Princess Endut

Princess Endut
129. Bakso


__ADS_3

Motor Ken kini melaju melintasi jalanan kota Jakarta setelah beristirahat di dalam supermarket sekitar beberapa menit. Andai saja bukan karena foto yang jelek itu mungkin mereka masih ada di dalam sana.


Weva hanya memasang wajah datar. Pikirannya sejak tadi hanya memikirkan tentang foto yang ada di galeri Ken.


Tuhan, bagaimana caranya agar foto itu lenyap dari galeri Ken sementara handphone itu ada di dalam jaket yang Ken kenakan.


"Kita kemana lagi sekarang?" tanya Weva yang kembali membuka percakapan.


Ken mengangkat kaca helmnya lalu beralih menatap wajah Weva dari pantulan kaca spion motor vespanya.


"Gue juga nggak tau," jawabnya. 


Weva yang semula terdiam kini menggerakkan bola matanya seakan berusaha untuk berfikir. 


"Ken mau dengar saran Weva?"


"Saran apaan?"


"Mau apa nggak?"


"Emang saran apaan, sih?"


"Gimana kalau kita ke mas Tono," usul Weva membuat Ken keherangan.  


"Mas Tono? Siapa, tuh?"


"Udah, kalau pun Weva kasih tau Ken juga nggak bakalan tau. Mending kita ke mas Tono aja."


Ken terdiam, tak ada jawaban dari pria itu.


"Gimana? Ken mau?"


Weva tersenyum simpul menatap wajah Ken yang terlihat bimbang.


"Mau apa nggak?"


"Em," sahut Ken membuat Weva tersenyum kegirangan.


Rasanya Weva ingin melompat dari motor ini saking bahagia.


"Setelah ini nanti belok kiri!" pinta Weva sambil berusaha untuk menahan rasa kebahagiannya.


...****************...


09:40 siang


Motor yang melaju itu berhenti setelah Weva berteriak di belakang sambil menepuk punggung Ken. Weva melangkah turun dan melepas helm hitam yang sedari tadi melindungi kepalanya.


Ken melongo. Ia menatap ke segala arah dan beralih menatap Weva yang raut wajahnya lebih berseri. Entah apa, Ken juga tak mengerti mengapa gadis gendut ini terlihat tersenyum kemenangan.


"Kita mau ngapain di sini?" tanya Ken setelah melepas helmnya.


"Kita sudah sampai, tadaaaa!!!"


Ken terdiam. Wajah bingungnya itu masih terpampang di hadapan Weva yang terlihat merentangkan kedua tangannya.


"Sampai dimana?"


"Nah ini." Tunjuk Weva ke arah warung bakso membuat Ken menoleh dan terbelalak kaget.


Ini sebuah tipuan yang nyata dan Weva benar-benar telah mempermainkannya.

__ADS_1


Sebelum Ken protes mengenai tempat ini, Weva sudah berlari pergi membuat Ken berteriak memanggil Weva agar kiranya segera berhenti.


"Weva! Lo mau ngapain?!!"


Weva tak menghentikan larinya. Ia tetap saja berlari seperti orang kelaparan yang baru melihat makanan. Jangan heran! Weva sudah lama tak datang berkunjung ke warung bakso dan menyantap bakso buatan Mas Tono.


"Weva!!! Berhenti lo!!!" teriak Ken.


Ken menggerutu kesal. Rasanya ia ingin berteriak sekali lagi agar Weva bisa mendengar suara teriakannya, tapi niat itu tertahan setelah Ken menyadari jika beberapa orang kini sedang menatapnya.


Ken mendesis kesal. Bisa-bisanya ia dibohongi oleh Weva dan Ken juga tak menyangka kalau ia telah dipermainkan oleh Weva.


"Bang, minta uang!"


Ken menunduk menatap bocah laki-laki berpakaian lusuh dengan ingus kering di lubang hindungnya sedang berdiri di depan Ken sambil menjulurkan tangannya yang terlihat kotor.


"Minta uang, Bang!"


Ken diam menatap bocah itu. Kedua matanya terlihat basah seakan ingin meneteskan air mata sementara wajahnya dibuat sesedih mungkin agar Ken bisa tersentuh hatinya.


"Apa?" tanya Ken dengan wajahnya yang masih kesal.


Seketika wajah bocah yang memasang wajah sedih mendadak berubah datar. Galak sekali pria bertubuh tinggi ini.


"Nggak usah minta uang sama gue! Gue aja beban keluarga."


Bocah itu menoleh menatap Ken yang melangkah melintasinya dan pergi meninggalkannya begitu saja.


"Percuma ganteng kalau pelit!" maki bocah itu.


Untung saja Ken tak mendengarnya. Ia tetap saja melangkah pergi menyusul Weva membuat bocah peminta-minta itu menopang pinggang.


