Princess Endut

Princess Endut
126. Kisah Perjuangan


__ADS_3

"Kok bisa gitu?"


Laila menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat ujung bibirnya. Ia terdiam sejenak membuat gerakan tangan yang sedang mengaduk adonan kue itu terhenti.


"Keken itu seharunya punya tujuh Kakak laki-laki, loh."


"Tu-tujuh?" Tatap Weva tak menyangka.


"Iya, tapi semuanya sudah dipanggil sama pencipta."


"Meninggal maksudnya?"


Tante Laila mengangguk.


"Mama udah beberapa kali mengalami keguguran. Kata dokter katanya rahim Mama itu nggak kuat, jadi mudah keguguran."


"Mama udah ke sana kemari cari obat, tapi nggak berhasil."


"Mama udah udah ikut terapi, minum obat dokter, herbal sampai putus asa rasanya."


"Terus nggak lama Mama hamil lagi, tapi cuman beberapa minggu, eh janinnya keluar tanpa sebab padahal Mama itu udah usaha buat nggak ngapa-ngapain dulu, tapi ujung-ujungnya keluar juga dan begitu juga seterusnya."


"Banyak keluarga yang bilang kalau Mama itu nggak bisa punya anak lah, mandul lah bahkan keluarga suami Mama itu hampir aja nyuruh Mama pisah."


"Terus?"


"Yah, karena Bapak sayang banget sama Mama, jadi Bapak nolak dan bilang kalau kita akan usaha. Dia juga bilang kalau dia tidak akan meninggalkan Mama walaupun nantinya kita nggak akan punya anak."


"Mama sedih karena tidak bisa memberikan keturunan buat Bapaknya Keken."

__ADS_1


"Kalau dulu masih bisa ada janin yang tumbuh di rahim Mama, tapi memasuki umur tiga puluhan Mama udah nggak bisa hamil lagi."


"Mama itu nikah umur 22 tahun dan sampai umur 47 tahun tidak dikaruniai anak juga dan usia pernikahan kami sudah memasuki usia 25 tahun."


"Mama malu saat itu. Malu sama keluarga, tetangga dan bahkan juga malu sama Bapaknya Keken."


"Terus Mama dikasi tahu sama teman katanya aku lebih bagus ikut program bayi tabung."


"Tapi pas cari tahu ternyata mahal dan kami tidak punya uang sebanyak itu."


"Pas Mama kasih tau Bapaknya Keken, Bapak bilang kalau dia punya tabungan buat sekolah kalau kami punya anak nanti. Nah, uang itu dipakai buat program bayi tabung dan ternyata berhasil."


"Mama hamil diumur Mama yang bisa dibilang udah tua. Waktu itu umur Mama 48 tahun. Mama senangnya minta ampun sampai nangis."


"Keluarga juga udah senang banget waktu Mama kasih tau."


"Jadi setelah itu Keken lahir?" tanya Weva membuat Tante Laila menggeleng.


"Pada saat umur kehamilan Mama udah empat bulan, eh malah keguguran. Udah, hancur hidup Mama."


"Uang udah habis, keluarga kecewa dan para tetangga juga makin berisik omongannya."


"Mama pengen mati aja pada saat itu dan Mama juga mutusin buat berhenti untuk mencoba."


"Yah, Mama pikir memang Mama nggak diciptakan untuk jadi seorang ibu."


"Mama juga udah kasih tau Bapaknya Keken buat nikah lagi biar bisa punya keturunan, tapi Bapaknya Kekenbnggak mau."


"Terus satu tahun kemudian Bapaknya Keken bilang kalau dia menang undian dan hadiahnya gede banget terus hadiahnya itu dipakai untuk program bayi tabung lagi."

__ADS_1


"Awalnya Mama nggak mau, takut buang-buang uang. Soalnya, kan Mama yakin kalau ini bakalan gagal lagi, tapi Bapaknya Keken berusaha untuk meyakinkan Mama."


"Dia bilang kalau programnya ini di Singapura, jadi kualitas programnya bagus."


"Karena nggak mau buat Bapaknya Keken kecewa makanya Mama nurut dan Alhamdulillah programnya berhasil."


"Mama hamil dan Mama masih ingat kalau saat itu Mama tinggal di Singapura karena dokter mau pantau terus perkembangan janinnya."


"Yang buat Mama senang pas lihat hasil USG katanya Ken itu ada dua. Wah, Mama udah senang minta ampun. Kapan lagi coba bisa dapat anak kembar."


"Eh, pas tahu-tahu lahir sesar, anak Mama cuman satu."


Tante Laila tertawa membuat Weva juga ikut tertawa.


"Pas Mama udah pulang ke Indonesia, waduh itu Neneknya Keken sampai buat acara syukuran sampai tujuh malam. Masalahnya ini cucu pertama."


"Yang paling lucu itu pas Keken masuk SD terus Ken berantem di sekolah. Terus tau-tau Keken dipukul sampai biru pipinya."


"Waduh, itu Bapak sama Neneknya Keken sampai berontak di sekolah pengen hajar itu lawan Keken pas diliat, eh luka lawannya lebih parah daripada Keken. Pas dicari tahu, si Keken yang punya salah."


"Nah, itu sekarang gimana kami sayang banget sama Keken. Soalnya butuh perjuangan banget."


"Yang nggak enaknya itu kalau jalan sama Keken sering dibilang Neneknya."


"Ah, nggak kok. Mama masih keliatan muda, cantik lagi."


"Oh, ya?"


Weva mengangguk.

__ADS_1


Laila menghela nafas yang cukup panjang. Membuat Weva ikut merasakan apa yang Laila rasakan. Pantas saja Laila sangat menyayangi Ken seperti ini.        


__ADS_2