
Weva menoleh menatap Brilyan yang melangkah menghampirinya.
"Ayo kita naik!"
Weva mengangguk. Ia diam menatap kepergian Brilyan yang lebih dulu berjalan naik ke atas panggung.
"Selanjutnya peserta atas nama Brilyan Pratama dan Klorin dari Cendrawasih Internasional Scholl!!!"
Semua orang bersorak memberikan tepuk tangan saat nama itu disebut membuat Weva yang melangkah menaiki panggung itu menoleh menatap orang terdekatnya yang terlihat melambaikan tangan untuknya.
"Weva!!! Semangat!!! Sapu rata semua soal!!!" teriak pak Walio yang berdiri membuat semua orang menoleh menatap kaget pada pak Walio.
Wiwi menutup wajahnya yang ingin menangis. Lihat saja semua para penoton, peserta dan bahkan juri yang melihat ke arahnya.
"Betul!!! Semangat!!!" teriak Nenek Ratum yang juga tidak mau kalah.
Johan menurunkan kaca matanya menatap ke arah keributan yang terjadi pada bangku penonton yang ada si seberang sana.
"Berisik sekali penonton yang ada di sana."
"Betul bos. Suara itu berasal dari pria berambut geribo itu," bisik salah satu bodyguard sambil menatap ke arah pak Walio yang masih berteriak seakan mengajak orang berkelahi.
Johan kembali memasang kaca matanya diiringi helaan nafas panjang.
"Memalukan."
Wiwi yang sudah tak tahan itu segera menarik pergelangan tangan pak Walio membuat pria yang sejak tadi berteriak itu terduduk ke kursi.
"Bisa nggak, sih Dady Walio itu duduk tenang aja? Nggak usah teriak-teriak, dong. Malu tau."
"Lah? Kenapa mesti malu? Kita ini sebagai suporter harus mendukung dengan semangat. Kalau kita semangat maka Nona Weva juga akan semangat, bukan begitu Mama mertua?"
"Betul, seperti malaikat."
"Udah, deh! Duduk tenang aja! Ini tuh bukan lomba sepak bola tapi cerdas cermat, yang ada kalau Dady Walio teriak-teriak itu bisa Weva jadi nggak fokus," oceh Wiwi membuat Tante Ina menyentuh pundak Wiwi dan mengelusnya lembut.
Tepat di belakang sana persis di belakang pak Walio nampak anak kecil yang menoleh kiri dan kanan berusaha untuk menghindari rambut keriting pak Walio yang menghalangi pandangan.
"Ma! Aku nggak bisa ngeliat!" aduhnya sambil mendongak menatap sang Ibu.
__ADS_1
Sang ibu menghela nafas. Ia menyentuh pundak pak Walio membuat pria yang saat ini sedang duduk tenang karena dimarahi oleh Wiwi menoleh.
"Maaf, pak! Bisa tolong rambutnya keritingnya diikat saja, soalnya anak saya tidak bisa melihat karena ketutup rambut bapak."
Sasmita menutup mulutnya yang nyaris tertawa keras. Akhirnya ada juga orang yang menegur rambut supir pribadi putrinya.
"Selamat datang dalam acara perlombaan cerdas cermat tingkat SMA sederajat berpasangan pura dan putri!!!"
Semua orang bersorak bahkan pak Walio yang dari tadi duduk kembali bangkit dari kursi dan berteriak seperti Tarzan. Wiwi kembali terbelalak dan dengan buru-buru ia menarik tangan pria itu agar duduk kembali ke kursinya.
"Baik sebelum kita memulai perlombaan maka dari itu kami dari tim panitia akan membacakan peraturan dan peraturan ini harus dipatuhi oleh semua peserta dan juga para penonton yang ada."
"Peraturan untuk peserta; dilarang melihat contekan, menerima jawaban dari penonton, membawa catatan, mengumpat atau berkata kasar kepada lawan."
"Di atas meja hanya boleh terdapat satu kertas dan dua pulpen yang telah disediakan untuk merangkum jawaban jika seandainya memasuki soal perhitungan."
"Ada seratus soal yang telah disediakan dan untuk menjawab pertanyaan tersebut maka peserta diwajibkan untuk menekan tombol yang telah disediakan di atas meja sebelum menjawab."
"Jika pertanyaan belum selesai dibacakan dan salah satu tim peserta ada yang menekan tombol maka peserta tim tidak akan diizinkan menjawab."
