk erat surat berwarna pink dengan motif hello kitty, merapatkannya ke dadanya sambil memejamkan kedua matanya.
Ia menjatuhkan sweater coklat itu ke permukaan rerumputan. Kedua matanya fokus menatap surat itu dan tertawa kecil. Pria itu sepertinya memang suka dengan hellokitty sampai-sampai surat itu juga dihiasi oleh karakter lucu kesukaan anak-anak.
Weva dengan cepat ia membuka surat berwarna pink itu. Satu tangannya memegang tempat surat sementara di satu tangannya lagi mengeluarkan isi surat itu.
Weva melangkahkan kakinya selangkah maju sembari membuka lipatan kertas hingga sesuatu benda kecil terjatuh dari surat itu ke rerumputan hijau.
Bola matanya itu bergetar menahan tangis saat ia membaca isi tulisan di surat itu membuat kedua kakinya lemas. Tubuh Weva ambruk ke rerumputan hijau dengan isakan tangis yang begitu menyakitkan baginya.
"Wev!" teriak Wiwi yang berlari menghampiri.
"Lo kenapa?"
Kedua matanya yang telah terhalang air mata itu mendongak menatap sosok Wiwi. Ia bangkit sembari memegang jemari tangan sahabatnya.
"Wi! Cepetan! Weva harus ketemu sama Ken."
Wiwi mengangguk. Ia menarik tangan Weva membantunya untuk bangkit. Semenit kemudian kini mereka telah berada di dalam mobil yang sedang melaju cukup kencang. Di satu sisi Wiwi sesekali menatap bingung ke arah sahabatnya itu entah apa isi surat itu sehingga Weva tak kunjung berhenti menangis dengan wajahnya yang begitu sangat khawatir.
"Pak cepetan, pak!"
"Iya, nona Weva."
...***...
"Cepat, Din!"
__ADS_1
"Iya, pak."
Johan mendengus nafas kesal. Ia menunduk menatap putranya yang berada di atas pangkuannya yang telah memucat. Johan harap anak ini masih hidup.
"Pak! Ambulancenya sudah ada di depan!"
"Dasar lambat! Tim medis apa itu yang baru datang disaat kita sudah pertengahan jalan. Kita sudah menelfon dari tadi tapi datangnya baru sekarang."
"Berikan dia kode kalau pasien yang ingin mereka jemput ada di mobil ini!"
"Baik, pak tapi apa kita berhenti di sini?"
"Tentu saja."
"Tapi nanti akan macet."
"Biarkan saja, aku tidak peduli. Ini masalah nyawa kalau putraku meninggal apa kau mau tanggung jawab?"
Supir pribadinya itu mengangguk. Ia menghentikan mobilnya setelah membunyikan klakson dan menghadang mobil ambulance itu di tengah jalan membuat pengendara yang lain menghentikan laju mobilnya.
"Pasiennya ada di sini!" teriak supir milik Johan itu.
Mobil yang melaju kencang itu kini secara perlahan memelan membuat Weva yang sejak tadi hanya diam sambil mengelus permukaan surat mengangkat wajahnya.
"Ada apa, pak?"
"Macet, Non."
Weva menoleh menatap jejeran mobil yang ada di depan sana. Kemacetan yang cukup parah.
"Kayaknya ada yang kecelakaan, itu ada ambulance."
"Jadi gimana, dong? Wev! Kalau lo telat, lo nggak akan ketemu sama Ken lagi," sahut Wiwi dari belakang.
Weva berpikir sejenak. Ia tak boleh membiarkan Ken pergi. Ia harus berbuat sesuatu.
Tanpa pikir panjang Weva dengan cepat membuka pintu mobil dan berlari meninggalkan Wiwi yang langsung mengeluarkan separuh tubuhnya di jendela mobil yang terbuka.
"Wev! Tungguin gue!" teriaknya yang juga ikut melangkah turun dari mobil dan berlari mengejar Weva.
Wiwi menghentikan larinya, lututnya telah terasa sakit setelah berlari, nafasnya juga telah sesak membuat dadanya naik turun mengatur nafas.
Wiwi menyadarkan tubuhnya ke tiang yang ada di trotoar khusus pejalan kaki hingga kedua matanya yang berusaha untuk melihat kemacetan panjang itu terhenti pada sosok Brilyan yang terlihat di turunkan dari mobil mewah dan di baringkan ke atas brangkar lalu brangkar itu dituntun masuk ke dalam mobil ambulance.
Mobil ambulance itu melaju kencang membuat kepala Wiwi bergerak mengikuti ke arah mana mobil itu melaju.
__ADS_1
Kening Wiwi mengernyit bingung. Ada apa yang terjadi pada Brilyan.
"Brilyan? Brilyan sakit?"