
"Ngapain kamu di situ?" tanya seseorang yang berdiri di belakang Wiwi.
Wiwi membulatkan matanya ketika suara itu terdengar.
"Kok, ada yang ngomong?"
"Ehem."
Wiwi tersentak saat suara itu terdengar di belakangnya dan dengan cepat ia menoleh menatap kaget pada sosok wanita di hadapannya.
"Bu yungmi?"
"Ngapain kamu di situ?" tanya Bu Yungmi sambil mengibaskan kipasnya yang cetar itu, tak kalah jauh dengan warna lipstiknya yang merah merona.
Wiwi menggaruk kepalanya yang tak gatal, sialnya Wiwi belum punya jawaban atas pertanyaan dari Bu Yungmi. Sekarang entah apa yang akan Wiwi katakan kepada Bu Yungmi dan sepertinya Bu Yungmi tak melihat ke arah Weva dan Ken yang masih ada di taman. Ini sepertinya masih aman.
"Ngapain kamu di sini?"
"Anu Bu, Em, Wiwi lagi cari angin segar aja, hehe."
Bu Yungmi menatap curiga lalu dengan tatapan tak percayanya itu ia menatap dari atas sampai bawah ujung sepatu Wiwi membuat gadis bertubuh kurus itu meneguk salivanya dengan paksa. Gadis kurus ini ditatap seakan sedang dicurigai telah melakukan sebuah kesalahan.
Gadis kurus ini tak sedang memakai narkoba, kan?
"Cari angin kamu bilang?"
Wiwi mengangguk. Wajahnya pasti sudah sangat pucat sekarang. Semoga saja Bu Yungmi tidak menyadari itu semua.
"Cari angin, kok di sini? Ikut saya kamu!" pintah Bu Yungmi lalu melangkah pergi meninggalkan Wiwi.
Wiwi menghembuskan nafas sesaknya yang tertahan sedari tadi. Wiwi menoleh menatap Weva yang nampak ikut menatapnya juga.
"Gimana, nih?"
"Lo pikir sendiri! Pusing gue!" ujarnya lalu berbalik badan.
Weva terkejut. Mau kemana Wiwi?
"Wiwi!!!" bisik Weva.
Wiwi menoleh.
"Wiwi mau ke mana?"
"Gue dipanggil sama Bu yungmi. Ini juga gara-gara lo. Lo tunggu di situ aja! Jangan kemana-mana! Nanti gue balik, kok. Okay? Tunggu di situ!" bisiknya lagi lalu berlari pergi menyusul kepergian Bu Yungmi.
Weva melongo, apa yang Wiwi katakan tadi dan mengapa ia pergi?
__ADS_1
"Wi, kok Wiwi pergi, sih ninggalin Weva?!! Tungguin Weva!!!" teriak Weva lalu berlari berniat untuk mengejar Wiwi namun, tanpa sengaja kaki Weva malah tersandung membuat Weva tak mampu mengimbangi tubuhnya yang super berat itu.
Bruak!!!
Tubuh Weva terhempas ke permukaan rerumputan hijau begitu sangat keras membuat kedua mata Weva terbelalak. Rasanya ini sangat sakit. Ah, Tuhan apa tulangnya ini sudah patah?
"Apaan, tuh?" kaget Ken yang dengan cepat bangkit dari kursi taman.
Suara keras yang bahkan mengalahkan suara alunan musik rock yang ia dengar dari handsetnya itu telah berhasil membangunkan Ken dari tidurnya.
Weva terbelalak kaget setelah mendengar suara Ken lalu dengan cepat Weva menggeliat berusaha untuk segera bangkit dari rerumputan. Tubuh ini sangat berat hingga tak mudah untuk berdiri dari sini.
Ya, Tuhan hal memalukan apa lagi yang kau berikan kepada tubuh yang telah lelah dibully ini?
Ken terbelalak bukan kepala menatap sesuatu yang besar sedang bertiarap di rerumputan.
Itu bukan beruang, kan? Pikir Ken saat pertama kali melihatnya.
Weva menoleh menatap Ken yang berada di belakangnya dengan wajah kaget.
Oh, Tuhan, lihat wajah pembully itu yang bahkan wajahnya terlihat begitu serius menatapnya seakan Weva ini adalah mahluk penemuan terbaru yang baru muncul di muka bumi.
Hentikan tatapan itu! Weva sudah cukup malu merasakan hal ini.
"Hehe, Hai Ken," sapa Weva sambil tersenyum bodoh. Tubuhnya masih bertiarap di rerumputan persis seperti induk buaya darat yang sudah obesitas.
"Si gendut itu?" Tatap Ken tak percaya.