"Tim peserta yang langsung menyebutkan jawaban tanpa menekan bel maka jawaban tersebut tidak akan diterima oleh pihak juri dan panitia."
Pak Walio menopang pinggang menatap khawatir ke arah panitia yang membacakan peraturan itu.
"Hah, banyak sekali peraturannya. Kalau beta yang jadi panitia sudah beta kasi juara saja Nona Weva."
Wiwi mengangkat sudut bibirnya sambil melirik tajam ke arah pak Walio yang langsung menutup mulutnya.
"Dan untuk para penonton dilarang berteriak, memberi jawaban, membuat kebisingan dalam bentuk apa pun jika didapati maka akan langsung dikeluarkan dari stadion mini ini."
Weva meneguk salivanya. Ia merapikan almamater biru bergaris putih ini yang menjadi ciri khas Cendrawasih Internasional Scholl yang melekat pada tubuhnya. Kedua matanya kembali menatap ke segala arah mencari sosok Ken yang tak kunjung muncul.
"Ken! Ken dimana?"
...****************...
Ken memetik tali gitar menghasilkan suara musik yang tidak beraturan. Ia terlihat diam mematung menatap ke arah balkon. Suara notif pesan masuk ke handphonenya membuat Ken melirik menatap nama Wiwi di sana. Wiwi kembali mengirimkan pesan untuknya dan ia tak memiliki niat untuk membalasnya.
Di tempat yang jauh Wiwi mendecakkan bibirnya. Pria keras kepala itu bahkan mengaktifkan handphone tapi tidak ada satu pesan yang ia lihat. Ia menoleh menatap Weva yang sedang menatapnya dari kejauhan.
__ADS_1
Wiwi menggeleng berusaha untuk memberitahu jika Ken tidak membalas pesannya. Hal ini membuat Weva menghela nafas lelah. Wajah khawatir tak pernah pudar dari wajahnya.
Suara ketukan pintu di luar kamar terdengar bersamaan dengan pintu yang dibuka oleh seseorang membuat Ken menoleh menatap Mamanya yang berdiri sambil memegang ganggang pintu.
"Ken! Ken nggak mau pergi ke acara lomba?"
"Buat apa?"
"Ngeliat Brilyan dan Klorin. Emang Keken nggak mau ngeliat teman Keken ikut lomba."
"Nggak, dia bukan teman aku," jawab Ken lalu ia berbalik badan membelakangi Laila.
Laila terdiam sejenak lalu ia tersenyum.
"Ya, udah kalau begitu Mama duluan, ya. Kalau semisal Ken mau pergi jangan lupa pintunya dikunci!"
"Iya," jawab Ken singkat.
"Mama simpan kuncinya di atas meja Keken, ya."
Tak ada jawaban dari Ken. Ia tetap saja diam sambil kembali memetik tali gitarnya membuat Laila melangkah masuk ke dalam kamar. Ia meletakkan kunci rumah itu ke atas meja lalu melangkah keluar.
Pintu tertutup rapat membuat Ken menghentikan gerakan tangannya yang memetik tali gitar yang masih ada di atas pangkuannya.
Ken melempar gitar itu ke atas kasurnya dan mendengus kesal. Ia meremas rambut dan mengusap wajahnya.
Ken tak tau harus melakukan apa sekarang. Apa ia harus datang dan memberi Weva semangat tapi ia juga tak suka jika harus datang dan melihat Brilyan dan Weva yang berduaan di atas panggung yang sama.
Semua serba salah dan ini membuat Ken semakin bingung.
"Soal yang pertama. Diharapkan peserta mendengar baik-baik! Soal hanya dibacakan satu kali dan tidak akan diulang!"
"Soal pertama, mengenai pendidikan kewarganegaraan dimana dalam persitiwa yang terjadi pada 16 Agustus 1945 ini Soekarno dan Mohammad Hatta diculik oleh para pemuda. Hal ini dilakukan setelah tokoh pemuda, Sutan Sjahrir, mendengar berita kekalahan Jepang dalam Perang Dunia."
"Pertanyaannya adalah dimanakah para pemuda membawa Soekarno dan Mohammad Hatta?"
Driiiing!!!
Brilyan dengan cepat menekan bel membuat Weva tersentak kaget. Sejak tadi ia sibuk mencari Ken hingga tak sadar jika pertanyaan sudah dimulai.
__ADS_1