Princess Endut

Princess Endut
168. Kerumunan


__ADS_3

Ken diam terduduk di bangkunya sambil menatap layar handphone tanpa rasa bosan. Ia tak pernah berfikir untuk tidak pernah berhenti menatap layar handphonenya. Ken takut jika Weva akan menelponnya dan ia tak mendengar atau melihatnya.


Ken harus siap siaga walau tak pernah berbuah hasil tapi setidaknya ia bisa selalu mengingat Weva.


Bruk!!!


Seseorang terhempas ke meja ketika ia berlari masuk ke dalam kelas membuat semua orang terkejut.


"Eh kampret! Gue geprek mati lo!!!"


"Iya, nih. Bikin kaget aja, lo!" sahut salah satu siswi dengan bentakannya.


"Lo kenapa lari-lari kayak dikejar anjing gitu?"


"Iya, lo kenapa?"


"Woy, ada-a-ada murid baru ca-ca-cantik banget, gila," jelasnya.


"Wah, yang bener lo?" Salah satu pria yang mendengar hal tersebut segera bangkit dari kursi dan mendekati teman sekelasnya itu.


"Beneran, beh mukanya kayak bidadari Man," jelasnya lagi dengan wajah yang syok berat.


"Nah, terus dia dimana?"


Siswa itu menunjuk dengan dadanya yang kembang kempis, tak mudah untuk harus naik tangga agar bisa sampai ke lantai tiga.


"Ada di sana!"


Seisi kelas tanpa kata-kata lagi segera berhamburan keluar dari kelas dan mengikuti langkah siswa yang telah memberi info itu.


Di dalam kelas kini tersisa Ken dan Wiwi yang kini saling bertatapan secara bersamaan.


"Lo denger nggak?"


"Denger apa?" tanya Ken yang memilih menatap arah layar handphonenya.


"Yang murid baru itu. Kayaknya seru, deh. Yuk, Ken!" ajak Wiwi dengan semangat.


"Nggak, ah," tolaknya mentah-mentah lalu menunduk menatap layar handphonenya lagi.


Wiwi mendecapkan bibirnya dan membaringkan kepalanya ke permukaan tasnya dengan rasa bosan padahal ia ingin sekali melihat murid baru yang dikatakan bak bidadari itu.


Suara kehebohan dari bibir siswa dan siswi terdengar ricuh dari luar membuat Ken dan Wiwi saling bertatapan.


Sepertinya ini serius!


...****************...


Brilyan menghembuskan nafas berat ketika suara kebisingan dari luar perpustakaan terdengar begitu menganggu konsentrasinya dalam belajar.


Entah mengapa semua orang selalu saja berisik dan menggangu ketenangannya. Brilyan mencoba untuk fokus dengan pelajarannya dan mengabaikan suara kebisingan dari luar.


Brilyan menghembuskan nafasnya kasar, ini tak berhasil. Brilyan segera bangkit dari kursi meja baca dan mengintip ke arah luar jendela perpustakaan.


Kini ia baru sadar jika, sekarang ruangan perpustakaan sedang kosong bahkan banyak buku yang tergeletak di meja baca setelah para pembacanya berlarian keluar. Bukan hanya itu tapi guru pengawas perpustakaan juga tak ada di tempatnya. Mereka semua lenyap dari tempatnya.     

__ADS_1


"Apa yang sedang terjadi?"


Ribuan siswa nampak berkerumun sembari mengintip di jendela kepala sekolah Cendrawasih Internasional School untuk melihat murid baru dengan paras yang benar-benar sangat cantik itu.


"Heh! Heh! Bubar! Bubar!" teriak pak Ahmad sembari melayangkan ganggang sapu ke arah siswa-siswa yang menganggu ketertiban dan kenyamanan setelah berkumpul di depan kantor.


"Huuuu!!!" sorak semuanya kompak.


"Apa huh-huh? Nggak pernah ngeliat cewek cantik kalian?" Marahnya sembari menopang pinggang.


Ken dan Wiwi melangkah membelah kerumunan dan ikut berjejer di pinggir balkon lantai tiga dan menatap kerumunan orang-orang di bawah sana yang mendiami sekitar bagian luar kepala sekolah.


Bukan hanya itu siswa dan siswi yang berada di lantai satu, dua dan tiga terlihat ikut berlari ke arah kantor untuk melepaskan rasa penasarannya mengenai rumor tentang wajah cantik murid baru itu.


"Wah, gila ramai banget," kaget Wiwi.


Tak ada tanggapan dari Ken. Ia hanya diam memperhatikan semuanya.


