
Mereka semua kebingungan mengapa dua orang ini yang bisa sakit dan bersin-bersin secara bersamaan.
Weva yang sibuk mengusap hidungnya dengan tisu itu mengangkat pandangannya hingga gerakan tangannya itu terhenti setelah menyadari jika semua orang sedang menatapnya.
Weva meneguk salivanya. Ia begitu gugup mendapati tatapan serius dari seisi kelas. Weva menoleh menatap Ken yang juga menjadi pusat perhatian. Ken ikut menatap ke arah Weva yang membuatnya tertunduk. Rasanya ia malu jika harus bertatapan seperti ini.
"Kalian berdua sepertinya sakit?"
Penghuni kelas dengan serentak menatap pak Ahmad.
"Kalau terus-terus bersin seperti ini kalian akan menggangu teman-teman yang lain."
Weva yang masih diam itu melirik menatap Ken yang terlihat tertunduk di sana. Weva tak mengerti apa yang Ken pikirkan sekarang.
"Silahkan ke UKS untuk istirahat!" ujar pak Ahmad mempersilahkan.
"Nggak usah, pak. Saya di sini aja," tolak Ken.
Wiwi menyentuh pundak Weva yang sudah sejak tadi ia perhatikan begitu lemas.
"Wev! Lo ke UKS aja! Lo kayaknya sakit banget, deh."
Weva tak menjawab. Memang benar yang Wiwi katakan. Bernafas pun rasanya begitu melelahkan.
Wiwi menyentuh poni Weva dengan lembut, merapikan rambut sahabatnya itu yang terlihat berantakan setelah membaringkan kepalanya di atas tas.
"Udah! Lo ke UKS, ya! Mau gue temenin?"
Weva tersenyum sejenak.
"Nggak usah. Biar Weva aja sendiri."
Weva bangkit dari kursi dan melangkahkan kakinya pelan membuat semua orang kembali menatapnya.
"Izin ke UKS, pak."
"Iya, silahkan!"
"Terima kasih, pak."
Weva melangkah keluar dari kelas membuat Ken berpikir. Ia menolak untuk ke UKS karena ia ingin tetap di kelas untuk melihat Weva, tapi Weva malah pergi sendirian.
Ken takut kalau kesehatan Weva semakin menurun dan mungkin saja Weva pingsan.
"Baiklah kita lanjut pelajaran-"
"Pak!" potong Ken membuat ujaran pak Ahmad terhenti.
"Saya izin ke UKS, pak!"
Semua orang menatap heran. Bisa-bisanya Ken berubah pikiran hanya dalam waktu cepat.
"Em, mau Bapak antar?"
Pertanyaan itu membuat seisi kelas menatap bingung. Baru kali ini ada seorang guru yang menawarkan dirinya untuk menemani muridnya pergi ke UKS.
Sejujurnya di kelas ini tak ada yang mengetahui jika Ken adalah anak dari pak Ahmad hingga kebingungan lah yang meraka rasakan saat pak Ahmad mengatakan hal tersebut.
"Nggak usah, pak," jawab Ken.
__ADS_1
Ia tersenyum sejenak lalu melangkah keluar dari kelas diikuti puluhan pasang mata.
Ken berlari mengejar Weva yang melangkah begitu pelan. Ia sesekali bersin sambil menutup hidungnya dengan tisu.
"Weva!" teriak Ken membuat gadis bertubuh gendut itu menoleh.
"Ken?"
Ken tersenyum.
"Lo sakit juga?"
"Iya," jawab Weva sambil mengangguk.
"Lo minum air hangat, kan pas sampai di rumah?"
"Minum, kok. Cuman Weva emang baru pertama kali main air."
Ken mengangguk. Senyumnya pudar secara perlahan setelah setelah melihat Weva yang menyentuh kepalanya dengan wajah yang meringis menahan sakit.
"Wev! Lo kenapa?"
Weva membuka kedua matanya menatap Ken yang mengerakkan tangan berniat untuk menyentuh bahunya.
"Kepala Weva sakit."
"Ya, udah yuk masuk!"
Weva mengangguk. Ia kali ini menurut. Kalau saja kepala Weva tidak sakit mungkin ia tak mau meninggalkan jam pelajaran pak Ahmad.
Weva menoleh menatap tangan Ken yang menyentuh pundaknya dengan lembut dan menuntunnya jalan. Weva mendongak menatap wajah Ken yang tak menunduk menatapnya.
