
Jarum jam terlihat bergerak menunjukkan waktu yang telah cukup larut malam ini. Suasana malam ruangan telah cukup sunyi. Suara langkah beberapa kali terdengar diiringi suara brangkar yang didorong dari luar.
Weva nampak berbaring di sofa panjang bersama dengan Laila sementara pak Ahmad dan Johan nampak berbaring di atas karpet. Ken juga nampak telah tertidur, membarinkan kepalanya ke pinggiran ranjang dengan tangannya yang menggenggam erat jemari tangan Brilyan yang juga masih nampak tertidur.
Kedua mata yang terpejam itu tiba-tiba terbuka, kedua mata yang telah terhalang air mata itu menatap samar-samar ke langit ruangan.
Dadanya terasa sesak seakan tak mampu lagi untuk bernafas seperti biasanya membuat mulutnya terbuka. Ia menggerakkan jemari tangannya yang begitu sukar untuk digerakkan, kepalanya bergerak menatap sosok Ken yang masih setia di sampingnya.
"Ken!" bisik Brilyan samar.
Dengan sekuat tenaga Brilyan menggerakkan jemari tangannya yang terasa berat, menyentuh rambut Ken yang langsung mengeryit saat merasa aneh pada sesuatu yang menyentuh kepalanya.
Ken mengangkat kepalanya, ia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali saat cahaya lampu menyilaukan matanya.
Kedua mata Ken membulat menatap Brilyan yang telah bernafas terengah-engah dengan air mata yang telah membasahi permukaan bantal.
"Brilyan, lo kenapa?" tanya Ken yang begitu panik.
Brilyan tak menjawab. Ia memejamkan erat kedua matanya dan kembali terbuka penuh kesusahan.
"Ken," bisik Brilyan.
"Lo kenapa? Pliase jangan buat gue jadi panik!"
"Hust!" tegur Brilyan.
"Tapi lo kenapa?"
Brilyan meneguk salivanya. Bibirnya mengering pucat. Ia menarik baju Ken agar lebih dekat dengannya membuat Ken menurut, mendekatkan kepalanya ke arah bibir Brilyan.
"A-a-aku udah tidak ta-tahan la-gi."
"Maksud lo apa? Lo ngomong apa, sih?"
Brilyan meneguk salivanya berusaha untuk mengumpulkan kekuatannya agar bisa bicara.
"A-aku a-kan pergi."
"Kemana? Lo mau kemana?" panik Ken yang meninggikan nada suaranya.
"Hust! Jangan ke-keras-keras! Nanti mereka bangun."
"Tapi lo mau kemana?" tanya Ken yang menurunkan nada suaranya, ikut berbisik namun, dengan nada suara yang ditekan.
"Ken, a-aku minta satu hal."
Ken tak menjawab. Ia masih begitu sangat panik, tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi sekarang.
"Aku tau Weva ti-tidak cinta sama a-ku. Dia cinta sama kamu."
"Aku ma-mau minta tolong. Ka-ka-mu mau, kan?"
"Nggak gue nggak mau," tolak Ken tanpa basa basi.
Brilyan tersenyum. Ia memejamkan kedua matanya membuat air matanya mengalir membasah sampai ke telinganya.
"To-to-long jaga Weva." Brilyan menarik nafas dalam-dalam membuat Ken semakin keheranan.
__ADS_1
"Lo itu kenapa, sih? Hah?"
"Umur aku tidak panjang lagi, Ken. Tu-tuhan udah manggil aku," ujarnya terbata-bata, nyaris membisik.
Ken tersenyum lalu menggeleng.
"Nggak lucu tau nggak."
"Ka-mu tau, kan cara sya-hadat? To-tolong bantu a-a-aku!"
Kedua bibir Ken terbuka, menarik nafas dalam-dalam dari mulutnya membuat Ken panik. Brilyan tidak sedang bercanda sekarang.
