Princess Endut

Princess Endut
8. Tunduk!


__ADS_3

"Berhenti lo!" ujar Ken membuat langkah Weva tertahan.    


Langkah Weva kembali tertahan. Jujur bukan hanya langkah Weva yang tertahan, tapi nafasnya juga ikut tertahan. Oh Tuhan, mendengar suara Ken seakan membuatnya serangan jantung.


Wiwi menggeliat sembari berusaha berteriak namun, sayangnya ia tak mampu mengeluarkan suaranya yang tertahan dengan kain itu.


Benar-benar Wiwi merasa jika ia seperti seorang gadis yang diculik oleh dia orang jahat. Ia melirik menatap dua pria yang ada di kiri dan kananya, dua pria berambut pirang, pink dan merah. Perpaduan yang sangat menggelikan.


Hah, bagaimana bisa Ken punya dua teman yang jenisnya seperti ini.


Wiwi membulatkan matanya ketika ia bertemu pandang dengan kedua mata Roy.


"Apa lo?"


"Emmmm."


"Apaan em, em?"


"Tuh rasain, lagian lo berisik banget, sih," ujar Roy sembari menepuk pelan kain yang menutup mulut Wiwi.


Wiwi memberontak dengan kedua tangannya yang berusaha untuk lepas dari pegangan kedua tangannya yang dipegang erat oleh Roy dan Kevin.


"Udah diem! Lu mau berontak kayak apa nggak bakalan bisa lepas dari gua," ujar Roy dengan logat kentalnya.


"Em, dari gue juga," sahut Kevin.


"Ho'oh dari kita berdua maksud gua," tambah Roy.


"Bisa diam nggak, sih Lo? Gue mau ngomong," ujar Ken membuat Roy dan Kevin dengan cepat terdiam sambil memukul pelan bibirnya tang telah banyak bicara itu.


Ken melangkah mendekati Weva yang langsung mendongak menatap serius ke arah sorotan mata Ken yang masih menatapnya dengan tajam. Ken mengkerutkan kedua alisnya. Baru kali ini ada yang berani menatap kedua matanya tanpa menunduk.   


Baru kali ada yang seperti ini dan ini dilakukan oleh gadis gendut.


"Ngapain lo ngeliatin gue?" tanya Ken, masih dengan tatapan tajamnya. 


Weva mengigit bibir, rasanya ia tak tahu harus menjawab apa kali ini. Semua siswa dan siswi SMA Cendrawasih Internasional School kini mulai berkerumun seakan penasaran dengan apa yang akan terjadi dengan Weva.


Semuanya nampak saling berbisik, sudah jelas mereka pasti sedang membicarakan Weva yang nampaknya siap untuk dibully oleh Ken dan para anggotanya, sang geng berandal-nya.     


"Tunduk!" ujar Ken dengan nada suaranya yang begitu dingin.


Weva masih terdiam.

__ADS_1


"Kenapa lo nggak nunduk? Gue nyuruh lo nunduk!"


"Buat apa Weva nunduk? Kan Ken lebih tinggi daripada Weva kalau Weva nunduk berati ngobrolnya sama sepatu Ken."


"Sepatu Ken kan nggak punya mulut, terus nggak bisa bicara juga. Masa Weva nunduk, sih?"


"Weva harus ngedongak kayak gini soalnya Ken itu tinggi kayak tiang bendera. Weva kayak gini kalau liat tiang tapi Weva nggak hormat, serius, deh, Weva nggak bohong."


Ken melongo, ternyata gadis gendut ini banyak bicara. Berbeda dengan yang lainnya yang langsung menurut jika disuruh.


"Tunduk!!!" bentak Ken membuat Weva tersentak kaget dan segera menundukkan kepalanya sembari terus menyembunyikan bekal itu di belakang tubuh gendutnya.


"Lo Weva kan? Gadis gendut yang kemarin lewat di sini juga?"


Weva mengangkat pandangan kedua matanya, berniat untuk menjawab pertanyaan dari sang lawan bicara.


"Tunduk gue bilang!" Tunjuk Ken, membuat Weva kembali menunduk.  


Weva tersentak kaget setelah mendengar bentakan itu. Untuk pertama kalinya ada yang membentaknya seperti itu dan hal itu dilakukan oleh murid baru pindahan ini.