"Lo ngapain di situ?" tanya Ken dengan wajahnya yang masih terkejut.
"Ke-Ken!" ujar Weva ketika sudah berhasil berdiri tegak di hadapan ken.
Ken sedikit tertunduk, tak ada tatapan tajam yang selalu menakuti Weva, yah, rasanya Ken merasa bersalah dan seharusnya ia minta maaf dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Weva.
Weva tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapih. Kedua matanya melirik mencoba untuk melihat rambut pendeknya yang sebahu itu.
Weva menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangannya agar penampilannya tidak terlalu buruk di hadapan Weva.
Ken mengernyit bingung. Ada apa dengan gadis ini yang terlihat aneh. Baru kali ini gadis bertubuh gemuk ini tersenyum lebar seperti itu.
Weva berbalik badan membelakangi Ken yang masih diam menatapnya.
Senyum Weva langsung lenyap ketika ia membelakangi Ken. Ia mengigit bibirnya dengan kuat. Ia benar-benar tidak tahan berdiri di depan pembullynya sendiri. Rasanya Weva ingin menangis.
Weva kembali menoleh menatap Ken sambil memberikan senyum lebar. Yah, senyum ini karena ada maunya. Mana mungkin Weva mau senyum dengan pria pembully yang telah menumpahkan makanan yang ia buat khusus untuk Brilyan ke lantai dan membuatnya malu sampai ke ubun-ubun.
"Jadi bagaimana? Ken mau, kan?" tanya Weva sambil mengangkat-angkat kedua alisnya dengan senyum lebar yang ia paksa bahkan ia bisa merasakan pipinya telah pegal, tapi tidak apa karena ini semua demi Brilyan, si pria pujaannya.
__ADS_1
"Mau apa?" tanya Ken tak mengerti.
"Yang Weva tadi bilang ke Ken."
"Yang mana? Gue nggak denger!"
Senyum lebar itu seketika hilang dari bibirnya.
"Yang tadi, itu, loh waktu Ken baring di kursi. Weva udah kasih tahu tadi masa Ken lupa?"
"Gue nggak tau apa-apa, lagian gue tadi-"
Ken terdiam beberapa saat setelah memikirkan sesuatu dan tak berselang lama Ken tertawa cekikikan membuat Weva diam dengan wajah melongo.
Sudut bibir Weva terangkat menatap Ken yang masih tertawa tanpa ada sebab. Pria ini tidak waras.
"Kenapa, sih?"
Tak ada jawaban dari Ken bahkan Ken semakin tertawa.
"Gila, yah?" tanya Weva dengan wajah datarnya.
Tawa Ken terhenti digantikan dengan kedua sorot matanya yang tajam membuat Weva seketika menciut. Ia lupa sedang berhadapan dengan siapa.
"Lo yang gila. Lo ngomong sama gue sementara gue lagi pake handset terus gue tidur dan dari tadi lo ngajak gue ngomong. Jadi di sini siapa yang pantas dikatain gila? Gue atau lo?" Tunjuk Ken ke arah wajahnya dan ke arah wajah Weva.
Weva menganga tak menyangka, ternyata Ken tertidur dari tadi. Dasar bodoh! Padahal jantung Weva sudah hampir rusak gara-gara terlalu cepat berdetak. Ini semua sia-sia dan lebih parahnya lagi Weva harus memulainya dari awal lagi.
Ken tertawa lagi membuat Weva tertunduk malu, bahkan Ken sama sekali tak mengucapkan kata terima kasih kepadanya. Huh, pria tak punya hati.
Ken menghentikan tawanya menatap Weva yang kini terlihat tertunduk sambil sesekali menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.
Ken menghela nafas. Hari ini Weva terlihat aneh.
"Ya, udah Weva pergi dulu," ujar Weva yang langsung berbalik badan berniat untuk pergi.
"Eh, tunggu!" tahan Ken membuat Weva menghentikan langkahnya.
"Tadi lo mau ngomong, kan? Sekarang gue kasih lo waktu buat ngomong!"
Mendengar perkataan Ken membuat Weva segera menoleh. Ia terdiam sejenak sambil sesekali menyisir rambutnya menggunakan sela-sela jarinya.
"Weva mau ngomong sama Ken," ujar Weva akhirnya sembari tertunduk, yah, Weva masih belum berani menatap sorot mata Ken yang tajam itu.
"Ngomong apa?" tanya Ken ketus.
Weva menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, semoga ini berhasil.
__ADS_1
Ayo Weva bilang! Kamu harus bisa!
"We-we-weva mau langsing!" ujar Weva sembari memejamkan kedua matanya.