
"Loh? Ken mau ngapain?" tanya Weva begitu histeris.
"Udah lo tenang aja!" pinta Ken lalu segera mengikat pergelangan tangan kiri dan kanan Weva membuatnya semakin mengheran dan terus bertanya tentang apa maksud Ken yang masih sibuk mengikat kedua tangannya.
"Nah udah kan," ujar Ken sembari tersenyum dan memegang ujung tali yang ujung lainnya telah diikatkan pada pergelangan tangan Weva.
Weva melongo. Ia diam keheranan menatap kedua tangannya dan mendongak menatap Ken.
"Loh? Kok, tangan Weva di ikat kayak gini?"
"Yah terarah gue lah. Lagian kalau kayak gini, kan lo jadi nggak bisa tuh kemana-kemana dan lo bakalan terus di belakang gue."
Weva melongo membuat mulutnya terbuka sempurna setelah mendengar ujaran Ken yang tak pernah ia duga. Weva kembali menatap tangan dan Ken secara bergantian. Apa ini serius?
"Tapi-"
"Stop!" Tunjuk Ken ke arah bibir Weva.
"Hem? Apa? Lo mau ngomong apa lagi?"
"Yah tapi nggak kayak gini juga, dong, Ken. Masa Weva diikat kayak gini? Weva itu bukan sapi yang harus diikat kayak gini," protesnya.
"Jadi lo bukan sapi? Lo yakin?" tanya Ken sembari menatap tubuh Weva dari ujung atas sampai ujung kaki.
"Yah sedikit," jawabnya malu.
Ken berlari tanpa aba-aba membuat tali yang terhubung di tangan Weva terbentang menarik Weva cukup keras hingga membuat Weva menjerit dan dengan cepat ikut berlari mengikut di belakang Ken. Mau tak mau Weva harus lari mengikuti langkah Ken.
Semua orang nampak melongo menatap pria yang berlari sambil memegang tali yang ujungnya mengikat pergelangan seorang gadis gendut yang nampak sudah ngos-ngosan.
Sementara di satu sisi Weva yang kembali menjadi pusat perhatian hanya mampu menutup wajahnya dengan telapak tangannya ketika lagi dan lagi tatapan orang-orang tertuju kepadanya.
Ini memalukan.
Weva mendongak menatap langit. Rasanya Weva ingin berteriak memanggil Tuhan untuk melihat apa yang sedang dilakukan Ken kepadanya.
"Ken!" panggil Weva.
Ken tetap berlari, tak menghiraukan teriakan Weva lagi pula Ken yakin jika Weva hanya ingin menyuruhnya untuk berhenti dan istirahat.
__ADS_1
"Ken!"
Tak ada jawaban. Weva mendecapkan bibirnya kesal. Selain jahat ternyata pria pembully ples monyet pemanjat tower tangki itu rupanya juga pikun.
"Ken! Weva capek tahu. Ma-masa harus lari terus?"
"Berhenti aja dulu, bentar! Nggak apa-apa nggak dikasih minum yang penting Weva duduk."
"Weva ini juga manusia. Kasian dikit, kek sama Weva, Ken!"
Sudah Ken duga ini yang akan Weva katakan. Hanya ada sebuah kalimat protes dari Weva.
Weva mendecapkan bibirnya kesal karena tak mendapat respon dari Ken. Weva menatap ke segala arah berusaha untuk mencari batu. Rasanya Weva ingin melempar kepala Ken itu dengan batu.
Oh Tuhan, rasanya Weva ingin memukul kepala Ken dari belakang sini, apa itu akan dicatat oleh malaikat?
Weva terdiam lalu beralih menatap gerobak ice cream yang sempat Weva hampiri tadi sebelum Ken memutuskan untuk mengikat pergelangan tangannya dengan tali.
Weva tersenyum licik lalu menggerakkan jari-jari tangannya sambil terus berlari dengan perlahan melepas tali yang mengikat pergelangan tangannya. Weva tersenyum lebar saat tali itu telah benar-benar terlepas membuatnya segera berlari menghampiri penjual ice cream.
