Princess Endut

Princess Endut
209. Kebenaran


__ADS_3

[Mohon perhatian kepada calon penumpang penerbangan nomor 56 tujuan Bandara Internasional Yogyakarta mohon melakukan boarding dari gerbang C2, dan mohon persiapkan pas naik Anda dan pastikan Anda membawa semua barang bawaan Anda. Terima kasih]


Ken yang sedang duduk itu mendongak menatap ke arah para calon penumpang yang nampak melangkah ke arah gerbang pemeriksaan.


Ken bangkit dari kursi panjang, berdiri kokoh di depan sang Mama yang kini terlihat tersenyum paksa lalu mengelus rambut putranya itu.


"Ma! Jangan gitu, lah! Kalau Mama kayak gini, kan Ken jadi nggak bisa ninggalin Mama."


"Emangnya kenapa, sih Ken mau kuliah di Jogja? Kan di Jakarta banyak universitas, kenapa harus ke Jogja, sih?"


"Yah, namanya juga cari pengalaman."


"Ken!"


Ken menoleh menatap pak Ahmad yang menepuk bahunya itu.


"Kalau tinggal di sana nanti jangan nakal, ya!"


Ken mengangguk dan tak berselang lama tanpa Ken duga Laila, sosok Mamanya itu langsung memeluknya sambil menangis membuat Ken memijat pelepisnya.


"Aduh, Ma. Kenapa harus nangis, sih? Kan Ken perginya cuman di Jogja bukan di luar negeri."


"Kalau di luar negeri Mama nggak bakalan setuju."


Ken tertawa lalu meringis sakit saat Laila memukulnya yang masih berada dalam dekapan putranya.


"Kok dipukul, sih Ma?"


"Ini karena Keken udah mau ninggalin Mama sama Bapak."


"Iya, iya sorry."


Ken mengelus punggung Laila hingga gerakan itu terhenti setelah mendapati sosok Bapaknya yang terlihat membuang pandang sambil menyilangkan kedua tangganya di depan.


"Pak!"


"Nggak!"


"Bapak nggak mau apa meluk Ken?"


"Nggak!"


"Mumpung Ken ada di sini. Entar kalau Ken udah di Jogja, Bapak nggak bisa lagi meluk Ken."


Bibir Pak Ahmad bergetar. Ia melepaskan tangisannya lalu ikut bergabung dan memeluk tubuh Ken. Ken tersenyum, ia menunduk untuk melihat dua sosok malaikat yang begitu ia sayangi.


Sejujurnya ia tak ingin meninggalkan kedua orang tuanya dan kuliah di Jogja tapi rasanya ia tak sanggup untuk melihat Weva dan Brilyan hidup bersama dalam sebuah ikatan cinta. Ken hanya bisa mengikhlaskan semuanya, ini mungkin yang terbaik untuk Weva.


Laila dan pak Ahmad melepaskan pelukan, mengusap pipi mereka masing-masing yang basah.


Ken menarik koper agar lebih dekatnya dengannya.


"Ken pamit dulu, ya Pak, Bu."


Laila tak menjawab ia mengangguk lalu menangkup kedua pipi putranya dan mendaratkan kecupan ke kedua pipi dan dagu putranya.


"Ya, udah sana pergi! Kalau nggak betah langsung pulang aja, ya!"


Ken mengangguk. Bibirnya bergetar, rasanya ia juga ingin menangis.


"Pak-"


"Udah, nak nanti kamu ketinggalan pesawat!"


Ken mengangguk. Ia menarik koper miliknya dan berpaling lalu melangkah pergi dengan langkah yang pelan.


Haruskah ia pergi sekarang?


Laila melepaskan tangisannya. Ia memeluk tubuh suaminya itu yang membiarkan istrinya menyadarkan kepala itu di dada.


"Keeen!!!" teriak Weva yang entah datang dari mana.


Langkah Ken terhenti. Kedua matanya terbelalak setelah mendengar suara seseorang yang begitu sangat ia kenal. Itu suara Weva!

__ADS_1


Weva berlari melintasi Laila dan Pak Ahmad yang menatap bingung. Weva menghentikan larinya dengan nafas yang benar tak mampu ia kontrol lagi. Cukup jauh ia berlari hingga tak mampu lagi untuk berlari.


