
Plak
Remukan kertas itu berhasil menghantam kepala Weva yang sedari tadi sibuk menyanyi dengan cukup keras membuat kepala Weva sedikit tersentak ke depan.
Ken melipat bibirnya ke dalam berusaha menahan tawanya yang kini berkumpul di kedua pipinya yang kini mengembung memerah. Ken berpaling, mengalihkan tatapannya lalu ikut bernyanyi bersama dengan yang lainnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa di sini.
Weva merabah kepalanya yang terasa telah dilempar sesuatu lalu dengan cepat ia menoleh menatap ke sekeliling-nya. Weva menunduk menatap bola kertas yang berada di bawah mejanya, jadi benda ini yang telah mengenai kepalanya.
Weva menunduk lalu segera meraih bola kertas tersebut dan menatapnya dengan wajah kesal. Pasti ada seseorang yang telah dengan senagaja melempar kepalanya.
Sorotan mata Weva kini menyipit dan beralih menyusuri para penghuni kelas yang nampaknya masih sibuk menyanyi. Salah satu pelempar itu pasti ada di antara mereka. Weva menunduk menatap bola kertas yang kini masih berada di tangannya. Entah siapa yang dengan tega melemparnya. Ya, ini semua juga bagian dari bully.
Dasar licik, dia berani melempar tapi tak berani menampakkan diri.
Ken kembali melirik, sepertinya gadis gendut itu tak tahu jika pelaku yang telah melempar kepala Weva adalah Ken.
Weva menghela nafas berat lalu kembali fokus ke arah Bu Yungmi yang masih sibuk menyanyi di depan sana.
Ken tersenyum lebar membuat giginya yang tersusun rapi itu terlihat dengan jelas.
"Gila lo Ken," ujar pria di samping Ken yang nampaknya sudah dari tadi memperhatikan tingkah laku Ken yang memang terkenal jahil kepada siapa pun.
Ken tertawa tipis setelah mendengar perkataan Bara yang baru saja terlontar. Bara merupakan salah satu teman sebangku Ken sejak pertama masuk di sekolah ini.
"Gue nggak gila cuman nggak asik aja kalau nggak ganggu."
"Tapi betah banget lo, ya punya teman sekelas kayak dia tapi lo nggak bully." Tunjuk Ken dengan bibirnya yang sedikit dimajukan ke arah Weva.
"Emang kenapa?" tanya Bara.
Ken kembali melirik menatap Weva yang nampaknya sudah tak mencari pelaku yang telah melemparnya dan beralih dengan ikut serta menyanyi dengan yang lainnya. Ken kembali menatap dari ujung kaki Weva sampai ujung rambut.
"Gadis ini itu kalau gue liat dia cuman ada satu hal yang bisa muncul di otak gue."
Bara tersenyum sinis lalu ikut menatap ke arah Weva.
"Gendut."
__ADS_1
"Gendut."
"Dan gendut, Bar," ujar Ken membuat tawa Ken pecah dengan pelan, ya ia masih ingat jika bu Yungmi yang berkoar-koar di depan sana, memberi semangat kepada yang lainnya untuk memperelok intonasi nada suara saat bernyanyi.
Bara tersenyum simpul lalu ia mulai berbisik ke arah Ken.
"Lo nggak tahu ken, di balik tubuh gendutnya itu ada hal yang di luar dugaan seseorang yang banyak orang nggak akan pernah percaya."
"Masa?"
Bara mengangguk.
Ken mengkerutkan alisnya seakan tak percaya jika ada hal yang menurut Bara di luar dugaannya. Ia kembali menoleh menatap Weva dari ujung atas sampai ujung kaki Weva.
"Dia nggak ada sesuatu yang menarik."
Bara tersenyum simpul lalu berbisik pelan.
"Bukan dari fisiknya tapi di balik fisiknya," bisik Bara persis seperti hantu membuat Ken melirik.
"Maksud lo?"
"Dia Weva Evanita Said, anak sultan."
"Oh yah?" Tatap-nya tak percaya.
Bara mengangguk lagi.
"Dia anak om Burhan Said, pemilik perusahaan terbesar di Asia."
"Ibunya Sasmita Said, seorang desainer dan pengusaha yang terkenal sampai ke dunia internasioanl."
"Bahkan mereka punya tambang emas dan berlian yang ada di Kalimantan."
"Weva punya supir pribadi sendiri dan yang terpenting ada sekitar 135 koleksi mobil sport termahal di dunia yang ada di garasi mobilnya."
"Keluarganya juga terpandang dan sangat terhormat bahkan bukan di Indonesia aja, tapi ke seluruh dunia karena bisnisnya sudah merambah hampir ke hampir ke seluruh dunia."
"Rumahnya besar dengan ratusan pelayan rumah yang siap untuk melayani."
__ADS_1
Ken melongo setelah mendegar penjelasan Bara yang benar-benar di luar dugaannya selama ini.
Ken menoleh menatap Weva kembali, gadis gendut itu memang luar biasa.
"Lo serius?" tanya dengan wajah tak menyangka.
"Serius, ya kali gue bohong."
Ken memajukan bibirnya sambil menaikkan sebelah alisnya lalu mengangguk pelan.
"Kok, lo bisa tahu?" tanya Ken yang dibuat Kebingungan oleh penjelasan Bara.
Bara menghela nafas yang terasa berat lalu kembali berbisik.
"Dia sepupu gue."
Ken terbelalak kaget. Apa yang baru saja Bara katakan? Sepupu?
Oh my God !
Ken menoleh menatap Bara yang nampak tersenyum.
Oh tidak Ken sepertinya lo salah duduk sekarang dan bisa-bisanya lo ngebully secara diam-diam gadis gendut itu tepat di samping sepupunya sendiri dan lo nggak sampai nggak tahu kalau Bara adalah sepupu gadis gendut itu.
"Dia?" Tunjuk Ken ke arah Weva.
"Dia sepupu lo?" sambungnya.
"Lo nggak percaya?" tanya Bara.
"Per-percaya, sih tapi-" Ken menghentikan ujarannya lalu kedua matanya menoleh menatap dari ujung atas sampai ujung kaki Bara.
Pria bernama Bara ini nampak berkulit putih sedangkan Weva berkulit agak gelap dan tubuh Bara terlihat kurus sedangkan tubuh Weva sangat gendut. Apa bisa mereka dikatakan sepupu atau memiliki sebuah ikatan keluarga sedangkan mereka nampak tak sama.
"Tapi?" tanya Bara.
"Kok, lo sama Weva kayak bukan keluarga, yah? Masalahnya gini lo gue liat-liat nggak terlalu dekat sama si gendut itu dan yang lebih parahnya lagi lo kayaknya nggak pernah nolongin atau ngebela si gendut itu," jelas Ken.
Bara tertawa tipis lalu ia menggerakkan jarinya berusaha memberi kode agar Ken mendekat. Ken menurut, ia mendekatkan telinganya ke arah Bara membuat Bara berbisik di telinga Ken dan alhasil membuat Ken tertawa.
__ADS_1
Ini lumayan konyol!