Princess Endut

Princess Endut
149. Ini Yang Namanya Kesal


__ADS_3

Ia juga tak pernah melihat Ken seperhatian itu selain hanya kepada Mamanya. Weva sepertinya berbeda dan sepertinya ada yang sedang jatuh cinta di sini.


Ken membaringkan tubuhnya di atas brankar yang berada di samping brankar yang Weva gunakan.


Dari sini ia bisa melihat wajah Weva yang begitu pucat berbaring ke arahnya. Ken tak tahu mengapa ia merasa sedih jika Weva seperti ini.


"Kenapa Ken ngeliatin Weva kayak gitu?" tanya Weva membuat Ken tersadar dari lamunannya.


"Siapa juga yang ngeliatin lo. GeEr banget, sih."


Ken mengerakkan tubuhnya terlentang dan memilih untuk menatap langit-langit ruangan UKS yang telah sunyi. Weva mendengus kesal. Ia juga memilih ikut menatap ke langit-langit ruangan.


"Em, Wev!"


"Hem?" sahut Weva yang mengerakkan kepalanya menatap Ken yang tetap menatap ke atas.


"Gue mau ngomong sesuatu."


"Ngomong apa?"


Ken meneguk salivanya. Apa ia bertanya saja atau tidak, tapi rasanya Ken malu.


Ken mengerakkan kepalanya menatap Weva yang sudah sejak tadi menatapnya.


"Tentang kejadian semalam yang gue cium kening lo," ujarnya hati-hati.


Ken mengatur nafasnya yang terasa sukar untuk berhembus seperti biasanya.


"Lo udah ngerti maksud perkataan gue kemarin?"


"Enggak," jawab Weva tanpa pikir panjang.


Ken bangkit dari brankar lalu duduk terdiam sambil menunduk membuat Weva menatap bingung.


"Wev! Sebenarnya-"


Ceklek


Pintu terbuka membuat Weva dan Ken menoleh menatap pria yang sudah tak asin lagi bagi mereka tengah berdiri di pintu sambil memegang ganggang pintu.


Seketika Ken menoleh menatap Weva yang terlihat tersenyum begitu bahagia melihat sosok pria idamannya.


"Brilyan," bisik Weva.


Weva dengan cepat bangkit dari brankar dengan susah payah. Ken ingin melarangnya, tapi Weva sudah lebih dulu melangkah mendekati Brilyan yang juga melangkah ke arah Weva.


Ken mendengus kesal. Menyimpan rasa tidak sukanya itu rahang.


Senyum Weva lenyap dari bibirnya mendapati Brilyan yang melintasinya begitu saja, tanpa bicara atau melihatnya.


Weva menoleh menatap pria pendiam itu yang membuka lemari P3K lalu mengambil sesuatu di sana. Brilyan berpaling mendapati Weva yang kembali mengembangkan senyum.


Brilyan tak tersenyum sedikit pun. Ia memilih untuk kembali melangkah melintasi Weva begitu saja.


Weva memejamkan kedua matanya dengan erat. Jemari tangannya mengepal menahan sesuatu yang terasa sakit di dalam dadanya.


"Brilyan!" panggil Weva membuat Brilyan menghentikan langkahnya sementara Ken terlihat menoleh menatap Weva dan Brilyan secara bergantian.

__ADS_1


Weva menoleh menatap Brilyan yang sedang menatapnya.


"Weva sakit."


Ken yang mendengar hal itu langsung menghela nafas. Untuk apa Weva memberitahu pria kurus itu?


"Brilyan nggak mau jenguk Weva?"


Tak ada jawaban dari pria itu. Ia tetap dingin seperti balok es.


"Brilyan emang nggak punya rasa apa sama Weva? Weva udah banyak berkorban, tapi nggak apa-apa Weva masih bisa, kok."


"Mungkin," lanjut Weva yang tertunduk.


Apa ini memalukan? Weva bahkan tak memikirkan hal itu.


Brilyan yang masih diam itu melirik menatap Ken yang sejak tadi menatapnya dengan tajam. Seakan pria itu tak suka dengan Brilyan.


"Semoga cepat sembuh," ujar Brilyan lalu melangkah keluar meninggalkan Weva yang langsung tersenyum kegirangan.


Ketika pintu itu ditutup Weva langsung menjerit dan melompat-lompat bahagia.


"Keeen!!!"


Weva berlari menghampiri Ken yang memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Ken! Ken dengar, kan apa yang Brilyan bilang sama Weva? Brilyan berdoa buat Weva!"


