Princess Endut

Princess Endut
173. Klorin Dan Geng Sangmut


__ADS_3

Fhina tertawa kecil lalu mengibaskan kipas dan kembali melangkah diikuti oleh Harni dan Firda menuju lantai tiga.


Sepertinya ini memang tidak boleh dibiarkan begitu saja. Murid baru itu memang harus diberi pelajaran oleh geng Sangmut agar si murid baru itu tahu ada geng Sangmut di sekolah ini.


Langkah ketiga anggota geng Sangmut itu kini mendadak terhenti setelah mendapati kerumunan dari kejauhan tepatnya di depan kelas.


"Gila, ramai banget." Kaget Harni dengan wajah syoknya. Ia menoleh menatap Fhina dan Harni yang juga terlihat terkejut. Seumur hidupnya tak ada yang pernah berkerumun sebanyak ini kepada geng Sangmut, tapi kerumunan sebanyak ini hanya karena anak murid baru itu.


"Pantesan aja nggak ada yang nyamperin dan ngerumunin kita, ternyata mereka semua ada di sini."


"Dasar brengsek tuh murid baru," lanjut Firda geram menanggapi ujaran Fhina.


"Ih, kesel banget, deh gue. Ayo mut! Kita beri pelajaran sama si murid baru itu! Gue nggak sabar buat cakar mukanya!" ajak Fhina membuat kedua sahabatnya mengangguk. 


Fhina kini melangkah melangkahkan kakinya sembari mengibaskan kipasnya menuju masuk ke dalam ruangan kelas dan membelah kerumunan yang begitu padat.


"Minggir lo semua!"


"Oi, manusia menjijikan geng Sangmut mau lewat!!!" teriak Harni yang berusaha membuka jalan. 


Tak ada satupun yang memperdulikan teriakan Harni yang kini melongo. Rasanya sekarang tak ada yang mau mendengar perintahnya.  


"Gimana, nih Fhimut?" tanya Harni dengan wajah sedihnya menatap Fhina.


Fhina membuang nafasnya kasar dan berusaha untuk tidak memberontak kali ini. Jujur saja rasanya Fhina ingin berteriak dan memukul semua orang yang telah mengabaikan geng Sangmut seperti ini.


  


Suara keributan yang terdengar memuji murid baru itu seakan memenuhi gendang telinganya dan membuat kupingnya panas.


"Diaaaaam!" teriak Fhina membuat semuanya orang menoleh menatap Fhina yang nampak benar-benar sangat marah kali ini. 


"Minggir lo semua!"


"Gue mau ketemu sama murid baru itu!!!" sambung Fhina lagi. 


Teriakan keras itu berhasil membuat semuanya menyingkir membuat ketiga anggota geng sangmut itu terdiam ketika mereka bertiga berhasil menatap Klorin yang nampak terdiam dengan tangannya yang memegang pulpen berniat untuk menandatangani sebuah buku harian salah satu siswi.


Harni terbelalak kedua matanya setelah melihat wajah Klorin yang di luar dugaannya. Paras cantik gadis itu membuatnya tak mampu bicara apa-apa.


"Gila, cantik banget!" Kagum Harni membuat Fhina dan Firda melirik sinis. 


"Apa lo bilang?" kesal Fhina.

__ADS_1


"Sorry, Mut. Harmut keceplosan," ujarnya dengan cepat memukul bibir yang telah salah bicara di waktu yang tidak tepat seperti sekarang ini.


Fhina melangkah maju dan mendekati Klorin sambil melipat kedua tangannya di depan dada menunjukkan gaya angkuh.


Fhina tersenyum sinis menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Klorin. Murid baru ini yang telah merusak kepopulerannya di sekolah hanya dalam waktu yang singkat.


Kini suasana kelas yang sedari tadi berisik kini mendadak sunyi. Sepertinya ini akan menjadi tontonan yang seru antara ketua geng Sangmut dan si murid baru itu. Suara langkah sepatu Fhina terdengar mendekati Klorin membuat semua orang terdiam.


"Jadi lo murid baru itu?"


Klorin tersenyum manis membuat semua orang saling berbisik mengangumi kecantikan Klorin.


"Diam lo semua!" teriak Fhina penuh amarah.


"Tau lo lebay banget, sih, " cerocos Harni yang berada di belakang Fhina.


Perlu diketahui Fhina tak suka jika ada yang memuji murid baru itu. Fhina sangat benci dan bahkan ia muak jika harus mendengarnya.


Fhina melangkah lagi mendekati Klorin yang masih duduk di kursinya dengan langkah yang terlihat santai. Rasanya Fhina sudah tak sabar untuk menghajar dan mencakar wajah murid baru yang sok cantik itu.


