Princess Endut

Princess Endut
104. Ken Menyebalkan


__ADS_3

Triiiiiing!!!


"Aaaaaa!!!" jerit Weva yang begitu terkejut membuatnya segera bangkit dari tempat tidur empuk ketika tidur nyenyak Weva terganggu oleh suara nada dering handphonenya, ini tanda panggilan masuk.


Rambut sebahu Weva nampak berantakan setelah dikacau oleh bantal empuknya selama ia tidur serta kedua kelopak matanya yang terlihat bengkak karena semalaman ia tak berhenti menangis setelah kejadian pertengkaran adu mulut itu.


Suara nada dering itu masih terdengar membuat Weva meraba kaca mata bulatnya yang semalam ia letakkan di atas meja dan mengenakannya setelah berhasil tergapai. 


Weva meraih handphone yang masih berdering dan menyala itu, membuatnya menghela nafas setelah menatap nama yang tertera, Bos pria monyet pemanjat tower tangki, itu yang tertera permukaan layar handphone yang berarti itu adalah Ken, si pria pembully yang suka marah-marah.


Weva mendengus kesal. Pria ini selalu saja mengusik ketengannya.


"Halo," ujar Weva dengan suara seraknya.


"Bangun lo! Sekarang!" ketus Ken.


Weva menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Ia menguap lebar dan mengusap sebelah matanya yang masih terpejam.


"Bangun buat apa?"


Suara helaan nafas dari sebelah terdengar.


"Ke sekolah lah, terus kemana lagi? Cepetan!"


"Emmm, kayaknya Weva enggak ke sekolah, deh hari ini."


"Gue enggak mau tahu dan gue nggak mau dengar alasan dari lo."


"Tapi-"


"Sekarang lo bangun terus mandi, pakai seragam dan lo-"


"Ken!"


"Dan lo keluar sekarang juga!"


"Tapi Weva engg-"


"Enggak ada bantahan, alasan dan juga penolakan!!!" tegas ken.


Weva menghela nafas lelah, menurut Weva pria ini sepertinya tak tahu apa yang Weva rasakan hari ini. Weva hanya mau menyendiri, itu saja. Rasanya tubuhnya lemas setelah kehabisan tenaga setelah marah-marah semalam.


"Kenapa lo diem?"


"Ken! Ken itu enggak tahu apa yang sekarang Weva rasain saat ini, jadi Weva-"


"Jadi?"


"Jadi Weva mutusin buat enggak ke sekolah hari ini."


"Bla bla bla bla, terserah Endut. Sekarang lo mandi! Pakai seragam dan keluar!"


Weva mendecakkan bibirnya kesal. Rasanya ia ingin mencekik leher pria keras kepala ini.


"Aduh, tapi-"


"Gue kasih lo waktu lima menit! Gue tunggu lo di luar rumah. Sekarang!"


Tut Tut Tut...


Panggilan terputus diiringi kedua mata Weva yang langsung terbelalak kaget. Matanya melotot seperti emak-emak yang sedang mengancam anaknya.


"Ken ada di luar?" ujarnya tak percaya.


Tak banyak pikir, Weva segera bangkit dengan kecepatan yang ia miliki dan membuka tirai putih kamarnya dan berhasil melongo menatap Ken yang terlihat duduk di atas motor vespa miliknya.


"Ken beneran di depan?" ujarnya tak menyangka.


Plak plak plak!!!


Tamparan kecil mendarat di pipinya secara bergantian membuat Weva tersenyum merasakan sakit yang ia rasakan.  


"Ini bukan mimpi!"


Senyum Weva tiba-tiba lenyap begitu saja ketika tangannya berhasil menyentuh dadanya dan merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat, membuat kedua pipinya memerah dan terasa panas.

__ADS_1


"Hahh!!! Weva kenapa?"


"Apa Weva baper sampai-sampai jantung Weva dah dig dug gini?"


Weva terdiam sejenak.


"Sadar, Wev! Sadar!!! Ingat Brilyan!!!"


Weva berlari kecil menjauhi jendela kamar kacanya itu sambil memukul pelan kedua pipinya yang masih teraba panas.


"Sadar, Weva! Ayo sadar!"


"Ingat!!!"


"Ingat Brilyan!"


"Aduh, Brilyan tetap pujaan hati. Brilyan tetap idola buat Weva. Brilyan tetap jadi pria idaman buat Weva!"


"Brilyan tetap nomor satu!!!"


Weva menghembuskan nafas panjang lalu kembali berlari kecil menghampiri jendela. Dari sini ia masih bisa melihat sosok Ken yang sedang memainkan handphone miliknya.


Weva menyadarkan tubuhnya ke kaca jendela sambil membuang nafas panjang dari ujung bibirnya.