Ken menoleh sejenak menatap Weva yang berada di belakang sana sedang menatapnya. Ken menghela nafas panjang. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia tak ingin bertemu Weva saat ia akan pergi.


Ken menggeleng pelan. Keputusannya telah bulat membuatnya kembali melangkah membuat Weva menatap tak percaya.


"Keeen! Jangan pergi!" teriak Weva yang kembali berlari.


Bruak!!!


Tubuh Weva terhempas ke lantai saat kakinya tanpa sengaja tersandung. Ken memejamkan kedua matanya saat suara ringisan Weva terdengar di belakang sana. Ken tau Weva terjatuh tapi ia tak boleh menolongnya.


Ken tetap saja melangkah membuat air mata Weva menetes membasahi pipinya. Weva bangkit dari lantai berusaha untuk tetap kuat menopang tubuhnya.


"Untuk Weva, si gadis Endut yang nyebelin!!!" teriak Weva yang berada di belakang sana.


Dengan cepat langkah Ken terhenti. Kata-kata itu, ia sepertinya mengenal kata-kata itu. Ia menoleh menatap surat pemberiannya yang berada di jemari tangan Weva.


Nafas Weva sesak. Ia mengusap pipinya yang basah itu saat ingin melanjutkan membaca isi surat itu.


"Gue harap lo nggak ketawa pas baca surat ini. Gara-gara surat ini kertas gue habis karena nggak tau harus nulis apa."


"Gue nggak bisa bu-buat kalimat romantis buat lo, Endut."


Bibir Weva bergetar. Ia tak sanggup untuk membaca surat itu lagi.


"Lo adalah satu-satunya gadis yang udah gue boncengein tengah malam, main air mancur bareng, ke pasar malam bareng, berangkat dan pulang sekolah bareng..."


"Naik bianglala, dansa, boneka panda dan lo satu-satunya gadis yang udah buat gue jatuh cinta."


Ken mendongak berusaha untuk menahan air matanya yang telah tertampung banyak.


"Semenjak gue tau lo suka sama Brilyan maka dari itu gue usaha buat lo biar Brilyan bisa suka sama lo juga."


"Gue pengen lo langsing biar nggak ada yang nge-bully lo lagi tapi gue nggak tau caranya gimana dan jalan satu-satunya adalah Brilyan."


"Satu-satunya penyemangat lo adalah Brilyan jadi gue yang udah nyuruh Brilyan biar dia ngedukung loh agar lo itu mau semangat."


...***...


"Lo! Lo yang namanya Brilyan?"


Brilyan menatap bingung. Pria ini ingin bertanya atau ingin memukulnya. Tubuhnya yang di dorong keras ke permukaan dinding itu seakan benar-benar terasa terancam.


"Ayo cepetan jawab!"


"I-i-iya," jawabnya.


Ken tersenyum. Ia meraih kartu dari saku celananya dan menamparkan kasar pada tubuh Brilyan yang tersentak.


"Ini kartu tempat gym milik gue. Lo kasih ke Weva dan suruh dia nurunin berat badannya di situ!"


"We-Weva?"


"Iya, tuh cewek yang paling gendut di sekolah."


Setelahnya ia melangkah pergi meninggalkan Brilyan yang menatap bingung pada kartu tempat gym itu.


Satu jam kemudian...


Ken menyadarkan tubuhnya ke dinding sambil mengintip menatap ke arah ruangan kelas. Di sini ia bisa melihat Brilyan yang menjulurkan kartu tempat gym miliknya untuk Weva.


Ken berlari ke belakang tiang berusaha untuk bersembunyi saat Weva melangkah keluar dari ruangan kelas. Ken tersenyum, ia mengangkat jempolnya ke arah Brilyan yang juga ikut melakukan hal yang sama.


...****...


"Gue yang udah nyuruh Brilyan buat saranin tempat gym itu agar lo datang sama gue."


"Awalnya gue cuman mau bantu lo, gua mau minta maaf karena udah numpahin makanan dan minuman lo itu."


"Tapi waktu berkata lain. Semenjak gue sama-sama lo setiap hari, gue udah jatuh cinta sama lo."


