Princess Endut

Princess Endut
201. Tentang Gelang Merah


__ADS_3

"Em, ini juga kejutannya?"


Brilyan mengangguk membuat Weva tertawa kecil. Ia menopang dagunya sembari kedua matanya yang menatap ke arah makanan.


"Mau makan sekarang atau nanti?"


"Aa?"


Brilyan tersenyum lepas membuat giginya yang tersusun rapi itu terlihat.


"Mau makan sekarang atau nanti?" ulangnya.


"Em, dari Brilyan aja kalau Brilyan mau makan sekarang, ya udah ayo! Tapi kalau belum mau yah udah nanti aja."


"Aku mau, kok. Mau aku ambilkan daging atau yang ini?"


"Ahaha, nggak usah biar Weva aja yang ambil," tolak Weva membuat Brilyan mengangguk.


Semenit kemudian keduanya kini terlihat sibuk pada makanannya yang telah dihidangkan di atas meja. Weva sesekali melirik berusaha untuk menatap Brilyan yang sesekali ikut menatapnya. Mereka juga sempat saling tertawa kecil saat keduanya saling bertemu pandang membuat mereka terlihat salah tingkah.


Weva meneguk minuman orange juice yang pelayan restoran itu letakan tadi di atas meja. Ia kembali menatap Brilyan yang meletakkan gelas ke atas meja setelah ikut meminumnya.


"Weva!"


"Em?" sahut Weva cepat.


Brilyan tertunduk sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya membuat Weva menatap bingung.


"Ada apa?"


Brilyan mengangkat pandangannya menatap Weva yang masih menatapnya begitu serius.


"Aku mau ngomong sesuatu."


"Sesuatu?"


Brilyan tersenyum lagi lalu mengangguk. Ia terlihat gugup.


"Aku mau ngomong dan ini sangat serius."


"Ngomong apa?"


Brilyan meneguk salivanya. Ia menggerakkan tangannya dan menyentuh jemari tangan Weva yang sedikit terkejut. Ia menunduk menatap tangan Brilyan yang menyentuh jemari tangannya.


Brilyan menarik nafas dalam-dalam dan menahan nafas itu di dadanya. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat membuat Weva mengernyit bingung.


"Brilyan!" bisiknya.

__ADS_1


Brilyan membuka kedua matanya hingga bibir itu kembali memberikan senyum tipis membuat wajahnya semakin tampan.


"Weva. Sebenarnya aku sudah jatuh cinta sama kamu."


Deg


Jantung Weva seketika berdetak sangat cepat setelah mendengar apa yang Brilyan katakan kepadanya. Kedua matanya mengerjap beberapa kali berusaha untuk memastikan jika pria yang telah bicara di hadapannya itu adalah sosok Brilyan yang selama ini ia kenal.


Pria yang selama ini selalu ia kejar, pria dingin yang jarang bicara kepadanya, pria yang selalu ia ikuti dan ia tatap secara sembunyi-sembunyi di dalam ruangan perpustakaan kini mengatakan kata cinta kepada Weva.


"A-apa?" tanya Weva.


Ia bahkan tak yakin jika apa yang ia dengar itu sesuai dengan apa yang Brilyan katakan. Brilyan menarik nafas sekali lagi. Ia menggerakkan ibu jari tangannya mengelus punggung tangan Weva yang begitu lembut.


"Weva! Aku beneran cinta sama kamu. Aku tau aku sudah pernah mengabaikan kamu dulu."


"Aku juga pernah bilang kan sama kamu kalau aku akan menempati janji aku kalau nantinya kamu sudah sempurna maka aku akan mengejar kamu."


Diam, tak ada jawaban.


"Weva! Sekarang aku sudah tidak mau mengejar kamu tapi aku mau kamu jadi bagian dari aku."


"Aku mau kamu jadi pacar aku? Ka-ka-mu mau, kan?"


Weva masih terdiam. Rasanya ini adalah sebuah mimpi yang tak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Kalimat ini, apakah ini adalah sebuah kebenaran. Jika Wiwi tau akan hal ini tentu saja sahabatnya itu akan mengira jika ia sedang berhalusinasi.


"Weva!" panggil Brilyan membuat Weva tersadar dari lamunannya.


"Kamu mau, kan jadi pacar aku?" tanya Brilyan penuh hati-hati.


