
Apa gadis ini mati?
Sekali lagi Weva terdiam menatap, ia kembali menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Wiwi. Dasar gadis konyol, bagaimana bisa ia tak merasakan guncangan dari tangan ajaib yang super gemuk ini?
Apa perlu ia memukul dan menendang tubuh kurus yang hanya menyisahkan tulang dan sedikit daging itu? Hah, ini akan menambah dosanya saja.
Jika ia punya banyak dosa maka tak ada harapannya untuk bunuh diri toh neraka yang akan jadi tempat terakhirnya. Di dunia ia di bully dan di neraka ia hakimi.
"Wiwi!" panggil Weva sekali lagi.
Tak ada jawaban dari Wiwi. Weca mendecakkan bibirnya lalu kembali mengguncang tubuh Wiwi dan menyebut namanya tapi gadis yang tidur seperti belalang kurus ini tidak kunjung terbangun dari tidurnya yang entah diberikan mimpi apa oleh Tuhan.
"Wiwi, kalau Wiwi nggak mau bangun Weva bakalan tindih Wiwi sekarang juga, ya!" ancam Weva dengan wajah sungguh-sungguh. Sepertinya ia tidak bercanda dengan apa yang ia katakan.
"Satu."
Tak ada pergerakan.
"Dua."
Weva menunduk. Ia menarik sedikit roknya dan sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Wiwi yang masih terbaring di atas kasur.
"Tig-"
"Ah jangan! Jangan! Jangan!" teriak Wiwi dengan wajah panik sembari dengan mudahnya terduduk di atas kasurnya dengan kedua matanya yang melebar karena terkejut serta rambutnya yang terlihat acak-acakan seperti Tarzan.
Weva tersenyum, ancaman ini sepertinya sangat berguna untuk membangunkan Wiwi dari tidurnya yang sangat lelap itu.
"Nah, gitu, dong, Wi. Kalau Wiwi dibangunin itu harus bangun bukan malah kayak orang mati yang nggak gerak kalau dipanggil."
Wiwi menguap lebar ketika Weva mulai menceloteh panjang lebar membuatnya kini menggeliat dia atas kasurnya. Tidur nyenyak nya kini telah dikacaukan oleh wanita gendut ini.
Bagaimana bisa ia tak buru-buru bangun jika, weva benar-benar menindihnya lantas entah apa yang akan terjadi pada tubuhnya ini.
Gepeng! Ah, sudah jelas jika itu akan terjadi.
"Wiwi, Wiwi dengerin Weva nggak, sih?"
"Aaah-" Wiwi menggaruk kepalanya membuat rambut yang mirip Tarzan.
Weva menghentikan ocehannya dengan wajah sedikit kebingungan.
"Lo itu berisik banget, sih? Capek gue."
"Capek? Lebih capek Weva yang harus bangunin Wiwi."
"Ya, tapi ujung-ujungnya gue juga bangun kan."
"Iya, sih bangunin tapi pakai ngancem segala."
Weva menghela nafas berat lalu segera duduk di samping Wiwi yang masih mengumpulkan setengah nyawanya dengan kedua mata yang nampak masih memerah.
"Ah, ngantuk gue, Wev," ujar Wiwi yang kembali merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Heh!!!" teriak Weva yang menatap kaget pada Wiwi yang kembali membaringkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kok, tidur lagi?" tanya Weva.
"Ngantuk gue."
"Aduh, Wi. Cepetan nanti keburu Brilyan datang lebih dulu ke kelas!" mohon Weva yang menarik kedua tangan Wiwi berusaha membangkitkan-nya.
"Iya, iya gue bangun."
"Yah, udah cepetan Wiwi mandi nanti keburu ada Brilyan!"
"Ah, Brilyan melulu, Brilyan melulu. Nggak ada yang lain apa?"
"Nggak ada," jawab Weva semangat ketika Wiwi telah berusaha bangkit dari kasurnya.
"Gila lo."
"Pokonya cepetan!" ujar Weva sambil mendorong Wiwi masuk ke dalam kamar mandi.
Weva yang kini tengah duduk disebuah pinggiran bak mandi seraya terdiam menatap Wiwi yang tengah mandi dengan tubuhnya yang tak mengenakan sehelai kain.
Malu?
Apa itu malu?
