
Kedua alis weva mengerut keheranan ketika suara samar-samar namun, masih bisa Weva dengar dengan cukup jelas dari dalam sini. Weva mendekatkan telinganya ke dinding ketika suara pria itu terdengar dari sebelah WC yang ia tempati.
Tunggu! Suara pria itu, Weva bahkan baru ingat jika ini adalah toilet khusus untuk perempuan lalu mengapa ada pria di dalam toilet ini.
"Gue juga nggak tahu."
"Polisi sekarang udah datang dan udah melakukan pemeriksaan tas."
"Polisi?"
Dek!
Jantung Weva berdetak cepat entah mengapa jika nama polisi disebut selalu membuat Weva takut. Tapi tunggu! Rasanya Weva tak asing lagi dengan suara ini. Suara yang rasanya sering ia dengar.
"Gue nggak tahu siapa yang udah ngelaporin kalau ada siswa Cendrawasih Internasional School yang udah pesan narkoba sama lo."
Kedua mata Weva terbelalak dengan bibirnya yang menganga. Itu suara Bara, yah, Weva kenal dengan suara itu. Suara yang sama persis dengan suara Bara yang waktu pagi berhasil membentaknya.
Tapi tunggu! Apa Weva salah dengar? Bara baru saja mendengar kata narkoba. Kata narkoba itu membawa Weva mengingat kejadian di pagi itu.
"Hah!"
Weva menutup mulutnya dengan erat. Apakah kejadian yang Weva lihat tadi pagi adalah ini dan...
Weva sekali lagi menutup mulutnya yang tak menyangka dengan hal ini jika Bara mengonsumsi barang terlarang itu, jadi uang yang Weva berikan tadi adalah untuk membeli barang Haram itu.
Weva menyalakan handphonenya dan merekam apa yang Bara katakan. Entah apa alasan Weva untuk merekamnya hanya saja tangannya seakan gatal untuk merekam apa yang Bara katakan. Weva rasa sepertinya ini penting.
"Emang gue tolol mau bocorin rahasia ini?"
"Gue juga nggak mau ketangkap polisi, Bro."
"Sekarang polisi udah dateng, tapi yah lo tenang aja, deh gue udah nyimpan narkoba itu di tas Ken."
Kedua mata Weva membulat. Ia begitu terkejut setelah mendengar nama Ken yang disebut oleh Bara.
"Yah, Ken murid baru dan terkenal nakal itu jadi gue yakin semuanya bakalan percaya kalau yang udah beli narkoba itu Ken bukan gue," ujar Bara.
Jantung Weva berdetak tak karuan sambil mengenggam handphonenya itu dengan tangannya yang gemetar. Ken sekarang dalam bahaya!
Bibir Weva bergetar ketakutan. Ia memegang pergelangan tangannya membantu jari tangannya untuk memegang handphone yang gemetar.
Tubuhnya bahkan terasa lemas seakan tak mampu untuk berdiri dengan tegak. Weva harus segera berbuat sesuatu jika tidak polisi akan mengeledah tas Ken dan mendapati barang Haram yang telah Bara simpan di sana. Polisi akan salah menangkap pelaku yang sebenarnya.
Weva harus berbuat sesuatu.
...****************...
Suara tawa terdengar ketika candaan memberikan kesan hangat pada gerombolan perkumpulan geng Berandal yang kini sedang asik nongkrong di anakan tangga.
Ken melepas pembungkus permen dan memakannya sambil tersenyum menatap Roy yang kini asik melemparkan candaan kepada satu sama lain.
"Ada berita terbaru! Ini penting dan genting," ujar Kevin yang kini berdiri di hadapan semua teman-temannya setelah berlarian.
"Kenapa lo?" tanya Roy.
__ADS_1
"Itu katanya ada salah satu murid sekolah kita yang beli yang narkoba."
Mendengar hal itu membuat semuanya terkejut bukan main.
"Yang bener lo?" sahut salah satu pria yang duduk di belakang Ken yang nampak terlihat santai.
"Yah benar lah. Nih, ya sekarang polisi sedang melakukan penggeledahan."
Semua kini saling berbisik dengan wajah cemas dan juga panik. Ken melirik.
"Lo semua, kok pada tegang banget, sih? Kalau lo nggak ngerasa bersalah, ya lo nggak usah panik," ujar Ken.
"Bener juga, tuh. Apa jangan-jangan lo kali Vin yang bawa narkoba."
"Enak aja lo. Gue mah nggak kayak gitu," belanya membuat semua orang tertawa.
"Terus sekarang polisinya dimana?"
"Noh, di dalam kelas IPA B." Tunjuk Kevin dengan ujung dagunya.
