Princess Endut

Princess Endut
50. Serius?


__ADS_3

Weva berlari dengan perasaan begitu sangat bahagia. Ia berputar seakan sedang menari di atas awan mengabaikan siswa dan siswi yang kini terlihat menatapnya dengan wajah kebingungan.


Apa gadis gendut ini sudah gila? Baru saja kemarin dia menangis dan sekarang ia malah terlihat tersenyum bahagia seakan tak memiliki beban sedikit pun.


"Kenapa, tuh?"


Gadis yang sedang memegang dua tas di bahunya itu menoleh menatap pria yang ikut menatap heran ke arah Weva.


"Mungkin dia udah gila gara-gara dibully sama Ken kemarin," tebaknya.


...****************...


Wiwi melangkah ke arah kelas sambil sesekali ia melompat-lompat persis seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah.


"Wiwi!!!" jerit Weva setelah mendapati Wiwi yang kini berada di dalam kelas dengan tasnya yang masih ada di bahunya. Sepertinya Wiwi baru tiba di kelas.


Baru saja Wiwi berbalik berniat untuk mencari sosok pemilik sumber suara yang telah memanggilnya tiba-tiba saja Weva langsung memeluknya.


Kedua mata Wiwi membulat dengan kedua bibirnya yang terbuka dan wajahnya yang mendongak ke atas. Rasanya ia tercekik dan dadanya tak mampu untuk kembang kempis seperti biasa.


Weva seakan ingin membunuhnya dengan pelukan ini.


"Ah, Wi. Weva seneng banget."


"Ih, lepasin!!!" jerit Wiwi.


"Weva mau peluk soalnya Weva lagi seneng banget."


"I-i-iya ta-tapi gue nggak bisa na-napas, Wev!!!" teriak Weva sambil memukul punggung Weva.


Mendengar hal itu Weva langsung melepas pelukannya membuat Wiwi langsung melemaskan tubuhnya dengan wajah pucat.


Hah, hampir saja ia benar-benar nyaris mati.


"Lo itu apa-apaan, sih?" kesal Wiwi setelah nafasnya kembali normal.


Bukan malah merasa bersalah, Weva malah tersenyum malu. Bayangan Brilyan terasa sulit untuk dilupakan.


Sudut bibir Wiwi terangkat. Aneh sekali gadis gendut ini.


"Heh, Kesambet lo? Malah pakai senyum-senyum segala lagi."


"Wi, Wiwi itu nggak ngerti perasaan Weva. Weva hari ini senang banget."


"Senang? Karena apa?"


"Brilyan," bisik Weva dengan pipinya yang langsung memerah.


Weva mengoyang-goyangkan tubuhnya sambil memegang kedua pipinya yang sudah kepanasan dan memerah itu. Wajah Wiwi datar. Bagi Wiwi tak ada yang menarik pada pria si otak cerdas itu.


"Tahu nggak, Wi-"


"Nggak mau tahu gue."


Senyum Weva sirna. Ia melongo menatap Wiwi yang malah duduk di bangkunya.


"Kok gitu, sih? Weva ini mau bahas tentang Brilyan, loh."


"Terus? Lagian gue juga udah bosen dengar namanya."


"Ih, tapi ini serius."


Wiwi tak menanggapi membuat Weva ikut duduk dengan raut wajahnya yang begitu serius.


"Tahu nggak, Wi, tadi Brilyan ngomong sama Weva lebih dari tiga kata."


"Hah?"


"Kaget, kan?"


"Ya iya lah, tapi, kok bisa?"

__ADS_1


"Nggak tahu juga. Jadi tadi waktu pagi, Weva datang ke ke kelas Brilyan bawa nasi goreng terus pas Weva mau keluar tiba-tiba Brilyan ada di belakang Weva-"


"Hah!!!" kaget Wiwi sambil menutup kedua mulutnya.


"Terus dia nanya sama Weva, kenapa Weva bisa sampai dibully sama Ken. Aaaaaaa!!! Romantis."


Wiwi kini hanya mampu terdiam kaku membiarkan Weva yang kini sudah menggeliat di atas bahunya.


"Terus lo ngapain lagi?"


Weva menjauhkan kepalanya. Tatapannya benar-benar berbinar.


"Terus Brilyan ngasih kartu ke Weva. Aaaaa, romantis."


Wiwi mengangguk sambil tangannya yang menepuk kepala Weva yang kembali menggeliat malu di bahunya.


"Tapi, Wev. Ini serius, kan?" tanya Wiwi tak menyangka jika Brilyan berucap lebih dari tiga kata kepada Weva, ya, itu yang Wiwi dengar barusan oleh Weva.


Weva mengangguk.


"Hah, Ada peningkatan juga tuh anak, gila gue sangka tuh bocah bisu dan tuli tahu nggak."