Mandi tel*njang bulat di hadapan orang, ya terkadang agak menggeli, kan, tapi tidak bagi kedua sahabat yang sudah dekat sejak zaman orok ini.
Mandi tel*njang itu sudah biasa bagi mereka, bahkan Weva sampai tahu jika Wiwi punya tanda lahir di bagian p*ntatnya.
Hust! Ini rahasia jadi jangan beritahu orang lain!
Rasanya Weva sangat kagum dengan tubuh Wiwi yang begitu kurus dan tidak gemuk. Ini semua sangat berbeda dengan tubuhnya yang sangat besar dan berlemak seperti apa yang selalu orang-orang katakan mengenai dirinya.
"Wiwi!"
"Em," sahutnya.
Weva menghela nafas berat sejenak lalu menopang kedua pipinya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada lututnya.
"Weva mau nanya."
Tak ada jawaban.
"Wiwi, Weva mau nanya."
"Ya, banyak aja kali. Emang harus ngomong dulu, ya terus dapat izin dari gue baru nanya?"
"Ya, Weva, kan cuman mau mastiin aja kalau Weva mau jawab."
"Heh, Lo tinggal ngomong aja! Apa susahnya, sih?"
Weva tersenyum lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gini, Wi. Kok, Wiwi bisa nggak gendut, sih, Wi? Padahal, kan Wiwi sering makan banyak sama kayak Weva?" tanya Weva dengan raut wajahnya yang kini menjadi sedih.
"Tiap hari kita makan dengan porsi yang sama, jenis makanan yang sama dan waktu yang sama, tapi, kok yang gendut cuman Weva, ya? Kok, Wiwi nggak gendut?"
__ADS_1
Wiwi yang tengah asik mengusap tubuhnya dengan sabun batang berwarna merah pekat itu terhenti membuatnya menoleh menatap Weva yang kini masih sibuk memperhatikan tubuhnya yang tel*njang itu.
"Gue nggak tahu, Wev. Padahal, kan, ya kalau dipikir-pikir dibandingin gue sama lo, gue yang paling kuat makan, ya, kan, Wi?"
Weva mengangguk.
"Iya, ya, Wi."
Wiwi kini terdiam dengan wajahnya yang nampak sedang berpikir."
"Wiwi, Kok bisa, sih, ya, Wiwi nggak gendut?"
***
"Mungkin makanan yang gue makan semuanya nggak masuk ke lambung gue, Wev," ujar Wiwi.
Wiwi menghempaskan seragam SMA Cendrawasih Internasional school yang terlihat kusut.
Kini kegiatan mandinya telah usai dan membuatnya kini sibuk mengenakan seragamnya sekolahnya di dalam kamar sementara Weva kini nampak duduk di pinggir kasur.
"Maksud Wiwi, Wiwi makanannya nggak masuk ke lambung?"
Wiwi menghentikan gerakan tangannya yang sibuk mengancing seragamnya itu.
"Lo kira gue serius?"
Weva terdiam. Apa ia salah bicara?
"Jadi Weva salah ngomong?"
Wiwi melongo.
"Eh, ngerti bercanda nggak, sih?"
Weva menggeleng membuat Wiwi mendecakkan bibirnya lalu kembali sibuk dengan seragamnya.
"Kenapa, sih Weva gendut?"
"Mungkin Tuhan lagi nguji lo."
"Tapi, kok ujiannya lama banget? Kan kalau setelah ujian ada yang namanya lulus terus, kok, Weva nggak lulus-lulus?"
"Wev, mungkin badan lo ini ke campur baking soda, deh, makanya ngembang kayak gini." Tunjuk Wiwi tanpa dosa membuat Weva beralih menatap tubuhnya.
Ngembang?
"Ngembang?"
Wiwi mengangguk.
"Wiwi, Weva ini bukan kue yang bisa ngembang."
"Ya iya lah lo bukan kue, tapi sifat badan gendut lo ini sama kayak kue yang di kasi baking soda, tapi kelebihan akhirnya meleber kayak gini," jelas Wiwi lagi sembari mengenakan listip merah muda dibibir mungilnya.
__ADS_1
Weva kembali tertunduk. Setelah mendengar kata meleber, ia jadi terpikir dengan lemak perutnya yang nampak berlipat-lipat saat ia duduk.