"Jangan salah paham, Wev! Ken hanya membantu Weva buat nurunin berat badan, Weva, itu saja. Nggak lebih."


"Weva harus sadar dan Weva nggak boleh GeEr! Apa lagi baper!"


"Sadar, Wev, sadar!"


...****************...


15 menit kemudian.


Weva melangkah maju mendekati Ken dengan wajah cemberutnya, ini bukan tanpa alasan, pasalnya Mommynya kembali berangkat ke Korea karena urusan bisnis tanpa meminta maaf ataupun berpamitan kepadanya.


Rasanya Weva tak dianggap di sini dan keberadaanya yang sepertinya tidak ada pentingnya.


"Kenapa lo?" tanya Ken yang malah ikut kesal melihat raut wajah Weva.


"Enggak. Enggak apaan? Jawabnya enggak, tapi muka lo kusut kayak gitu. Setrika dulu sana muka lo! Kusut banget."


Weva yang mendengar hal itu langsung menyentuh pipinya dengan bibirnya yang terlihat manyung.


"Cepetan setrika!"


"Apaan, sih? Emangnya muka Weva ini baju apa yang mau disetrika?"


Ken melirik sinis. Suka sekali gadis gendut ini melawan.


"Handsfree yang gue kasih mana?"


"Ada, kok."


"Mana?"


"Di tas," jawabnya lemah.


"Kok enggak dipake?"


"Kenapa harus dipakai, sih? Kan Ken ada di hadapan Weva sekarang."


Ken seketika tertampar dan memilih untuk terdiam dan menjulurkan helm hitam untuk Weva.       


"Cepetan naik!" pintanya dan langsung saja menyalakan mesin motornya itu membuat asap hitam membumbung ke udara.


Ujung bibir Weva terangkat menatap syok pada asap tebal itu.


"Dih, ini asap motor atau kebakaran rumah? Tebal banget asapnya."


Ken yang baru saja duduk di atas motornya itu langsung melirik sinis. Berani sekali dia menghina motor kesayangannya itu.


"Banyak cincong lo. Motor gue asapnya item gara-gara capek nanggung berat badan lo, tahu nggak."


"Weva melulu yang disalahin."

__ADS_1


"Cepetan naik!"


Weva mendengus kesal lalu segera duduk di belakang Ken yang masih terlihat kesal. Di sini bukan hanya Ken yang kesal, tapi Weva juga. Duduk saja rasanya Weva sudah tidak mampu lagi.


"Asap hitam. Ken nggak tahu apa ini itu polusi udara," ocehnya sambil merapikan helmnya.


Ken yang ingin mengas motornya itu langsung menoleh setelah mendengar apa yang Weva katakan barusan.


"Apa lo bilang?"


Weva menghentikan gerakan tangannya dan memilih ikut menatap kedua sorot mata Ken.


"Apa?"


"Lo pikir gue pikun apa sampai nggak denger? Hah?"


Weva hanya diam seperti patung sementara Ken masih mengoceh.


"Udah enak gue boncengan masih aja protes."


"Weva juga nggak mau dibonceng sama Ken."


"Ngejawab lagi lo."


Weva menghela nafas dan kembali diam serta tatapannya yang menatap ke arah lain.


"Muka lo, tuh!" 


Weva menoleh lalu menyentuh wajahnya.


"Masih lengkap, kok."


"Kusut!"


Weva diam. Memangnya Weva harus bagaimana biar mukanya ini bagus dan sesuai dengan apa yang Ken inginkan.


"Senyum!"


"Hah?"


"Senyum gue bilang!"


Weva menatap bingung. Apa pria ini sudah gila dan menyuruhnya tersenyum?


"Cepetan!"


"Buat apaan, sih? Udah lah cepetan jalan! Nanti Weva telat lagi."


"Gue nggak bakalan jalan kalau lo nggak senyum. Nanti orang pada jatuh dari motor karena ketakutan liat muka lo. Serem tahu nggak muka lo."


Weva mendengus kesal dan tak berselang lama ia tersenyum paksa memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi.


"Puas?"


Ken tersenyum lalu mengangguk.


"Minta maaf!"


"Maaf?"


"Cepetan!"


"Ma-"


"Sambil senyum!" potong Ken membuat ujaran Weva terhenti. Banyak sekali kemauan monyet ini.


Weva tersenyum lebar dan berujar, "Maaf, Ken."


"Maafnya gue tolak."


Weva melongo menatap Ken yang kini telah membelakanginya. Apa maksud Ken yang menyuruhnya minta maaf dan menolak permintaan maafnya.


Bruam!!!


Ken langsung saja menggas motornya tanpa aba-aba membuat tubuh Weva tersentak ke belakang dengan kedua mata yang membulat. Weva belum siap.

__ADS_1


"Keeeeen!!!"


__ADS_2