Princess Endut

Princess Endut
43. Keken Si Anak Kesayangan


__ADS_3

Ken duduk sembari menopang dagu menatap lelah pada Bapaknya yang kini masih berfikir keras untuk memindahkan kuda caturnya yang kini sudah beralih fungsi menjadi patung.


Sudah sepuluh menit pria bertubuh gagah itu merenung agar tidak salah langkah untuk memindahkan kuda caturnya yang tak kuning bergerak.


Ken meneguk susu putih hangat buatan Mamanya dan kembali menopang dagu menatap pak Ahmad yang sejak tadi berpikir keras.


Ken menghela nafas lelah. Ia mendongak menatap jam dinding dan kembali menatap pak Ahmad yang sepertinya akan terus begini.


"Lama banget, sih Bapak," Kesal Ken sembari mengacak-acak rambutnya prustasi.


Ingin rasanya ia mencekik dirinya sendiri.


"Sabar, dong Keken. Kan Bapak lagi mikir. Sesuatu keputusan yang akan diambil harus dipikirkan secara matang-matang," jelas pak Ahmad seakan-akan ia sedang mengajar di dalam kelas.


Yap, bibirnya sedang menjelaskan tapi otaknya masih berfikir keras.


"Ah, lama banget, sih," kesal Ken lalu bangkit dari kursinya membuat pak Ahmad tersentak kaget lalu mendongak menatap Ken. 


"Mau kemana? Bapak udah mau menang, nih!" tahan pak Ahmad yang benar-benar tak rela.


Pip Pip Pip


Suara klakson motor Vespa terdengar dari luar rumah membuat Ken menatap ke arah pintu luar yang masih terbuka. Yah, malam ini Ken ada sedikit perkejaan bersama dengan kedua sahabatnya itu yakni Roy dan Kevin.


Gong Gong Gong


Suara gonggongan anjing terdengar sangat ganas di luar sana hingga akhirnya suara rintihan ketakutan kedua sahabat Ken itu terdengar. Yah, anjing Ken sedikit nakal, hanya sedikit, tidak banyak.


Pak Ahmad menoleh ikut menatap ke arah sumber suara. Sepertinya permainan catur ini akan berakhir di detik ini juga.  


"Tuh, teman-teman Ken udah datang. Udah, yah, pak," ujar Ken sembari meraih helm yang berada di atas lemari.


"Ya udah, deh, tapi malam ini Bapak yang menang, kan?" tanya pak Ahmad sembari tersenyum kegirangan dan menaikkan kedua alisnya ke arah Ken yang sedang memasang helem ke kepalanya


Ken tersenyum lalu melangkah dan mencium pipi kanan Bapaknya.


"Iya, pak. Malam ini Bapak yang menang," jawab Ken seadanya dan melangkah keluar.


Ken takut jika anjing kesayangannya itu memakan kedua sahabat kampretnya yang sudah berteriak histeris di luar sana.


"Hust! Diam lo!!!" Tunjuk Roy begitu sadis dengan jari gemetarnya menatap anjing Pitbull yang kini masih menggonggong dengan tatapan tajam menyeramkan


"Nggak ada akhlak, nih anjing," tambah Kevin.


"Eh, coba lo nggak haram udah gue jadiin sate lo, ya! Jangan macam-macam lo!" Tunjuk Roy.


Gong!!!


Suara gonggongan keras anjing Pitbull itu terdengar membuat kedua sahabat Ken tersentak kaget dan saling berpelukan mesra membuat Ken yang berada di dekat motornya menggeleng kecil.


"Cieee, mesra banget," goda Ken lantas membuat kevin dan Roy saling bertatapan.


"Ih, najis gue," ujar Roy sambil menggeliat geli dan dengan cepat melepas pelukannya oleh tubuh Kevin dan begitu pula sebaliknya.


Kedua sahabat Ken kini bertingkah geli bahkan Kevin dengan sikap gelinya  membuat kesan muntah sampai lidahnya terlihat keluar.

__ADS_1


"Wah, wah. Ngapain lo?" tanya Roy.


"Ceritanya gue geli ama elu jadinya gue mual gitu," jelas Kevin.


"Kampret, lo. Heh, pirang-"


"Apa pirang?!!" teriak Kevin.


"Enak aja lo, yah. Harusnya gue yang najis sama lo. Gue nih, ya lebih baik peluk sih pinky dari pada lo," ujar Kevin menyebut nama anjing Ken yang kini berhenti menggonggong.       


Yah, nama anjing menyeramkan jenis Pitbull ini bernama pinky. Entah mengapa Ken memberi nama menggemaskan untuk anjing jantan, menyeramkan dan super nakal itu.


Anjing Ken hanya mau menurut kepada tuannya saja dan jika berhadapan dengan orang asing maka siap-siap saja pinky si anjing tak berakhlak itu akan menggonggong, mengejar dan bahkan mengigit setiap orang yang berada di luar pagar.


Jangan salah anjing Ken pandai melompati pagar jadi jika ada orang asing yang berlama-lama di luar pagar maka siap-siap saja tubuh tak bersalah itu akan berselimut darah.  