Semua orang-orang kini saling berbisik sembari terus menatapnya. Weva mengigit bibir bawahnya pelan sambil melirik orang-orang yang ada di sekitarnya sedang melihatnya. Rasanya ia sangat malu dijadikan tontonan gratis di sini.


"Lo Weva kan yang lewat kemarin di sini?" tanya Ken membuat Weva mengangguk. 


Weva mengangguk lagi seperti burung kakak tua.


"Terus lo ngapain lewat di sini?"


Weva kembali mengangkat pandangannya, menatap sorotan mata Ken dengan matanya yang sudah terhalang dengan air mata membuat kedua alis Ken yang sedari tadi mengkerut marah kini kembali ke posisi awalnya setelah sadar jika gadis gendut itu hampir menangis.


"Tunduk gue bilang!!!" bentak Ken lagi, membuat Weva kembali menunduk.     


"Gue suruh lo jawab pertanyaan gue, bukan natap gue!"


"Ayo jawab!"


Weva menjilat bibirnya yang terasa kering itu lalu menelan salivanya. Ia menatap Ken sejenak lalu kembali menunduk.


"Ini kan jalan umum, jadi bebas dong semuanya boleh lewat di sini."


Ken melongo.


"Apa?" tanya Ken yang tak habis pikir.

__ADS_1


"Iya, ini kan jalan umum jadi bebas mau lewat di sini. Emang tangga ini punya Ken, yah? Atau tangga ini Ken yang buat? Atau ini punya nenek moyang Ken?


"Masa Weva harus terbang biar bisa lewat ke lantai dua, Weva kan nggak punya sayap. Walaupun Weva punya sayap, yah Weva tetap nggak bakalan bisa terbang soalnya Weva gendut."


"Tapi walaupun Weva punya sayap yang besar, Weva tetap nggak mau terbang soalnya Weva takut ketinggian.


"Kepala Weva suka sakit kalau liat ketinggian, serius, deh. Weva nggak bohong soalnya Weva itu selalu ikut belajar pendidikan agama. Weva anak baik, tidak sombong dan suka menabung, kalau nggak percaya tanya aja sama Mbok Rosi" jelas Weva.


Semuanya nampak menganga setelah mendengar jawaban Weva yang diluar dugaan semuanya. Panjang sekali ocehan gadis gendut ini.


"Mbok Rosi siapa, anjirt?" tanya Roy membuat Kevin menggeleng tidak tahu.


"Itu asisten rumah tangganya Weva."


"Wah, masih muda nggak? Boleh, dong nitip salam," ujar Kevin sambil mengangkat kedua alisnya bergantian.


"Tapi rambutnya udah putih, giginya juga udah ada yang ompong," jawab Weva membuat Kevin menghela nafas dengan wajah mempiasnya sementara Roy malah tertawa.


"Diam lo!!!" bentak Ken membuat Roy dengan cepat menghentikan tawanya.


"Ken juga mau kenalan sama Mbok Rosi?" tanya Weva dengan santainya.


"Wah, berani dia, Ken!" ujar Roy memanaskan suasana.


"Sikat ajah tuh, Ken!" tambah Kevin.


Ken tersenyum sinis setelah mendengar perkataan gadis gendut ini. Untuk pertama kalinya ada yang berani mengatakan hal tersebut kepadanya. Ken kini melirik ke arah bekal yang Weva sembunyikan di balik tubuhnya gemuknya itu.


"Apaan tuh?" tanya Ken sembari mengangkat sebelah alisnya. 


Weva menelan ludah, membuatnya melangkah mundur sembari mempererat pegangannya di permukaan bekalnya itu. Weva tak mau jika Ken mengambil bekalnya seperti apa yang Ken lakukan kepada siswa dan siswi lainnya.   


"Sini!" minta Ken sembari menjulurkan tangannya.


Weva menggeleng cepat.


"Sini nggak!" ujar Ken dengan suaranya yang dibuat menggerutu.


Weva kembali menggeleng, membuat pipi gemuknya yang sebesar kue bakpao itu bergetar. 


"Ngelawan tuh, Ken."


"Sikat aja tuh," sahut Ken dan Roy bergantian, ini yang dinamakan hasutan setan.

__ADS_1


Ken yang terpancing dengan ujaran Roy dan kevin kini melangkah lebih dekat disusul Weva yang kini ikut melangkah mundur.


__ADS_2