"Eh, Dek Weva," sapa Mas Tono yang nampaknya baru menyadari kehadiran Weva.


"Iya, Mas," jawab Weva cengengesan.


"Loh, si Wiwi mana?"


"Si Wiwi nggak sempat ke sini, Mas," jawab Weva.


"Lah, biasanya selalu sama-sama. Kok tumbeng nggak sama-sama. Terus kayaknya udah lama, ya ndak ke sini."


"Saya tak cari-cari tapi endak datang-datang juga. Tak kira pindah langganan."


"Enggak lah, Mas. Mana mungkin Weva mau pindah langganan, orang di sini yang paling enak, kok."


Tring!!!


Suara lonceng berbunyi tanda pelanggan masuk bersamaan dengan terbukanya pintu kaca membuat semua orang yang berada di dalam ruangan warung bakso itu menoleh dan dibuat melongo menatap wajah tampan Ken yang pandangannya sedang merambah ke seluruhan ruangan mencari sosok Weva.


"Wah, itu siapa? Ganteng banget," bisik Mas Tono sembari menatap Ken dengan serius.


"Ken!!!" panggil Weva sembari melambaikan tangannya membuat semua pelanggan menoleh.   


Ken mendecapkan bibirnya kesal dan segera melangkah menghampiri Weva yang terlihat tersenyum serta Mas Tono yang terlihat melongo.


"Wev-"


"Kita makan bakso, yuk!" ajak Weva memotong ujaran Ken.


"Ini pacar kamu?" Tunjuk Mas Tono.

__ADS_1


"Bukan!!!" teriak Ken dan Weva secara bersamaan.


Weva dan Ken secara kompak saling bertatapan dan mendesis kesal karena mengatakan hal yang sama membuat Mas Tono tersenyum.


"Cieeeeee, bukan, tapi yoh kompak banget, loh."


"Apaan, sih, Mas? Dia itu bukan pacar Weva. Lagian, nih, ya Weva nggak mau pacaran sama monyet."


Ken melirik tajam. Hampir saja ia serangan jantung setelah mendengar omongan Weva.


"Heh, sembarangan lo. Mas! Dengar, ya saya juga nggak mau punya pacar model kayak dia. Liat aja badannya gendut kayak gitu."


"Enak aja."


"Emang iya, kan lo gendut. Enduuuut!"


Weva mengerakkan bibirnya yang ditekan kesal itu. Andai saja Ken itu kecil mungkin ia sudah memakan Ken hidup-hidup.


"Apa lo?"


Weva tak menjawab. Ia melangkah pergi ke arah meja sambil melipat kedua tangannya di depan dada membuat Ken melirik.


4 menit kemudian....


  


Mas Tono melangkah sembari membawa dua mangkuk bakso yang diletakkan di sebuah mampang.


Mas Tono meletakkan satu persatu mangkuk ke meja membuat Weva dan Ken berbinar.


Weva menjilati bibirnya dan menelan ludah seakan tak sanggup lagi untuk menahan laparnya yang rindu dengan makanan bernama bakso.


Weva mengerakkan jari-jarinya yang memegang sendok yang sudah bergerak untuk mengaduk kuah bakso yang terlihat kental.


"Heits!" tegur Ken sembari memukul punggung tangan Weva membuat Weva meringis.


"Kenapa, sih Ken main pukul-pukul aja?"


"Lo mau ngapain?"


"Astaga, Ken. Ken punya dua mata lebar, tapi nggak bisa liat apa yang Weva mau lakuin?" tanya Weva sambil membulatkan kedua mata dengan jari tangannya.


"Yah, Weva mau makan, lah."


"Nggak semudah itu, Endut."


Ken bergerak cepat memunguti bulatan-bulatan bakso dari yang terkecil sampai yang terbesar dan mie bakso yang ada di mangkuk milik Weva lalu meletakkannya ke dalam mangkuk miliknya membuat Weva terbelalak.


"Nah itu buat lo," putus Ken sembari mendorong mangkuk lebih dekat ke depan Weva.  


"Lo kok gitu, sih?" Kesal Weva berusaha untuk menarik mangkuk Ken, namun Ken mencegahnya.


"Ah, kok Ken gitu, sih? Itu kan bakso Weva."


"Walau pun lo sekarang jalan-jalan dan nggak olahraga untuk hari ini, tapi lo tetap harus diet," terangnya membuat Weva mendecapkan bibirnya kesal.  


Ken tersenyum. Ia menggerak naik turunkan kedua alisnya ketika ia menatap Weva yang kembali menatapnya setelah beberapa detik membandingkan mangkok bakso milik Ken dan mangkok bakso miliknya.


Rasanya Weva ingin menangis. Ken bahkan hanya menyisahkan sedikit kuah dengan beberapa lembar mie kuning.


        

__ADS_1


__ADS_2