
Kediaman Burhan Said~
Suara gesekan sendok dan garpu terdengar beriringan dengan dentingan kecil yang di hasilkan di ruangan makan keluarga Said yang kini tengah melakukan acara makan malam bersama.
Baru kali ini sebuah keluarga kecil bisa disatukan dalam sebuah meja makan yang selalu hanya ditempati oleh Weva saja karena kesibukan kedua orang tuanya.
Weva terlihat tersenyum menatap satu persatu orang yang ia sayangi ada di hadapannya. Walaupun kedua orang tuanya nampak sibuk dengan handphonenya, tapi setidaknya malam ini Weva tidak sendirian.
Malam ini sedikit berbeda dari malam yang sebelumnya. Malam ini ada Mommy, Papi dan jika Kak Wevo dan ini yang membuat Weva sangat senang.
Weva masih ingat kapan terakhir kali ia makan malam bersama seperti ini. Kira-kira saat Weva masih sekolah dasar, ya lumayan sudah lama.
Hidangan mewah dan istimewa terpampang jelas di meja makan yang mewah di dampingi para pelayan yang siap siaga melayani tuan rumahnya.
"Selamat menikmati, Non Weva," ujar Mbok Rosi yang meletakkan buah-buahan di atas meja sambil menatap Weva yang terlihat mengangguk.
Sepertinya Mbok Rosi juga sadar dengan apa yang ia sekarang rasakan. Mbok Rosi ini sudah seperti keluarga bagi Weva, jadi sudah tidak diragukan lagi apa yang ia ketahui tentang Weva bahkan jujur saja Mbok Rosi lebih mengenal Weva dibandingkan Mita, Mommy Weva.
"Terima kasih, Mbok."
Mbok Rosi mengangguk lalu ia melangkah dan berdiri tepat di belakang Weva. Siap siaga jika Weva membutuhkan sesuatu.
Kini acara makan malam sedang berlangsung dan kedua mata Mita yang sejak tadi menatap ke arah layar handphonenya kini melirik menatap Weva.
Mita menghentikan kunyahannya ketika Weva terlihat jelas begitu lahap mengunyah makanan di piringnya yang terlihat penuh dengan lauk pauk yang tersedia malam ini. Yah, nafsu makan Weva semakin hari semakin meningkat.
Mita melirik suaminya yang juga sedang menatap ke arah Weva. Burhan menghentikan kunyahannya lalu ikut menatap Mita yang menatapnya sejenak dengan wajah yang terlihat tidak nyaman.
Wevo yang merasa ada yang aneh itu mulai menghentikan kegiatan makannya. Ia terdiam menatap Mita dan Burhan yang kini saling bertatapan lalu menatap ke arah Weva yang sepertinya tidak sadar telah menjadi pusat tontonan kedua orang tuanya.
Wevo menghela nafas. Mungkin Weva lupa untuk mengecilkan suara kunyahannya dan juga ia sepertinya lupa untuk mengurangi porsi makannya.
"Weva!" panggil Mita membuat satu keluarga itu menoleh menatap Mita dan Weva secara bergantian.
Weva menghentikan gerakkan tangannya yang tak hentinya menyuapi mulutnya yang selalu minta untuk di suapi dengan makanan itu.
Weva melirik menatap Mommy, Papi dan Wevo yang kini sedang menatapnya. Weva baru saja jika sejak tadi hanya dia yang makan.
"Kenapa?" tanya Weva.
"Bisa nggak, sih you makan pakai aturan?"
__ADS_1
Weva mengernyit heran. Ia tak mengerti dengan apa yang Mita katakan.
"Mommy nggak suka you makan kayak gitu," tegur Mita membuat Wevo dan Burhan langsung saling bertatapan.
"You tahu nggak, you itu kayak orang kelaparan."
"You itu nggak ada bedanya sama anak yang hidup di pinggir jalanan yang baru dapat makan," tambah Mita.
Weva mengerjapkan kedua matanya beberapa kali seakan tak menyangka, jika Mommy-nya akan mengatakan kalimat seperti itu. Weva tertunduk berusaha mencerna perkataan Mommy-nya yang terdengar agak tak sedap.
"Mom, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, dong sama Weva," bisik Burhan mengingatkan.
Burhan hanya tak mau membuat hati putri satu-satunya itu merasa tersinggung dengan perkataan Mita.
"Apa, sih, Pi? Mommy cuman ngomong yang Mommy lihat, kok. Lagian ini itu kenyataan," ujar Mita membela diri.
