Princess Endut

Princess Endut
32. Hasil Tes


__ADS_3

"Bener mut!" sorak Fhina dan Firda dengan kompak sembari memainkan kipas pink-nya.


Wiwi mendecakkan bibirnya dengan wajah yang terlihat bosan, ternyata bahasa planet yang geng Sangmut ini katakan adalah itu. Dapat bahasa dari mana mereka?


"Kalian mau di luar saja?" tanya pak Ahmad yang kini tiba-tiba muncul setelah membuka pintu ruangan tes.


Semuanya menoleh dengan kompak, menatap Pak Ahmad yang kini masih memegang ganggang pintu.


"Cepetan masuk!" pintah pak Ahmad lalu kembali menutup pintu dengan rapat. 


Weva menarik nafas sesaknya. Kali ini ia harus bisa ikut olimpiade matematika. Percuma, dong Weva belajar kalau kali ini harus gagal lagi seperti yang terjadi di tahun lalu.


Sejujurnya alasan Weva ingin ikut olimpiade hanya satu yaitu bisa dekat dengan Brilyan, Yap si pria impiannya yang selalu ia impikan dan dambakan.


Setiap sekolah akan diwakili oleh dua orang yaitu satu siswi dan satu siswa. Siswa itu tentu saja adalah Brilyan. Setiap orang yang lulus ikut tes olimpiade yang mewakili siswa putri maka ia akan dipasangkan bersama dengan Brilyan untuk mengikuti olimpiade matematika.


Dan hal itu yang membuat Weva menginkan olimpiade itu. Ia ingin disatukan oleh Brilyan. Dimana lagi ia bisa mendapatkan kesempatan seindah itu.


"Wev!" panggil Wiwi sembari menyentuh kedua bahu Weva yang lebar dan bergelombang karena lemak.


Weva menoleh menatap Wiwi yang terlihat tersenyum.


"Gue yakin lo bisa dan lo pasti bisa."


Weva mengangguk.


"Weva masuk, ya. Doain Weva!"


"Pasti," jawabnya cepat.


Weva menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan tenang lalu segera melangkah masuk ke dalam ruangan tes setelah Fhina lebih dulu melangkah masuk.


Ya, Fhina juga termasuk siswi yang selalu diikut sertakan dalam olimpiade matematika tingkat putri tahun lalu dan hasilnya adalah nihil, Fhina gagal meraih gelar juara. Ini cukup memalukan dan hal itu pula yang membuat Weva bersemangat mengikut sertakan dirinya dalam olimpiade ini. Weva ingin membuktikan jika ia bisa.


"Good luck, ya, Fhimut!!!" teriak Firda sambil melambaikan tangannya ke arah Fhina yang ikut melambaikan tangannya.


"Fhimut! Liat ke ke kamera!" teriak Harni yang langsung membuat Fhina menoleh dan tersenyum ke arah kamera.


"Hay, para fans gue, gue mau lo semua doain gue biar gue bisa lulus tes terus ikut olimpiade tahun ini, okay."

__ADS_1


"Okay, dong," jawab Harni sambil mengangkat jempolnya ke arah kamera.


Fhina tersenyum, ia memoyongkan bibirnya dan mengambil gaya yang super imut di hadapan kamera. Tak getinggalan juga Harni dan Firda membuat Wiwi mengekerutkan hidungnya menatap jijik pada mereka bertiga.


Sok imut sekali mereka.


"Udah, ah! By by," ujar Fhina yang kemudian melambai dan melangkah masuk ke dalam ruangan kelas.


"Yeee, mut-mut sekarang Fhimut udah masyuk ke dalam ruangan. Harmut yakin, deh pasti Fhimut bisa jadi perwakilan Cendrawasih Internasional school tahun ini."


"Yah nggak, sih, mut?"


"Yeeees, dong, mut," tambah Firda membalas pertanyaan Harni.


"Ok, deh, mut jangan kemana-mana, ya! Nanti Harmut bakalan balik lagi."


"See you next time mut-mut!!!" Lambai Harni sebelum menghentikan live di instagramnya. 


