
Seoul, Korea.
Bangunan-bagunan tinggi pencakar langit begitu sangat indah seakan ingin menyentuh langit biru yang nampak berawan. Pepohonan pinggir jalan menemani perjalanan Weva yang saat ini tengah mematung menyadarkan pipinya di sandaran kursi mobil.
"This is a kimchi restaurant. We will eat there together later."
(Itu restaurant kimchi. Kita akan makan di sana nanti) ujar gadis itu sembari menunjuk restoran di sebrang jalan.
"Aku suka nggak suka kimchi," jawab Weva tanpa menoleh.
"What?"
(Apa?)
Weva menghela nafas. Ia melirik menatap gadis cantik itu dengan malas.
"I don't like kimchi."
(Aku tidak suka kimchi)
Weva melirik gadis itu sinis membuat kedua matanya kembali menatap ke arah luar jendela.
Gadis itu terdiam sesaat dan tak berfikir panjang ia meraih handphone miliknya dan kembali membuka translate.
"Emmm, tehrus kamu sukha apha?"
Weva yang mendengar hal tersebut segera menoleh ketika ia sadar jika gadis ini baru saja berbicara dengan bahasa Indonesia.
"Ternyata kamu-" ujaran Weva terhenti mendapati gadis itu tengah menatap layar handphonenya. Sudah jelas kalau gadis itu sedang mentranslate kalimat agar Weva mengerti apa yang dia katakan.
"Weva, suka bakso," ujar Weva dan kembali membelakangi gadis itu sembari menyandarkan pipinya ke sandaran kursi.
"baso?"
"No! Ba-kso!" ujarnya dengan pelan.
"Bakso?"
"Emmm," sahutnya malas.
"I like bakso."
"Oh, ya?" syok Weva dengan cepat menatap gadis itu.
Gadis itu mengangguk sembari tersenyum manis mendapati respon yang baik dari Weva.
"Di sini ada penjual bakso?"
"What?" heran gadis itu tak mengerti.
Weva menghela nafas. Tuhan, ia dulu juga sering kabur saat les bahasa Inggris.
"Here is a meatball seller?" tanya Weva.
(Di sini ada penjual bakso?)
"Yes."
"Where?"
__ADS_1
(Dimana?)
Gadis itu menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Weva yang duduk di dekat jendela mobil. Gadis itu menatap serius ke sebrang jalan dan tak lama ia menunjuk.
"There!"
(Di sana!)
Weva menoleh menatap sebuah restoran bertuliskan bakso rindu kampung yang nampak begitu ramai pengunjung.
"Itu bakso rindu kamphung, emmm harganya 17 won. Di sana adha banyhak mkhanan enak. Ada ayham geprek, iga bakarh, sup igha and toghean," jelasnya sambil membaca translate.
Weva mengangguk dengan kepalanya yang terus menatap restoran itu hingga semakin menjauh.
...****************...
Weva melangkah masuk ke dalam sebuah rumah di sambut beberapa orang dengan pakaian ala Korea. Weva hanya terdiam tapi tatapannya memperhatikan semua yang ada di sekitarnya. Setelah perjalanan yang cukup panjang bagi Weva kini ia telah tiba di sebuah rumah yang terlihat mewah tapi menutur Weva rumah ini tidak mampu mengalahkan rumahnya yang ada di Indonesia.
"Weva!" sambut seseorang dan memeluknya erat.
Wanita tua dengan rambut yang diikat biasa itu kini melepaskan pelukannya membuat Weva keherangan tapi ketika ia melihat wajahnya Weva tersenyum. Weva baru ingat dengan wanita yang kini berumur 76 tahun, dia Omah Weva.
"도착 했니? 너무 보고 싶어요 / Dochag haessni? neomu bogo sip-eoyo."
(Kamu sudah sampai? Aku sangat merindukan kamu)
"너 배고프 니? 뭔가 먹고 싶어? / Neo baegopeu ni? mwonga meoggo sip-eo?"
(Apa kamu lapar? Kamu ingin makan sesuatu?)
Weva hanya mengangguk sembari tersenyum walau jujur ia tak mengerti.
"Gimana perjalanannya?"
"Bagus, kok," jawabnya dengan wajah tak senang.
"Oh iya, you udah kenalan belum sama sepupu kamu?"
"Siapa?"
"A-yeong, siapa lagi kalau bukan dia?"
