Princess Endut

Princess Endut
131. Rasa


__ADS_3

Lebih dari tujuh jam Ken dan Weva duduk menanti motor vespanya diperbaiki. Entah sudah berapa banyak ocehan yang Ken keluarkan untuk Weva yang hanya mampu terdiam sambil menunduk. Weva tahu ia salah kali ini dan Weva hanya bisa menerima.


Sejujurnya ia tak seratus persen mengakui ini kesalahannya. Yang mengajak untuk belajar membawa motor adalah Ken bukan Weva. Weva sebenarnya ingin ikut protes tapi sepertinya motor Ken yang penyok itu sudah cukup menyedihkan.


Kini jam telah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga belas menit dimana Ken kembali menaiki motor vespanya yang telah kembali ke bentuk semula walau tak semulus yang Ken harapkan. 


Ken memasang helm dan menoleh menatap Weva yang terdiam di kursi dengan wajah bersalahnya. Sejak tadi Weva tak pernah lagi bergerak. Sepertinya ia telah membeku setelah mendapat semprotan darinya.


"Sini!"


Weva melirik sejenak dan kembali tertunduk hingga ia menggelengkan kepalanya.


"Sini nggak lo!" Tunjuknya dengan nada mengancam.


Weva mengigit bibir dan melangkah sembari memeluk tas hellokitty serta helm hitam yang masih terpasang di kepalanya.


"Kenapa muka lo kayak gitu."


Tak ada jawaban. Weva kembali menggeleng.


"Terus kalau nggak kenapa-kenapa kenapa muka lo kayak gitu?"


"Nggak."


Ken mengeluh panjang. Ia menatap ke arah sekitar bengkel dan kembali menunduk menatap Weva.


"Naik!" putus Ken yang kemudian naik ke atas jok motornya lalu menyalakan motor.


Motor itu menyala menghasilkan suara yang tak ada bedanya saat kejadian kecelakaan tunggal itu.


Ken yang sadar tak ada beban pada motornya langsung menoleh menatap Weva yang masih memeluk tas hellokitty yang berukuran kecil itu.


"Kenapa nggak naik?"


Weva menggeleng. Ia sudah seperti orang bisu yang tak pandai bicara.


"Gue kan nyuruh lo naik. Kenapa lo nggak naik?"


"Nanti motornya rusak lagi," jawab Weva yabg akhirnya bicara.

__ADS_1


"Nggak, Cepetan naik!"


Weva menghela nafas panjang. Bibirnya yang cemberut itu membawanya dengan rasa terpaksa menaiki motor vespa.  


Ken kembali menatap ke arah depan setelah Weva duduk di belakangnya. Beberapa saat Ken fokus ke depan ia kembali menoleh menatap Weva yang nampak diam tertunduk.


"Lo mau jatuh?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Weva mendongak menatap wajah paras tampan Ken.


"Aa?"


"Pegang!"


Weva mengalihkan pandangannya.


"Nggak, Weva nggak-"


Ujaran Weva terhenti disaat Ken memegang dan menarik kedua tangannya lalu melingkarkannya pada pinggang Ken.


Seketika nafas Weva kembali tertahan di dadanya. Ia jadi kesulitan bernafas jika seperti ini. Ken melirik.


"E-enggak."


"Terus kenapa lo kayak gitu?"


"Nggak? A-apa-apaan, sih? Weva nggak apa-apa."


Ken tersenyum jahil.


"Ah, gue tau. Lo pasti baper, kan kalau kayak gini. Iya, kan."


"Idih, a-a-paan, sih orang Weva nggak baper, kok."


"Yakin nggak baper?"


"Ya-ya iya lah. Siapa juga yang baper?"


Ken mengangguk pelan tanda mengerti.

__ADS_1


"Awas lo, ya kalau sampai baper! Kalau lo beneran baper, gue nggak mau tanggung jawab!"


Weva menatap risih.


"Apa, sih? Maksa banget. Orang Weva udah bilangin kalau Weva nggak baper."


Ken mencibir. Ia berbalik membelakangi Weva dan tak berselang lama Ken melirik menatap tangan Weva yang melingkar di perutnya.


Ken tersenyum simpul. Ken juga tak tahu mengapa ia bisa tersenyum seperti ini, tapi rasanya Ken merasa senang.


Motor itu melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalanan beraspal yang dipapari cahaya lampu jalan serta bangunan-bangunan pencakar langit yang bersinar indah.      


Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya Weva jalan-jalan dibonceng mengunakan motor di malam hari. Rasanya begitu berbeda. Angin malam begitu menghanyutkan ditambah lagi belaian lembut seakan memanjakan setiap inci kulit wajah Weva.


Senyum Weva tercipta dan memejamkan kedua matanya dan tanpa sadar memeluk Ken dari belakang sembari menyandarkan pipinya di belakang punggung Ken yang terasa hangat.


Tanpa sadar juga Weva dibuat tersenyum. Ia tak tahu mengapa ia sekarang suka berada di belakang punggung Ken.


Apakah seperti ini yang orang-orang di luar sana rasakan saat berboncengan dengan orang yang ia suka. Sayangnya orang yang ada sekarang bukan lah Brilyan melainkan Ken.


...~~~...


Untuk kamu yang sekarang sedang aku peluk.


Rasanya ini sungguh aneh, benar ini sungguh aneh.


Aku tak tahu mengapa ini terjadi, tapi yang perlu kamu tahu bahwa aku merasa kan perasaan yang tak pernah aku rasakan pada siapa pun. Aku merasa nyaman.


Perasaan ini perlahan-lahan muncul tanpa aku minta dan menggebu di dalam hati.


Tapi, sayangnya aku bersama kamu bukan karena ingin menetap dengan kamu, akan tetapi aku sedang berjuang untuk pria yang nampaknya tak mengharapkan perjuangkan aku.


Jika, aku bisa menjadi sosok yang lain mungkin aku akan mengejar kamu bukan mengejar dia.


...~~~...


Ken yang menyadari Weva berdasar di belakangnya tanpa sadar tersenyum tipis. Entah mengapa rasanya sangat nyaman jika seperti ini. Ken yang suka marah-marah pun kini dibuat bingung oleh perasaan hatinya. Sikap marahnya itu bahkan hilang begitu saja.


Ada apa ini?

__ADS_1


Apa yang terjadi pada dirinya?


__ADS_2