Mendengar hal itu gerakan rahang Ken yang bergerak saat mengunyah permenya terhenti. Itu berarti polisi itu akan menggeledah tasnya dan akan melihat bekal bermotif Doraemon serta botol minumannya yang juga bermotif sama dengan bekalnya.
Ken mendecakkan bibirnya kesal. Semua orang akan tahu dan akan menertawakannya.
...****************...
Para siswa dan siswi kini melangkah mundur ketika gerombolan polisi melangkah masuk ke dalam kelas.
"Periksa semua ras yang ada di dalam kelas ini!"
"Siap!"
Wiwi menoleh ke sekeliling menatap satu persatu polisi yang sedang menjalankan tugasnya.
"Mana tas kamu?" tanya polisi membuat Wiwi tersentak kaget.
"I-i-ini, Pak," jawab Wiwi yang langsung menjulurkan tas yang ia peluk.
Polisi itu dengan cepat membukanya. Mengeluarkan beberapa buku yang ada di dalam tas itu.
"Itu nggak ada narkoba, Pak!" ujar Wiwi membuat polisi itu melirik tajam.
Wiwi menelan salivanya. Sepertinya ia sudah salah bicara.
"Ma-ma-maaf, pak," jawab Wiwi.
Polisi itu menjulurkan tas Wiwi yang telah kosong membuat Wiwi dengan cepat meraihnya.
"Siapa tas ini?" Tunjuknya ke arah tas milik Weva.
"I-itu tas tem-" ujaran Wiwi terhenti. Belum selesai ia bicara polisi itu sudah membuka tas milik Weva.
Polisi itu mengernyit bingung. Ia mengeluarkan beberapa roti dan coklat dari tas besar yang hanya dipenuhi oleh berbagai macam makanan.
Polisi itu menoleh menatap Wiwi yang kini terlihat tersenyum kaku.
__ADS_1
"Itu tas teman saya, Pak," jawab Wiwi.
"Dia mau makan atau belajar? Kok, isi tasnya makanan semua?"
"Anu, Pak. Dia lagi jualan, pak. Kasian dia," jawabnya berbohong.
Polisi meletakkan tas hitam milik Bara setelah memeriksanya dan meraih tas hitam milik Ken yang terasa berat.
Ia sedikit mengangguk menatap stiker bermotif geng berandal yang terpasang di tas hitam itu. Sepertinya pemilik tas ini adalah anggota geng.
Polisi membukanya. Wajah yang sejak tadi serius itu kini tersenyum kecil sambil tangannya yang mengeluarkan bekal biru bermotif doraemon.
"Sepertinya dia anak kesayangan," ujarnya lalu tak berselang lama senyum kecil itu lenyap ketika ia mendapati barang yang sejak tadi ia cari-cari.
"Tas siapa ini?" tanya salah satu polisi sambil mengangkat tas hitam dengan tatapannya yang menatap Beno.
Beno hanya menggeleng sambil memberikan suara yang tak jelas membuat polisi itu mengernyit bingung.
"Ngomong apa kamu?"
Wiwi menepuk jidatnya. Bodoh sekali polisi itu yang bertanya dengan orang bisu seperti Beno.
"Pak, teman saya bisu," sahut Wiwi membuat polisi itu melongo.
"Terus ini tas siapa?"
Wiwi mengernyit. Ia menoleh menatap kursi yang selalu digunakan oleh Ken.
"Itu tas Ken, Pak."
"Dimana dia?"
...****************...
Roy yang sejak tadi tertawa kini menghentikan tawanya setelah melihat gerombolan polisi yang kini melangkah ke arah gerombolannya.
"Mau apaan tuh polisi ke sini?" tanya Roy.
Semuanya kini bangkit dari duduknya kecuali Ken yang kini dengan santainya tetap duduk menikmati permen karetnya ketika polisi itu sudah ada di depannya.
"Selamat siang semua!"
"Siang, pak," jawab mereka.
"Apa diantara kalian ada yang bernama Ken?"
Semuanya terbelalak kaget. Entah mengapa mereka mencari Ken dan apa masalah Ken sehingga dicari oleh polisi.
"Gue orangnya. Ada apa?" tanya Ken yang kini langsung bangkit dari duduknya.
"Ini tas kamu?"
Kedua alis Ken bertaut menatap tas yang saat ini sedang dipegang oleh polisi itu. Ken mendecakkan bibirnya kesal. Apa sesadis itu bekal motif Doraemon yang ia bawa sampai polisi pun mencarinya.
"Iya, itu tas gue."
__ADS_1
"Saudara Ken, Anda kami tangkap atas kasus pembelian narkoba."
"Apa?" kaget Ken.