Entah mengapa Ken jarang mengikat anjingnya hingga anjing Ken lebih leluasa berlarian di area pekarangan rumah, yah lebih tepatnya lebih leluasa menggonggongi para tetangga yang berlarian melewati depan rumah Ken.


Kevin menyipitkan kedua matanya membuatnya menatap jelas anjing Ken yang berwarna merah kecoklatan itu nampak melotot dengan gagahnya.


Anjing Ken sangat menyeramkan.


"Yah, ngelotot!" Tunjuk Kevin.


"Iya, noh kayak matanya Bu Yungmi."


Kevin dan Roy tertawa dengan kompaknya.


Gong!!!


Anjing Pitbull itu kembali menggonggong sangat keras membuat Roy dan Kevin itu menghentikan tawanya. Baru kali ini mereka dibentak oleh anjing.


Anjing Pitbull itu nampak mengerang dan nampak sangat menyeramkan membuat kevin dan Roy kini terlihat meringis ketakutan.  


"Imut banget, sih si pinky," gemas Ken membuat kedua sahabatnya itu saling bertatapan.  


Mata Ken sepertinya rusak parah.


Ken tertawa tipis lalu segera melangkah ketika telah selesai memasang sepatu hitam di samping motor Vespa birunya.


"Ken!" panggil Laila sembari berlari kecil dengan kotak makan berwarna pink bergambar hello Kitty.


Ken menghembuskan nafas berat sudah jelas isi kotak makan itu adalah roti isi coklat buatan Mamanya dan satu kotak susu cair yang juga ada di dalam kotak pink itu.


Lihat kemarin Doraemon dan sekarang hello Kitty, entah apa besok.   


"Keken ini roti coklat sama susu kotak jangan lupa di makan, yah, Nak," ujar Laila lalu menjulurkannya ke dalam genggaman jemari Ken.


Ken hanya mampu mengangguk hingga kecupan sayang dari Laila mendarat di pipi Ken yang mulus.


Ken melirik menatap kedua sahabatnya yang tengah memberikan tatapan jahil kepada Ken.


Sial!


Lagi dan lagi mereka melihat kejadian ini.

__ADS_1


"Hati-hati Keken, anak Mama yang paling ganteng, anak Mama yang lslinh Mama sayang, jantung hati Mama, pelangi Mama yang selalu mewarnai kehidupan Mama, seperti bulan yang menerangi malam Mama..."


Ken hanya bisa tersenyum pasrah membiarkan Mamanya yang kini terus membelai lengan Ken.


"Keken!" Suara lembut pak Ahmad menyebut nama panggilan Ken jika di rumah itu ditambah lagi ia memberi kecupan hangat dari bibir pak Ahmad dan mendarat di pipi kanan Ken.


Ken kembali melirik menatap kedua sahabatnya yang sudah tertawa terpingkal-pingkal namun berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, yah, mereka takut jika anjing Ken menggonggong keras.    


Sial!


Mereka melihat ini lagi.


Ken tersenyum hambar lalu segera melangkah ke arah motor Vespanya.


"Hati-hati, ya Keken! Jangan ngebut di jalanan! Pelan-pelan aja! Jangan lambat ya pulangnya!"


"Liat kanan kiri kalau mau nyebrang!"


"Jangan nakal, ya, Nak!"


"Iya, Ma," jawab Ken yang kini telah duduk di atas motornya.


"Baca bismillah, Nak!"


"Iya, Ma."


"Bismillahirrahmanirrahim," ujar Roy dan Kevin dengan kompak membuat Ken melorik.


Kedua sahabatnya itu secara tidak langsung sedang mengejeknya.


"Heh, kamu berdua!!!" teriak pak Ahmad sambil menunjuk ke arah Roy dan Kevin.


"Jaga anak saya! Kalau anak saya sampai lecet, saya kasi nilai c kamu!!!"


"Siap, pak!!!" teriak Roy dan Kevin.


Ken menyalakan motornya dan melajukannya ke luar dari pagar rumah. Ia sudah lelah mendengar ujaran Mama dan Bapaknya yang sepertinya tak ada habisnya.


"Cieee, anak kesayangan," goda Roy lalu tertawa. 


"Huhuy," tambah Kevin lalu ikut tertawa.


"Diam lo!!!" bentak Ken.


"Dada Keken." Lambai pak Ahmad dan Laila serentak membuat Ken menghela nafas berat.


  


"Ciee, Ken disayang banget," goda Roy lagi. 


Ken terdiam memasang wajah datar hingga melirik anjing kesayangannya yang nampak menatapnya dari tadi.


"Pinky!" panggil Ken membuat Pinky mengonggong di balik pagar.


"Pinky mau gigit orang nggak? Nih, empat kaki mau digigit!" Tunjuk Ken ke arah kaki-kaki sahabatnya.

__ADS_1


Pinky menggonggong menyahuti ujaran Ken hingga kedua sahabatnya itu dengan buru-buru menaiki motor Vespa masing-masing.


Mereka harus cepat kabur dari sini.


__ADS_2