
"Kak Wevo udah balik dari Korea!!!" teriak Wiwi.
...****************...
Motor vespa Ken kini melesat cepat melintasi kota Jakarta yang untung saja tak semacet biasanya. Ken menatap jalanan tajam berusaha untuk mengendalikan motornya dengan cepat.
Setelah Wiwi memberitahu tentang kepulangan Kak Wevo dari Korea, mereka memutuskan untuk ke rumah Weva.
"Wi, lo tau dari mana kalau Kak Wevo pulang dari Korea?"
"Apa?"
"Ck, Lo tau dari mana kalau kak Wevo udah pulang dari Korea?" ulangnya.
"Dari Dady gue. Dia bilang katanya dia baru aja ditelpon sama Kak Wevo kalau dia udah sampai di bandara," jelasnya.
Ken mengangguk.
"Ken cepetan! Gue udah nggak sabar mau ketemu sama Kak Wevo!"
"Lo mau ketemu sama kak Wevo atau Weva, sih?"
"Dua-duanya. Kalau kak Wevo pulang dari Korea berarti secara otomatis Weva juga pulang," jelasnya lagi.
Ken mengangguk lagi dan menuruti perintah Wiwi dengan kembali melajukan motor vespanya.
Tak memakan waktu yang lama Motor Ken kini menepi di pinggir jalan beraspal tepat di depan rumah mewah yang bagi Ken sudah tak asing lagi baginya. Yap, rumah Weva.
Wiwi melangkah turun dan berlari menghampiri gerbang rumah dan menatap senang pada sebuah mobil hitam yang selalu ia tumpangi bersama Weva jika, berangkat dan pulang sekolah kini sedang terparkir di depan rumah.
Bagasi mobil itu nampak terbuka membuat Wiwi yang hanya mampu berpegangan di besi gerbang itu menatap beberapa koper di bagasi mobil.
Seketika jantung Wiwi berdetak sangat cepat ketika tatapannya sudah merambah ke segala arah mencari sosok Wevo atau Weva.
"Gimana, Wi?" tanya Ken yang kini berdiri di samping Wiwi setelah melepaskan helmnya.
Wiwi tak menjawab. Tatapannya masih setia melihat ke depan sana berusaha untuk mencari sosok yang ia rindukan selama setahun ini.
"Kak Wevo!!!" teriak Wiwi ketika dari kejauhan ia melihat Wevo tengah berjalang santai menuruni mobil.
"Kak Wevo!!!" teriak Wiwi lagi.
Wevo yang tengah asik menelfon itu kini menghentikan komunikasinya dan menoleh menatap ke arah sumber suara.
"Kak Wevo, ini aku Wiwi!!! Aku mau ngomong sama Kakak!!!" teriaknya sambil menggerakkan tangannya yang ia masukkan di celah pagar besar.
Wevo terdiam beberapa saat dan membalikkan badannya membelakangi Wiwi dan Ken. Seakan bertingkah jika, ia tak mengenal mereka berdua.
Wiwi mengkerutkan kedua alisnya menatap heran pada sikap Wevo yang tak pernah ia pikir akan bersikap seperti itu. Napasnya seakan tertahan di dadanya saat melihat sikap Wevo yang seakan tidak mengenalinya.
"Kak Wevo!!!" teriak Wiwi dengan kencang.
Wevo tetap tak menoleh. Ia tatap saja melangkah masuk ke dalam rumah dan tak memperdulikan suara teriakan Wiwi di belakang sana.
"Kak Wevo!!! Aku mau ngomong sama Kak Wevo!!!" teriak Wiwi sembari mengguncang pagar gerbang.
"Kak Wevo!!!"
"Wi, udah Wi!" bisik Ken.
"Kak Wevo!!! Ini aku Wiwi!!!"
"Wi!"
"Kak Wevo!!!"
"Wi, udah!"
"Kok udah, hah?!!" bentak Wiwi.
"Lo nggak liat apa? Kak Wevo nggak respon kita, Ken!!!"
