
Weva menopang dagu sembari menatap dengan penuh keseriusan ke arah Bu Yungmi yang kini tengah asik menjelaskan pelajaran seni budaya.
Entah sudah berapa lagu daerah yang Bu Yungmi nyanyikan di depan sana dengan suara cemprengnya yang memenuhi ruangan kelas.
Weva terdiam dengan wajah datarnya dan kedua bibirnya yang bergerak mengikuti lagu yang dinyanyikan oleh Bu Yungmi di depan sana.
Wiwi menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan perasan lelah membuat Weva menunduk menatap Wiwi.
"Udah lah duduk aja!" bisik Wiwi membuat Weva hanya menggeleng.
"Wev, lo nggak bosan denger suara Bu yungmi?" bisik Wiwi lagi dengan raut wajahnya yang nampak sangat bosan dan kesal berbaur menjadi satu sembari menggosok daun telinganya yang sudah panas mendengar nyanyian Bu Yungmi yang bersenandung tanpa henti.
Weva hanya mampu terdiam rasanya ia masih kesal dengan sikap Wiwi tadi yang dengan teganya membentak, memarahi dan bahkan membentak Brilyan.
"Gue heran, kok bisa, sih, Bu yungmi lulus jadi guru seni budaya?"
"Apa Bu Yungmi nggak dites nyanyi dulu sebelum di wisuda?"
"Lo itu yang di belakang kok diem?!! Nyanyi kamu!!!" Tunjuk bu Yungmi kepada pria yang duduk paling belakang dengan tatapan teragis dan hal itu lantas membuat pria bertubuh kerempeng itu ikut menyanyi bersama dengan murid-murid lainnya.
Wiwi menghela nafas menatap iba pada teman sekelasnya itu. Wiwi juga ikut bangkit dari kursinya. Bisa mampus dia jika Bu Yungmi sampai melihatnya duduk seperti ini.
"Kasian si Beno kayak tekanan batin gitu nyanyinya," ujar Wiwi dengan raut wajah sedih.
Bukan sedih bagaimana yang sempat Wiwi rasakan, tapi Beno itu adalah pria gagu yang tak bisa bicara jadi bagaimana caranya ia menyanyi?
Suara nyanyian ampar-ampar pisang itu kini terhenti ketika secara tidak diduga seseorang mengetuk pintu kelas dari luar membuat semua orang menoleh menatap ke sumber suara.
"Ken?" Tatap bu Yungmi heran ke arah pria yang kini nampak berdiri di pintu masuk kelas , ya lengkap dengan gaya berandalnya yang menyakitkan mata guru BK.
Semuanya saling bertatapan dan berbisik ketika pria berparas tampan itu melangkah masuk ke dalam kelas.
Ya dia Ken, pria yang sama yang telah menggangu Weva di anakan tangga kemarin. Ken merupakan salah satu murid dari kelas yang sama dengan Weva. Pria ini memang selalu terlambat setiap pagi bahkan sering membolos mata pelajaran. Bahkan yang lebih parahnya dalam seminggu ini Ken baru masuk pelajaran dua kali.
Wah, benar-benar tak patut dicontoh!
Weva bernafas berat menatap ke arah mana pria berandal itu pergi.
"Dia lagi," ujar Weva bernada malas.
Ya, sesungguhnya Ken merupakan salah satu pembully itu yang selalu membully Weva tanpa henti. Pria itu baru masuk seminggu yang lalu tapi sudah ribuan kalimat bully yang yang ia lontarkan untuk Weva tanpa ada rasa belas kasih dan ampun.
__ADS_1
Ken tersenyum menatap Bu Yungmi yang nampak memasang wajah sok sangar di sana dan siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa takut untuk mendekat.
"Ngapain senyum-senyum?" tanya Bu Yungmi saat Ken telah menghentikan langkahnya tepat si hadapan bu Yungmi.
"Selamat pagi, Bu!" sapa Ken dengan raut wajahnya yang nampak ceria.
Bu Yungmi hanya mampu menghela nafas berat lalu ia mengangkat tangan kiri dan melirik ke arah jarum jam tangannya yang menujukkan pukul 9:10 menit.
"Selamat siang, Ken," balas bu Yungmi membuat semuanya tertawa.