Ken membantu Weva untuk berbaring di atas brankar setelah mereka telah berada di dalam ruangan UKS.
Setelah membaringkan Weva, Ken melangkah dengan tergesa-gesa mendekati lemari P3K. Ia membukanya, mengerakkan kepalanya berusaha untuk melihat apa yang ada di dalam sana.
Ken melangkah kiri dan kanan membuat Weva yang sedang berbaring di atas brankar itu hanya mampu melihat.
"Ini yang jaga UKS dimana, sih?"
Ken menopang pinggang. Ia diam sejenak menatap ke seluruh ruangan.
"Ken cari apa, sih?"
Ken tak menjawab. Ia melangkah kembali ke lemari P3K dan meraih kompres lalu melangkah mendekati Weva.
Ken meletakkan kompres itu ke kening Weva yang hanya mampu terdiam dengan wajah bingungnya.
"Lo masih pusing nggak, sih?"
"Kalau kayak gini nggak pusing, tapi kalau berdiri Weva ngerasa pusing."
"Ya, udah. Kalau kayak gitu lo nggak usah kemana-kemana, ya!"
Weva mengangguk. Ia tak ingin banyak bicara. Ken kini mendadak diam membuat gadis gendut itu juga ikut diam. Ken mengerakkan tangannya berniat untuk mengelus rambut Weva, tapi hal itu tertahan saat seseorang melangkah masuk.
"Bapak!"
"Keken! Ini Bapak bawa syal kamu," ujar pak Ahmad yang melangkah masuk.
__ADS_1
"Loh, kok Keken nggak ikut baring?"
"Ken-"
"Ayo cepat baring! Di sini kan bukan cuman satu tempat tidur, tapi ada banyak," pintanya sambil menepuk permukaan brankar membuat Ken hanya mampu menurut.
Ken membaringkan tubuhnya ke atas brankar sementara pak Ahmad memasangkan syal itu ke leher Ken.
"Weva! Kamu nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa, kok, Pak."
Pak Ahmad mengangguk.
"Memangnya kalian berdua ini jalan-jakan ke mana, sih semalam sampai sakit kayak gini?"
Pertanyaan itu membuat Weva dan Ken saling bertatapan. Apa mereka harus jujur.
"Weva-"
"Kita cuman jalan-jalan di pasar malam," potong Ken.
"Tapi kenapa bisa demam dan flu kayak gini? Emang semalam hujan, ya?"
Keduanya kini terdiam. Kali ini Ken tak tahu harus jawab apa.
"Pak!"
Ketiganya menoleh menatap siswa yang berdiri sambil memegang ganggang pintu.
"Mohon maaf, pak. Bapak dipanggil sama Ibu Yungmi."
"Cari buat apa?"
"Katanya ada rapat."
Pak Ahmad menatap jam yang ada di tangannya. Ia baru ingat jika mereka memang ada rapat untuk olimpiade.
"Oh, iya. Bapak baru ingat. Ya, sudah Bapak pergi dulu, ya Keken."
Ken mengangguk. Kedua matanya kini menatap ke arah Bapaknya yang melangkah keluar dari ruangan.
Baru saja pintu itu tertutup, Ken langsung bangkit dari brankar. Ia melepas syal dari lehernya dan melilitkannya pada leher Weva.
"Loh? Kok Ken pasang syalnya ke Weva?"
"Udah nggak apa-apa. Gue udah mendingan, kok, jadi gue nggak butuh syal."
"Tapi-"
"Udah lah! Kenapa, sih ngomong melulu?"
Weva mendadak diam seribu bahasa. Ken kembali memarahinya.
"Awas lo, ya kalau lo lepas!" Tunjuknya dengan nada mengancam.
Di tempat yang sama tepatnya di depan ruangan UKS terlihat pak Ahmad yang kini sedang tersenyum tipis setelah mengintip melihat Ken yang memberikan syalnya kepada Weva.
Ia tak pernah melihat Ken melakukan hal manis ini kepada seorang gadis. Selama ini Ken tak pernah memiliki teman perempuan dan kali ini Weva lah yang menjadi satu-satunya.
__ADS_1
Ia juga tak pernah melihat Ken seperhatian itu selain hanya kepada Mamanya. Weva sepertinya berbeda dan sepertinya ada yang sedang jatuh cinta di sini.