"Ehem, jadi lo murid baru yang sok cantik itu, ya? Kalau gue liat-liat, sih muka lo biasa aja, tuh. Hahahaha, nggak ada cantiknya," ujarnya lalu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Klorin yang kini hanya terdiam.


Fhina tersenyum sinis ketika Klorin tak membalas ujarannya. Sepertinya Klorin adalah gadis feminim yang jika dipukul hanya akan menangis seperti gadis-gadis pada umumnya yang selalu mereka siksa dan bully di sekolah ini.


Di tempat yang sama Wiwi yang penasaran itu mulai menjinjit berusaha untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.


Ken yang sejak tadi menatap handphonenya melirik menatap Wiwi sejenak. Tingkat kekepoan sahabat Weva ini memang tidak pernah berubah.


Wiwi bangkit dari kursinya dan segera naik ke atas meja untuk melihat anggota geng Sangmut dan Klorin yang berada di tengah-tengah kerumunan.


"Iiih, kesel banget sih gue nggak bisa ngeliat mereka," kesal Wiwi sembari menjinjit di atas meja.


"Lo kenapa harus naik ke situ, sih? Mending kita ke kantin atau kemana gitu dari pada di sini," usul Ken.


"Apa sih lo? Mending kita ngeliat mereka. Kalau mereka berantem gimana?"


Ken yang berniat untuk melangkah keluar dari kelas itu kini kembali duduk di kursinya.  


Fhina lagi dan lagi tersenyum sinis lalu menggerakkan tangannya untuk menyentuh rambut Klorin yang terlihat indah.


Klorin dengan cepat menghindar mengira Fhina akan memukulnya. Hal ini membuat Fhina tersenyum sinis dengan perasaan bangganya. Belum apa-apa gadis ini sepertinya sudah terlihat takut.


"Kenapa? Lo takut gue pukul?"

__ADS_1


"Iya takut?" lanjut Fhina sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Yah pasti takut lah. Setelah ini pasti dia bakalan nangis dan teriak minta tolong sama semua orang. Kayak gimana Harni?" tambah Firda.


"Tolong! Aku tersakiti! Ah, tolong akyuuuu!!!" jeritnya manja membuat Fhina dan Firda tertawa.


Klorin hanya tersenyum tipis menanggapi hal tersebut.


"I'm sorry, aku nggak pernah takut dengan seseorang apa lagi dengan kalian," ujar Klorin santai.


Semua orang yang ada di dalam kelas langsung terbelalak kaget setelah mendengar ujaran Klorin yang berani mengatakan hal itu kepada ketua geng Sangmut yang sangat ditakuti oleh semua siswa dan siswi di sekolah.


Kedua bibir Fhina terbuka tak menyangka jika Klorin akan mengatakan hal itu kepadanya. Murid baru ini memang harus diberi pelajaran jika tidak maka murid baru ini akan semakin melunjak dan yang paling terpenting semua siswa dan siswi pasti akan mengaggap jika geng Sangmut lemah.


"Berani, yah lo sama kita?!!" teriak Firda emosi dengan langkahnya yang mendekati Klorin.


Langkah Firda tiba-tiba terhenti ketika tangan Fhina menahannya. Firda menoleh menatap Fhina dengan tatapan tak mengerti.


"Jangan, Firdmut, jangan !"


"Tapi-"


"Ehm, nggak usah Firdmut! Kali ini biar gue yang ngasih pelajaran sama si murid baru yang sok cantik ini."


Firda mendecapkan bibirnya kesal dan segera melangkah mundur mengurungkan niatnya untuk menghajar si murid baru itu.


Fhina tersenyum sinis dan melangkahkan kakinya mendekati Klorin lagi.


Bruk!!!


Fhina memukul meja dengan kedua tangannya dengan keras. Ia melirik menatap Klorin dengan tajam.


"Gue harap lo nggak usah sok jago di sini?"


"Lo nggak usah sok jago di sekolah ini. Mungkin di sana lo adalah penguasa tapi di sini gue penguasanya."


"Mungkin lo belum tau berhadapan dengan siapa kali ini."


"Lo belum tau aja siapa gue dan siapa itu geng Sangmut. Di sekolah ini satu orang pun nggak ada yang berani ngelawan dan gue harap lo nggak nyesel udah bersikap kayak gini sama gue."


"Siapa pun yang kurang ajar sama geng sangmut, semuanya bakalan ancur, ngerti lo?"


Fhina kembali memukul meja dan melangkah mundur. Ia menatap ke segala arah dimana semua orang masih menatapnya.

__ADS_1


"Dan buat lo semua yang ada di sini!!!"


"Gue mau ngasih pelajaran buat si murid baru ini biar dia tau apa itu sopan santun dan gue harap jangan pernah ada yang berani nolongin si murid baru kurang ajar ini!!!" teriak Fhina dengan suaranya yang menggema ke seluruh ruangan kelas.


__ADS_2