Ken tertawa tipis sembari menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. Ini seperti kalimat yang menyinggung dirinya. Ken melirik menatap jam dinding yang ada di kelas membuatnya merasa malu sendiri.
Bu Yungmi yang melihat hal tersebut ikut menoleh menatap jam dinding.
"Jam berapa sekarang?"
Ken menoleh menatap Bu Yungmi yang nanpak begitu serius menatapnya.
"Jam berapa?"
"Em jam sembilan, bu."
"Sepuluh."
"Apakah itu masih bisa dikatakan pagi?"
Ken menghembuskan nafas berat diiringi senyumannya yang masih bisa ia pertahankan.
"Kenapa kamu terlambat?" tanya bu Yungmi sembari menopang pinggang dengan wajahnya yang masih dibuat sesangar mungkin.
Ken terdiam sejenak dengan kedua matanya yang bergerak-gerak berusaha untuk mencari alasan.
"Em, ah, sorry Bu Yungmi yang cantik soalnya Ken kena macet tadi."
"Ibu cantik ngerti, kan sekarang Jakarta itu macetnya minta ampun, Bu," rayu Ken dengan nada lembut.
Bu Yungmi yang sedari tadi memasang wajah sangar kini langsung tertawa sembari tersenyum malu dan menutup mulutnya yang tak henti-hentinya mengeluarkan suara tawa kecil. Yah, kalimat rayuan Ken sepertinya berhasil meracuni otak bu Yungmi.
"Hahahah cantik? Kamu bilang ibu cantik?" tanya bu Yungmi membuat Ken mengangguk dengan cepat.
Ken tersenyum sinis. Itu bohong, Bu, jangan percaya!
__ADS_1
"Tuh denger! Saya cantik loh ini, yang bilang bukan saya loh, yah, hahaha."
Tutur Bu Yungmi sembari menatap ke seluruh murid-murid. Bu yungmi kembali tertawa lalu memukul pelan lengan Ken dengan kipas pink-nya membuat Ken ikut tertawa.
"Ah, ya ampun kamu bisa aja, deh." Goda Bu Yungmi sembari mencubit pipi Ken dengan gemasnya.
"Ih gemesin kamu, ya. Ganteng lagi. Bu Yunngmi senang banget, deh di puji sama kamu, Ken," gemas bu Yungmi.
Para gadis-gadis berseru rasanya mereka sangat iri dengan bu Yungmi yang telah berhasil mencubit pipi pria tampan yang telah berhasil membuat mereka melongo seminggu yang lalu karena ketampanannya.
"Sudah sana duduk!" pintah bu Yungmi yang sekali lagi mencubit pipi Ken dengan gemasnya.
5 menit kemudian ...
Pelajaran seni budaya masih berlangsung diiringi dengan suara nyanyian ampar-ampar pisang dengan serentak yang dilakukan oleh semua murid-murid kelas XI IPS 2.
Bu Yungmi masih memimpin di depan sembari mengayun-agungkan sebuah kipas pink-nya mengikuti nada rendah dan tinggi nyanyian yang dilantunkan dengan serentak oleh murid-murid.
Ken mengangguk-anggukan kepalanya seakan menikmati musik rock dari handset hitam yang terpasang di kedua telinganya.
Sorot mata Ken kini beralih menatap gadis gendut yang tengah asik menyanyikan lagu daerah bersama dengan yang lainnya. Ken melirik menatap dari ujung kaki dan ujung rambut sebahu Weva.
Wanita itu sungguh besar! Makan berapa kali dia?
Tak lama senyum sinis Ken tersirat jahat membuatnya merobek sebuah kertas putih di pertengahan bukunya dan mulai meremuknya. Rasanya jiwa bully Ken berteriak dan memberontak untuk segera membully gadis gendut itu.
Ken memperelok posisi duduknya lalu mengarahkan remukan kertas yang telah dibentuk menyerupai bola ke arah Weva.
Ken menggigit bibir bawahnya sembari menutup sebelah mata kirinya, berusaha mengarahkan kefokusan-nya pada satu titik yakni kepala Weva. Bidikannya harus tepat sasaran kali ini.
"Satu."
"Dua."
"Ti-ga."
Plak
Remukan kertas itu berhasil menghantam kepala Weva yang sedari tadi sibuk menyanyi dengan cukup keras membuat kepala Weva sedikit tersentak ke depan.
__ADS_1