Mendengar nama itu membuat mendengus kesal. Sial! Telinga ini harus mendengar nama itu lagi.
"Bagaimana?"
"Weva nggak mau," tolaknya mentah-mentah.
"Why?"
Weva tak menjawab. Rasanya ia memang sangat membenci dengan nama itu. Kalau mendengar namanya saja ia benci apa lagi jika ia bertemu dan melihat gadis itu. Weva masih sangat ingat jika Mommynya itu selalu saja memuji gadis bernama A-Yeong itu dan membanding-bandingkan ia dengan dia.
"Loh, nggak boleh gitu, dong, Wev! You pokoknya harus ketemu sama A-yeong! Nggak boleh nggak!"
Weva mendecapkan bibirnya kesal lalu perlahan Weva menganggukkan kepalanya. Biar saja A-yeong muncul di hadapannya sekarang juga. Rasanya sudah lama ia ingin menginjak leher gadis itu dengan keras, kalau perlu Weva ingin sekali untuk mencekik leher gadis itu.
Bagaimana, sih rupa gadis itu sampai selalu disebut namanya oleh Sasmita. Weva ingin lihat gadis itu.
"A-young!" teriak Sasmita memanggil seseorang membuat Weva melirik seakan tak sabar untuk melihat sosok bernama A-yeong.
__ADS_1
"Ne," (Iya) sahut gadis yang berlari kecil menghampiri Sasmita.
Weva membulatkan kedua matanya setelah melihat gadis yang dipanggil A-yeong itu sedang berlari kecil dan berdiri di samping Sasmita serta tepat di hadapan Weva yang masih mematung tak menyangka.
Apa ini benar sepupunya?
Weva sama sekali tak menyangka jika gadis yang berparas cantik yang telah menjemputnya tadi di bandara adalah A-yeong, manusia paling Weva benci di muka bumi ini.
"Nah, ini dia A-Yeong. Cantik, kan?" tanya Sasmita yang merangkul pinggang A-yeong tepat di hadapan Weva yang menatap nanar.
"Wev, yuk kenalan dulu sama A-yeong!"
"Wev!" ujar Wevo yang telah bangkit dari sofa.
Wevo menyentuh permukaan bahu Weva yang kini masih terpatung tak menyangka. Wevo hanya tak tega melihat adiknya seperti ini. Jika biasanya Weva hanya selalu mendapat perbandingan melalui indra pendengarannya, tetapi sekarang ia melihatnya secara langsung.
Weva masih mematung. Tak heran mengapa Mommynya itu selalu saja memuji gadis cantik ini. Itu semua karena keadaan fisik A-yeong yang benar-benar sempurna.
Sedangkan dirinya sangat buruk. Melihat Mommynya yang merangkul pinggang A-yeong itu membuat dada Weva terasa sangat sakit. Rasanya yabg belati yang menikamnya begitu tajam.
"Wev!" panggil Wevo lagi.
Weva menoleh menatap Wevo yang terlihat tersenyum.
"Wev! Ayo kenalan sama A-yeong!" suruh Sasmita lagi.
A-yeong tersenyum. Ia menjulurkan jemari tangannya yang putih dan lentik ke arah Weva yang dengan perlahan menunduk menatap jemari tangannya yang agak gemuk dan tak putih.
"Wev!"
"Nggak!" tolak Weva mentah-mentah.
A-yeong terbelalak menatap raut wajah Weva yang tiba-tiba berubah marah serta tatapan tajam yang mendominasi.
"Wev!" tegur Sasmita dengan tegas.
"You nggak boleh kayak gitu dong sama A-young!"
"Kenapa nggak boleh?" tanya Weva.
"Kenapa, Mom?"
"Karena, A-yeong langsing dan nggak gendut kayak Weva jadi Weva nggak boleh bersikap jelek sama dia?" ocehnya lalu menunjuk A-yeong yang saat ini tidak tau apa-apa.
"Bukan karena, itu, Wev."
"Terus apa?"
"Yah, you nggak boleh kayak gitu, dong!"
"Mommy, terserah Weva mau kenalan sama dia atau nggak!"
"Weva, stop!!!" bentak Sasmita membuat semua orang terkejut.
"Stop!!!" teriaknya lagi.
Weva mengigit bibir ketika bentakan itu terdengar menyakitkan baginya. Weva tak menyangka jika Mommy-nya akan membentaknya di depan orang-orang terutama A-yeong yang sedari tadi menatapnya.
__ADS_1