"Lo cepetan pulang, ya dari Korea setelah itu gue mau lo-"

__ADS_1


Weva menghentikan bacaannya. Ujarannya itu seakan tertahan di kerongkongannya. Ia menatap Ken yang sejak tadi hanya diam.


"Lo mau jadi pacar gue," lanjut Weva.


Weva mengigit bibir bawahnya. Wajahnya benar-benar telah memanas.


"Gue nggak peduli lo itu gendut, gue benar-benar suka sama lo. Gue bukan Brilyan yang bakalan ngejar lo disaat lo udah sempurna."


"Cepetan pulang, ya. Dari Ken si pemilik motor Vespa yang udah lo tabrakin ke pohon."


Weva mengangkat pandanganya menatap sosok Ken yang juga ikut menatapnya.


Weva melangkahkan kakinya mendekati Ken yang tetap saja diam. Kedua matanya yang telah berkaca-kaca itu menatap Weva yang mendekatinya.


"Ken mau kemana?"


Ken menggeleng. Ia bahkan tak sanggup lagi untuk bicara.


"Hah? Kemana?"


"Jauh," jawabnya tak sanggup.


Weva langsung meninju dada Ken yang hanya terus diam.


"Ini pukulan karena Ken udah mau pergi ninggalin Weva. Kenapa Ken nggak ngasih tau Weva? Hah?"


"Buat apa? Waktu lo ke Korea lo juga nggak ngasih tau gue. Lo bahkan sempet-sempetnya ngasih tau si kurus kering itu tapi nggak punya waktu buat ngasih tau gue."


Weva tertawa kecil.


"Satu lagi."


"Apa?" tanya Ken yang berusaha untuk tetap kuat.


Weva mengangkat gelang merah yang ada pada tangannya dan memperlihatkan gelang merah yang ada di pergelangan tangannya.


"Ken kenapa nggak bilang kalau anak laki-laki yang udah nolongin Weva saat kecil itu adalah Ken?"


Bibir Ken bergetar. Tangisannya seakan tertahan di dalam dadanya. Rasanya ada yang menusukkan belati di dalamnya.


"Ken anak laki-laki itu, Ken adalah cinta-"


Ujaran Weva terhenti saat Ken langsung memeluknya dan melepaskan tangisannya. Weva ikut menangis di dalam dekapan Ken membuat kedua orang tua Ken di belakang sana tersenyum bahagia. Kebenaran kini telah terungkap.


"Ken adalah cinta pertama Weva," sambung Weva.


Weva mendongak menatap wajah Ken yang memerah karena menangis.


"Kenapa Ken nggak ngomong dari awal?"


Ken menggeleng. Ia bahkan tak sanggup untuk mengatakan sepatah kata apa pun itu dari bibirnya.


Weva kembali merapatkan pipinya ke dada Ken yang mengelus lembut kepalanya.


"Weva yang salah. Weva yang salah karena nggak baca surat dari Ken."


"Kalau aja Weva baca surat ini mungkin akhirnya nggak kayak gini"


Ken tersenyum. Ia menangkup kedua pipi Weva yang tak se-chubby dulu lagi.


"Jangan nangis, yah. Mereka sudah pergi!"


Weva tertawa. Kalimat ini yang diujarkan anak laki-laki itu saat berusaha untuk membuatnya berhenti menangis.


Ken mengacak-acak rambut Weva membuat Weva memejamkan kedua matanya. Cara Ken mengacak-acak rambutnya sama persis saat anak laki-laki itu melakukannya.


Weva membuka kedua matanya menatap serius setiap inci wajah pria yang ada di depannya. Akhirnya ia menemukan cinta pertamanya. Bagaimana bisa ia salah orang dan mengira jika Brilyan adalah anak laki-laki itu.


"Weva!!!" teriak seseorang membuat Weva dan yang lainnya menoleh menatap Wiwi dan pak Walio yang berlari mendekat.


Wiwi menghentikan larinya. Kedua bibirnya terbuka berusaha untuk mengatur nafas.


"Kenapa, Wi? Kok, lari-lari kayak gitu?" tanya Weva yang kemudian tertawa.

__ADS_1


"B-b-brilyan masuk ke rumah sakit," jawabnya membuat semua orang terkejut.


__ADS_2