"Bril, nggak lucu tau nggak! Lo mau nakut-nakutin gue, kan? Iya, kan?"
Tubuh Brilyan bergetar seakan sedang menahan sakit yang luar biasa. Bibir Brilyan bergerak, berbisik seakan sedang mengatakan sesuatu hal yang tidak mampu Ken dengar.
Apa mungkin ini akhir dari segalanya?
Ken menggerakkan wajahnya mendekati telinga Brilyan dan mulai bicara di sana. Tak mudah tapi ini harus ia lakukan. Bibirnya yang ingin menuntun kalimat syahadat itu tertahan, bahkan untuk bicara saja ia tak bisa. Dadanya terasa sakit menahan tangisan yang rasanya tak mampu lagi untuk ia tahan.
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu,"
Bibir Brilyan nampak bergerak, tak terdengar suaranya namun, Ken tau saudara kembarnya itu sedang mengikut.
"Wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah," lanjutnya dan kembali mengulangnya hingga tiga kali.
Ken mengusap pipinya yang entah sejak kapan menjadi basah. Kedua matanya yang memburam karena terhalang air mata itu membulat menatap kedua mata Brilyan yang telah terpejam erat.
"Brilyan!" panggil Ken.
Tak ada jawaban dari Brilyan.
"Brilyan! Brilyan!" panggil Ken lagi tapi tetap saja tak ada respon dari Ken membuat Ken panik.
Ia menempel salah satu jemari tangannya berusaha untuk mencari nadi Brilyan. Tak menemukannya di sana membuat Ken mendekatkan jemari tangannya ke hidung Brilyan.
Bibir Ken bergetar menahan tangisnya yang siap pecah di detik ini juga. Tak cukup itu saja Ken menyadarkan telinganya ke dada Brilyan berusaha untuk mendengar suara detak jantung Brilyan.
Wajah kaku itu kini menjauh, bibirnya bergetar, rasanya jantungnya berhenti berdetak di detik ini juga karena takut akan pikirannya saat ini.
"Brilyaaaa!!!" teriak Ken yang mengguncang tubuh Brilyan.
Laila, Pak Ahmad, Weva dan Johan terbangun dari tidurnya setelah suara teriakan Ken benar-benar memecahkan keheningan malam.
"Ken? Kenapa, Nak?" panik Laila yang berlari mendekat.
"Bri-Bril-yan udah nggak nafas, Ma!" teriak Ken yang begitu panik, mengguncang Brilyan agar segera merespon.
"Apa?" bisik Laila yang juga ikut panik.
Pak Ahmad berlari mendekati putranya lalu ikut memeriksa nadi putarnya itu.
"Aku akan panggil dokter," ujar Johan yang langsung berlari keluar dari ruangan.
"Brilyan!!!" teriak pak Ahmad setelah ia memeriksa nadi putranya yang benar-benar tak ia temukan.
"Brilyan! Ini nggak lucu tau nggak cepetan bangun!" teriak Ken.
__ADS_1
Pintu terbuka membuat mereka menoleh menatap sang dokter yang berlari masuk ke dalam ruangan bersama dengan perawat.
"Dokter cepat dokter! Selamatkan anak saya!" ujar Laila yang melangkah mundur membiarkan dokter mengambil tindakan.
Dokter berjas putih itu nampak meletakkan kedua tangannya yang disatukan itu ke atas dada Brilyan dan menekannya beberapa kali membuat mereka semua terdiam dengan wajah cemas dan mempias.
Tak berselang lama dokter menghentikkan tindakannya, melepas stetoskop dari telinganya membuat Ken menatap penuh penasaran.
"Bagaimana, dok? Saudara saya nggak apa-apa, kan?"
Sang dokter menghela nafas yang cukup panjang membuat Ken menatap bingung.
"Kenapa, dokter?"
"Mohon maaf sebelumnya tapi Brilyan sudah tidak bernyawa lagi."