"Lo kenapa nggak teriak manggil kak Wevo biar dia denger."
__ADS_1
"Yah, gimana gue mau teriak kalau suara lo lebih kenceng dari pada gue Kalaupun, gue teriak suara gue bakalan nggak kedengaran karena suara lo," jelas Ken kesal.
Wiwi mendengus kesal dan kembali menatap ke arah depan dimana pak Walio terlihat melangkah menghampirinya.
"Dady!!!" teriak Wiwi cepat.
"Kalian kok bisa ada di sini?"
"Bukannya Dady Walio bilang kalau kak Wevo udah pulang dari korea?"
"Loh, iya memang itu tadi tuan Wevo itu sudah masuk ke rumah," jelasnya sambil menunjuk ke arah belakang.
"Terus Weva di mana?"
Walio terdiam dan menghembuskan nafas berat membuat Ken dan Wiwi menatap serius itu sekaligus kebingungan.
"Kenapa Dady?"
"Iya, pak kenapa?" tanya Ken juga.
"Nona Weva sepertinya tidak pulang dari Korea."
"Kenapa?" tanya Ken Wiwi dengan kompak.
"Dady juga tidak tau, Winyut. Soalnya yang Dady jemput di bandara cuman ada Tuan Wevo saja," jelasnya.
"Terus Weva mana? Kenapa Weva nggak pulang?"
"Dady tidak tau. Dady sudah tanya sama tuan Wevo tetapi, tuan Wevo itu tidak mau menjawab begitu eh. Beta pun ini pusing."
Wiwi menghembuskan nafas panjang dan melangkah ke arah motor dengan perasan kesalnya. Harapannya mengenai kedatangan Weva tak terwujud. Niatnya untuk memeluk dan memarahi Weva karena tak memberi kabar selama setahun harus ia buang jauh-jauh.
Kenyataannya Weva tak kembali.
Bagaimana bisa ia memarahi Weva sementara sosoknya pun tak pernah bisa ia lihat lagi.
"Jadi, gimana, Wi?" tanya Ken yang ikut menghampiri Wiwi di motor.
Wiwi terdiam sejenak sembari menopang pinggangnya. Ia pun tak tau harus apa sekarang.
"Gue punya ide," ujarnya dengan tatapan penuh ide.
"Apa?"
"Kita cek ke bandara. Kita cari Weva sampai dapat," ajaknya dengan nada penuh tekanan membuat otot rahangnya menegang.
Kedua mata Wiwi berbinar.
"Gue setuju."
...****************...
Motor vespa Ken melesat cepat memasuki kawasan area parkiran kendaraan di sekitar bandara. Baru saja motor vespa Ken berhenti di area parkiran, Wiwi sudah melompat turun seperti anak monyet dan berlari masuk ke bandara dengan helm hitam yang masih terpasang di kepalanya.
Ken yang melihat hal tersebut hanya mampu melongo di belakang sana menyaksikan betapa bodohnya Wiwi yang kini menjadi sorotan para pengunjung bandara.
Ken yang ingin melepas helmnya itu lantas melirik satpam yang menjaga di area parkiran. Pak satpam itu memasang wajah datar menatap Wiwi yang masih berlari di sana.
"Temen kamu itu?" Tunjuknya ke arah Wiwi yang sudah menjauh.
"Hehehe, bukan pak."
Wiwi berlari menyusuri setiap bagian ruang bandara dimana ada banyak orang yang tengah duduk dan berlalu lalang melintasinya. Semua orang yang melihat kedatangan Wiwi kini melongo menatap gadis berseragam sekolah dengan helm hitam di kepalanya.
"Wev, lo di mana?" bisiknya gelisah sembari terus melangkah menelusuri setiap area bandara.
Wiwi berlari menghampiri pria berseragam putih yang sepertinya merupakan petugas keamanan.
"Pak, saya mau nanya," ujar Wiwi membuat pria itu menoleh.
"Loh, kok kamu paki helm?"
