Princess Endut

Princess Endut
185. Menganggu


__ADS_3

Brilyan menghela nafas panjang lalu dengan terpaksa ia duduk di atas lantai sesuai permintaan Ken membuat Ken berbalik badan dan tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


"Udah gue masuk dulu, ya," ujar Ken yang masih membelakangi mereka lalu melangkah pergi meninggalkan Brilyan dan Weva di ruangan tamu.


Ken kembali masuk ke dalam dapur membuat Laila dan pak Ahmad menoleh.


"Sudah masuk mereka?"


"Sudah, pak."


Pak Ahmad mengangguk. Ia melangkah keluar dari dapur membuat Ken yang sedang sibuk kembali memotong wortel melirik. Ia tersenyum kecil sambil berusaha untuk menahan tawanya.


Kening pak Ahmad mengernyit heran menatap Brilyan yang terlihat sedang duduk di lantai sementara Weva yang nampak duduk di kursi.


"Loh? Kok Brilyan duduk di lantai?" tanya pak Ahmad yang melangkah mendekat.


Brilyan tersenyum kecil.


"Iya, pak katanya kursi ini rusak."


"Lah? Kata siapa? Kursinya nggak rusak, kok."


Brilyan melongo. Ia menoleh menatap Weva yang terlihat menertawainya sambil menutup mulut.


"Tapi tadi kata-"


"Nih, tuh! Kursinya baik-baik aja," potong pak Ahmad yang duduk di kursi. Ia naik turun berusaha untuk memperlihatkan dan membuktikan jika kursi ini benar-benar tidak rusak seperti apa yang Brilyan katakan.


Dengan cepat Brilyan bangkit dari lantai. Ia menarik nafas panjang lalu tersenyum menatap pak Ahmad dan Weva secara bergantian.


"Tapi tadi kata anak Bapak kursi ini rusak."


"Kata anak saya? Ken?"


"Hahahaha!!!"


Suara tawa Ken terdengar menggelegar dari dalam dapur membuat Brilyan, pak Ahmad dan Weva menoleh.


Brilyan memejamkan kedua matanya erat. Ini pasti karena ulah pria itu yang telah mengerjainya.


Pak Ahmad menggelengkan kepalanya. Putranya itu memang dari dulu tidak pernah berubah. Pasti ada saja tingkah keusilan yang selalu dia lakukan pada tamunya.

__ADS_1


"Ah, Brilyan. Maafkan anak Bapak, ya."


Brilyan tersenyum lalu mengangguk. Untung saja ia adalah pribadi yang sabar dan tidak mudah marah jika tidak mungkin ia sudah mencari Ken dan menghajarnya.


Brilyan duduk ke kursi. Ia mengeluarkan beberapa buku mata pelajaran yang ia bawa dari rumah lalu ia letakkan di atas meja dan hal ini juga dilakukan oleh Weva. Untung saja Weva memiliki beberapa buku paket yang sudah lama berada di rumah.


Pak Ahmad yang duduk di hadapan kedua muridnya itu terlihat tersenyum bangga. Sepertinya tak ada kata penyesalan setelah ia memilih Brilyan dan Weva untuk mewakili sekolah. Mereka terlihat sangat serasi, tampan serta cantik dan juga terlihat kompak dalam belajar. Mereka terlihat memiliki rasa semangat dalam mengikuti lomba nantinya.


"Anak-anak pokoknya kalian harus kompak, serius dan fokus. Di sini keegoisan tidak digunakan. Jika kalian mengunakan keegoisan maka kekalahan adalah garis finis yang akan kalian dapat."


"Bapak tau, sebuah perlombaan bagi Brilyan sudah biasa. Namanya bahkan sudah sangat sering terdengar dalam setiap pengumuman pemenang."


"Brilyan punya banyak pengalaman dan itu sebabnya, Klorin!"


"Iya pak," sahut Weva cepat.


"Bapak mau kamu serius dalam mengikuti lomba cerdas cermat ini. Belajar dari Brilyan kalau perlu Bapak ingin kamu bertanya apa saja tentang bagaimana cara menjawab, merangkai kata yang singkat, padat dan tepat saat ingin menjawab."


Suara siulan terdengar membuat Pak Ahmad, Brilyan dan Weva menoleh menatap Ken yang terlihat bersiul melintasi mereka lalu menaiki anakan tangga dengan begitu santai.


