
Ken menkerutkan alisnya setelah perasaan aneh terlintas di hatinya. Ken mengangkat padangannya menatap ke arah pintu dimana murid baru itu masih melangkah.
Gadis itu melangkah masuk seakan membuat rambutnya bergerak-gerak ditiup angin membuat wajahnya yang cantik itu terlihat lebih jelas. Gadis itu tersenyum simpul membuat semua orang yang ada di dalam kelas melongo dengan mata yang terbelalak.
Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan siswa dan siswi yang masih terbelalak kaget menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut murid baru itu.
Semuanya menganga dengan wajah yang tak menyangka jika wajah murid baru itu memanglah sangat cantik bak bidadari. Tak heran jika salah satu siswa harus dilarikan ke rumah sakit karena, kejang-kejang setelah melihat paras cantik si murid baru ini.
Wiwi mengedipkan matanya cepat ketika rasa panas pada area matanya setelah beberapa menit tak mengedipkan mata hanya untuk melihat paras cantik murid baru itu.
Pria yang duduk paling belakang itu tanpa sadar saling berpelukan seakan membayangkan jika murid baru itulah yang mereka peluk.
Air liur Bu Yungmi menetes ketika bibirnya dibiarkan terus terbuka setelah tercengang melihat wajah murid baru yang masih berdiri di sana. Baru kali ini ada siswi yang secantik ini di sekolah.
"Woy!!!" teriak pak Ahmad membuat semuanya tersentak kaget dan tersadar dari kekagumannya.
"Nggak usah lebay, dong!" ujar pak Ahmad.
Siswi paling depan itu kini melirik Bu Yungmi yang air liurnya menetes dengan tatapan jijik.
"Ih, Bu Yungmi air liurnya keluar!" tegurnya dengan nada suara yang berteriak.
Semuanya menoleh menatap ke arah Bu Yungmi yang dengan cepat mengusap dagunya yang basah itu.
Pak Ahmad menatap geli membuat Bu Yungmi tersenyum malu.
"Maaf, pak."
Pak Ahmad mengangguk walau sejujurnya ia ingin protes.
"Udah-udah sekarang, emmm perkenalkan diri kamu!" pintah pak Ahmad.
Gadis itu mengangguk membuat semua orang yang berada di dalam kelas menjadi terdiam menanti gadis itu berbicara.
Gadis berparas cantik itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sebelum ia melemparkan senyum manis ke arah penjuru ruangan kelas yang sepertinya sudah tak sabar menanti murid baru itu bicara.
"Hi, My name is Klorin."
Semuanya mengangguk dan saling berbisik.
"Gila bahasa Inggris."
"Dia dari luar negeri?"
"Sepertinya begitu?"
Klorin, gadis bernama Klorin itu tersenyum. Kedua matanya menatap beberapa siswa dan siswi yang masih saling berbisik hingga bisikan itu terhenti membuat Klorin kembali bicara.
"I'm com from korea and nice to meet you."
"Hah!!!" Kaget semuanya setelah mendengar hal tersebut membuat pak Ahmad juga ikut terkaget.
"Dari Korea?"
__ADS_1
"Hah, yang bener aja?"
"Dari Korea?"
Semuanya kembali berbisik lagi sementara pak Ahmad menkerutkan alisnya setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan gadis berparas cantik itu.
"Adik manis, tolong perkenalkan diri kamu!" pinta pak Ahmad membuat semua orang menoleh menatap Ahmad dengan tatapan kebigungan.
"Lah yang tadi itu apa, pak?" tanya siswi paling depan membuat salah satu temannya ikut menggeleng tidak mengerti.
"Pak Ahmad, tadi kan udah!" tegur Wiwi membuat pak Ahmad menoleh.
"Hah? Sudah?"
Semua siswa dan siswi mengangguk membuat pak Ahmad menggaruk kepalanya.
"Hah? Kapan?"
"Itu tadi pas dia ngomong," jawab Wiwi.
"Pak Ahmad nggak ngerti bahasa Inggris, Cok!" sahut siswa yang paling belakang membuat semua orang tertawa.
Plak!!!
Suara tawa para siswa dan siswi lenyap seketika setelah dengan keras pak Ahmad memukul meja diiringi sorot matanya yang tajam.
Ken tersentak kaget. Ternyata Bapaknya itu juga cukup menyeramkan jika marah.
"Adek cantik!"
"You bisa ngomong speak, emmm Indonesia merdeka, Garuda Pancasila you now? Soalnya Sir Ahmad now tau you ngomong apa?"
