Princess Endut

Princess Endut
61. Saran Yang Menantang


__ADS_3

"Lo ngerti, kan maksud gue?" tanya Wiwi dengan mimik wajahnya yang penuh serius.


Weva melongo. Apa maksud Wiwi adalah Weva bisa meminta bantuan kepada Ken untuk membantu Weva menurunkan berat badan?


Tapi tunggu!


Si pembully itu?


Kedua mata Weva membulat. Ia terbelalak menatap ke arah Wiwi tersenyum penuh makna. Weva telah tahu dan paham mengenai apa yang ingin Wiwi sampaikan.


"Maksud Wiwi, Weva minta bantuan buat nurunin berat badan Weva sama si Ken?" tanya Weva.


Wiwi menggangguk.


"Si pembully itu?" tanya Weva tak percaya.


"Betul," jawab Wiwi sambil menjentikkan jarinya.


"Gila kali, yah."


Senyum Wiwi yang mengembang kini lenyap begitu saja.


"Maksud lo?"


"Ya masa Weva minta bantuan sama si Ken yang selalu ngebully Weva? Yang benar aja, dong, Wi?"


Wiwi menggerutu kesal lalu segera bangkit dari kasur dan berdiri di depan Weva yang begitu tak terima.


"Wev, lo lupain semua itu! Lo nggak usah pikir sisi negatifnya. Sekarang yang harus lo pikir itu adalah keuntungan."


"Keuntungan apaan?"


"Weva, nih, ya lo dengerin gue! Ken itu pasti berhutang budi sama lo karena lol itu udah nolongin dia dari polisi."


"Dia pasti bisa mikir, Weva andai aja lo nggak datang dan ngasih tahu semua kenerannya dan bukti yang ada sama lo mungkin sekarang Ken udah mewek di dalam penjara."


"Tapi itu semua nggak terjadi karena apa? Yah, itu semua berkat lo."

__ADS_1


Wiwi kembali merangkak ke atas kasur dan menyentuh kedua bahu Weva yang masih terlihat ragu itu. 


"Weva! Lo pikir ini baik-baik!"


"Ini kesempatan baik buat lo," sambungnya dengan nada berbisik.


"Tapi-"


"Udah lah, Wev! Lo harus bisa nurunin berat badan ini dan jalan satu-satunya adalah melalui bantuan Ken."


"Ken?"


"Iya," bisik Wiwi persis di telinga Weva membuat Weva tersentak kaget sambil mengusap daun telinganya.


"Weva, jaman sekarang itu nggak ada yang gratis. Semua perbuatan harus dibalas. Ken itu harus balas perbuatan baik lo."


"Ken nggak jadi dipenjara dan lo langsing, selesai, kan."


Weva terdiam. Ia masih ragu untuk meminta bantuan Ken. Kejadian dimana Ken membullynya itu masih terngiang-ngiang di pikiran Weva dan menimbulkan trauma bagi Weva.


"Wev, lo mikir apaan lagi, sih?"


"Tapi-"


"Tapi Wiwi takut, Wi. Weva takut Ken nggak mau bantuin Weva," ujarnya sedih.


"Lo coba aja dulu. Kalau nggak dicoba, ya lo nggak bakalan tahu."


"Coba apa?"


"Yah, coba tanya ke Ken lah kalau, Ken mau nggak bantuin lo buat nurunin berat badan lo ini," kesal Wiwi yang langsung mencubit kedua pipi chuby Weva dengan gemasnya membuat Weva meringis kesakitan.


"Sakit, Wi."


Wiwi mendecakkan bibirnya lalu menopang pingganya sambil menatap Weva yang kini tengah mengusap kedua pipinya yang nampak memerah itu.


"Ya, makanya lo itu nurut! Jangan keras kepala!"

__ADS_1


"Tapi Weva takut. Gimana lalau Ken nolak?"


"Yah, paksa lah!"


"Kalau Ken tetap nggak mau?"


"Lo ganggu dia tiap hari."


"Kalau Ken tetap nggak mau?"


"Lo tibang badan dia pake badan lo! Gitu aja, kok susah."


"Sadis banget."


"Hah, ya lagian, lo juga Weva. Lo itu dengerin gue, dong! Ken pasti mau bantuin lo karena lo itu udah berjasa bagi dia."


Weva masih terdiam. Otaknya kini berfikir keras.


"Biar lo bisa langsing."


"Demi Brilyan," bisik Wiwi membuat Weva sontak terbelalak dan menatap wajah hasut Wiwi yang kini tengah tersenyum.


"Apa?"


"Brilyan. Si pria impian lo," hasutnya persis seperti hantu.


"Weva mau, Wi. Weva mau langsing, jadi kapan kita mulai?" ujarnya yang begitu sangat semangat.   


Wiwi tersenyum kemenangan. Akhirnya ia berhasil menghasut Weva.


"Kapan, Wi?"


"Besok."


"Besok?" tanya Weva yang begitu kegirangan membuat Wiwi mengangguk.


"Yeeee!!!" teriak Weva yang begitu bahagia sambil meloncat-loncat.

__ADS_1


Senyum Wiwi memudar. Ia melirik menatap vas bunga yang ikut bergetar saat Weva melompat.


__ADS_2