
Pak Ahmad melangkah maju berniat untuk mendekati Johan namun, nafas dan langkahnya tertahan setelah sekilas ia melihat seseorang yang sedang menatapnya entah sejak kapan.
Ia menoleh menatap sosok Laila dan Ken yang nampak sedang berdiri sambil menatapnya.
Apa mereka mendengar semuanya?
Wajah Laila terlihat memucat, pandangannya bergetar menahan genangan air mata yang siap tumpah membasahi pipinya. Ia melangkah mendekati suaminya yang hanya mampu diam membisu seperti patung.
Ia menghentikan langkahnya tepat di hadapan pak Ahmad yang sepertinya tak sanggup untuk menatap sosok istrinya. Sunyi dan sepi menjadi suasana yang sangat mendominasi ruangan kali ini.
"Bapak bilang apa?"
Pak Ahmad menggerakkan bibirnya ingin bicara tapi itu tak mudah. Suara itu seakan tertahan di tenggorokan.
"Ayo bilang!" geretaknya membuat pak Ahmad menghela nafas panjang.
Ia menyentuh pundak istrinya namun, dengan cepat pula Laila menghentikan pundaknya menolak untuk disentuh oleh sang suami.
"Tega kamu, pa. Kamu bohongi aku."
"Aku bisa jelasin, Ma."
"Aku udah dengar semuanya. Kamu bilang anak kita cuman satu tapi ternyata anak kita kembar dan kamu nggak jujur sama aku."
"Aku takut-"
"Takut apa?" potongnya.
Pak Ahmad terdiam. Ia memeluk paksa istrinya yang memberontak.
"Aku minta maaf. Aku tau aku salah tapi ini demi kebahagiaan kamu. Aku nggak mau kamu sedih karena aku menyerahkan anak kita kepada dia."
"Kalau bukan karena dia, kita tidak akan punya anak. Nggak ada yang namanya Ken di dunia ini."
"Kalau aku kasi tau kamu tentang kembaran Ken apa kamu akan hidup dengan tenang? Apa kamu akan tetap bersikap seakan semuanya akan baik-baik saja?"
"Aku melakukan semua ini demi kebaikan kamu."
Laila menghembus nafas pelan berusaha untuk membuat dirinya tetap tenang. Ia berusaha untuk menurunkan emosinya. Ia melepaskan pelukan suaminya yang dilepaskan perlahan.
"Jadi sekarang Brilyan dimana?"
"Saudara Brilyan ada di ruangan ICU, dia kritis dan membutuhkan lima kantong darah. Kami harap anda semua bisa mendonorkan darah untuk Brilyan."
__ADS_1
"Apa diantara kalian ada yang memiliki darah AB?"
Mendengar hal itu membuat Pak Ahmad dan Laila melangkah maju.
"Kami orang tuanya dokter. Sa-sa-saya Mamanya ambil saja darah saya!"
"Mohon maaf, Bu. Bukan bermaksud menolak tapi ini demi kesehatan ibu sendiri. Di umur ibu sepertinya ibu sudah tidak bisa mendonorkan darah kepada Brilyan.
"Tidak apa-apa, dokter, saya ikhlas. Ambil darah saya sebanyak-banyaknya untuk anak saya!"
"Ambil darah saya saja, dokter! Saya Bapaknya Brilyan. Istri saya mungkin akan terganggu kesehatannya dan saya tidak ingin itu terjadi tapi kalau kesehatan saya yang terganggu itu tidak apa-apa."
Dokter pria itu tersenyum.
"Saya tau niat baik Bapak dan Ibu tapi ini juga demi kesehatan anda berdua."
"Dokter, saya tidak peduli dengan kesehatan saya. Yang saya inginkan adalah anak saya bisa sembuh."
"Mohon maaf pak, Bu tapi tetap saja itu tidak bisa."
Johan menghembuskan nafas berat. Ia meraih handphone dan menghubungi seseorang sambil melangkah sedikit menjauh.
"Tolong carikan aku orang yang memiliki golongan darah AB! Aku butuh secepatnya."
"Terserah! Jika perlu siapkan ratusan orang untuk itu!"
Sekarang mereka semua tak tau harus bagaimana lagi. Golongan darah AB bukanlah golongan darah yang mudah untuk didapatkan. Darah itu bahkan sangat langkah.