Semuanya kembali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh pak Ahmad yang cukup ngaur.
Klorin tersenyum simpul dan mengangguk.
"Hay, semua! Nama aku klorin asal dari Korea."
"Hah? Dari Korea?" syok pak Ahmad menutup mulutnya yang menganga sementara yang lain yang telah terkejut lebih dulu setelah mendengar pengenalan menggunakan bahasa Inggris itu hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Pak Ahmad terlambat!
"Eh, kok bisa kamu sampai ke sini? Terus, kok kamu tau bahasa Indonesia?"
"Aku sebenernya orang Indonesia cuman pas kecil aku ikut kakek ke Korea dan sekolah di sana," jelasnya.
"Wah, pantas. Kalau diliat-liat mirip Balck pink, ya?"
Semua orang tertawa setelah mendengar candaan dari pak Ahmad.
Bu Yungmi melangkah sembari memperhatikan wajah Klorin dari dagu, mata, hidung dan keseluruhannya.
Klorin menelan ludah menatap aneh pada tatapan serius wanita dengan listip merah merona itu.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Kamu operasi plastik, yah di Korea?"
Klorin tersenyum dan menggeleng.
"Tidak, ini muka saya asli. Walaupun aku tidak punya muka yang cantik tapi aku tidak mungkin mengubah ciptaan Tuhan hanya untuk tampil cantik," jelasnya.
Semua orang menganga. Bagaimana bisa murid baru ini mengatakan jika dia tak cantik padahal sedari tadi mereka semua mengangumi kecantikannya tanpa henti.
"Apa kamu yakin?"
"Apa aku terlihat berbohong?"
Klorin mengangkat sebelah alisnya membuat Bu Yungmi terkejut. Wah, ternyata gadis ini cukup menantang.
"Emmm, baiklah. Klorin silahkan duduk di kursi yang kosong! Bu Yungmi saya permisi dulu."
Pak Ahmad melangkah pergi keluar dari ruangan kelas menyisakan Bu Yungmi yang masih menatap tajam ke arah Klorin.
"Kenapa?" tanya Klorin.
"Emmm, tidak. Ok silahkan duduk di kursi yang kosong!"
Klorin mengangguk dan mengangkat padangaannya menatap ke seluruh bangku yang mungkin ada kosong di sana.
"Minggir lo Ron! Biar si Klorin yang cantik itu bisa duduk di sini!" pinta siswa yang duduk di barisan bangku kedua.
"Enak aja lo. Mending lo aja yang pindah biar gue bisa duduk sama Klorin!" balasnya tak terima.
Plak plak plak!!!
Pukulan keras di permukaan papan tulis terdengar menggelegar di dalam ruangan kelas membuat semuanya terkejut. Dan yang paling terpenting dua siswa yang beradu mulut itu kini langsung terdiam kaku seperti patung.
"Klorin, silahkan duduk di samping Wiwi!"
Wiwi yang mendengar hal tersebut kini tersadar dari lamunannya yang sedari tadi menatap wajah cantik Klorin.
Klorin mengangguk dan segera melangkahkan kakinya mendekati Wiwi serta bangku yang kosong di sampingnya.
"Klorin duduk sama saya, Bu?" tanya Wiwi.
"Ya, iyalah," jawabnya ketus.
Wiwi yang mendengar hal tersebut dengan cepat mengangkat kakinya dan meletakkannya di atas kursi berusaha untuk mencegah Klorin duduk di kursi yang merupakan kursi Weva.
"Loh, nggak bisa dong, Bu ini kan tempat duduknya Weva jadi nggak ada yang boleh duduk di kursi ini selain Weva," protes Wiwi tak terima.
"Wi, udah kamu itu nggak usah mikirin Si gendut jelek itu! Lagian juga dia nggak ada kabar sampai sekarang."
"Tapi, tetap aja, Bu. Tempat duduk ini tetap punya Weva. Klorin kalau mau duduk, duduk aja di kursi yang lain!" jelas Wiwi dengan wajah tak sukanya..
Klorin menghembuskan nafasnya panjang dan mengangguk tanda mengerti. Tak lama Klorin menoleh menatap kursi yang kosong tepat di samping pria berparas tampan yang sedari tadi hanya sibuk menatap layar handphonenya.
__ADS_1
Klorin melangkahkankan kakinya mendekati kursi kosong itu dan menyentuh sandaran kursi itu dengan pelan membuat Ken yang menyadari hal tersebut dengan cepat menoleh.
"Loh, ngapain lo di sini?"