Ken tersenyum simpul di depan sana sembari terus berlari. Ken yakin kali ini ide cemerlangnya dapat membantu untuk menurunkan berat badan Weva, ia pula yakin dengan mengikat Weva seperti ini dapat membuat Weva tak pergi dan menyantap makanan yang ada di pinggir jalan yang pastinya akan menambah berat badan Weva.
Ken terbelalak bukan kepala menatap Weva yang telah lenyap di tempatnya.
"Kok, ilang?"
Ken menoleh ke segala arah dan tatapannya terhenti pada sosok Weva yang sudah berada di tempat gerobak ice cream dengan senyum lebarnya seperti anak kecil yang tak pernah makan ice cream.
Ken mendengus kesal lalu melangkah menghampiri Weva dan kembali menariknya pergi dari gerobak ice cream membuat Weva berteriak kesal.
Bagaimana Weva tak berteriak kesal jika lagi dan lagi ia gagal untuk menikmati ice cream yang terlihat enak lesap dan telah nyaris ia sentuh.
"Ken!" Hempas Weva membuat Ken tersentak di bagian tangannya.
"Sakit tahu," tutur Weva sembari meremas pergelangan tangannya yang telah ditarik.
"Udah tahu sakit, tapi nggak mau nurut sama gue. Lo maunya apa, sih sebenarnya?"
Weva terdiam walau jujur ia pun tak tahu harus menjawab apa mengenai ujaran Ken.
__ADS_1
"Katanya lo mau langsing, tapi lo nggak berhenti-berhentinya cari kesempatan buat makan."
"Lo maunya apa? Mau langsing atau mau tambah gendut?"
"Ayo ngomong!" Kesal Ken sembari menatap Weva yang hanya tertunduk sambil meremas jejari tangannya.
"Sorry," jawab Weva.
Ken terdiam setelah ia mendengar ujaran Weva dan kali ini ia kembali harus berfikir keras untuk mendapatkan ide agar Weva bisa lari dengan sungguh-sungguh dan tak lari ke sana kemari serta si gadis gendut ini tidak lepas dari pantauannya.
Ken terdiam dengan tatapannya yang menatap sorot mata Weva yang sesekali mencuri pandang menatapnya.
"Ken! Ken masih marah?"
"Diam lo!"
Weva melipat bibirnya ke dalam. Sepertinya apa pun yang ia lakukan selalu salah di mata si pembully itu. Memangnya siapa suruh dia tidak memberikan Weva kesempatan untuk duduk atau minum.
Ini namanya penyiksaan! Memangnya dia tidak pikir kalau Weva bisa saja mati. Ternyata langsing itu tidak semudah apa yang Weva pikirkan. Rasanya sangat berat.
Ken melirik menatap kedua mata Weva yang tatapannya persis seperti bocah gemuk yang minta dibelikan permen.
Ken menghela nafas panjang. Ia menopang pinggang sembari menatap sebal pada tatapan polos Weva.
"Nunduk! Nggak usah liat gue!" tegur Ken membuat Weva dengan cepat menunduk.
Ken diam. Kali ini ia harus mencari jalan keluar sambil menggerak-gerakkan bola matanya ke kiri dan kanan berusaha berfikir untuk mencari jalan keluar.
Ken tersenyum setelah ia menemukan jalan keluar.
"Gue punya ide buat lo dan kali ini lo nggak akan lagi bisa lolos dari gue atau pum bisa ke sana kemari cari kesempatan buat makan."
Weva menghela nafas. Ia membuang pandang berusaha untuk tidak menatap kedua mata Ken. Entah ide konyol apa lagi yang akan Ken lalukan kepadanya?
Apa mungkin Ken akan mengikat lehernya juga agar tidak lepas. Itu namanya membunuh.
Ken menjulurkan tangannya membuat Weva melirik menatap jejari tangan Ken yang begitu putih dan terlihat mulus.
"Pegang tangan gue!"
__ADS_1