"Sekolah kita kedatangan murid baru atau presiden, sih? Kok ramai banget?" tanya Wiwi yang masih setia berdiri di balkon.


"Ken! Lo denger gue nggak, sih?"


Ken melirik.


"Iya denger. Lo pikir gue pikun apa?"


...****************...


Siswa dan siswi berlari tergesa-gesa hingga tanpa sengaja menabrak salah satu anggota geng Sangmut yang tengah asik mengobrol di lantai dua.


"Lo nggak apa-apa, kan mut-mut?" panik Firda yang dengan cepat membantu Harni menjauh dari dinding.


"Aduh, yah sakit lah," kesal Harni dengan manja.


"Heh, berhenti lo!!!" teriak Firda cukup keras dengan suara melengking.


Fhina yang bersandar sambil melipat kedua tangan di depan dadanya itu segera berdiri tegak dan menatap aneh pada puluhan siswa dan siswi yang berlarian.


"Itu kenapa, sih pada lari-larian gitu?" 


"Iya, yah mut. Kok mereka pada lari-larian gitu?"


"Gempa kali," tebak Firda membuat Fhina dan Firda itu saling bertatapan.


"Oh may goad. Gempa? Ah, Harmut takut. Ya, udah kalau gitu kita harus lari. Kita harus nyelamatin diri! Harmut nggak mau gedung ini hancur terus kita ikut ketimbun gedung..."


"Aaaaaw!!! Harmut nggak mau. Nanti muka Harmut yang cantik ini jadi rusak. Firdmut! Yuk kita cepat-cepet lari! Kita kabur dari sini!" lanjutnya sambil melompat-lompat memegang tangan Firda.


"Ih, apaan, sih lo," kesal Firda yang menghempaskan tangannya membuat Harni cemberut.


"Nggak mungkin sih gempa. Kalau gempa pasti kita ikut ngerasaain," ujar Fhina membuat Firda mengangguk.


"Tuh, denger, tuh!"


Tak lama seorang gadis berlari melintasi ketiga anggota geng Sangmut yang dihantui rasa penasaran itu.

__ADS_1


"heh, lo!" panggil Harni.


Gadis itu tak berhenti membuat Harni mendesis kesal.


"Kok nggak berhenti, sih?"


"Makanya lo kalau, teriak yang bagus!" tegur Firda.


"Yah, udah lo aja yang manggil!" suruh Harni dengan wajah cemberutnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Firda hanya tersenyum sinis lalu merapikan kipasnya dengan rapi. Dengan tatapan tajamnya ia melempar kipas tersebut hingga mendarat dan mengenai punggung gadis itu.


"Pas!" ujarnya kegirangan.  


Gadis itu menghentikan larinya dan menoleh sembari meringis memegang punggungnya.


"Siapa yang ngelempar aku?"


"Heh!!!" bentak Firda membuat gadis itu menoleh.


"Gue yang ngelempar, kenapa? Hah?"


Gadis itu terkejut dan beralih tertunduk setelah menyadari jika yang berteriak adalah anggota geng Sangmut.


"Sini lo!" bentak Firda sambil menggerakkan jari tangannya memanggil.


Gadis itu menunduk sembari melangkah dan mengurungkan niatnya untuk marah kepada orang yang melemparnya .


"Ambil kipas gue!" pinta Firda.


Gadis itu menghentikan langkahnya dan membungkukkan tubuhnya untuk meraih kipas yang telah berhasil memukul punggungnya dengan cukup keras.


Firda merampas kasar kipas miliknya ketika gadis itu menjulurkan kipasnya dengan tangan gemetar.


"Heh, berani lo, yah nabrak gue?" kesal Harni sembari menopang pinggang.


"Nabrak?" tanya gadis itu tak mengerti.


"Harmut! Ini itu orangnya beda!" tegur Firda yang merasa jengkel.


"Oh salah, ya?"


"Ya, iya lah goblok."


"Heh, lo kenapa tadi gue panggil nggak berhenti? Malah pakai lari-lari lagi di depan kita."


"Maaf, kak," ujar gadis itu yang masih menunduk.


"Lo kira jalan ini nenek moyang lo bisa lari seenaknya kayak gitu.


"Maaf, kak," ujar gadis itu lagi. 


"Kenapa lo lari?" tanya Firda.


"Itu, kak ada murid baru yang datang ke sekolah kita," jelasnya sambil tertunduk.

__ADS_1


"Hah? Cuman gara-gara murid baru terus lo lari kayak gini? Sehat lo?" cerocos Fhina sambil menunjuk kepala gadis itu yang langsung menyentuh kepalanya.


__ADS_2