"Apa?" tanya Ken tak mengerti.
"Saudara Brilyan sudah meninggal."
Bagai disambar petir saat Ken mendengarnya. Hanya beberapa kalimat yang dokter itu katakan tapi mampu membuat nafas Ken tertahan membuatnya menjadi sangat sesak nafas.
Sang dokter menepuk pelan bahu Ken yang terpatung di tempatnya berdiri.
"Saya turut berduka cita, saya permisi dulu," pamit sang dokter lalu melangkah keluar dan bersamaan dengan itu tubuh Ken tumbang membuat tubuhnya terbentur ke permukaan dinding.
Tuhan, Tuhan telah mengambil saudara kembarnya, Brilyan.
Ken menyentuh kepalanya, menarik keras rambutnya yang bahkan tak terasa sakit. Kedua matanya menatap samar-samar wajah Brilyan yang terbaring di sana. Ia menggeleng pelan, masih tak percaya dengan kenyataan ini.
"Brilyaaaa!!!" teriak Ken bersamaan dengan tangisannya yang pecah.
Weva yang sejak tadi menutup bibirnya berusaha untuk menahan tangisnya itu menoleh menatap ke arah Laila yang nampak goyah dari tempatnya berdiri sambil menyentuh kepalanya serta kedua matanya yang terlihat ingin terpejam erat namun, berusaha ia tahan.
"Mama Laila!!!" teriak Weva yang langsung berlari dan memeluk tubuh Laila yang pingsang, tak sadarkan diri.
Ia membaringkan tubuh Laila dengan pelan ke lantai dibantu oleh pak Ahmad yang juga telah terisak. Ia memangku kepala istrinya dan mengelus wajah sang istri. Ia tau bagaimana hancurnya perasaan sang istri yang harus kehilangan putranya itu.
Di tempat yang sama suara tangisan yang terdengar paling kencang berasal dari sosok pria berjas yang sedang memeluknya tubuh Brilyan.
Johan, yah walaupun Brilyan bukanlah anak kandungnya tapi tetap saja rasanya hatinya seakan teriris begitu perih di dalam sana.
Ia melepaskan pelukannya, mengusap pipi Brilyan berharap anak yang telah memberikannya banyak sanjungan dari orang banyak karena prestasinya itu kembali hidup untuknya.
"Brilyaaaa!!!" teriak Johan.
Ken menghembuskan nafas sesak, menempelkan keningnya ke dinding dan membenturkannya di sana dengan keras membuat Weva dengan cepat berlari dan memeluk tubuh Ken. Weva tak ingin Ken menyakiti dirinya sendiri seperti ini.
Weva mengelus kepala Ken. Pandangannya menatap ke arah Brilyan yang wajahnya ditutupi selimut oleh Johan dengan berat hati.
Mungkin ini adalah rencana Tuhan. Ia tau jika setiap mahluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian tapi apa ini tidak terlalu cepat untuk Brilyan.
Pria dingin yang selalu ia kejar sejak dari dulu. Sekarang Brilyan telah benar-benar pergi jauh menemui sang ibu yang telah lama pergi.
Pria yang selalu ia kagumi karena kecerdasannya, pria yang selalu ia buntuti ke perpustakaan, membawakannya bekal berisi nasi goreng serta sehelai kertas bertuliskan I love you berharap bisa mendapatkan cinta dari pria dingin itu.
Tak ada lagi di dunia ini pria yang seperti Brilyan. Pria pendiam sedingin es yang sampai kapan pun akan menjadi idola bagi semua orang.
__ADS_1
Selama jalan Brilyan, sikap dingin mu itu akan menjadi kisah bagi Weva yang tentu saja akan ia rangkum dalam buku diarynya, akan tetapi apakah mampu ia menulisnya? Bahkan memikirkan hal ini saja tak mudah rasanya.
Sekali lagi selamat jalan Brilyan.