Princess Endut

Princess Endut
120. Hari Ke Enam (Kabur)


__ADS_3

Hari ke enam.


Weva dan Ken kini hanya mampu duduk  terdiam di teras rumah sembari menatap derasnya hujan yang turung di sore hari ini. 


Weva mendecapkan bibir dengan kesal. Sudah lebih dari dua jam mereka duduk dan menanti rendahnya hujan yang kini tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan rendah. 


Weva menghela nafas panjang. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal ini. Ia bahkan sudah bosan melihat Ken yang ada di sampingnya itu.


"Aduh, Ken. Ini kapan kita olahraganya, sih? Weva itu udah capek nungguinnya. Masa kita mau kayak gini terus? Kan capek."


Ken menoleh. Ia melirik tajam menatap Weva yang terlihat cemberut.


"Berisik banget, sih lo! Yah, udahlah diem aja. Lagian gue bukan pawang hujan yang bisa buat hujan jadi berhenti!" Kesal Ken dengan wajah amarahnya.


Weva memonyongkan ujung bibirnya setelah entah kesekian kalinya ia mendapat ocehan dari Ken. Heran Weva dibuatnya, suka sekali pria ini marah-marah.


"Ken!" panggil Laila yang kini berdiri di bibir pintu. 


Ken dan Weva dengan serentak menoleh menatap sang pemanggil yang terlihat tersenyum.


"Kenapa, Ma?" tanya Ken.


"Ikut mama pergi arisan, yuk!" ajaknya membuat Ken mendecapkan bibirnya kesal. 


Ken mengeluh hebat. Hal yang paling Ken benci kini kembali ia dengar. Bukan tanpa alasan Ken membenci hal tersebut pasalnya, Ken sangat tak suka jika teman-teman arisan Mamanya itu yang tak terhitung jumlahnya itu menggodanya, mencubit pipinya, dan bahkan sampai menjodoh-jodohkannya dengan putri-putrinya di sana.


Memangnya Ken ini apa? Sebuah barang? Ken bahkan tak mengerti mengapa mereka mereka semua sesuka itu kepadanya.


Ken selalu berpikir, memangnya mereka tak pernah melihat anak tampan seperti dirinya. Bayangkan saja Ken pernah ikut dan alhasil semua beranda akun sosial medianya dipenuhi dengan fotonya.


Ken sudah seperti aktor terkenal saja yang diincar ibu-ibu arisan.


"Yuk Ken!" ajak Laila lagi.


Ken terdiam dengan tatapannya yang kini menatap Weva yang memasang wajah datar. 


"Arisan? Aduh, Ma kayaknya Ken nggak bisa, deh, Ma."


"Loh, kenapa?"


Weva melirik menatap Ken yang terlihat ikut meliriknya seakan sedang mencari ide.


"Em, nggak bisa, Ma. Kan sekarang ada Weva. Masa Ken ninggalin Weva di sini. Kan, Wev?"


Kedua alis Weva terangkat disaat Ken memberikan kode ke arahnya dengan cara membulatkan sejenak kedua matanya.


"Ah?"

__ADS_1


Ken mengigit bibirnya, mengancam membuat Weva langsung tertawa kecil.


"Oh iya Tante. Masa Ken ninggalin Weva di sini."


"Kalau begitu Weva ikut saja ke acara arisan!"


Kedua mata Weva berbinar dengan senyumnya yang merekah. Jika ada acara seperti itu maka itu berarti ada makanan di sana.


"Weva-"


"Ahahaha, kayaknya kita mau pergi, deh, Ma," potong Ken yang langsung menyikut perut Weva yang membuatnya meringis.


"Loh, emangnya kalian mau kemana?"


"Em, kita ada kegiatan sedikit yang mendesak dan kayaknya hujan udah reda, deh."


"Reda?"


Weva menoleh menatap hujan yang turun begitu deras. Bahkan dari sini Weva bisa melihat katak kecil yang terlihat berteduh di samping Pinky yang sedang asik tidur.


Weva mengernyit bingung. Memangnya tingkat reda hujan bagi Ken itu bagaimana? Hujan selebat ini dikatakan reda.


"Kayaknya hujan nggak-"


"Yuk, Wev!" Tarik Ken di pergelangan tangan Weva yang langsung menoleh.


"Ma, kita pamit, ya," ujar Ken lalu menarik Weva menembus guyuran hujan.


"Ken!" panggil Tante Laila.


Ia ingin mengikuti langkah Ken tapi hujan terlalu deras.