"Iya, Papi tahu, tapi, kan Mommy-"
"Udahlah, Pi! Lagian Mommy juga heran, kok bisa, sih Weva punya badan gendut kayak gini? Kenapa Weva nggak bisa punya tubuh yang langsing seperti A-yeong?"
"Mommy!" tegur Burhan.
"Yah iya lah, Pi. Benar, kan yang Mommy bilang. Coba aja Weva langsing-nya kayak sepupunya itu, mungkin Weva bakalan Mommy ajak juga ikut arisan keluarga."
Tak sadar air mata Weva menetes mengenai makanan yang masih belum habis itu. Tega sekali Mommy-nya itu.
Bagaimana bisa Mommy-nya itu membadingkan Weva dengan sepupunya sendiri, A-yeong. Rasanya Weva sangat malu ditambah lagi para pelayan yang menatapnya begitu serius. Sudah jelas jika para pelayan itu sedang membicarakannya di dalam batin mereka dan sudah pasti mereka akan menjadikan bahan gosipan di dapur.
Ini bukan sebuah dugaan, tapi Weva sudah sering mendengar para pelayan membicarakan hal buruk tentangnya. Apalagi jika berada di bagian dapur. Para chef akan bergosip tentang apa yang Weva pesan.
"Kenapa, sih bukan A-yeong saja yang jadi anak Mommy yang cantik, pintar dan langsing."
"Bukan kayak Weva. Udah jelek, gendut, nggak pintar bergaya-"
Weva memejamkan kedua matanya dengan erat. Dadanya terasa sakit seakan ada benda tajam yang menusuknya begitu dalam. Ini menyakitkan!
Weva bangkit dari kursi membuat Mita, Burhan dan Wevo mendongak menatap Weva.
Weva segera melangkah meninggalkan meja makan membuat kedua mata Mita membulat. Burhan menepuk jidatnya, sepertinya akan kembali terjadi keributan.
"Mau kemana you?!!" teriak Mita.
__ADS_1
Weva menghentikan langkahnya. Ia berusaha menahan tangisannya agar tidak pecah di sini.
"We-we-weva udah kenyang," jawab Weva tanpa menoleh menatap Mommy-nya lalu segera melangkah meninggalkan meja makan.
"What?"
"Seperti itu you bicara sama Mommy?!!"
"Weva makanan you belum habis!!!"
Weva tak menghentikan langkahnya. Ia tetap saja melangkah pergi mengabaikan teriakan Mita yang membabi-buta di belakang sana.
"Weva stop!!!" teriak Mita.
Bruak
Suara keras terdengar di belakang Weva, ya sudah jelas jika Mita menghempaskan sendok dan garpunya ke meja makan.
"Anak kurang ajar. Lihat, Pi! Weva itu beda sama A-yeong yang punya etika," ocehan itu terdengar di belakang sana membuat Weva yang masih melangkah itu mengigit bibir berusaha menahan tangisnya.
Sesampainya Weva di dalam kamar, ia langsung menutup pintu dengan suara tangisan yang menyayat hati. Weva menangis sejadi-jadinya tak ada bedanya yang ia lakukan kemarin sepulang sekolah.
Ia mengusap rambutnya dengan tekanan berat ke belakang. Ia mendongak menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan yang telah memburam.
Sesakit ini kah teguran yang Mita berikan kepadanya. Sebuah teguran yang menyayat dan menyakitkan hati.
Tak ada yang sayang pada gadis gendut ini, tak ada.
Suara tangisan Weva terhenti ketika mendapati handphonenya yang berbunyi tanda panggilan masuk. Weva mendapati nama Wiwi di sana.
Weva menarik nafas dan segera mengusap jejak kesedihan di pipinya dan tersenyum menatap layar handphonnya.
"Hay, Wev!" sapa Wiwi kegirangan sembari memegang sebuah pakaian olahraga berwarna kuning.
"Wev, lo udah siapin belum baju yang mau lo pake buat besok nge-gym?"
"Liat deh gue udah siapin baju buat besok, tapi cocok nggak, sih, Wev?" tanya Wiwi sembari menyamakan dirinya dengan baju olahraganya itu.
"Wev, gue juga bawa pengikat kepala, nih, eh apa, sih namanya?"
"Bando," jawab Weva sambil berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Oh iya bando, eh benar nggak, sih? Ah bukan kali, ah terserah, deh, tapi kita samaan, yah biar kompak." Oceh Wiwi tanpa henti membuat Weva tertawa.
Rasanya yang hanya membuat Weva tersenyum dan merasa bahagia hanya Wiwi, oh iya dan juga Bobo, si anjing tersayangnya yang kini sedang berada di atas pahanya.