Pak Ahmad tertawa kecil lalu kembali menoleh menatap Brilyan dan Weva yang masih menatap ke arah tangga dimana Ken melintas tadi.


"Maafkan putra Bapak, ya. Dia memang suka begitu."


"Em, kita lanjut, ya jadi Bapak ingin kamu belajar banyak dari Brilyan."


"Baik, pak," jawab Weva lagi. Ia sesekali melirik menatap Brilyan yang terlihat diam. Wajahnya terlihat sangat tampan jika seperti ini.


Weva tak pernah menyangka jika ia bisa dekat dengan Brilyan. Weva sekarang sadar jika sebuah perjuangan dan usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.


Suara siulan kembali terdengar membuat pak Ahmad, Brilyan dan Weva menoleh menatap Ken yang terlihat menuruni anakan tangga. Ia kembali melangkah santai menuju dapur dengan sengaja.


Pak Ahmad kembali menggeleng. Sepertinya putrinya itu agak sibuk di menit ini.


Ken mencibirkan bibir sambil melirik sinis menatap ke arah Weva dan Brilyan. Bisa-bisanya mereka duduk dekat seperti itu.


Bruk!!!


Suara dentingan gelas terdengar saat Ken tanpa sengaja menabrak Laila yang sedang membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.


"Mama mau ngapain?"

__ADS_1


"Ini teh buat tamu Bapak."


"Teh?" tanya Ken hingga bibirnya kembali tersenyum jahil.


"Yah, udah sini biar Ken yang bawa." Ken meraih nampan itu membuat wajah Laila kebingungan.


"Loh, emangnya nggak ngerepotin?"


"Nggak, kok malahan Ken suka," jawabnya lalu tersenyum manis membuat Laila tersenyum. Ia mengelus pipi putranya itu lalu melangkah pergi.


Ken melirik menatap Laila memastikannya benar-benar pergi. Ia tertawa kecil lalu berlari setelah meletakkan nampan berisi teh hangat itu ke atas meja. Ia membuka lemari sambil mengendap-ngendap. Ia menoleh ke kiri dan kanan saat ia meraih wadah berisi garam yang ada di dalam lemari.


Ken membuka wadah itu, menaburkan garam ke dalam segelas teh hangat dan mengaduknya hingga garam itu larut.


"Nih, lo minum teh asin biar otak lo makin encer dan prestasi lo makin luas seperti asinnya teh hangat ini seperti laut biru yang luas."


"Lo pikir nggak enak apa nggak punya pengalaman indah di rumah pak Ahmad tercinta."


Ken kembali memasukkan wadah garam itu ke dalam lemari. Ia mengusap kedua tangannya yang bergaram itu pada permukaan bajunya lalu tersenyum lebar.


"Okay, teh hangat siap disajikan."


Ia mengangkat nampan berisi teh hangat itu lalu melangkah begitu santai menuju ruangan tamu.


"Baiklah kalau begitu Bapak ke dalam dulu, ya sebentar."


"Iya, pak," jawab Weva dan Brilyan sambil mengangguk.


Pak Ahmad bangkit berniat untuk melangkah ke dapur namun, langkahnya terhenti mendapati Ken yang melangkah sambil membawa nampan.


"Ih, Keken bawa apaan tuh?"


Brilyan dan Weva menoleh menatap pak Ahmad yang kini saling bicara di sana.


"Teh, pak. Buat tamu Bapak," jawab Ken yang langsung melirik sinis ke arah Brilyan yang hanya terdiam dengan wajah datar.


"Loh Mama mana? Kok, bukan Mama yang bawa?"


"Nggak apa-apa biar Ken aja yang bawa."


"Ihhh, gemes sekali anak Bapak. Kayak anak perempuan," gemas pak Ahmad yang langsung mencubit pipi Ken.

__ADS_1


Brilyan tertunduk. Apa yang ia lihat sekarang adalah hal yang tidak akan pernah terjadi pada dirinya. Memiliki Ayah seperti Johan adalah musibah yang pernah ia rasakan.


Johan tak pernah melakukan hal itu. Jangankan untuk memujinya, Johan bahkan hanya datang untuk menanyakan bagaimana prestasinya di sekolah.


__ADS_2