Princess Endut

Princess Endut
18. Sunyi


__ADS_3

Sebuah gerbang besar berwarna gold itu terbuka lebar disaat mobil hitam yang dikendalikan oleh Pak Walio memasuki sebuah halaman rumah mewah bercat putih dengan rumah yang begitu sangat megah dengan air mancur yang menyambut kedatangan yang berada di halaman luas itu dengan patung perempuan berwarna putih.


Penjaga keamanan rumah yang berseragam hitam itu memberi hormat saat mobil hitam itu memasuki area halaman rumah.


Mobil-mobil dari berbagai jenis merek dan warna nampak berjejer di tempat khusus parkiran yang nampak berbaris mengelilingi rumah megah ini. Pintu mobil dibuka oleh salah satu pelayan rumah membuat Weva segera turun dari mobil dengan nafas yang sesak. Yah, duduk berlama-lama itu menyesakkan bagi tubuh gendutnya.


Baru saja Weva turun, seorang pelayan wanita dengan seragam hitam putih dengan rambut yang nampak dikonde itu segera bergegas meraih tas hitam dari tangan Weva.   


"Mommy udah pulang dari Korea?" tanya Weva sembari melangkah masuk disusul pelayan wanita itu yang tak lain adalah Mbok Rosi yang mengikut di belakang.


Mbok Rosi termasuk pelayan yang khusus untuk melayani Weva dari segi makanan, keperluan dan semuanya. Bagi Weva, Mbok Rosi sudah seperti keluarga bagi Weva karena Mbok Rosi yang selalu ada di sampingnya dari Weva kecil sampai Weva besar seperti sekarang.


Bagi Weva, Mbok Rosi sudah ia anggap sebagai Ibu sendiri. Mommy Weva yang sibuk dengan kegiatan pekerjaannya membuat Mommy Weva jarang berada di rumah hingga sesuatu yang berhubungan dengan Weva hanya dapat diketahui oleh Mbok Rodi seperti warna kesukaan, makanan kesukaan, kebiasaan, minuman favorit dan masih banyak lagi.   


"Belum non," jawab Mbok Rosi membuat Weva mengangguk.


Yah, Mommy-nya memang orang yang super sibuk hingga jarang berada di rumah.


"Kapan Mommy pulang?"


"Kalau itu Mbok juga ndak tahu, non."


Gug Gug Gug Gug ...


Suara gonggongan anjing yang bertubuh kecil jenis Malta berwarna putih dengan bulu yang tebal dan lembut terdengar sembari berlari ke arah Weva. Weva menoleh menatap anjing kecilnya yang imut dan menyambutnya dengan senyuman.


"Bobooooo!!!" teriak Weva kegirangan lalu menyambut anjing kesayangannya itu dengan pelukan hangat.   


Anjing kecil itu menggonggong di pelukan Weva membuat Weva tersenyum bahagia dan mengusap lembut kepala Bobo, yah panggil anjing kecil itu dengan sebutan Bobo. Bobo adalah anjing kecil kesayangan Weva yang telah ia rawat dari kecil sampai anjing itu berusia dua tahun.


"Rindu banget, deh," ujar weva sembari mengelus lembut bulu lebat anjingnya.


"Bobo udah mandi?"


"Udah non," jawab Mbok Rosi.


Weva mengangguk sembari melangkah dan masuk ke dalam pintu lift di dampingi oleh Mbok Rosi menuju ke arah kamarnya.


Rumah besar Tuan Said, si pemilik perusahaan terbesar di Asia dan tambang emas itu memiliki empat lantai rumah dengan fasilitas yang begitu sangat lengkap tanpa ada kekurangan sedikitpun.


Weva menghentikan senyumnya sambil gerakan tangannya yang berhenti mengusap kepala Bobo. Ia teringat sesuatu membuatnya menoleh menatap Mbok Rosi.


"Papi gimana?"

__ADS_1


"Belum pulang dari Amerika, Non Weva."


"Belum pulang?"


"Iya, Non."


"Kok, belum pulang?"


"Kata asisten Tuan katanya kerjaannya belum selesai."


Weva menghembuskan nafas berat. Sudah seminggu Mommy-nya itu pergi ke Korea dan Papinya sudah dua minggu di Amerika tetapi, mereka tak kunjung pulang ke rumah.