Wiwi yang mendengar hal tersebut terbelalak kaget dan segera meraba kepalanya dan benar saja benda plastik pelindung kepala itu masih berada di kepalanya.
__ADS_1
"Oh, hahaha." Wiwi cengengesan membuat pria itu juga tertawa.
Ken berlari begitu kencang memasuki area ruangan bandara yang nampak begitu padat. Entah bagaimana ia bisa mencari sosok Wiwi dengan helm hitam miliknya di tengah-tengah banyaknya orang.
Ken menghentikan larinya dengan nafas yang ngos-ngosan sembari pandangannya yang masih merambah ke segala arah mencari sosok Wiwi.
Ken kembali berlari ketika batinnya berhasil menebak posisi Wiwi yang ia juga tak yakin jika, Wiwi ada di bagian sana.
Bruk!!!
Ken yang berlari itu tanpa sengaja menabrak seseorang dengan keras membuat orang itu sedikit goyah dari posisi tegaknya.
"Sorry!!!" teriak Ken tanpa menoleh menatap korban tabrak larinya dan memilih untuk kembali berlari.
Belum beberapa langkah Ken berlari ia kembali menabrak seseorang membuat orang itu terjatuh.
"Sorry!!!" teriak Ken lagi.
"Heh, punya mata nggak, sih?" teriak wanita gemuk itu tetapi, tidak dipedulikan oleh Ken.
Masih dengan penjaga keamanan itu yang diajaknya tertawa oleh Wiwi membuat Wiwi kini terdiam.
"Saya mau nanya pak, hehehe,"
"Iya, hehehe."
"Hehehe, bapak liat perempuan gendut lewat sini? Hehehe."
Pria penjaga keamanan itu seketika menghentikan senyumnya yang sedari tadi menertawakan helm gadis berseragam sekolah itu.
"Perempuan gendut?"
Wiwi mengangguk.
"Yang itu?" Tunjuk pria itu pada wanita setengah baya berbadan gendut sambil menggendong dua anaknya.
Wiwi kembali menatap pria penjaga keamanan itu setelah melihat ke arah tunjuk.
"Hehehe," tawanya lagi.
"Hahahah," tawa pria itu.
"Bukan pak, temen saya belum punya anak," jawabnya dengan wajah yang datar.
"Wi!" panggil Ken sembari meraih pergelangan tangan Wiwi dan membawanya agak menjauh dari pria penjaga keamanan itu.
"Apa, sih?" kesal Wiwi sembari menghempas tangan Ken.
"Malu-maluin aja lo," marah Ken sembari mengangkat kasar helm hitam yang terpasang di kepala Wiwi.
"Aw!!!" jerit Wiwi.
Plak!!!
"Sakit goblok," marahnya sembari memukul lengan Ken.
"Oh, iya. Lo udah ketemu sama Weva?"
"Belum," jawabnya sedih.
Ken menghembuskan nafas berat setelah mendengar hal yang membuatnya kecewa.
"Ken, Gue cari di sana, yah, mana tau ketemu," usul Wiwi membuat Ken mengangguk.
Wiwi berlari lagi menyusuri area yang belum ia pijak untuk mencari sosok Weva, si sahabat tersayangnya. Hampir semua pengunjung bandara Wiwi hampiri dan menanyakan tentang apakah mereka melihat gadis gendut di sekitar sini atau tidak. Dan semua menjawab tidak. Ada sebagian yang menjawab ia tetapi, alhasil bukan Weva yang mereka maksud. Wiwi lelah tapi ini bukan saatnya untuk menyerah.
Wiwi menghentikan langkahnya yang penuh dengan tergesa-gesa itu dengan tatapannya yang merambah ke segala arah.
Wiwi mengkerutkan alisnya ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang dengan lembut membuatnya menoleh menatap sosok yang berdiri di hadapannya.
Kedua mata Wiwi terbelalak kaget dengan mulutnya yang terbuka lebar. Seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ini.
Apa ini nyata?
__ADS_1
Apa ini mimpi?