Weva tertawa kecil. Wajahnya terasa memanas menahan air mata. Bahagia, ya ini yang ia rasakan dan tetesan air mata itu adalah tanda kebahagiaan dari Weva setelah mendengar apa yang Brilyan katakan.


Perjuangannya yang penuh lika dan liku selama ini ternyata tidak sia-sia. Hal yang ia inginkan selama ini akhirnya terwujud.


"Weva. Kamu mau kan jadi pacar aku? Dan aku juga mau setelah wisuda nanti kita ke jenjang yang lebih serius."


"Hah?" kaget Weva yang tak menyangka.


Bibirnya terbuka begitu tak menyangka. Kedua alisnya terangkat membuat keningmya itu berlipat-lipat.


"Kamu mau kan jadi pacar aku dan setelah kuliah kita menikah. Aku mau kamu jawab ya atau tidak tapi aku harap kamu jawab iya!"


Weva menunduk. Ia tersenyum begitu bahagia. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan kedua matanya.


"Brilyan."


"Iya?"

__ADS_1


"Sebenarnya Weva mau jujur sama Brilyan."


"Jujur? Jujur tentang apa?"


Weva meneguk salivanya. Ia menggerakkan bibirnya untuk bicara tapi beberapa kali pula ia gagal untuk mengatakannya.


"Aku mau jujur tentang Weva yang sebenarnya."


Tak ada tanggapan dari Brilyan. Pria itu terlihat diam menanti Weva bicara lagi.


"Sebenarnya aku juga udah cinta sama kamu sejak kecil."


"Kecil?" Tatapnya tak mengerti.


Weva mengangguk sementara Brilyan masih kebingungan.


"Kamu lupa sama Weva? Weva ini adalah gadis kecil gendut yang Brilyan selamatkan saat Weva dibully dan-"


Weva menghentikan ujarannya sesaat lalu mengangkat tangannya memperlihatkan pergelangan tangannya yang lingkari oleh sebuah gelang merah.


"Dan Brilyan ngasih gelang ini untuk Weva. Brilyan bilang kalau Brilyan punya dua gelang yang bentuk dan warnanya sama. Satu untuk Weva dan satu untuk Brilyan."


"Brilyan ingatkan sama gadis gendut itu? Kejadian itu udah lama mungkin Brilyan akan lupa sama gadis gendut itu tapi nggak bakalan lupa sama gelang merah ini karena Brilyan juga punya gelang yang sama kayak sama persis sama yang Weva punya."


"Saat itu Weva masih ingat banget kalau kejadian itu di taman. Ada sekelompok anak yang ganggu Weva terus ada anak laki-laki yang datang nolongin Weva."


"Setelah itu dia ngasih gelang dan anak laki-laki itu pergi. Karena penasaran makanya Weva kejar dan Weva liat ternyata itu adalah Brilyan."


"Itu sebabnya Weva ngejar-ngejar Brilyan dari SD sampai sekarang karena Weva bertekad untuk hidup bersama dengan cinta kecil Weva."


Brilyan terdiam dengan wajah pasang yang terlihat datar. Tubuhnya menjadi kaku seakan tak bernafas lagi sementara Weva masih tersenyum. Ia sedikit bingung melihat mimik wajah Brilyan yang berubah. Jika sejak tadi ada senyum di sana maka saat ini ia terlihat diam membisu.


"Brilyan!" panggil Weva hati-hati membuat kedua mata Brilyan bergerak simetris menatap ke arahnya.


"Kenapa? Kok, Brilyan diam?"


"Weva. Aku minta maaf tapi saat kecil aku nggak pernah ke taman."


Kening Weva mengernyit bingung setelah mendengar apa yang baru saja Brilyan katakan.


"Maksud Brilyan apa?" Weva tertawa kecil berusaha untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba saja terasa menegang.


"Anak laki-laki itu bukan aku."


Senyum Weva seketika lenyap dari bibirnya. Wajahnya mendatar dan seakan detak jantungnya hilang begitu saja. Weva menarik cepat tangannya menjauhkan jemari tangannya itu dari Brilyan yang menatap bingung.


"Weva! Kamu kena-"

__ADS_1


Bruak!!!


Suara keras itu terdengar setelah Weva yang dengan tiba-tiba bangkit dari kursi membuat kursi yang sejak tadi ia duduki terhempas ke lantai.


__ADS_2