Rasanya memiliki orang tua yang sama-sama sibuk dengan dunia bisnisnya sangat membuat Weva merasa sunyi di rumah. Rumah besar ini dihuni oleh 50 asisten tangga dengan berbagai macam tugas.


Langkah Weva terhenti ketika telah berada tak jauh dari kasurnya lalu dengan perlahan ia mulai merebahkan tubuh gendutnya itu di permukaan kasur empuknya. Anjing kesayangannya itu kini melompat dari pelukan Weva lalu berlari kecil di atas permukaan kasur putih Weva yang nampak begitu bersih dan empuk.


Weva terdiam di atas kasurnya, rasanya hari ini ia begitu sangat lelah, yah, benar-benar sangat lelah.


Mbok Rosi berlutut setelah meletakkan tas Weva di tempat lemari khusus lalu melepas sepatu yang Weva kenakan dengan pelan dan lemah lembut.


"Mbok!" panggil Weva lalu segera bangkit dengan rambutnya yang nampak acak-acakan.


"Iya, Non."


"Semuanya, Non?"


"Iya."


"Baik non," patuh Mbok Rosi yang langsung mengiyakan.


Mbok Rosi melangkah berniat untuk keluar dari kamar namun baru beberapa langkah ia terhenti lalu kembali menoleh.


"Non Weva, non Weva harus mandi dulu! Bajunya sudah bibi siapkan."


Weva mengangguk lalu segera membaringkan tubuh gendutnya di atas kasur empuk membiarkan Mbok Rosi melangkah keluar dari kamarnya.


Kedua mata Weva yang terpejam itu kini terbuka ketika suara tutupan pintu kamarnya terdengar.  Sorot matanya kini menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru dengan lukisan awan putih di atas sana.


"Ah, hidup ini melelahkan." keluh Weva seakan mengadukan beban hidupnya itu kepada langit-langit kamarnya.


"Tak ada yang indah di dunia ini."


"Hanya ada Brilyan yang terlihat indah tapi Brilyan malah nggak peduli sama Weva."

__ADS_1


"Ah, kenapa, sih, Brilyan nggak pernah ngeliat Weva walau hanya dikit aja."


"Weva kan mau Brilyan natap Weva."


"Mana tahu kan Brilyan bisa suka sama Weva seperti Weva suka sama Brilyan."


Gug Gug Gug


Suara gonggongan Bobo terdengar membuat Weva menoleh menatap anjing kesayangannya yang nampak setia duduk di atas kasur tepat di sampingnya.


Weva tersenyum lalu mengelus kepala Bobo dengan lembut dan penuh kasih sayang. Disaat kesunyian seperti ini hanya ada Bobo yang selalu setia menemaninya. Anjing peliharaannya dua tahun yang lalu sampai sekarang itu memang yang terbaik.


"Bobo."


Weva bertiarap di atas kasurnya dengan susah payah lalu tersenyum menatap Bobo.


"Bobo, Bobo sayang nggak sama Weva?"


"Sayang nggak?" tanyanya lagi.


Gug... Gug...Gug


Weva tertawa tipis, gonggongan singkat dari Bobo sudah seperti jawaban bagi Weva.


"Bobo cinta nggak sama Weva?"


Gug... Gug ... Gug


Weva tertawa kegirangan, untuk kedua kalinya anjing kesayangannya itu menjawab pertanyaannya sesuai dengan harapannya.


Kedua mata Weva bergerak-gerak seakan berfikir, yah, berfikir beberapa saat lalu kembali bertanya.


"Kira-kira Brilyan bakalan suka nggak sama Weva?" tanya Weva dengan tatapan harapnya, yah, berharap agar Bobo mau menggonggong untuknya .


"Ayo dong, Bo!" Harap Weva sembari mengelus lembut bulu Bobo berwarna putih bersih itu.


"Ayo dong, Bo ngomong!"


Weva mengkerutkan alisnya menatap sedih ke arah anjingnya yang tak kunjung menggonggong. Weva menghembuskan nafas berat, apa iya bobo juga sadar jika Weva tak akan bisa membuat Brilyan menyukainya.


Weva mengeluh dalam. Hah, hewan pun menolak untuk menjawab. Bobo dan Wiwi tak ada bedanya. Keduanya sama-sama menolak Brilyan.


"Ayo dong, Bo!" Harap Weva lagi.

__ADS_1


__ADS_2