"Ambil darah saya, dokter!"
Weva yang sejak tadi yang hanya menyimak percakapan mereka kini dibuat mendongak menatap sosok Ken yang baru saja bicara.
Ken melangkah mendekati sang dokter diiringi tatapan semua orang yang sejak tadi dilanda kegelisahan.
"Ambil darah saya, dokter! Saya saudara kembar Brilyan."
Dokter itu tersenyum. Ia mengangguk lalu bicara, "Suster ambil darah pria ini dan bawa darahnya cepat mungkin ke ruangan ICU!"
"Baik Dokter," jawab Suster itu lalu melangkah setelah menggerakkan pelan kepalanya memberi kode agar Ken mengikutinya.
Laila berlari kecil. Memeluk putranya sejenak dan kemudian melepasnya.
"Mama sayang sama Keken."
__ADS_1
Ken mengangguk. Ia melangkah mengikuti suster itu setelah menatap Weva sejenak.
...*****...
Ken diam, memandangi langit-langit ruangan donor darah bercat putih. Ia meneguk salivanya berusaha untuk menenangkan dirinya. Pandangannya kosong, ia bahkan tak mampu untuk berpikir dengan baik.
Ken tak pernah menyangka jika sosok pria yang selama ini ia beri nama pria kurus kering itu adalah saudara kembarnya. Selama ini ternyata ia punya saudara dan saudaranya itu adalah pria bernama Brilyan itu. Tak menyangka. Bahkan sampai sekarang ia belum percaya dengan hal ini.
Apa ini kenyataan atau hanya sebuah ilusi belaka? Tapi Ken harus menerima semua kenyataan ini. Ia harus menerima jika Brilyan adalah saudaranya.
Setelahnya ia melangkah keluar dari ruangan mendapati sosok Weva yang langsung bangkit dari kursi panjang.
"Gimana?"
Ken tersenyum. Ia mendekati Weva yang mendekatnya. Ken menoleh menatap pintu ruangan sejenak dan kembali menatap ke arah Weva.
"Baik-baik aja," jawabnya.
...****...
Layar komputer dengan garis yang bergerak itu terlihat bergerak naik turun memperlihatkan gerakan detak jantung Brilyan yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Ken mebatap dari luar. Berdiri kokoh dengan tangannya yang menempel di permukaan kaca tembus pandang. Wajah pucat itu membuat Ken menghela nafas panjang.
Mengapa ia harus mengetahui jika Brilyan adalah saudara kandungnya disaat-saat seperti ini. Disaat pria itu tidak sadar diri, ia baru mengetahui semua kebenaran yang terjadi.
Ken melirik menatap sebuah jemari lentik yang menyentuh pundaknya. Wajah cantik yang tersenyum berhasil ia lihat jelas saat ia melihat siapa yang baru saja menyentuhnya.
Ken menghela nafas panjang dan kembali menatap ke arah Brilyan.
"Lo pernah mikir nggak, sih kalau selama ini gue dan Brilyan itu saudara kembar?"
Weva diam hingga akhirnya Ken menoleh membuat Weva menggeleng.
"Menurut lo, gue dan Brilyan gantengan mana?"
Kening Weva mengernyit bingung. Disaat-saat seperti ini Ken malah menanyakan tentang hal itu. Tak ada jawaban dari Weva membuat Ken menatap Weva dan mengerakkan sebelah alisnya meminta jawaban.
"Weva nggak tau," jawabnya.
"Menurut lo, gue sama Brilyan punya kemiripan?"
Weva menggeleng membuat Ken menghembuskan nafas panjang. Ia melangkah ke arah kursi panjang yang ada di depan ruangan. Ia duduk, merapatkan tubuhnya yang lelah itu ke dinding.
__ADS_1
Weva tersenyum sejenak dan ikut duduk di samping Ken. Suasana sunyi kini kembali menjadi pengisi di antara mereka berdua hingga tak berselang lama Weva dibuat terkejut saat Ken menyadarkan kepalanya di bahu Weva.
Weva meneguk salivanya. Sekarang entah mengapa setelah membaca surat dan mengetahui kebenaran, apa pun yang Ken lakukan selalu membuatnya berdebar.