Wiwi yang sedari tadi mendengar ocehan Harni yang nampak heboh sendiri dengan layar handphonenya mulai menggeleng lalu segera melangkah agak menjauh dari dua gadis yang telah dianggap gila oleh Wiwi.


"Sok seleb," ujar Wiwi tepat ketika ia melewati Harni berniat untuk pergi dari tempat itu.


Baru kali ini ada yang mengatakan hal itu kepadanya.


"Heh, apa lo bilang?!! Berhenti lo!!!" teriak Harni namun, tak berhasil membuat Wiwi menghentikan langkahnya.


Percuma meladeni mereka.


"Mending gue seleb dari pada lo nggak seleb!!!" teriak Harni yang tak terima.


"Emang gitu kalau punya banyak followers dari pada lo nggak ada," kesal Firda.


"Wah, harus di lviralin, nih," ujar Harni panik lalu kembali merogoh handphone yang baru saja ia masukkan ke dalam saku bajunya lalu kemudian lagi dan lagi gadis berambut sosis di ujung itu kembali menayangkan siaran langsung di Instagram dan menceloteh tak jelas di sana.


...***...


"Setiap siswi akan saya berikan waktu pengerjaan selama 20 menit."


"Dalam kertas ini ada dua puluh soal berarti jika disimpulkan kalian mendapat satu menit pengerjaan dalam satu soal," jelas pak Ahmad sembari mengerak-gerakkan kertas soal di tangannya.

__ADS_1


"Paham?" tanya pak Ahmad.


Semuanya berseru paham, semuanya nampak telah siap untuk mengerjakan soal tes kali ini.


Pak Ahmad kini melangkah sembari menjulurkan kertas soal tes ke meja siswi satu persatu. Di dalam ruangan tes ada sekitar 20 siswi yang mengikuti tes dengan harapan bisa ikut serta dalam mengharumkan nama sekolah.


Weva meraih dan membaca setiap soal yang tertera di dalam kertas yang di julurkan oleh pak Ahmad. Senyum Weva membias indah, tak disangka soal yang muncul adalah materi yang weva pelajari semalam.


Ini semua tidak sia-sia.


Waktu pengerjaan soal dimulai ketika pak Ahmad mulai menyalakan Stop watch yang berada di tangannya.


Weva mengangguk paham dan dengan mudahnya menulis jawaban di atas kertas yang telah sediakan. Kali ini Weva yakin jawaban yang ia tulis sangat benar.  


Semua siswi nampak sibuk mengerjakan soal yang diberikan.


Susana ruangan kini menjadi sunyi disusul pak Ahmad yang kini melangkah sembari mengawasi agar tak ada yang berbuat curang.


Weva tersenyum setelah soal yang ada di tangannya itu telah selesai sebelum waktu yang telah ditentukan. Ia menoleh menatap ke sekelilingnya menatap semua orang yang terlihat masih sibuk mengerjakan soal.


Weva menoleh ke samping kiri menatap beberapa siswi yang terlihat menggaruk kepalanya yang entah apa alasannya. Entah itu gatal atau malah pusing dengan soal yang diberikan.


Weva menoleh ke sisi lain menatap Fhina yang nampak memoyongkan bibirnya sambil menusuk-nusuk dahinya dengan ujung pulpen dan sesekali ia melirik ke arah meja-meja lain seakan sedang mencoba untuk mengintip jawaban dari siswi yang ada di sekitarnya.


Apa yang dia lakukan?


Tak berselang lama Fhina menoleh menatap Weva yang sedang menatapnya.


"Ngapain lo ngeliatin gue? Hem?"


"Mau nyontek lo ngeliatin gue kayak gitu atau lo kagum sama gue?" bisik Fhina sambil menaikkan alisnya.


Weva menggeleng. Memangnya siapa yang mau menyontek?


Weva bangkit dari kursinya membuat semua orang menoleh menatapnya termasuk Pak Ahmad yang terlihat kebingungan.


"Mau apa?" tanya pak Ahmad.


"Weva mau ngumpulin jawabannya, pak," jawab Weva yang meletakkan kertas itu ke atas

__ADS_1


"Secepat itu?"


__ADS_2