Tak ada jawaban dari Ken.


"Ken! Kok, malah diem, sih? Ken dengar, kan?"


"Hah, Weva senang banget. Kayaknya Weva udah sembuh, deh."


Ken melirik dengan wajah anehnya menatap Weva yang terlihat menyentuh kedua pipinya yang memerah.


"Lebay tau nggak," cibir Ken membuat senyum Weva berubah menjadi wajah mengejek.


"Biarin, yang penting Weva bahagia."


Weva kembali naik ke atas brankar dan duduk di atas sana sambil tersenyum bahagia. Perkataan Brilyan seakan tergiang-ngiang dalam pikirannya.


"Ken!"


"Em," sahut Ken malas.


"Tadi Ken mau ngomong apa?"


Ken melirik. Ia diam sambil berpikir dan kembali berujar, "Nggak jadi."


"Loh? Kok, nggak jadi?"


"Ya, terserah gue, lah," jawabnya ketus.


Kini suasana ruangan UKS kembali sunyi. Setelah kemunculan dan perginya Brliyan, mereka tak lagi saling bicara.


Ken sesekali melirik Weva yang terlihat asik dengan ujung syal yang ada di lehernya. Ken merogoh saku celananya dan mendapati surat yang telah ia tulis semalam.

__ADS_1


Surat ini yang telah membuat sampah berserakan di dalam ruangan kamarnya. Tak mudah untuk membuat surat ini, butuh perjuangan dan waktu yang panjang, bahkan Ken harus begadang untuk menyelesaikannya.


"Weva, gue-"


"Weva!!!" teriak Wiwi yang berlari masuk ke dalam ruangan UKS dan menghampiri Weva yang terkejut.


Ken mengurungkan niatnya. Ia kembali memasukkan surat itu ke dalam saku celananya. Ken mendecakkan bibirnya, gadis ini selalu saja menganggu, sama saja seperti Brilyan.


"Weva! Lo nggak apa-apa, kan?"


Weva tersenyum. Ia mengenggam pergelangan tangan Wiwi yang menyentuh kedua pipinya berusaha untuk memeriksa apa Weva baik-baik saja atau tidak.


"Weva nggak apa-apa, Wi. Weva baik-baik aja, kok."


"Oh, ya?"


Weva mengangguk.


"Tapi muka lo pucat banget, deh."


"Beneran, kok Weva nggak apa-apa."


"Serius?"


"Iya."


"Nggak bohong, kan?"


"Nggak, Wiwi."


Wiwi bernafas lega. Ia jadi tak konsentrasi saat belajar karena memikirkan tentang keadaan Weva. Weva takut akan terjadi apa-apa pada Weva, pasalnya Mommynya Weva itu, Sasmita sudah memberikan kepercayaannya kepada Wiwi untuk menjaga Weva.


Lumayan, ini tidak gratis. Wiwi juga mendapat upah, tidak banyak, tapi setidaknya ia bisa membeli apa yang ia inginkan dan memberi lebihnya untuk Ibunya.


Wiwi melirik menatap Ken yang sejak tadi terdiam.


"Oh iya, kok kalian berdua bisa sakit? kompak lagi. Emang semalam kalian kemana?"


Pertanyaan itu kembali menghampirinya membuat Ken dan Weva saling bertatapan.


"Kalian dari mana? Jalan-jalan, ya?"


"Iy-"


"Kepo lo," potong Ken membuat Weva menghentikan ujarannya.


"Ya, kan gue cuman mau tau. Emang apa susahnya, sih? Kan cuman jawab, ya udah selesai. Gitu aja, kok susah."


"Gue, kan sahabat Weva, jadi harus, dong gue tau Weva kemana, sama siapa, lagi apa. Soalnya kalau ada apa-apa sama Weva, itu gue yang kena sama Aunty Sasmita."


"Ingat, ya! Ini itu bukan kepo, cuman gue mau tau aja."


Ken meringis kesal. Sahabat Weva yang ini selalu saja bicara panjang dan lebar. Dia makan apa sampai bisa bicara panjang seperti ini.


"Nggak ada bedanya! Capek ngomong sama lo. Berisik tau nggak," ujar Ken yang melangkah turun dari brankar lalu melangkah keluar dari ruangan UKS.


"Dih, emang gue berisik banget apa?"

__ADS_1


Wiwi menoleh menatap Weva yang langsung tersenyum.


"Wi, besok kalau ada lomba bicara cepat, Wiwi ikut aja!"


__ADS_2