Weva hanya mengikut walau jujur ia pun tak tahu mau dibawa kemana oleh Ken saat ini. Seluruh pakaian Weva dan Ken basah kuyup setelah diguyuri hujan ketika keduanya berlari menuju motor.


Ken menaiki motor vespanya dan menyalakannya cepat mengabaikan Laila yang berteriak di belakang sana.


"Cepetan naik!!!" teriak Ken membuat Weva tanpa sepatah kata segera naik keatas jok motor. 


Mau apa lagi jika ia menolak. Ken akan marah besar jika ia menolak.


"Ken!!! Aduh, itu anak main hujan-hujan. Nanti Keken sakit, Nak!"


Motor vespa Ken kini melaju dengan kekuatan cepat dibayangi oleh wajah dan ujaran Laila yang mengajaknya untuk ikut ke arisan keluarga.


Diajak arisan keluarga itu sudah seperti diajak ke neraka saja.


Weva memejamkan kedua matanya yang tak kuasa untuk menahan guyuran hujan serta angin yang berhembus. Jari-jari tangannya terasa dibelai dengan kasar oleh sang angin membuatnya meremas baju Ken dengan kuat. Weva takut jatuh dari motor saat Ken melajukannya dengan kencang, tapi ia juga takut Ken marah kalau Weva memeluk Ken dari belakang.

__ADS_1


Motor Ken menepi tepat di siring jalan membuat keduanya berlari untuk berteduh di halte bus.


Weva mengusap rambutnya yang basah dan merapikannya dengan perlahan. Weva melangkah duduk di kursi halte sembari merangkul kedua bahunya yang kedinginan.  


Ken menghembuskan nafas panjang membuat Weva mengangkat pandanganya dan terdiam menatap Ken yang tengah merapikan rambutnya yang terlihat basah setelah hujan-hujanan tadi.


Weva melongo menatap sisa air hujan yang mengalir di leher putih Ken dan melewati jakun Ken yang terlihat seksi membuat Weva terus melongo menatap setiap inci kemana setetes air hujan itu mengalir.


Bulu mata yang lentik itu juga terlihat basah dengan kedua alisnya yang terlihat indah. Weva dibuat tersadar oleh kenyataan bahwa Ken memanglah tampan. Tak heran jika ibu-ibu arisan mengagumi Ken.


"Aduh, kira-kira mama gue ngejer gue nggak, yah?" tanya Ken yang langsung menoleh menatap Weva yang terkejut dengan kedua mata yang membulat.      


Weva tak menjawab melainkan ia merapikan seragam sekolahnya  berusaha untuk berlagak sok sibuk di hadapan Ken agar Ken tak curiga jika sedari tadi ia melihat leher Ken.    


"Heh!!!" teriak Ken sembari memukul pelan lengan tangan Weva setelah ia duduk di samping Weva.


"Awww, ih apaan, sih pake mukul-mukul segala."


"Yah, lo jawab, dong! Bukan malah diam aja."


"Ceh, nggak tahu," jawab Weva tanpa berfikir panjang membuat Ken kini terdiam.


"Lagian Ken itu kenapa harus lari, sih? Kan tante Laila cuman mau ajakin Ken ikut arisan. Harusnya Ken itu bersyukur dan bahagia."


Ken melirik tak senang.


"Gue harus bahagia kayak gimana kalau di tempat arisan semua teman-teman Mama gue bakalan cubit-cubit pipi, minta foto dan ah, pusing gue."


"Lo bilang kayak gini karena nggak pernah rasain aja. Coba lo yang alamin ini pasti lo bakalan kabur-kaburan kayak yang gue lakuin."


"Tapi Ken, Ken itu beruntung. Nggak kayak Weva yang nggak pernah diajak ikut arisan sama Mommy."


Ken melirik, namun kini raut wajahnya penuh dengan simpati.     


"Mommy Weva malu punya Weva," ujar Weva dengan berat hati.


Ken terdiam. Entah mengapa jika Weva menceritakan tentang hal mengenai kesedihan dirinya pasti akan membuat ia jadi ikut sedih.                              


"Yuk, ah!" ajak Ken sembari bangkit.


Weva mendongak menatap hujan telah berhenti. Ia juga melihat Ken yang kini sedang sibuk mengusap jok motornya yang basah.


"Woy! Malah diem aja lo. Cepetan!"


"Kemana?"


"Ke tempat gym."

__ADS_1


__ADS_2