Wiwi terdiam sejenak lalu kembali menatap Weva yang terlihat masih tersenyum seperti orang gila.


Hah, jangan heran! Sepertinya dia memang sudah gila karena Brilyan.


"Sini! Coba liat yang Brilyan tadi kasi!" minta Wiwi sambil menjulurkan telapak tangannya.


Tanpa penolakan Weva langsung menjulurkan sebuah kartu yang telah diberikan oleh Brilyan kepada Wiwi.


Kedua mata Wiwi menyipit menatap kartu itu dengan baik-baik.


"Gila!"


Kedua mata Wiwi membulat membuat senyum Weva menghilang.


"Kenapa?"


"Kenapa, sih, Wi?"


"Wev, gue nggak tahu ini kebetulan atau gue yang sefrekuensi sama si otak cerdas."


Weva hanya terdiam. Ia tak mengerti dengan Wiwi yang kali ini malah heboh sendiri.


"Otak gue teryata searah sama dia."


"Wiwi, Weva nggak ngerti."


Wiwi mendecapkkan bibirnya lalu kembali duduk di kursinya.


"Wev, kartu ini itu tempat gym. Ini itu tempat yang mau gue datangin besok dan gue mau ngajak lo."


"Kemana?"


"Ah, Lo lupa apa sama foto tempat gym yang gue kasi liat ke lo kemarin?"


Weva berfikir sejenak, ia baru ingat, jika disaat jam pelajaran Wiwi secara sembuyi-sembuyi memperlihatkan foto bangunan bercat putih dan ternyata itu tempat gym yang Wiwi maksud.


"Oh iya," jawabnya ingat lalu tertawa cengengesan.


"Nah, untung lo inget. Besok kita ke situ, ya."


"Besok?"


"Ya, iya lah. Masa tahun depan."


"Emang boleh?"


Wiwi mendengus kesal membuat Weva tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Udah, besok pokoknya kita harus tempat gym itu."

__ADS_1


Weva diam. Kedua matanya yang menatap serius ke arah kartu yang kini sudah ada di tangannya.


"Kalau besok Weva ke tempat gym, kira-kira Weva langsung langsing nggak?"


"Yah nggak lah, bahlul." Pukul Wiwi membuat Weva meringis sambil mengelus lengan tangannya.


"Kok, dipukul, sih?"


"Ya, iya lah. Emang lo kira di sana lo langsung langsing kalau udah nginjek lantainya, harus berjuang, dong. Jaman sekarang nggak ada yang instan."


"Ada, kok."


"Hah?"


"Itu, mie instan rasa sot-"


"Ah, nggak usah iklan!" bentaknya.


"Dengar, ya, Wev! Kalau mau langsing, ya harus berjuang dulu."


"Berjuang gimana?"


Wiwi terdiam dan segera mengusap dagunya yang mulus itu seperti layaknya seorang pria yang mengelus jangutnya dengan gagah. 


"Gue punya rencana."


"Rencana?"


"Yah, rencana kita buat lo bisa langsing dan nggak akan ada orang yang bakalan ngebully lo lagi."


"Lo bakalan jadi princess yang mempesona. Seorang princess yang akan berjalan dengan tubuh langsingnya, bukan gendut kayak gini."


Weva mengangguk.


"Lo jalan dengan tubuh tegak, langsing dan bodi gitar spanyol," ujar Wiwi sembari berdiri tegak dan menopang sebelah pinggangnya seperti model handal yang siap untuk berjalan di catwalk.


Weva melongo menatap serius tingkah Wiwi.


"Terus lo nih, ya lo bakalan jalan diiringi tatapan kagum banyak orang yang menganga karena ngeliat kecantikan lo."


"Tak, tak ,tak ,tak, satu, dua, tiga. Cantik! Langsing!" ujar Wiwi sembari melangkah bak model membuat Weva melongo dengan tatapan kagumnya.


  


"Kayak gitu."


"Wow!" Kagum Weva sambil bertepuk tangan.


"Wah, nggak kebayang gue!"


Geleng Wiwi lalu tertawa. Apakah hayalan itu terlalu tinggi?


"Kapan kita mulai?" tanya Weva tak sabar.


Wiwi terdiam, ia masih berfikir sambil duduk di meja tepat di samping Weva yang masih menunggu.


"Besok."


"Besok?"


Wiwi mengangguk.


"Besok, kan hari minggu, jadi kita nggak ke sekolah, kan?"


Weva mengangguk.


"Nah, maka dari itu kita ambil kesempatan ini buat nurunin berat badan lo yang berat itu," jelas Wiwi setelah menjentikkan jari tangannya.


Weva hanya mengangguk. Semoga esok ia bisa menjalankan rencana untuk menurungkan berat badannya.


"Ok, besok!"

__ADS_1


__ADS_2